Tampilkan postingan dengan label Belajar Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Review. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Mei 2019

30 HRDC day 11: Demi Matamu (Review Lipstik As Magic)

Pengen cerita sedikit tentang lipstik yang aku pakai saat ini. Tapi sebelumnya mau
cerita dulu kapan mulai kenalan sama salah satu yang katanya senjata perempuan satu ini. Yang dengan sekejap bisa membuat banyak perubahan di wajah perempuan.

Saya mulai kenalan sama lipstik saat mulai masuk kerja, ngajar di salah satu sekolah suasta di kota Daeng, Makassar. Saat itu awal awal mengajar, dengan muka polos tanpa polesan, paling bedakan dikit. Nah, salah seorang guru di sekolah itu negur, katanya makeupan dikit Bu, biar mukanya ngga pucat begitu. Maka setelahnya mulailah beli lipstik, yang murah meriah. Tapi dikarenakan bibirnya jadi pecah pecah, mulailah kenalan sama lipstik yang lebih punya nama, dari lipstik merek P*** sampai W***. Padahal semenjak sekolah, kuliah, tak bermasalah dengan benda satu itu. Pas masuk kerja eee, ternyata menjadi salah satu keharusan. Biar tidak pucat katanya.

Saya sempat pindah tempat ngajar. Di tempat kerja yang baru tersebut, para gurunya malah dilarang bermake-up. Karena sekolah suwasta tersebut  menjunjung tinggi nilai nilai agama. Jadi untuk sementara, saat itu make lipstiknya hanya kadang kadang. Kalau pun pake setipis mungkin, cuman biar bibir ngga pucat kayak orang sakit.

Keluar dari dua tempat ngajar, dengan alasan ikut suami, maka pemakaian lipstik pun jadi sangat jarang. Terlebih saya tidak lagi mengajar, hanya eksyen di rumah, lipstik tersimpan rapi, bahkan sampai jamuran karena lama tak dipakai. Hanya kalau keluar rumah (padahal harusnya pas di depan suami ya), sampai akhirnya
dihadiahi suami, satu lipstik yang dia beli di salah satu temanku sendiri. Ada insiden kecil juga perihal hadiah lipstik itu (lain waktu saya cerita).

Semenjak dibelikan suami, make lipstiknya bukan lagi hanya pas keluar rumah, tapi makainya kalau mau tidur hehe. Nah lipstik
yang dibelikan suami itu mereknya
barusan saya dengar, lipstik merek As Magic. Langsung tak coba dong lipstiknya dan ... berikut pendapat saya tentang lipstik As Magic.
Tentang tampilan produknya:
Dari luar sih bagus ya, elegan, ngga gampang kebuka, jadi kalau dibawa bawa ngga perlu khawatir bisa tumpah dalam tas.

Beberapa kelebihan lipstik as magic yang lain: Pertama kali nyoba ternyaata
langsung nyatu dibibir tidak dempul. Mau pake sedikit tinggal buat titik di bibir, paling tiga  empat titik lalu ditatakan. Kalau make banyak juga tinggal dioles di seluruh bibir.

Ada kandungan alami kernel oil,  vutamin E, argania spinosa, paper mint yg membuat
bibir tidak kering dan pecah pecah. Alasan lain aku tetap gunain pas malam, biar bibir seger. Terlebih saat puasa Ramadhan saat ini, menjelang tidur tetap saya pakai, tipis tipis tapi.

Selain itu lipstiknya juga ada rasa mint segar, jadinya ada rasa dingin di bibir kalau dipake. Ditiup angin lewat jadi segar deh bibirnya. Kayak abis makan gula gula mint.
Hehe, nyamiii. Mau dipake tebal atau tipis tetap terasa ringan dibibir dan tidak lengket, malah saking ringannya jadi ngerasa ngga pakai lipstik gitu.
Selain itu lipstiknya juga nyatu dan tidak pecah2 di bibir.

Kelebihan lipstik yang lain adalah tidak mudah luntur, kiss proof. Maka tak heran pun habis makan, lipstiknya tetap bertahan di bibir. Saat minum pun lipstiknya ngga nempel di gelas.

