Tampilkan postingan dengan label Pengalaman Berharga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman Berharga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2019

30 HRDC day 12: Uang dan Pasangan

Uang habis, atau di kantong sudah
sedikit tinggal receh, apa yang kamu lakukan?

Walau tidak sampai habis, tapi kalau sudah menipis aku bisa pusing tujuh keliling. Takut kalau kalau... Ada aja yang kurang kalau uang sisa sedikit. Setidaknya begitulah yang aku rasakan saat masih sekolah, sampai kuliah.
Saat itu kalau ngerasa uang sudah sedikit, sisa seratus ribu misalkan, langsung nelpon ke kampung, bapak, mamak, uangku habis. Tak jarang pun sudah kerja, masih juga begitu. Gaji ngga sampai sebulan sudah habis saja. Terlebih pas dapat gajinya tiga bulan sekali. Mana tiap hari mesti naik angkot. Beruntungnya punya orang tua yang baik, sering ngirim pundi pundi untuk anaknya.
Merepotkan! Iya, aku tahu diri jika sudah sebesar itu tapi masih juga mengharap dari orang tua. Harusnya kan sebaliknya, aku yang memberi mereka, terlebih lagi saat aku sudah kerja. Tapi entah mengapa, selalu saja kehabisan duit sebelum masa gajian tiba.
Boros? Oke bisa jadi iya. Lapar mata jadi penyebabnya. Terlebih di ibu kota, apa sih yang tidak dibeli. Udara untuk bernafas mungkin, selebihnya, bayar.
Sifat suka panik menjelang uang tinggal sedikit, kebawa dong sampai aku menikah. Apa lagi setelah memutuskan untuk berhenti kerja, dan secara otomatis tinggal suami yang mencari nafkah. Setiap kali kantong menipis, mulai lah aku panik. Ngga sampai ngomong ke suami, cuman muka tak bisa bohong menunjukkan suasana hati.
Jika sudah seperti itu, di kepalaku, sudah muncul tuh daftar kebutuhan yang musti dibeli. Tapi pakai apa? Misal, sabun cuci hampir habis, padahal cucian menumpuk.
Perlengkapan mandi sisa sedikit. Air minum yang habis, gas habis, lampu kamar mulai redup. Belum lagi kebutuhan buat makan, walau tinggal bareng keluarga, tapi berasa juga ngga enaknya kalau makan dibayarin mulu. Walaupun keluarga tak ada yang mempersoalkan, tapi tetap saja daku panik tiap kali bangun tidur.
Lantas bagaimana kelanjutannya?
"Sayang, tenang, rezki Allah yang atur, dan akan ada untuk kita. Jangan cemberut gitu dong."
Kayak berada di teriknya matahari, tiba tiba ada yang nyiram air. Adem. Begitulah Pak suami. Paling bisa menenangkan istrinya. Ada ada saja yang dia katakan, lakukan, yang akhirnya membuatku tenang kembali. Begitu juga dengan persoalan isi dompet yang menipis.
Salah satu kesyukuran aku menikah adalah karena banyak dari sifat sifatku, yang merupakan kekuranganmu, tertutupi oleh kelebihan dia. Semisal tadi, aku yang panikan soal harta, dan dia dengan keyakinannya soal rezki yang telah di atur Sang Khalik. Aku dengan sikap mudah tersinggung, dia dengan segala candaanta ngebuat bibir tersungging.
Kembali soal isi dompet, karena usaha suami yang selalu meyakinkanku, aku jadi luluh, dan memang, tak perlu waktu lama, dan entah dari mana saja, rezki benar benar hadir. Adaaaaa saja sumbernya. Kalau sudah begitu, suami tinggal bilang, "Kan aku bilang juga apa, yakin Sayang. Rezki sudah ada yang atur, yang penting kita berusaha mencari, juga tak lupa berdoa." Kalau doi sudah bilang begitu, tak jarang air mataku meleleh, ya ampun kok aku rapuh banget ya. Habis itu adegan selanjutnya diskip saja, lagi puasa. Takut jomblo baper. Hehe.
Pernah suatu waktu, pas habis lahiran kan mau aqiqah si adek, nah, sempat bingung juga apa lagi kala itu, lahirannya oprasi, walau ada kartu BPJS, tapi ada saja yang dibayar, dan pengeluaran adalah beberapa. Nah sempat bilang ke suami, "Yang, uangnya cukup ngga?" Kata suami, "Insyaallah ada. Jangan mikir itu dulu," busuknya di telingaku. Dan benar saja, belum juga pulang dari rumah sakit, paska melahirkan, rezekinya sudah ada. Tak disangka sangka, dan jumlahnya juga tidak sedikit. Saat itu aku dan suami bertatapan penuh haru, rezeki anak insyaallah.
Alhamdulillah, adek diaqiqah setelah dua Minggu, dan kami banyak dapat bantuan dari keluarga. Masyaallah, jadi semakin yakin tentang rezeki yang datangnya tak disangka sangka. Allah tidak pernah ngebiarin hambaNya pada posisi yang tidak bisa dia hadapi.
Makin ke sini makin belajar, dari suami, dari keluarga, dari sekitar, bagaimana seharusnya bersikap sebagai seorang istri, malah sekarang nambah, sebagai seorang ibu, terlebih sebagai seorang hamba yang mesti banyak bersyukur. Alhamdulillah.

  • Demikian setitik tinta.


