Tampilkan postingan dengan label Cakrawala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cakrawala. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2015

Senja Yang Terenggut!


Oleh: Sitti Mardiyah

“Kali ini nenek akan bercerita lagi,” ucap Nek Maryam pada cucunya.
“Tapi cerita yang lain ya, Nek. Kalau kiasah cinta nenek aku sudah mendengarnya puluhan kali.” Jamilah merengek sambil memeluk neneknya erat.
Jamilah sangat menyayangi neneknya. Karena Nek Maryam adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Walau demikian, keduanya hidup dengan sangat behagia dalam istana megah milik Nek Maryam. Ya! Nek Maryam memang orang kaya, dan satu-satunya pewarisnya adalah Jamilah.
“Ya, nenek tahu kamu sudah bosan dengan cerita nenek itu.”
“Aku tidak bosan, hanya saja butuh selingan baru, Nek!” ucap Jamilah membuat neneknya tertawa.
“Kamu ini tidak bisa bohong sama nenek.”
“Hehehe ... jadi bagaimana? Nenek jadi cerita kan?” tanya Jamilah. Kali ini wajah Nek Maryam terlihat serius. Perlahan ia menarik nafasnya dalam untuk memulai ceritanya.
“Dengarkan baik-baik ... “
***
Gadis itu berlari-lari dengan riangnya di tepi pantai. Hamparan pasir yang luas menjadi saksi betapa bahagianya gadis tersebut. Ombak pun sesekali menjilat kaki putihnya yang tak beralaskan apapun.
Gadis tersebut tengah menikmati liburannya. Walau ia hanya bersama pengawal ibunya, namun ia cukup bahagia. Ia tak menuntut banyak pada sang ibu yang punya berbagai macam kesibukan. Baginya, cukuplah ia mendapat izin dari wanita yang dihormatinya itu untuk bersantai sejenak. Kencintaannya pada laut membuatnya rela jauh dari ibu dan rumah megahnya.
Senja sebentar lagi berganti malam, ia masih betah saja di pantai. Pun saat itu pantai mulai sepi. Ia hanya ditemani Jamal, pengawalnya. Tapi Jamal tiba-tiba mendapatkan telepon dari ibu gadis tersebut, ia pun menjauh dari tempat sang gadis. Jamal tak menyangka kalau sesuatu yang buruk telah menanti putri tuannya.
Dan saat kembali, alangkah kagetnya laki-laki usia 27 tahun itu. Gadis yang menjadi tanggung jawabnya tak lagi di tempat. Raib entah kemana, padahal hari mulai gelap. Jamal segera mencari keberadaan sang gadis.
“Nona Senja!” terikanya berkali-kali.
“Senja!”
“Senja!” kepanikan mulai merasuki laki-laki tersebut. Apa yang akan ia katakan pada ibu gadis tersebut nanti. Terlebih lagi, hatinya mulai resah. Senja! Dimana kamu?
Keringatnya tak lagi terhitung berapa jumlah tetesannya yang membasahi bajunya. Pikirannya tertuju pada gadis yang diam-diam dicintainya. Dan ... ia pun sampai pada batu besar yang terletak tak jauh dari pantai. Ia pun mendekati bebatuan tersebut, berharap gadis yang dicarinya ada di sana.
“Senja!” terikanya kaget. Di balik batu tersebut Senja tergeletak tak berdaya. Dalam gelap masih dapat Jamal melihat bercak-bercak darah pada pakaian gadis yang mulai beranjak dewasa tersebut. Kepanikan makin meraja. Jamal pun menggendong sang gadis untuk kembali ke hotel.
***
 “Jadi gadis itu kenapa, Nek?” tanya Jamilah pada nenekny.
“Dia ... kehormatn gadis itu direnggut.” Perlahan air mata Nek Maryam mengalir.
“Terus bagaimana kelanjutannya?”
“Pengawal gadis itu mengaku kalu dialah pelakunya. Bahkan gadis tersebut pun mengiayakan. Nenek baru tahu kebenarannya sesaat setelah gadis tersebut melahirkan.”
“Jadi nenek kenal dengan gadis itu?”
“Tentu saja karena dialah satu-satunya putri ibu.”
“Putri nenek?! Maksudnya ... “
“Dialah ibumu Jamilah. Ibu yang meninggal setelah melahirkanmu.”
Ibu yang tak pernah aku temui karena malam merenggutnya dariku! Bisik hati Jamilah pilu. Air matanya jatuh. (*)