Tentang warnanya ada enam warna
berbeda yang cantik cantik, dari yang warnanya terang benderang sampe yang warna soft. Saya sendiri sudah punya tiga lipstik dengan warna yang berbeda. Kenapa beli lagi, karena enak pas dipakainya. Suami juga nyaranin untuk nambah koleksi makanya saat ini sudah punya tiga warna.

Warna yang saya punya itu Cantika yang
ping ping manja,  red barbie yang terang, dan classic yang warnanya sama kayak warna bibir. Dan warna yang lain itu brownish pink, style, dan astrid. Paling favorit lah si cantika itu, dipake tipis dan tebal tetap waranya kayak warna bibir. Satu lagi, bisa juga lipstiknya di omre ala ala artis
Korea. Seperti foto di samping, pakai yang Astrid dulu di seluruh bibir, tidak tebal tebal amat. Habis itu bagian dalam bibir make red barebie. Hasilnya pun sangat cantik. Insyaallah demi memanjakan mata pasangan.

Nah, yang di atas kan serba kelebihan produknya, satu kekurangan yang saya rasa adalah karena lipstik punya saya masih
kurang tiga warna yang lain, hehehe. Sejauh ini ngga ada kekurangan sih, mungkin isi lipstik saja kali ya yang kadang tidak full. Selebihnya okelah menurutku.

Ada yang terlupa, soal harga, sesualah sama barangnya, malah kalau menurutku murah meriah sih terlebih kalau beli banyak jadi tambah murah. Harga satu lipstiknya Rp. 55.000.
Nah, minat ngga? Atau malah sudah punya? Kalau diizinkan suami, dan reskinya lebih, bolelah nambah koleksi lagi. Tenang yang dimanjakan insyaAllah mata suami kok.
Demikian seteguk tinta.


Madata, 11 Ramadhan 1440H
#Day11
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Gambar: @sulthanazai dan me
@betyal_4

Sabtu, 07 Maret 2015

(Assalamualaikum, Beijing!) Cinta Sejati yang Nyata!



