Tampilkan postingan dengan label Curhat Nahla. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat Nahla. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Juni 2017

Sepucuk Pesan

Ketika kau layangkan pesan untukku, pesan yang Kunanti jauh jauh hari. Yang kutunggu dan membuat hatiku ciut sebab mungkin kau tolak.

Pesanmu datang menjelang tengah malam. Dengan rasa yang sulit tuk digambarkan, kubaca pesan itu berkali kali. Tak percaya.

Sepucuk pesanmu nyata adanya. Menyebabkan gejala sulit memejam mata, dada berkecamuk tak karuan.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagiku. Sebab pesanmu tentu saja.

Sudahlah.... Sepucuk pesan yang kau selip pada malam yang hampir berpamitan akan kudoakan dalam dalam.

Semoga berjodoh. Semoga aku bisa menjadi lebih baik lewatmu. Semoga anak anak cinta kembali menyapa. Anak anak cinta yang lain.

Menuh harap, Na.

Minggu, 26 Februari 2017

Catatan Salah (Malam 1)

Keputusan yang berat.
Ditemani air mata yang jatuh berbutir butir, aku dan hatiku pilu menahan sesak. Bukan perkara mudah melepas sesuatu yang telah lama dianggap kepunyaan sendiri. Walaupun sebenarnya tak sekalipun barang itu berhak dimiliki.

Toh memang harus begitu.
Harus!!!

Walau berat.
Walau sakit.

Lepaslah kembali, sebagaimana mestinya.

Menunggu Apa yang Enak?

9 Februari 2016

Hari ini judulnya benar benar menunggu. Menunggu jemuran kering dikarenakan hujan terus menerus turun.
Lanjut menunggu jam ngajar yang berakhir dengan sedikit terlambat.
Setelah itu menunggu kabar teman yang rumahnya mau didatangi buat nginap.
Nunggu teman yang juga mau nginap bareng tapi ada agenda lain dulu, dan ujungnya katanya batal nginap, tapi akhirnya jadi nginap juga.
Setelah itu menunggu lagi, menunggu teman buat berangkat bareng ke tempat nginap. Oh punggung alangkah baik jika ia mau kompromi tapi bebannya berat sekali. Jadi semakin lama menunggu itu terasa. Juga perut.... Masyaallah rintihannya tak terdengar tapi menusuk hingga ngilu segala raga.
Teman datang. Kita berangkat. Sampai di tujuan, teman yang rumahnya mau ditempati menginap meminta untuk menunggu di sekitar pasar. Ya! Menunggu lagi. Saat si empunya Rumah datang lagi lagi harus menunggu si teman dan satunya lagi ke pasar buat belanja bahan dapur. Ah.... Menunggu. Alangkah tidak enak dia.

Maka, tak usahlah kita buat yang lain terlalu lama menunggu. Sebab menunggu butuh stok sabar super duper, dan kebanyakan kita tak punya itu. Terutama aku dan perutku.

Lalu menunggu apa yang enak?
Uang masuk rekening? Nunggu juga kan?

Jodoh?

Kepala yang Digoreng

Tiba tiba ingin menggoreng kepala itu hingga menggelepar. Jika tak ada lagi nyawa di sana mungkin rusuh di sekitar akan musnah pula. Kepala yang dipenuhi kecamuk harusnya musnah saja. Racun yang dihasilkan tak perlu diumbar ke sana ke mari.

Kepala yang hendak kugoreng itu kuletakkan di dalam ember, kubilas dengan cuka, biar amisnya hilang, biar tak menjijikkan lagi. Lalu garam... Ah sudah tak perlu garam. Toh setelah kugoreng, segera akan ku buang di sungai belakang rumah.

Membayangkannya saja aku sudah puas.
Ngomong ngomong perihal kepala itu, sebenarnya adalah kepalaku, mu, kita.

Ke Rumahmu

Aku ke rumahmu.
Kuketuk berkali kali.
Ketukanku kukeraskan.
Salamku sedikit keras dari biasanya.
Sunyi.
Tak ada jawaban.
Aku tetanggamu yang dulu pergi.
Mungkin dua tahun lalu.
Kini aku kembali sebab perkara rindu adalah soal bertemu.
Lagi.
Tapi tak ada balasan dari dalam rumahmu.
Tetap sunyi.
Kemana kamu?
Aku lalu pulang, oleh oleh untukmu ka bawa juga.
Mungkin nanti aku kembali lagi.

