Tampilkan postingan dengan label FTS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FTS. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Juli 2014

Aku dan Air Mata Ibu (Maafkan Aku Ibu)



Tentang surgaku. Tentang ibu juga tentang Bapak. Tentang adik-adik yang berceletoh bersamaku. Bersama kami diami rumah panggung di sebuah desa yang dikelilingi gunung-gunung.  Tempat yang jauh dari keramaian kota.
Ibu, ibu, dan ibu. Ketika memanggil namanya ada hal yang sangat aku sesalkan. Dulu sekali saat masih anak-anak aku pernah membuat Ibu meneteskan air matanya.
Ibu tak minta apa-apa sebenarnya, saat itu Ibu menyuruhku cuci piring. Aku kecil sangat sulit disuruh ketika sedang bermain. Ibu meminta beberapa kali, dan dengan gigihnya juga aku menolak. Hingga beberapa waktu tak kudengar lagi suara Ibu.
Bersama Ibu
Aku yang kala itu masih duduk di sekolah dasar merasa bersalah juga. Lantas aku hampiri Ibu yang sedang menyusui adik di kamar.
“Bu ...” panggilku.
Tak ada sahutan. Aku semakn merasa bersalah.
Sampai aku di samping Ibu, kudapati matanya berair. Rasa bersalah semakn menjadi.
“Bu, aku janji pergi cuci piring sekarang, Ibu jangan menangis ya ...” pintaku.
Suaraku juga parau kala itu. Air mataku ikut mengalir.
Pun masih kanak-kanak tapi aku juga tahu bagaimana dosanya seorang anak yang durhaka.
“Ibu kan hanya menyuruh cuci piring Nak, setelh itu kamu bebas bermain lagi.” Kata-kata Ibu kudengar tanpa mengeluarkan kata-kata.
Aku menyesal-sangat menyesal, lalu minta maaf sebelum mengerjakan apa yang diminta Ibu.
Kali kedua aku membuat Ibu menangis (yang kuingat) adalah saat duduk di bangku SMA. Aku yang kala itu sangat tidak suka keramaian pasar nitip dibelkan sepatu pada Ibu.
Ibu pulang dengan belanjaan yang banyak. Aku pun menagih.
Sepatu ada tapi agak kebesaran.
Aku marah. Sangat marah sampai membanting pintu kamarku.
Ibu dan Aku
Lalu ... kejadian saat aku masih duduk di sekolah dasar terulang. Ibu menangis.
Pun pada akhirnya akau minta maaf, namun ada rasa bersalah yang hadir tiap kali mengingat kejadian-kejadian itu. Aku hanya mengingat dua kejadian itu, kejadian yang membuat Ibu sampai meneteskan air mata berharganya. Aku tidak tahu berapa kali sebenarnya Ibu menangis selama membesarkanku.
Aku sayang Ibu. Sangat sayang. Aku berharap Ibu memaafkan semua salah-salahku. Sebab, ridho Allah terletak pada ridho kedua orang tua, terlebih seorang Ibu.
Bu, maafkan anakmu ini.

*Diikutkan dalam GA di:

Minggu, 13 Juli 2014

Berbagi dengan Ilmu


Bukan perkara sulit menemukan sosok panutan dalam hal kebaikan. Terlebih dengan keadaan zaman saat ini. Serba canggih dan moderen. Bisa ditanyakan Om Google, iya kan? Sulitnya jika percaya gitu saja. Apa kita tahu keseharian orang?
Sedang untuk tahu sosok yang baik itu bagaimana, yang suka berbagi seperti apa kan butuh dilihat, tak hanya dengan kumpulan kata yang mewakili perbuatannya, tapi ada fakta yang dilihat. Tak cuman sekali, dua kali, musti berkali-kali dan tanpa pamrih sama sekali.
Maka jika ditanyakan siapa sosok yang menginspirasi? Jawabannya adalah orang terdekatku, sosok laki-laki yang sangat kukagumi.
Bapak
Dialah Bapak.
Aku ingin seperti Bapak. Pun masih sangat jauh dari langkah beliau. Ibarat kata, aku merangkak sedang Bapak telah berkendara.
Kenapa Bapak? Apa yang spesial?
Bapak adalah seorang guru.
Dengan profesi itu tentulah Bapak adalah panutan berbagi yang baik. Alasanku ingin menjadi guru pun karena melihat cara Bapak selama ini yang tak hanya mengajarkan ilmu namun juga mendidik murid-muridnya. Tentu pembelajaran dan didikan yang baik itu dimulai pada istri dan lima anaknya.
“Kebanyakan guru sekarang hanya mengajarkan ilmu, mendidik sebagai poin penting dilupakan,” ucap Bapak suatu waktu.
“Padahal, mengajar perkara mudah, mendidik yang sulit,” lanjutnya.
Begitulah, saat pulang kampung (saat ini saya kuliah) selalu menimba ilmu dari Bapak.
“Terus bagaimana untuk jadi pendidik, Pak?” tanyaku.
Masalah pendidikan memang selalu jadi pembahasan yang aku sukai. Anggaplah sebagai bekal jika kelak aku turun di lapangan buat berbagi ilmu. Terlebih karena Bapak sangat pandai dalam menjelaskan, selalu masuk di hati (pujian ini bukan karena beliau Bapakku.
“Mulai dari diri sendiri.” Jeda sesaat.
“Misal, kalau mau murid-murid tidak terlambat ke sekolah, gurunya dulu yang ngasih contoh. Datang lebih awal. Mau anak didik rajin shalat ke masjid, gurunya dulu dong yang ke mesjid jadi imam. Jadi teladan yang baik, dengan memulai kebaikan dari diri sendiri dulu,” jelas Bapak.
Guru yang baik memulai sesuatu dari dirinya sendiri. Bukan menyuruh semata.
**
Dan saat Ramadhan tiba (saat ini) pulang kampung adalah ritual yang tak boleh aku lewatkan. Pun saat ini tengah memasuki masa-masa sibuk di kampus. Mahasiswa tingkat akhir selalu begitu kan?
Suatu malam, pada malam kesekian ramadhan Bapak mengumumkan sebuah rencana.
“Bapak punya rencana untuk keluarga kita,” ucap Beliau.
Ibu, aku, dan adik-adikku menoleh ke arah Bapak.
“Bapak ingin melakukan safari keluarga,” lanjutnya.
Safari ramadhan memang sudah sering kami lakukan. Bahkan saat aku masih duduk di taman kanak-kanak. Biasanya Bapak akan mengajak anak-anaknya, Bapak menjadi penceramah, dan salah satu anaknya membacakan ayat suci Al-Qur’an.
“Bagaimana caranya, Pak? Pakai mobil siapa?” tanyaku.
Mana muat motor yang cuman dua dengan penumpang tujuh orang?
“Nah, begini, Bapak yang ceramah, anak-anak gadis Bapak bergantian mengaji, Mifta pertokolnya, dan si kecil Hanif membacakan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an.”
“Tapi kenapa musti sekeluarga?” tanyaku lagi.
Biasanya kan salah satu diantara kami sajan.
“Bapak ingin mengajak masyarakat untuk turut ambil bagian dalam dunia pendidikan. Bukan hanya melepaskan anak-anak mereka ke sekolah dan mempercayakannya pada guru. Karena memang harusnya seperti itu, guru dan orang tua harus bekerja sama,” jeda sesaat.
Bapak lagi :)
“Nah, selain itu dengan kita sekeluarga melakukan safari ramadhan, hal itu sudah menjad contoh bahwa seorang anak tak hanya dididik di sekolah, namun yang paling utama adalah di rumah. Alasan lain, ya latihan mental dong.”
Pencerahan lagi.
Maka sangat wajarlah, ketika aku menjadikan Bapak sebagai idola. Hingga ingin sepertinya yang berbagi dengan ilmu dan sangat peduli pendidikan.
**
Beberapa pertanyaan lagi yang kuajukan untuk Bapak.
“Bagaimana caranya agara bisa menjadi guru yang ikhlas dalam berbagi ilmu? Tidak sekedar karena tuntutan profesi dan gaji?”
Jawaban Bapak, “Pertama, tanamkan dalam diri bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat pada sesamanya. Kedua, berilmu dan mengajarkan ilmu hukumnya wajib. Ketiga, kebahagiaan dunia akhirat hanya bisa terwujud dengan ilmu, dan lain-lain.”
Aku bersama Bapak
Aku bertanya lagi, “Tugas guru kan mengajar dan mendidik, bagaimana agar keduanya seiring dan sejalan?”
Dijawab gini, “Seorang guru harus berbenah diri dalam mencari ilmu dan mengamalkannya pada diri sendiri, baru kemudian bisa mengajar dengan baik, karena dilain sisi guru adalah contoh karena ilmu dan keteladanan, prilaku, akhlak, dan lain-lain.”
Bapak, terimakasih. Kekagumanku semakin tumbuh. Tak hanya sebagai orang tua yang baik, Bapak juga guru terbaikku.