Oleh: Nahlatul Azhar
Ada banyak kisah cinta yang beretabaran dalam buku-buku saat ini. Dikemas dengan berbagai warna juga cara yang berbeda. Tema yang dianggap basi namun selalu mampu menarik minat pembaca. Kisah dengan nuansa cinta selalu menjadi selipan wajib dalam sajian-sajian novel. Tema yang sama namun dapat diolah sedemikian rupa oleh para penulisnya.
Hal itu pula yang tersaji apik dalam novel Mba Asma Nadia yang berjudul ‘Assalamualaikum Beijing!’. Novel yang memunculkan banyak tanya pada awalnya. Tentang benang merah dari setiap bab di dalam novel tersebut, menjadikan novel tersebut menarik dan menggoda dari tiap bab-bab yang ada.
Saya pribadi bertanya-tanya sejak awal bab, tentang siapa Dewa? Bagaimana rupa gadisnya yang dipanggilnya dengan nama Ra? Apa pula kaitannya dengan Asma yang melakukan perjalanan ke berbagai tempat di Beijing? Lalu tokoh lain, Zhongwen, yang memanggil Asma dengan naman Ashima, tokoh yang mulai menumbuhkan harapan-harapan baru di hati Asma.
Novel dengan pertanyaan yang muncul di benak saya tentang hubungan tiap sajian babnya, yang memang menceritakan dua kisah yang sangat berbeda. Sempat menebak mungkinkah Ra adalah Asma? Tapi dari namanya dimana pula letak kesamaannya?
Bingung dan dicekam banyak tanya namun justru membuat saya menikmati novel ini. Penasaran dengan bab berikutnya. Ingin terus membacanya, namun di lain sisi takut kecewa dengan akhirnya.
Seharian penuh saya bersama novel tersebut. Kebetulan saat itu memang lagi banyak urusan, maka jadilah setiap persinggahan yang menuntut untuk menunggu sejenak menjadi saat-saat berharga demi menyelami kisah novel ini. Mengalihkan pandangan sejenak dari dunia luar dan memasuki kisah demi kisah dalam novel tersebut.
Konflik hati jelas terjadi. Asma yang tak percaya cinta sejati akibat pengalaman ibunya yang ditinggalkan suaminya demi perempuan lain. Tak lupa dengan kisah yang baru saja dialaminya. Padahal dalam perjalananya ia bertemu seorang laki-laki yang tanpa Asma tahu sangat penasaran dengannya.
Di tempat yang berbeda, kisah yang berbeda, ada Dewa dengan kegalauannya akan gadis bernama Ra. Pernikahannya yang ia anggap sebuah kesalahan sungguh tak membuatnya lupa sedetik pun terhadap gadis yang hampir dinikahinya. Gadis yang benar-benar ia cintai. Sayangnya gadis bernama Ra raib enatah kemana setelah ia menikah. Ra tidak ia temukan lewat dunia nyata juga dunia maya.
Dewa merana. Istrinya pun tak jauh beda, menderita sebab anak mereka akan lahir dengan sikap Dewa yang acuh. Padahal istrinya sudah melakukan segala cara agar laki-laki yang menikahnya dengan terpaksa itu meliriknya sekejap saja.
Benang merah menari-nari, mencari jawaban untuk setiap tanya pembanyanya. Bagaimanakah akhirnya?
Bacalah dalam novel Mba Asma, dijamin lebih memuaskan dari pada Filemnya.
Ehm. Asma Nadia, siapa yang tidak mengenalnya. Penulis yang telah melahirkan banyak buku. Adik dari Helvi Tiana Rosa ini adalah salah satu penulis kesukaan saya Sebut saja novel-novel lamanya seperti serial Aisya Putri, Derai Sunyi, ada juga J-Two, Ada Rindu di Mata Peri, buku Jangan Jadi Muslimah Nyebelin dan masih banyak buku-buku yang ditulisnya zaman saya masih duduk di bangku es-em-pe.
Malas membaca sering kali menjangkiti saya, sibuk menjadi sebabnya, belum lagi godaan kesenangan yang lain mengalihkan minat membaca saya, namun novel penulis dengan banyak penghargaan ini mampu menghipnotis saya untuk melahap novelnya hingga tuntas.
Tidak hanya itu, hingga akhir kisah, saya dibuat merasakan berbagai perasaan. Marah pada Dewa, sentimen pada Asma, lalu kasihan, sedih, marah lagi, dan berbagai rasa-rasa yang berkecamuk dalam jangka waktu yang hampir bersamaan.
Kekaguman pada Mba Asma Nadia pun semakin bertambah. Saya yang mulai menyukai tulisan-tulisannya sejak es-em-pe, kini semakin jatuh hati. Bukan hanya karena cara Mba Asma menyajikan kisah-kisah dalam novelnya sangat apik, juga karena ada pesan yang tak menggurui ia torehkan dalam tiap karya-karyanya.
Seperti dalam novel yang diterbitkan oleh penerbit Noura Books ini, pesan tentang cinta sejati yang datang disaat yang tepat, hanya perlu bersabar, menunggu ia datang, tak lupa perjuangan untuk  mendapatkannya.
So, rugi kiranya kalau belum baca novel yang satu ini!.
Judul: Assalamualaikum Beijing
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Nourabooks
Terbit: Oktober 2013
Jenis: Fiksi Islami
ISBN: 9786021606155
Nahlatul Azhar, anggota FLP Ranting UNISMUH.



Senin, 20 Oktober 2014

My-Avilla, Lanjutan (Ifa Avianty)


http://www.goodreads.com/book/show/15744809-my-avilla

LANJUTAN MY AVILLA
 Aku telah selesai membaca novel Mba Ifa Avianty tersebut. Bagus. Adakah yang tidak mengatakan itu? Menghargai karya orang lain itu penting. Belum tentu juga aku bisa menulis lebh baik dar penulisnya. Dan memnag tidak untuk sekarang ini.
Pada akhirnya Margriet menikah juga dengan Fajar setelah ditinggal mati oleh suaminya. Fajar sendiri ditinggalkan Trudy setelah gadis itu tahu jika calon suaminya mengalami stroke parah.
Luka Margriet dan Fajar menyatukan keduanya. Margriet perlahan membuka hatinya yang memang pernah isinggahi rasa sayang paa Fajar. Begitu pun Fajar tak jauh beda, dengan mudah a menerima Margriet.
Keduanya sama-sama berusaha ikhlas menerima keadaan masing-masing.
Sedangkan Trudy pun tak jauh beda. Dia berusaha beajar dari semua kejadian yang dialaminya. Entahlah apa ia benar-benar akan kembali dalam pelukan keluarganya, yang jelas ia sudah ikhlas menerima Kakaknya menikah dengan mantan calon suaminya (salah sendiri ninggalin).
Komentarku: antara tokoh tak ada pembeda yang terlalu menonjol, hanya saja karena nama yang tertera jadi pembedanya. Tidak terlalu suka akhirnya, agak dipaksakan. Dari awal Margriet memang ditakdirkan bersama Fajar. Dan kecelakaan suami pertama Margriet terlalu dipaksakan. Tak mengenakkan menurutku.
Namun sejauh in, jika di lihat secara keseluruhan aku tetap suka. Romantis, adalah kata pentingnya, dan aku sangat suka itu.
Semoga bertemu lagi dengan karya mba Ifa Avianty yang lain. Semoga.