Sebelum kembali kudapati tulisan kusam di depan pagar rumahmu.
Tak terlihat olehku tadi.

Di sana tertulis....

1 minggu yang lalu.
2 bulang yang lalu.
6 bulan yang lalu.
1 tahun yang lalu.

Sepertinya kamu pun lupa pulang wahai tetanggaku.

Mungkinkah kau tak rind

Kegilaan

Di antara harapan harapan yang menggila di atas kepalaku, ada satu yang benar benar tak mungkin bagiku, yaitu mengulang kembali masa masa diman kita berada di kota santri.
Menikmati basah wajah di sepertiga malam, menikmati makan beramai ramai, menikmati cinta yang tumbuh dalam diam, dan malu.

Masa di mana aku dan kamu masih berdiri sendiri.

Sabtu, 19 November 2016

Tahu

Dia semakin tahu kapan diam tanpa ba bi bu

Dia tahu kapang hanya mengatakan ya ya ya

Dia tahu kapang menciptakan senang dari kejauhan

Dia tahu ciptakan marah juga bahagia dalam waktu bersamaan

Dia tahu...
Sebab ia semakin mengenal.

#Da

Selasa, 25 Oktober 2016

Kesalahan

Di antara kenyamanan yang akhirnya aku tahu adalah, melimpahkan kesalahan kesalahan.
Menjauhi salah dan mengkambing hitamkan orang lain.
Teledor akan dirinya sendiri lantas manyalahkan orang lain yang lebih lemah.
Ya itulah kenyamanan yang aku maksud. Kenyamanan yang ingin aku hindari. Semoga aku tak demikian.

Sok Paling Benar!!!

Sok, merasa diri paling benar, dan kawan kawannya adalah salah satu dari sekian sikap yang tak aku suka.
Lalu pada kehidupan nyata, ada saja aku temukan sikap itu melekat pada orang lain.
Mungkin karena aku sangat tak ingin merasa paling benar makanya tak suka sikap itu.
Lalu bagaimana???
Entahlah.... Asal bukan aku saja yang begitu.

Kamis, 13 Oktober 2016

Ampun!!!


Edisi curcol saja lah hari ini. Paling gampang memang nulis masalah diri sendiri. Tentang tanggung jawab yang suka disepelekan. Suka jengkel sama orang orang penganutnya. Masalahnya mau tidak mau saya kena juga nantinya. Lah masalah saya sendiri gimana??? Tanggung jawab saya sendiri gimana???
Tak usahlah saya cerita lengkapnya. Yang jelas masalah tanggung jawab pegang baik baik dong. Kalau tidak bisa ya... Lepaskan saja. Banyak kok yang bisa.

Selasa, 26 April 2016

Buruk

Mimpi buruk. Terlampau buruk tuk memulai hari ini. Terasa janggal, sakit. Seakan nyata dan meninggalkan bekas ketakutan pada pagi.
Di sana, kau berdiri lalu berbalik pergi. Tak tampak wajahmu menoleh pun hanya sedikit.
Di sana, pada mimpi semalam kau seperti pembunuh yang memotong denyut debyut rasa.
Tangis pecah dalam bisu. Hanya memandang berharap kau menoleh, melihat aku hancur tak bersisa.
Di sana kau mengeggam tangan yang lain. Kau ajak lari bersama menelusuri jalan. Wajah yang lain.

Di sana dalam malam sepi, pada mimpi yang menari, aku terkapar terbunuh belatimu.
Aku padam.
Terbangun oleh ketidak nyamanan.
Pertandakah?

Jumat, 22 April 2016

Selamat tinggal

Selamat tinggal...
Jangan pernah kau ucap
Sebab di sini luka menganga kau akibatkan
Jangan pernah terpikirkan olehmu
Terbesir di hati saja sudah begitu sakit

Tapi...
Selamat tinggal,
Nyatanya aku pun kamu hanya ada selisih.

Esok semog bertemu lagi.

Selamat tinggal.

Kamis, 21 April 2016

Aku Batu!!!