Madata, 12 Ramadhan 1440H
#Day12
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Kamis, 16 Mei 2019

30 HRDC day 11: Demi Matamu (Review Lipstik As Magic)

Pengen cerita sedikit tentang lipstik yang aku pakai saat ini. Tapi sebelumnya mau
cerita dulu kapan mulai kenalan sama salah satu yang katanya senjata perempuan satu ini. Yang dengan sekejap bisa membuat banyak perubahan di wajah perempuan.

Saya mulai kenalan sama lipstik saat mulai masuk kerja, ngajar di salah satu sekolah suasta di kota Daeng, Makassar. Saat itu awal awal mengajar, dengan muka polos tanpa polesan, paling bedakan dikit. Nah, salah seorang guru di sekolah itu negur, katanya makeupan dikit Bu, biar mukanya ngga pucat begitu. Maka setelahnya mulailah beli lipstik, yang murah meriah. Tapi dikarenakan bibirnya jadi pecah pecah, mulailah kenalan sama lipstik yang lebih punya nama, dari lipstik merek P*** sampai W***. Padahal semenjak sekolah, kuliah, tak bermasalah dengan benda satu itu. Pas masuk kerja eee, ternyata menjadi salah satu keharusan. Biar tidak pucat katanya.

Saya sempat pindah tempat ngajar. Di tempat kerja yang baru tersebut, para gurunya malah dilarang bermake-up. Karena sekolah suwasta tersebut  menjunjung tinggi nilai nilai agama. Jadi untuk sementara, saat itu make lipstiknya hanya kadang kadang. Kalau pun pake setipis mungkin, cuman biar bibir ngga pucat kayak orang sakit.

Keluar dari dua tempat ngajar, dengan alasan ikut suami, maka pemakaian lipstik pun jadi sangat jarang. Terlebih saya tidak lagi mengajar, hanya eksyen di rumah, lipstik tersimpan rapi, bahkan sampai jamuran karena lama tak dipakai. Hanya kalau keluar rumah (padahal harusnya pas di depan suami ya), sampai akhirnya
dihadiahi suami, satu lipstik yang dia beli di salah satu temanku sendiri. Ada insiden kecil juga perihal hadiah lipstik itu (lain waktu saya cerita).

Semenjak dibelikan suami, make lipstiknya bukan lagi hanya pas keluar rumah, tapi makainya kalau mau tidur hehe. Nah lipstik
yang dibelikan suami itu mereknya
barusan saya dengar, lipstik merek As Magic. Langsung tak coba dong lipstiknya dan ... berikut pendapat saya tentang lipstik As Magic.
Tentang tampilan produknya:
Dari luar sih bagus ya, elegan, ngga gampang kebuka, jadi kalau dibawa bawa ngga perlu khawatir bisa tumpah dalam tas.

Beberapa kelebihan lipstik as magic yang lain: Pertama kali nyoba ternyaata
langsung nyatu dibibir tidak dempul. Mau pake sedikit tinggal buat titik di bibir, paling tiga  empat titik lalu ditatakan. Kalau make banyak juga tinggal dioles di seluruh bibir.

Ada kandungan alami kernel oil,  vutamin E, argania spinosa, paper mint yg membuat
bibir tidak kering dan pecah pecah. Alasan lain aku tetap gunain pas malam, biar bibir seger. Terlebih saat puasa Ramadhan saat ini, menjelang tidur tetap saya pakai, tipis tipis tapi.

Selain itu lipstiknya juga ada rasa mint segar, jadinya ada rasa dingin di bibir kalau dipake. Ditiup angin lewat jadi segar deh bibirnya. Kayak abis makan gula gula mint.
Hehe, nyamiii. Mau dipake tebal atau tipis tetap terasa ringan dibibir dan tidak lengket, malah saking ringannya jadi ngerasa ngga pakai lipstik gitu.
Selain itu lipstiknya juga nyatu dan tidak pecah2 di bibir.

Kelebihan lipstik yang lain adalah tidak mudah luntur, kiss proof. Maka tak heran pun habis makan, lipstiknya tetap bertahan di bibir. Saat minum pun lipstiknya ngga nempel di gelas.

Tentang warnanya ada enam warna
berbeda yang cantik cantik, dari yang warnanya terang benderang sampe yang warna soft. Saya sendiri sudah punya tiga lipstik dengan warna yang berbeda. Kenapa beli lagi, karena enak pas dipakainya. Suami juga nyaranin untuk nambah koleksi makanya saat ini sudah punya tiga warna.

Warna yang saya punya itu Cantika yang
ping ping manja,  red barbie yang terang, dan classic yang warnanya sama kayak warna bibir. Dan warna yang lain itu brownish pink, style, dan astrid. Paling favorit lah si cantika itu, dipake tipis dan tebal tetap waranya kayak warna bibir. Satu lagi, bisa juga lipstiknya di omre ala ala artis
Korea. Seperti foto di samping, pakai yang Astrid dulu di seluruh bibir, tidak tebal tebal amat. Habis itu bagian dalam bibir make red barebie. Hasilnya pun sangat cantik. Insyaallah demi memanjakan mata pasangan.

Nah, yang di atas kan serba kelebihan produknya, satu kekurangan yang saya rasa adalah karena lipstik punya saya masih
kurang tiga warna yang lain, hehehe. Sejauh ini ngga ada kekurangan sih, mungkin isi lipstik saja kali ya yang kadang tidak full. Selebihnya okelah menurutku.