Jumat, 10 Oktober 2014

My-Avilla (Ifa Avianty)


foto by:
http://www.goodreads.com/book/show/15744809-my-avilla
Lagi baca My Avilla-nya Ifa Aviyanty. Sampul berwarna coklat dengan bayangan wajah yang ditumbuhi bangunan aneh (karena aku ngga tahu bangunannya terletak di mana juga kerana kagak tahu nama bangunannya) di sudut kiri atas novel. Novel pinjaman ini berhasil mencuri perhatianku ditengah-tengah ketegangan nulis skripsi. Sttt ... tadi sore habis bimbingan, dan kau tahu apa yang terjadi? Barulah setelah pulang bimbingan aku makan sampai nambah, sebelum berangkat sama sekali ngga minat makan.
Balik ke Avilla yang ternyata nama tokoh dalam novel tersebut, tepatnya panggilan spesial seorang aku (Fajar) pada aku yang lain (Margriet).
Dari prolog aku lalu bertanya-tanya, hubungan ketiga tokoh ini apa? Setelah baca, baca, dan baca, prolog yang tersaji dar halaman 9 sampai 16 itu pun habis. Catatan dua perempuan pun mulai berkisah. Menghadirkan tanya-tanya yang tumbuh di kepalaku. Kau tahu apa yang terjadi? Aku ingin membuka bagian akhir novel ini. Tak sabaran? Tak menikmati proses? Itulah aku.
Halaman 17 terbuka. Tara ...Tiga remaja menyambut pandangan mataku. Mula-mula tentang aku (Margriet) yang berkisah, lalu aku lainnya (Trudy), terakhir aku lagi (Fajar) ketiganya bergantian mengisahkan perasaan masing-masing.
Bagaimana Margariet bangga akan prestasi adiknya (Trudy). Trudy sendiri menganggap kakaknya adalah rival abadi. Apa-apa membandingkan diri dengan sang kakak (ya, adik mah emang gitu. Ane ngerasa juga keles). Lalu muncul si Fajar yang juga menjelaskan keberadaannya sebagai aku yang lain.
Sejauh ini aku menangkap kesamaan ketiga tokoh, namun anehnya sulit aku jabarkan. Hanya aku yang paham maksud hati dan bisikan kepalaku. Hua! Entah maksudnya apa. Gini, saat membaca ketiga karakter itu sebenarnya sama saja sih. Yang paling jelas karena ketiganya lugas dalam menyampaikan isi hati, langsung-langsung aje getoh. Kan emang penulisnya bukan tiga orang kan? Heheh. Yup! Betul-betul-betul.
Sudahlah yang jelas aku suka kok sama kamu. Eh!
Maksudnya sama novelnya. Sebab, jika penasaranku mulai berkecamuk memenuhi kepala raya, maka saat itu si penulis telah berhasil dengan karyanya (terhadapku tapi ya).
Oke! Sekian dulu pembahasan novel My Avilla dariku, saksikan kelanjutannya pada jam-jam berikut
Sampai lupa, terimakasih tiada terucap pada sang Avilla, maksudnya Yurie, si kutu buku yang juga jualan buku, dan semoga lekas selesai nulis buku (aamiin) atas rekomendasi novel ini. Pun belum selesai aku baca, aku berterimakasih. Belum diucapin lewat kata-kata, ntar pas balikin buku pinjamannya.
Ssttt, auka cara penuturan kisahnya (gue be-ge-te). Nyontoh nih!
Lanjut ke halaman berikutnya!