Batu begitu sabar menghadapi tetes demi tetes air yang jatuh di atasnya.
Dibiarkannya tubuhnya basah.
Tak pula ia marah.
Batu tetap diam menunggu air jadi paham dan berhenti menetes.
Batu hanya memohon air dapat pahami kediamannya.
Batu biarkan air nikmati kebahagiaannya akan waktu yang bergulir.
Dan wahai air yang menetes dengan kesejukannya, kelak kau hancurkan batu berkeping keping.
Kelak kau hancurkan batu yang menungguimu dengan sabar.
Untuk berhenti meneteskan kenyamanan semu.

Air... mengertikah engkau?

Rabu, 20 April 2016

Rindu yang Entah

Aku merasa aneh. Merasai rindu yang entah berlabuh pada siapa. Rasa yang datang tanpa sebab. Yang tujuannya entah kemana. Hanya sebatas kosang dalam hati yang sedikit merintih dan ingin dilengkapi. Entah oleh siapa sebab penyebabnya juga tak tahu.

Jika sudah begini, tak ada cara tuk sudahi rindu. Biarkan tumbuh dan mencari muaranya sendiri. Karena ia tak mengenal siapa, hanya rindu yang entah.

Sabtu, 23 Januari 2016

Rumah

Hampir setahun. Atau malah memang sudah setahun lebih aku tidak masukcke rumahku ini. Aku berhenti menjadi diriku yang dulu. Aku menjadi orang lain yang sibuk dengan hal hal lain seperti orang lain. Kutinggalkan semangatku pada rumah berpenghuni nafas nafas lama. Aku tidak peduli akan rindu yang menusuk nusul hatiku pada rumah tuaku.
Aku menjadi tak peduli, tak mau tahu. Padahal sebenarnya rumahku memanggilku kembali. Hatiku menginginkan pulang dan kembali menikmati rumahku yang telah dimakan usia. Oh rumahku, aku pulang.

Selasa, 25 November 2014

Lagi-Lagi Terimakasih: Yudisium Rasa Nano-Nano dan Air Mata yang Runtuh

Selepas nangis-nagis
Yudisium pagi hingga siang tadi begitu berkesan. Perasaan campur aduk saat mengikutinya. Peserta yudisium Universitas Muhammadiyah Makassar adalah yang paling banyak hingga hari ini, dengan jumlah lebih dar seribu calon sarjana (setelah diyudisium berubah status jadi sarjana pendidikan). Pada awal acara dimulai dengan pengajian oleh salah satu petinggi FKIP, lalu sambutan-sambutan.
Suasana yang panas, kadang ribut, kadang tertawa campur aduk dalam acara tersebut. Guyonan-guyonan juga ditumpahkan sesiapa saja yang berdiri di podium. Misal tentang setelah selesai kulah yang mau lanjut S2 silahkan, mau ngajar di pedalaman silahkan, kalau ngga bau keduanya ya lanjut nikah saja. Mendengar ucapan salah satu yang tampil, sontak saja seisi auditorium tertawa. Adegan pengambilan gambar dimana-mana, seakan yang satu ini adalah kewajiban bagi siapa saja, terlebih bagi Pak MC.
Acara yang paling dinanti-nanti pun tiba, pengumuman nilai akhir mahasiswa. Sebab yang diumumkan banyak, butuh banyak waktu baru mendengar nama sendiri dikumandangkan di depan sana. Alhamdulillah nilai cumlaude diperoleh dengan usaha kurang lebih empat tahun. Aku pikir awalnya hanya sampai di situ, taunya acara numpahin air dari mata tidak terelakkan juga.
Puncak yudisium saat para calon sarjana berganti status jadi sarjana ... awalnya saat sang tuan di depan saana mengucapkan ucapan terimakasih yang harusnya kami utarakan mulai mengusikku. Pembahasan tentang orang tua berlanjut dengan air mata yang tumpah. Wah ... aku yang kuat-kuatin ngga nangis malah yang paling duluan nangisnya. Wajah Bapak dan Ibu terpampang jelas di depan mata. Pengen langsung nyiumin tangan keduanya rasa-rasanya. Ilanjutkan lagi dengan nyanyian tentang Ibu. Tammatlah. Aku kalau nangis susah berhentinya, maka tak heran sampai acara selesai masih mewek juga.
Mata sembab sudah pasti. Hidung mengembang, kurang lebih. Kusutlah jadinya. Tak mengapa. Acara seperti ini, yang merupakan tahap bersejarah dalam hidupku, memang wajar jika mengundang rasa bak nano-nano.
Terakhir, untuk semua penghuni kampus UNISMUH, dari yang benda mati, mahluk hidup, manusia-manusianya, pengurus-pengurusnya, petinggi-petingginya, yang telah bersinggungan langsung denganku, dan yang tidak, dari yang membantu, hingga yang mempersulit (bunga-bunga kuliah bukan?), aku ucapkan BANYAK-BANYAK TERMAKASIH. Semoga Allah swt membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik. Aamiin.
Tungguin tanggal pake toga
Untuk Bapak, Bapak, Ibu, Ibu, Ibu, terimakasih banyak. Sangat banyak. Banyak yang tidak terhitungkan. Untuk keluargaku juga, siapapun itu, terimakasih. Ucapan ini sudah aku tulis  di sini.
Aku tak mengganti nama hanya menambah tiga huruf di belakang namaku, Sitti Mardiyah, S.Pd. Kelak semoga ilmu yang didapat dapat bermanfaat dengan baik. sekali lagi terimakasih.