Sekian.

*NB: Lokasi tempat bertanya-tanyanya beda-beda. Ada di rumah dan di kebun. Jarak dan tempat tak menjadi soal kan? Intinya, Bapakku inspirasiku.

Bersama Kita Sebarkan Kebaikan dengan #SemangatBerbagi. Ikuti acara puncak Smarfren #SemangatBerbagi tanggal 19 Juli 2014 di Cilandak Town Square Jakarta.

dilink ke:

https://www.facebook.com/notes/smartfren/semangat-berbagi-di-smartfrenpeduli/10152207312286546

Kamis, 10 Juli 2014

Ge-Er Akut



Hal memalukan?
Mmm ... (mikir)
Mmmm ... (mikir + 1 kerutan di dahi)
Mmmmm ... ( 2 kerutan)
(3 kerutan)
Ehm ... kerutan bukan pertanda tidak mengalami hal memalukan, justru sebaliknya banyak ngalamin. Tapi mana mau buka-bukaan (kan aurat? #ehngganyambung) mana aib sendiri pula. Nanti kalau sekampung pada ketawa gimana?
Kan bisa-bisa jadi artis ngga laku, ya kan?
Uhk ... garing bin aneh ya?
Baiklah saya kisahkan yang paling ngeri memalukannya. Sampai kepala mendidih dan muka panas.
Siap?
Oke, kita mulai.
DORRR!
LARI ...
Ups...
Kali ini benaran cerita deh. Sumpah.
Kan gini ... (masa lalu muncul di atas kepala, ala lampu yang menyala gitu deh)
Aku pernah mengikuti suatu seminar dimana akhir dari seminar itu diadakan door prize oleh panitia penyelenggara. Jadi, setiap peserta masing-masing megang nomor undian.
Karena aku juga peserta, sudah pastinya saya menunggu dan berdoa semoga nomor yang kupegang disebutkan.
“Eh ada Kak Nahla ternyata,” sapa seseorang yang belakangan aku tahu seorang cowok cakep. Dia adik kelasku pas masih es-em-pe. Dulu sih culun tapi sekarang ...
“Hehehe ... iya.” Aku terhipnotis.
Nih anak sudah gede, mana cakep lagi. Pikirku kacau, itu tadi omongan dalam hati ya.
“Nunggu door prizenya ya Kak?” tanya si cakep lagi.
“Iya nih,” jawabanku masih singkat.
“Kak berapa nomornya?” tanya si adek kelas lagi.
Wah, dimintan nomor begitu aku sangat senang, ge-er akut.
“Oh ...085 299 ...” dengan semangat kusebutkan angka-angka yang menunjukkan nomor hp-ku.
“Mm ... maksudku nomor undian Kakak,” ucapnya.
Apa?
Nomor undian?
Uhgh! Seketika balik normal.
Malunya diriku.
Teman di sampingku sampai ketawain. Belum lagi orang-orang di sekitarku.
Hikz ...
Dan si cakep biang kerok, eh maksudnya si adek kelas juga ikut-ikutan senyum.
Mengejek!
Hua... serasa pengen kabur dari tempat itu.
Hikmahnya, “Makanya jangan suka terpesona ngga jelas, sampai ngga nyambung pas diajak ngomong. Lagian, doi kan brondong!”
Sekian.
Eh, masih malu ngingatnya.
  
*Diikutkan dalam:
 "The Silly Moment Giveaway" Nunu el Fasa dan HM Zwan

Ikutan!!! 
Ke Te-Ka-Pe segera!