Ada yang terlupa, soal harga, sesualah sama barangnya, malah kalau menurutku murah meriah sih terlebih kalau beli banyak jadi tambah murah. Harga satu lipstiknya Rp. 55.000.
Nah, minat ngga? Atau malah sudah punya? Kalau diizinkan suami, dan reskinya lebih, bolelah nambah koleksi lagi. Tenang yang dimanjakan insyaAllah mata suami kok.
Demikian seteguk tinta.


Madata, 11 Ramadhan 1440H
#Day11
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Gambar: @sulthanazai dan me
@betyal_4

Rabu, 15 Mei 2019

30 HRDC day 10: Lebih Menyeramkan dari Filem Horor

Aku terbangun, benar benar sunyi. Tak ada
sahut sahutan suara ponakan yang sedang asik main game, juga tidak ada lagi suara ibu mertua dan para ipar yang menimpali sinetron di TV. Di dekatku hanya ada suara decitan ayunan bayi yang berayun tanpa aku sentuh. Suara sahutan nafas memburu juga sedikit terdengar, seperti tertahan, bergemuruh ringan. Ah Sayang, andai kau ada saat ini, mungkin aku tak perlu bergelap gelapan di luar kamar dikelilingi mahluk penghisap darah.

Kuraih HP yang ada di sampingku, baru pukul dua belas malam. Aku mulai gerah, di dalam kepalaku mulai berputar filem horor, dari hantu berjubah putih, si boneka menyeramkan, dan lain lain. Semuanya menjadi satu di dalam kepalaku. Takut.
Kuberanikan diri untuk bangun dari tidur, aku harus ke kamar. Aku tak bisa tidur kalau begini terus. Lantas kumatikan ayunan otomatis yang sedari tadi aku jaga. Kuperiksa isi ayunan itu, si adek sudah pulas, saatnya pindah ke kamar untuk tidur, bersama bayiku tentu saja.
Khalil sedang tak enak badan, setelah sebelumnya muntah bakda isya, dia tak lagi mau tidur. Dia menangis membuatku begitu sedih, terlebih karena bapaknya tak ada. Untuk mengeluh pada kakak dan bumer rasanya tak enak hati. Maka pukul sepuluh malam, karena masih tak tidur, kuayunlah dia di ayunan. Si adek yang emang sudah ngantuk lantas tertidur.
Saat tengah malam barulah dia kupindahkan ke kamar, tidur berdua denganku.

Namanya anak sakit ternyata membuat aku sebagai ibu dilanda takut luar biasa. Khalil terkaget-kaget saat tidur, dia batuk, dan menangis. Karena tak ingin yang lain terbangun, aku gendong dia, sambil berdiri di depan cermin, mencoba membuatnya tersenyum. Berhasil, hingga dia tertidur lagi. Kuletakaan kembali di atas ranjang, kucampak campaklah pahanya dengan pelan. Aku hanya duduk, entah berapa lama. Hikz, mataku tiba tiba basah. Ya Allah, aku berharap aku saja yang sakit, jangan anakku. Ketakutan menyelimuti, takut si adek kenapa kenapa. Malam terasa lama beranjak. Tanpa terasa aku tertidur dengan posisi duduk.

Ini kali pertama adek sakit, tanpa didampingi bapaknya. Dan rasa takut benar benar menghantui. Aku yang selama ini takut dengan filem horor jadi berpikir, ah..  Anak sakit lebih menakutkan lagi. Terlebih karena seorang diri menjaganya.
Keesokan harinya, ku ceritakan semua pada suamiku, tentang kejadian semalam, ketakutan ku. Seperti biasanya doi ikutan khawatir tapi tetap bisa tenang, "Jangan panik, Sayang. Insyaallah kalau kerjaan di sini beres, aku langsung pulang." Begitu kata suamiku. Namun walau sudah diwanti-wanti untuk tetap tenang, tetap saja khawatir dann takut berkecamuk dalam hati.

Seminggu tanpa didampingi suami, lalu anak sedikit rewel karena sakit, jadi pembelajaran tersendiri untukku. Sebagai ibu baru, memang musti siap dengan segala kondisi, tetap yakin bisa menghadapi, kalaupun merasa kewalahan, minta bantuannya orang sekitar tak akan menurunkan martabat seorang ibu.
Demikian segubuk tinta.
Madata, 10 Ramadhan 1440H