Jumat, 21 November 2014

Bagaimana kau mulai menulis?

Meira's Art
Aku menulis ketika aku merasa sangat senang, sangat sedih, sedang berada di atas angin, atau terjatuh di dasar bumi. Aku menulis saat aku merasa tidak mungkin untuk berbicara. Menulis adalah cara ngomong yang lain bukan?
Berkali-kali aku putuskan bahwa, aku akan menulis sebagaimana hatiku menginginkannya. Aku bahkan tahu diri jika kadang kala, atau banyak kala, aku hanya menulis suara-suara hati yang tak didengar orang lain. Saat dimana aku hanya aku yang merasa rendah diri, tercela, dicela, tanpa punya ke-pe-de-an yang ‘wow’ seperti yang lainnya.
Dan kau pun harus tahu, tak ada yang ingin mendengar pengungkapan kekurangan diri yang hanya itu-itu saja. Tidak ada. Belakangan aku tersadar jika darinya aku hanya mendapatkan banyak kutukan dari yang lain.
Ya! Faktanya begitu.
Menjadikan rumah Kata(K) sebagai tempat curhat adalah hal terampuh yang kupunya. Pun jika kelak rumahku itu mulai protes tentang segala hal yang aku tulis di dalamnya, aku akan mencari rumah yang lain.
Begitulah cara aku menulis. Untuk menumpahkan gelisah agar tak memenuhi hati. Berbagi sedikit bahagia agar dirasakan hati yang lain.
Perasaan malu dengan tulisan-tulisanku sebenarnya ada, tapi ... harus bagaimana aku?
Hey! Maaf untuk tanya-tanya tak menentu. Sekian dariku. Semoga kau mengerti. Semoga.^^v

Minggu, 16 November 2014

TERIMAKASIH KU-UCAPKAN

Pertama-tama termakasih tiada terhingga untuk Penciptaku. Untuk Dia yang membuatku semakin yakin, memohon padanya adalah kekuatan paling besar. Meminta padanya adalah cara terampuh memperoleh sesuatu. Berkat Dia dengan segala kekuasaannya, aku diliputi rasa syukur yang sangat besar. Terimakasih, hamba-Mu benar-benar bersyukur.
Selanjutnya, untuk Nabiku. Rasulku. Manusia yang terjamin keselamatannya. Manusia yang dipuja pengikutnya. Terimakasih, berselawat padamu membuat nadi tak berpacu sedemikian cepatnya.
Untuk kedua orangtuaku. Tercinta. Terkasih. Tersayang. Terimakasih. Semangat tak pernah surut karena kehadiran orang tua yang penuh pengertian, perhatian. Pelajaran tentang bersabar kutuai dari keduanya. Doa yang tak pernah putus selalu mengikuti keberadaanku. Hingga aku semakin percaya, doa-doa orang tua begitu dahsyatnya.
Nenekku yang begitu rajin meracikkan sebuah kiriman hangat untukku. Untuk kami cucu-cucunya. Nek, kegigihanmu mengagumkan dalam doa. Ah ... terimakasih, sangat, sangat terimakasih. Untuk nenekku yang satunya juga. Terimakasih banyak.

Untuk adik-adikku (kata Bapak, mereka juga mengirim doa untukku) terimakasih. Semoga kelak aku (sebagai kakak) bisa ada untuk membantu kalian. Semoga!
Untuk Kak Ida, aku menjadikanmu patokan, pun tak bisa menyamaimu yang hebat (yang selalu membuatku kagum) minimal aku bisa belajar sedikit darimu, ah... maksudku banyak hal kupelajari darimu. Terimakasih, untuk segala bantuan yang tak bisa kusebutkan satu-satu.
Para tante dari yang narsis sampai bijak. Para om-om ganteng juga. Terimakasih. Motivasi, doa, segala hal yang membuatku tenang menjalani hari-hari (yang kadang kala melelahkan). Aku bersyukur punya keluarga yang wow banget.


Untuk Bunda, yang sampai saat ini tak bisa kusapa seenak hati. Bukan karena takut, aku terlampau segan dan hormat padata’. Terimakasih untuk menampungku, dan membiarkanku menggunakan fasilitas di rumahta’. Untuk Ayah juga. Untuk ponakan-ponakan jauhku. Aku merasa dekat (kalau mak bapaknya ngga ada di rumah).
Untuk sepupu-sepupu dimanapun berada. Aku yakin kalian mengirim doa untukku. Kekuatan doa memudahkan ujianku hari ini, 16 Noveber 2014.
Untukmu yang mengerti dan memotivasi. Terimakasih jadi tempat melepaskan keluh kesah dan segala unek-unekku. Terimakasih telah bersabar. Kau baik, aku yakin.
Untuk sahabat-sahabatku, teman sekelas, Ani, Rani, Sira, Sabil, Jum, Dila, Kak Asti, ah ... kalau nulis satu-satu kudu pegang absen dulu. Terimakasih. Bewarnanya masa kuliah karena ada kalian teman.
Untuk teman-teman FLP. Kak Irna, Kak Tina, Kak Hendra, Kak Adi, Kak Dikpa, semua-semuanya ... aku belajar menulis dari kalian. Aku belajar bicara banyak bersama kalian. Terimakasih telah ada di hidupku yang sempit. Terimakasih. Terimakasih telah mengajariku cara berbicara tanpa mengeluarkan suara. Untuk Yurie dan Uni yang belakangan tempat tinggalnya sering kukunjungi, terimakasih. Juga Kak Maidah yang jasnya telah menemaniku. Terimakasih Kak, berkat dirimu aku tidak kebingungan.
Sahabat-sahabat yang juga pernah merasakan hal yang sama denganku, Tika, Ade, Ainun. Terimakasih.
Para teman FB yang tak pernah bertatapan langsung, Mba Gem, Mba El (yang tulisannya menyemangatiku), Kak Niar, Mba Shabrina, Mba Leyla, Bunda Utami, dan semua yang pernah mampir di inbox Fbku, atau komenan denganku. Terimakasih.
Untuk siapa saja yang  pernah mampir lama atau sebentar di hidpuku. TERIMAKASIH.
Untuk dosen pembimbingku, Bu Tenri Ampa (biarlah kali ini tanpa titel, ya Bu) terimakasih. Berkat Ibu aku belajar banyak hal, bertahan, bersabar, menunggu. Ah ... selalu indah pada akhirnya. Terimakasih, di mataku sebenarnya Ibu sangat Baik.
Bu Haslinda yang banyak mahasiswa berharap beliau jadi pengujinya. Ibu keren, salut dengan kelembutan Ibu. Terimakasih untuk bimbingannya yang singkat.
Untuk Pak Munir yang mengujiku, Bapak hebat, bisa membuat mahasiswa kebingungan. Terimakasih karena hal itu tidak terjadi padaku. Berkat pertanyaan-pertanyaan yang membuatku tersenyum kaku (sebenarnya mataku hampir hujan). Bu Munirah dengan pertanyaan singkatnya, terimakasih. Begitupula dengan Pak Akhir. Terimakasih.
Untuk seluruh penghuni UNISMUH. Terimakasih.
Ah ... hanya kata terimakasih saja.

Menulis ini dalam linangan airmata.
Makassar, 16 November 2014-11-15 selepas ujian meja siang tadi.