#Day10
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Gambar: Nurelyana

Minggu, 12 Mei 2019

Tim Begadang

Tentang jam begadang adek, saya benar benar belajar karenanya. Saya yang tak bisa begadang jadi harus ikutan begadang. Awal awal setelah lahiran begitu tak kuat, BB jadi turun, pusing saja bawaannya. Mana pas bangun tengah malam biasa cemberut karena belum biasa. Apa lagi kalau sudah duduk mangku si adek, sambil menyusui, terus liatin bapaknya nyenyak banget tidur. Betenya kok berlipat ganda. Hihihi... Nah, akibatnya kadang si adek malah makin tak bisa tidur, kebawa perasaan emaknya mungkin. Bapaknya pas bangun juga ikutan bete. Makin runyamlah acara begadang malam bareng.
Belajar dari kejadian satu beberapa malam itu, saya sebagai mamak baru jadi berfikir, kalau gini terus kasian si adek. Padahal kan emang tugas ortu yang jagain. Maka, sabarlah yang musti dikuatin, emang musti sabar, sabar, ya sabar. Bapak, terlebih emaknya yang hampir 24 jam tiap hari bareng si adek. 
Maka tips begadang bareng ala kami bertiga: sabar jadi yang pertama, musti kompak sama si bapak, kalau sudah tau emaknya ngantuk bake bangat tanpa bisa ditawar lagi, biarkan emak tidur sejenak, tentu saja setelah adek abis nyusu. Ngga mungkin bapaknya yang susuin toh.
Selanjutnya musti pintar baca situasi, kalau adek bangun tengah malam pastilah ada sebab, entah karena lapar, atau pempersnya udah penuh, kepanasan mungkin, kedinginan, dan lain lain. Si emak ditemani si bapak tanganilah sesuai kondisi yang terjadi. 
Dengar dari kiri kanan juga, banyak yang ngasih saran, biar malamnya adek bisa tidur, pas siang jangan dibiarin kebanyakan tidur, ajak main, tentu mainnya ya ala ala bayi. Diajakin bicara, becanda. Asal adek nda menangis saja. 
Kalau si adek sudah tidur, segeralah tidur juga jangan malah main HP.
Pengalaman saya sendiri, awal awal si adek lahir paling takut suami ngga ada, paling takut kenapa kenapa. Padahal harusnya lebih positif kan pikirannya. Alhamdulillah sekarang sudah lumayan teratasi, udah bisa LDR an beberapa hari, jagain adek sendiri pas tengah malam. 
Yang paling penting juga dinikmati, toh waktu tak akan terulang dua kali, adek akan terus tumbuh. Suatu saat malah akan rindu momen begadang bertiga. Demikianlah sekeping tinta.
#kisahkisahmamabaru #babykhalil #DiQ

Rabu, 08 Mei 2019

30 HRDC day 3: Diary Mantan (Bag.1)

Apa Kabar Hati?
"Aku rasa, hatimu yang meski dikuatkan. Untuk melupakan. Untuk menerima."


Perjalanan menuju jenjang yang lebih serius, menikah, adalah hal yang jauh berbeda dengan menjalin hubungan sebatas pacaran, teman tapi mesra, kakak adean, dan lainnya. Kebanyakan yang telah menikah pun mengakui, jika jalan menuju halal, penuh ranjau, berliku, penuh cobaan. Dan tak jarang ada yang batal menikah, hampir menikah, gagal menikah. Bisa jadi karena memang bukan jodohnya, tapi kenyataannya bahwa, menuju pernikahan tak semudah menyatakan perasaan. Begitu pula Lin, sahabat yang sangat kutunggu kabar bahagianya.

Aku mengenalnya sebagai sahabat. Walau dulunya saat sekolah kami tak begitu akrab, tapi ketika akhirnya sama sama terdampar di kota Enrekang, kami mulai sering ketemu. Keseringan aku yang mendatanginya ke tempat kerja. Sesekali kami bertemu diluar, di warung bakmi langganan kami.

Lin, saat masih sekolah aku selalu was was tentang dia, tentang dia yang banyak mengenal laki laki, yang entah berapa kali pacaran, yang menurutku kacau. Lin saat itu siswi pindahan, dan aku yakin dia berpengalaman di dunia luar.

Lin yang cantik, baik, tentu banyak yang menaruh hati padanya, hingga kami sama sama kerja pun dia tetap banyak penggemarnya. Ya, walau aku tahu ia tengah menanti seseorang yang lain, yang telah menumbuhkan cinta di hatinya.

Bani, mungkin demikian nama pria itu, dia membuat Lin begitu menaruh harap, sampai sampai saat seseorang kenalan saudaranya menyatakan ingin meminang, Lin dengan tegas menolak. Begitu juga saat seorang teman kerjanya dijodohkan dengannya, ia menolak. Berkali kali dengan orang berbeda. Ah andai saat itu aku tahu, Lin. Mungkin aku akan memintamu menolak dia yang tak pasti.


Hingga bulan berganti, tahun berlalu, laki laki yang diinginkan Lin, yang dinantinya sepenuh hati mulai berubah, mulai tak yakin dengan hubungan mereka. Tentu Lin merana karenanya. Sekian lama menunggu tau tau dia, laki laki itu semaunya saja. Dan tepat setelah sekian banyak yang ia tolak. Lelaki, walau semua tak sama, namun tak sedikit yang hanya pandai mengikat janji. Lalu melupakannya.

Kemarin, Lin kembali mengabari, seseorang mendekatinya, seorang pria mapan. Aku sangat bahagia mendengar kabarnya, sebelum pada akhirnya Lin berkisah, ia galau, lelakinya di masa lalu muncul kembali, ingin meminangnya pada bulan mendatang.

Jika dia dilanda galau, kok malah aku yang meradang. Kenapa musti muncul disaat ada yang ingin serius dengan Lin?
Lin ingin hatinya yang dulu, namun banyak pihak seolah menantang, cukup untuk sakit hati yang pernah ada, jangan berulang lagi. Mungkin itu harapan disekeliling Lin.

Dan saat ini aku tahu, Lin masih gundah. Kembali, atau menerima yang baru?

Adakah pesan untuk Lin?
Kalau menurutku, cukuplah kecewa itu, sekali, dua kali, tiga kali. Ada baiknya menerima yang lebih mengerti. Lebih serius.
Namun bagi Lin, masih entah.

Enrekang, 3 Ramadhan 1440H

#Day3
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

 Sumber gambar: hdwallpapersrocks.com

Jumat, 07 Juli 2017

Yang Baru

Pun ada yang baru, yang lama jangan terlupakan.

Tempat yang baru, suasana yang baru, orang-orang yang baru. Harapan yang baru pula. Begitulah kira-kira kalimat-kalimat yang mewakili suasana hari ini. Dimulainya sih kemarin, namun baru bisa diabadiakan hari ini.

Tentang tempat yang baru ini, ada banyak yang belum saya ketahui, tapi kebaikan kebaikan sudah terlihat di serial sudutnya. Dari orang orangnya yang ramah, sampai kebiasaan kebiasaan yang dilakukan, ruangan ruangan yang bersih, insyaallah pilihan kali ini adalah yang terbaik.

Harapan harapan kembali melangit. Bismillahirrahmanirrahim.

Kamis, 30 Maret 2017

(Tak) Sia Sia

Hari ahad yang entah beberapa minggu sebelumnya, kami (bukan cuma aku kamu) kembail bertemu. Sebuah janji harus dituntaskan, ya kan? Awalnya sih tak ada yang mau bergerak alias pada malas. Terlebih saya yang super ngantuk setelah kegiatan persami di sekolah. Ya walau hanya kebahagian masak masaknya. Terimakasih untuk Bu Ainun yang turut membantu.

Maka, waktu bertemu yang tadinya dijadwalkan habis Zuhur, molor sampai sudah ashar. Dan tempat ketemunya adalah halte Pettarani samping Telkom. Yang pertama datang adalah si ibu tiga serangkai, Fevi, Anis, dan Ainun. Ketiganya memang selalu bisa diandalkan soal urusan memulai. Lalu datanglah Bapak Faisal. Saya yang berikutnya. Tak berapa lama datang pula safar. Maka jadilah kita nongkrong di halte sambil menunggu yang lain. Selanjutnya Muin juga hadir.
Sembari menunggu yang lain (berharap masih ada yang datang), berdiskusi lah kita yang sudah hadir. Tentang apa yang akan di bawa ke rumah salah seorang guru yang pernah mengajar saat duduk d bangku SMP (kalau saya sampai SMA).
Maka diputuskanlah bahwa, dua orang pergi membeli buah sebagai sedikit buah tangan, Muin dan Fevi lah yang diutus. Oh ya, berhubung tulisan ini baru dibuat setelah sekian hari bahkan bulan, rasa rasanya saya pun ikut lupa kronologi nya.

Sebenarnya tujuan berkumpul di sore yang mendung adalah menjenguk salah seorang guru kita yang sudah tak bertemu sekitar 7 sampai sepuluh tahun silam. Bayangkan alangkah rindunya hati pada sesosok yang disegani dan dihormati. Demikianlah rencana dijalankan. Alhasil hari itu kami tak bertemu belia, Bu Fia. Sebab saat itu Bu Fia sedang ke Rumah keluarganya. Kami awalnya menunggu. Dan saat proses menunggu itulah beberapa kejadian menggelitik terjadi.

Pertama, akhirnya kami memutuskan shalat magrib di dekat rumah Bu Fia. Setelah selesai shalat kembalilah kami ke  kediaman beliau, nihil. Tapi menurut tetangganya yang juga keluarganya, ibu sedang dalam perjalanan pulang. Abba juga sudah bergabung saat itu. Kami memutuskan menunggu, dan ...karena rata rata dari kami sedang lapar, kita bersepakat untuk mencari tempat makan.

Berjalanlah kami, dan berhenti pada sebuah warung makan di pinggir jalan. Saat itu, dikarenakan pengaruh lapar, masuklah kami empat orang perempuan. Saat hendak duduk, ada beberapa hal yang sangat ganjil dan agak horor dari warung makan tersebut. Salah satunya senyum pelayannya yang agak ....anehlah. Selanjutnya beberapa aksesoris warung yang berbeda dari warung kebanyakan. Yang terakhir, kami para gadis sudah duduk manis dan siap memesan, tapi para alumni santriwan malah masih asik duduk di luar warung sembari tersenyum penuh arti.

Degh!!! Perasaan tak enak segera menjalari hati. Saya sendiri dengan alasan memanggil mereka, segera keluar dari warung dan ternyata Fevi ikut dibelakang saya. Saat bertanya kenapa si santriwan (anggap saja demikian) tidak masuk, bisik bisik lah mereka perihal ketakutan jika pemilik warung tersebut bukan orang muslim. Wah....saya sendiri yang sejak awal tak enak hati langsung cabut dari tempat itu. Berjalan meninggalkan lokasi diikuti yang lain, kami seolah tak peduli jika dua kawan kami, Ainun dan Anis masih ada dalam warung.

Setelah berjarak 4 meter dari tempat tersebut, tertawalah kami bersamaan, sembari mencoba menelpon dua teman kami yang masih bersemayam di sana. Beginilah percakapannya (kurang lebih).

Fevi: Halo
Ainun: Kenapa pergi semuaki'?
Fevi: Nun, keluarmaki'. Kayaknya tidak ada label halalnya di situ.
Ainun: Wi.... Bagaimana caranya. Tidak enakka. (Sambil bisik bisik)
Fevi: Ai... Keluarmi.
Ainun: O... Ada akalku.

Jeda beberapa saat lalu.

Ainun: Adami ibu? (Sudmra dibesarkan)
Fevi: Adami (tertawa)
Ainun: Ok, ke situma pade.

Maka begitulah cara Ainun dan Anis keluar dari warung dengan sedikit kebohongan yang mungkin diketahui pemilik warung. Anehnya mereka tak marah kok. Malah senyum aneh kembali dipertontonkan.
Setelah kedua kawan kami keluar, tertawalah kami. Sebenarnya akan lebih lucu lagi jika saat itu saya langsung tulis.
Pesannya adalah, selapar apa pun kita, mohon tetap memperhatikan keadaan warung sebelum masuk. Hehe...

Malam itu kami tak bertemu Bu Fia. Tapi kami tetap senang dengan pengalaman yang menarik dan lucu.

Dilain harilah baru kami bertemu sang guru. Dan semoga bisa mengisahkannya di lain waktu.

Sungguh tak ada yang sia sia, selama kita bisa memetik hikmah. Dan bagi saya pribadi yang masih perlu banyak belajar berfikir positif.

Minggu, 19 Maret 2017

DAFA 07 Punya Cerita


Alhamdulillah sekali minggu minggu ini dipertemukan lagi dengan teman lama. Sesama alumni Pesantren Darul Falah Enrekang 07. Rasa rasanya setelah semua sudah keluar dari DAFA tak sekalipun ada pertemuan sesama alumni. Mungkin karena tak ada yang memulai. Atau karena masing masing telah sibuk dan saling melupakan? Semoga yang terakhir tidak ya.
Namun berkat seorang kawan yang jadi pelopornya akhirnya bertemulah kita lagi. Bahkan bahkan dengan sesama alumni angkatan yang sama namun tidak pernah bertemu. Mungkin demi mengulang kenangan kenangan lama yang sempat terkubur. Asik…
Dialah Abba, yang tiba tiba nelvon saya di malam Ahad lalu. Katanya sih sebab saya tak pernah berkabar dan digadang gadang mallaparru pake banget. Walhasil saat nelvon itulah tercetus ide buat reuni kecil kecilan dulu. Pas banget sebab malam itu di kamar saya lagi ada dua mahluk lain, hehehe ada Anisah wa Ainun. Maklumlah kedua mahluk berjenis sama namun berbeda sifat ini tiba tiba pengen nginap setelah sekian lama. Namun berkat keduanya jugalah pertemuan bisa berjalan mulus.
Tanpa pikir panjang Ainun bilang, besok saja biar langsung kejadian. Biasanya yang tidak direncanakan yang kejadian. Kata si ibu penuh semangat yang diiyakan dengan Ibu satunya lagi. Alhamdullillah betullah kita fixkan bertemu besoknya, tepat malam Senin.
Karena katanya reuni, pun kecil kecilan, maka sibuklah kami bertiga mencari anggota lain buat ngumpul. Sampai lupa waktu kalau sudah tengah malam. Kita pada cari kontak teman teman yang masih bermukim di Makassar. Dan..... Ehm..... Terkumpullah kurang lebih sepuluh orang untuk bertemu. Saya pribadi sangat senang. Hehehe.... Yang dulunya tak saling kenal akhirnya kenal. Bahkan saya salah orang, bilangnya Hakim taunya Safar. Ha-ha-ha.
Malam Senin alias Minggu malam bertemulah berupa rupa manusia. #lebay. Ada: saya, Ainun, Anis, Lia, Nunu, Fevi, Zul, Safar, Muin, Fajar, Faisal, dan Abba. (Semoga tak ada nama yang terlupa).
Pertemuan malam itu disertai rencana buat kapurung di rumahnya Anis. Benar saja, semalam kita sudah menikmati kapurung ala ala dan ditambah lagi personilnya, ada Fitrah, Udin, dan Ayyub. Ada juga sih yang tidak datang. Tapi... Sungguh sangat bersyukur.
Berbeda dengan pertemuan sebelumnya kali ini sudah mulai cair sih percakapannya. Ka;lau sebelumnya masih agak malu dan malu maluin. Heheh. Cerita cerita mengalir begitu saja. Hangat karena diselingi canda tawa. Kalian memang sesuatu.
Catatan semalam adalah, tanggal 23 bakalan kumpul lagi di acara syukuran wisudah Lia. Sekaligus bertemu guru kita dulu Pak Rafrin. Semoga terealisasi. Aminn.
Sampai jumpa lagi temang temang.
Makassar, 19 Maret 2017





Minggu, 26 Februari 2017

Si A B C

Awalnya adalah si A

Tentang si A si B dan si C begitu sulit mengisahkan mereka. Ada saja kendala yang memaksaku berpikir ulang menuliskan kisah mereka. Sulit sebab entah harus memulai dari mana.
Tapi harus kucoba sebab janji adalah janji.
Si A. A n a k ku!!!

Si A yang selalu membuatku marah dengan kelakuannya akan menjadi sasaran empuk dunia curhatanku. Hampir setiap hari kepalaku dipenuhi tanduk tanduk runcing karenanya. Si A yang selalu jail dengan yang ada di sekitarnya. Dia juga akan tertawa, bernyanyi, menganggu dan yang pasti bukunya tetap putih tak berwarna abu.
Si A juga diam diam meninggalkan tempatnya saat mataku tertuju pada si C atau si B dan E, Z.
"Aaaaaaaaaaaaa!!!"
Saat mendengar suara teriakankulah dia akan berbalik, memandangku lalu tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang pendek dan jarang. Aku geram tapi merasa lucu dengan senyumnya. Si A akan duduk kembali, sedikit menulis kata. Namun jika mataku tak lagi bersamanya, dia akan menghilang, mengulang hal yang sama.

Setelahnya aku tak peduli. Bermainlah sepuasmu, Nak. Setelah semua pulang kita akan bersama.

Rabu, 20 April 2016

Anak Anak Cinta

Bahagia itu... melihat mereka tersenyum. Melihat mereka menikmati saat saat belia. Bermain, tertawa, menangis, berselisih, bersaing. Aku memperhatikan dan menjadi bahagia karenanya.

Anak anak cinta...
Hari demi hari bersama mereka. Pun lelah, sebab lelah yang bahagia. Ada puas menggelitik hati saat mereka menatap dengan penuh tanya. Menatap dengan semangat karena menemukan jawaban atas tanya.

Lalu mereka tertawa bahagia. Saat tahu. Dan aku, semakin bahagia karenanya. Anak anakku, anak anak cinta.

#sarangheo

Senin, 11 April 2016

Sangat Sulit

Apa yang ada di depan mata, yang kita punya, yang menjadi hak kita, kadang sulit menerimanya, mensyukurinya, berterimakasih karenanya.

Sedang yang orang lain punya, yang bukan hak kita, kadang sangat menginginkannya, berharap memilikinya.

Kita jadi memaksa diri untuk punya padahal tak mampu. Kita buat susah diri kita dengan keinginan yang tak mudah bahkan tak mungkin.

Kita jadi terluka unuk hal hal tak penting, untuk hal hal yang sama.

Padahal jika mensyukuri yang ada, justru akan menemtramkan jiwa. Berbaliklah, Allah maha tahu yang terbaik untuk kita.

Selasa, 05 April 2016

Malam Para Gadis

Malam para gadis. Begitulah awal dari kisah kali ini. Tentang sebuah malam yang tercipta berdasarkan resah. Hahaha … terlalu lebay ya. Kesalahan dalam penulisan mohon dimaklumi, lama tidak bersua dengan dunia kata. Begitu juga jika ada kesamaan tokoh dan yang dialami, hehehe … ini murni tentang perjalanan hidup, pengalaman juga.
Sebut saja namanya Nun, gadis yang sebentar lagi menyandang S2. Nun akhir-ahir ini sering ke kosanku. Maklum, doi tidak suka sendirian, dan di kosannya dia hanya seorang diri sebab tetangga kamarnya pada punya dunia sendiri. Walhasil Nun sering nginap di kosan sahabat sahabatnya, salah satunya ya …. Aku, Na.
Tik, gadis bertitel PNS yang terangkat kurang lebih setahun yang lalu. Gadis yang satu ini tergolong mulus dalam berbagai hal, menurutku. Sebab ia cepat menyelesaikan kuliahnya, cepat dapat kerjanya. Dalam hal karir mantaplah dia. Satu hal yang baru baginya adalah CINTA. Masalah yang selalu ia pertanyakan saat kami sedang ngumpul. Sok jadi senior dalam cinta? Tidak dong, justru kita senior dalam hal patah hati. Hikz…
Ada juga Nis. Kalau gadis yang satu ini masih sementara kuliah. Sama kayak Nun. Gadis ceria dengan pengalaman cinta segudang. Dibanding yang lain, dia paling pede, sangat lincah, hehehe dan satu lagi paling langsing pula. Ada juga Del, kalau yang satu ini paling jarang ngumpul. Dijulukin sama kita-kita dijulukin Ibu konselor.
Kalau aku … aku Na.
Oh ya… tentang dimana kami bertemu, dulu sekali … saat masih mondok di pesantren.
Selalu ada malam para gadis saat kita kumpul, walau tidak pernah lengkap tapi yang ada selalu membahas sesuatu hingga larut malam, pun hanya aku dan Nun yang berkumpul. Pembahasan paling hangat ya seputaran cinta, jodoh, nikah, pasangan, cinta, cinta, dan lagi lagi cinta.
Begitulah kisah malam para gadis. Untuk pembahasan lebih lanjut (asik) nantilah. Ini sudah waktunya ngajar coy. Maklum Na, si guru honor harus bertugas. ^^
Makassar,050316.

Selasa, 25 November 2014

Lagi-Lagi Terimakasih: Yudisium Rasa Nano-Nano dan Air Mata yang Runtuh

Selepas nangis-nagis
Yudisium pagi hingga siang tadi begitu berkesan. Perasaan campur aduk saat mengikutinya. Peserta yudisium Universitas Muhammadiyah Makassar adalah yang paling banyak hingga hari ini, dengan jumlah lebih dar seribu calon sarjana (setelah diyudisium berubah status jadi sarjana pendidikan). Pada awal acara dimulai dengan pengajian oleh salah satu petinggi FKIP, lalu sambutan-sambutan.
Suasana yang panas, kadang ribut, kadang tertawa campur aduk dalam acara tersebut. Guyonan-guyonan juga ditumpahkan sesiapa saja yang berdiri di podium. Misal tentang setelah selesai kulah yang mau lanjut S2 silahkan, mau ngajar di pedalaman silahkan, kalau ngga bau keduanya ya lanjut nikah saja. Mendengar ucapan salah satu yang tampil, sontak saja seisi auditorium tertawa. Adegan pengambilan gambar dimana-mana, seakan yang satu ini adalah kewajiban bagi siapa saja, terlebih bagi Pak MC.
Acara yang paling dinanti-nanti pun tiba, pengumuman nilai akhir mahasiswa. Sebab yang diumumkan banyak, butuh banyak waktu baru mendengar nama sendiri dikumandangkan di depan sana. Alhamdulillah nilai cumlaude diperoleh dengan usaha kurang lebih empat tahun. Aku pikir awalnya hanya sampai di situ, taunya acara numpahin air dari mata tidak terelakkan juga.
Puncak yudisium saat para calon sarjana berganti status jadi sarjana ... awalnya saat sang tuan di depan saana mengucapkan ucapan terimakasih yang harusnya kami utarakan mulai mengusikku. Pembahasan tentang orang tua berlanjut dengan air mata yang tumpah. Wah ... aku yang kuat-kuatin ngga nangis malah yang paling duluan nangisnya. Wajah Bapak dan Ibu terpampang jelas di depan mata. Pengen langsung nyiumin tangan keduanya rasa-rasanya. Ilanjutkan lagi dengan nyanyian tentang Ibu. Tammatlah. Aku kalau nangis susah berhentinya, maka tak heran sampai acara selesai masih mewek juga.
Mata sembab sudah pasti. Hidung mengembang, kurang lebih. Kusutlah jadinya. Tak mengapa. Acara seperti ini, yang merupakan tahap bersejarah dalam hidupku, memang wajar jika mengundang rasa bak nano-nano.
Terakhir, untuk semua penghuni kampus UNISMUH, dari yang benda mati, mahluk hidup, manusia-manusianya, pengurus-pengurusnya, petinggi-petingginya, yang telah bersinggungan langsung denganku, dan yang tidak, dari yang membantu, hingga yang mempersulit (bunga-bunga kuliah bukan?), aku ucapkan BANYAK-BANYAK TERMAKASIH. Semoga Allah swt membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik. Aamiin.
Tungguin tanggal pake toga
Untuk Bapak, Bapak, Ibu, Ibu, Ibu, terimakasih banyak. Sangat banyak. Banyak yang tidak terhitungkan. Untuk keluargaku juga, siapapun itu, terimakasih. Ucapan ini sudah aku tulis  di sini.
Aku tak mengganti nama hanya menambah tiga huruf di belakang namaku, Sitti Mardiyah, S.Pd. Kelak semoga ilmu yang didapat dapat bermanfaat dengan baik. sekali lagi terimakasih.

Kamis, 20 November 2014

Istri yang Baik Itu Seperti ...



Aku belum menjadi seorang istri tapi ingin menjadi seorang istri. Bukankah dengannya agama akan tergenapkan? Karena alasan belum menikah, tentunya belum banyak hal yang bisa aku utarakan perihal menjadi istri yang baik itu seperti apa. Makanya, aku hanya akan memaparkan istri yang baik menurut pandangan mataku terhadap orang di sekitarku, Ibuku, Nenekku, dan tanteku.
Istri yang baik itu seperti Ibuku.
Kenapa Ibuku? Beliau panutanku. Mungkin Ibuku dari luar adalah sosok yang biasa saja, pun begitu anaknya tentu akan memandangnya dengan nilai-nilai plus bukan?
Ibuku yang sederhana tidak banyak menuntut. Sampai saat ini aku tidak melihat Ibu menuntut banyak hal pada Bapak. Ibu selalu mengikuti kata suaminya (Bapakku) , Yang marahnya tidak pernah lama, yang tidak mengumbar keadaan keluarga di depan banyak orang. Bahkan aku tidak pernah melihat Ibu bertengkar dengan Bapak. Sekalipun. Aku sangat menjaminnya. Ibuku adalah pelengkap untuk Bapakku, sebagaimana Bapakku adalah penyempurna untuk ibuku.
Istri yang baik seperti Nenekku.
Nenek di mataku adalah salah satu sosok yang perkasa. Hidup dari zaman penjajahan. Nenek banyak berkisah tentang kehidupannya di masa lalu. Salah satunya tentang bagaimana ia dijodohan. Nenek yang saat itu menikah di usia muda dengan seorang duda.
Nenek adalah sosok perkasa yang bersama suaminya berusaha mengantarkan anak-anaknya pada jalan hidup yang lebih baik. Panjang ceritanya jika harus kukisahkan tentang Nenek yang tangguh. Dalam mencari nafkah dan mendidik anak-anaknya. Memgang dua peranan sekaligus, mendidik dan mencari nafkah.
Istri yang baik seperti Tanteku.
Tanteku adalah wanita bijak, penyayang, dan sangat sabar. Bijak karena petuah-petuah dan sikapnya saat menghadapi masalah. Tanteku seorang guru yang menurutku pendidik yang luar biasa. Hal tersebut tentu saja telah diterapkannya di dalam keluarganya sendiri. Tanteku mengantarkan anak-anaknya pada kesuksesan. Ia juga sangat sabar pun telah ditinggal oleh sang suami. Tanteku tetap melanjutkan hidup, bahkan berusaha untuk semakin baik lagi, semakin dekat dengan Pencipta, anak-anaknya, dan seluruh keluarga.
Masih banyak yang tidak tampak oleh mataku sebenarnya, namun untuk saat ini  itulah pendapatku menurut kacamata pengamatanku sendiri. Mungkin akan bertambah jika kelak aku merasakan sendiri bagaimana menjadi seorang istri yang baik, pelengkap untuk suami.
Aku melihat, aku mendengar, aku membaca, aku ingin seperti mereka.

Tulisan ini diikutkan Gaveaway Istri yang Baik