Jumat, 03 April 2015

PUISI CAKRAWALA-28 Maret 2015



Mimpi adalah Kita


Oleh: Sitti Mardiyah

Mimpi adalah kita yang berlarian bersama
pada jalan-jalan setapak berkelok
di sana ada pohon-pohon tempat berteduh
ada sungai yang airnya keruh perlahan jernih
Mimpi adalah kita yang berkejaran
kadang aku di depanmu, kadang kau dahului aku
saat tanjakan kita berpegangan tangan
kala aku terjatuh tanganmu terulur membantu
Mimpi adalah kita
kita yang terkulai dalam lelah
kita yang memjamkan mata
dan kita yang kembali bangkit untuk mimpi
Mimpi adalah kita ...

2015


Tentang lelaki yang Menanam Benih Benci
Oleh: Sitti Mardiyah
Laki-laki yang menanam benih benci di hatimu
saat dulu
ketika usia belia di sandang
berwujud galak
mata garang menusuk
melarang kemana kaki melangkah
menyuruhmu tak bermain dengan si tua
memaksa tidur di siang hari
tak ada jatah jajan yang banyak
yang ada dipaksa ini itu dan lainnya
saat malam, matamu redup
kau dipinta mengulang hapalan
tak merebahkan badan jika semua belum usai
laki-laki itu ...
kau ... benci dengan segenap hati
dan kecamuk dendam yang meletup letup
Kini laki-laki itu bungkuk di depanmu
matanya berair setiap hari
kulitnya mengeriput
suaranya tak lagi tegas menusuk
dan kau ...
tak ada benci di hatimu
tak ada dendam
di hatimu berjuta rasa termakasih tumbuh subur
menggantikan benih benci yang mengering
Laki-laki itu memelukmu hangat
dan kau menangisi hari
terimakasih, katamu.
2015


Jumat, 31 Oktober 2014

Mimpiku Untuk Ibu


Ft by: Kora Cakrawala

“Ifah ...” suara teriakan ibu mengagetkanku.
“Iya Bu?” sahutku. Ada apa lagi sekarang? Lagi asiknya menulis juga.
Aku berlari keluar dari kamarku. Begini nih kerjaan kalau liburan, hanya di rumah mendengar omelan ibuku yang cantik.
“Kamu tuh ya, sudah dari tadi dipanggil malah ngga nyahut-nyahut. Itu telinga dikemanain?” suara amukan ibu menyambutku saat sampai di dapur rumah sederhana kami.
“Yah ibu, dari sini ke kamarku mana bisa dengar, yang ada tetangga yang mendengarnya. Disangkanya ntar ibu lagi marah-marah. Padahal kan ibu manggilku dengan nada penuh cinta,” aku mulai merayu, berharap ibu tidak lagi marah.
“Alasan saja kamu. Ngerjain apa sih? Liburan sekolah saja masih saja sok sibuk, sekali-kali kamu itu harus bantuin ibu di dapur. Biar pintar masak juga, kan malu ibunya pintar masak anaknya ... “ Ibu menatapku dengan tatapan yang, uhk ... ngga banget.
Begitulah keseharian kami, aku yang suka ngeles dan ibu yang menuntut aku agar kelak sama sepertinya, tangguh. Terlebih setelah bapak tiada. Walhasil ibulah tulang punggung dalam keluarga kecilku. Makanya akhir-akhir ini aku jadi mikir untuk menghasilkan uang sendiri. Selama ini aku hanya bantuin ibu jaga warung. Ibu sendiri sangat tidak suka aku membantunuya, katanya cukuplah aku belajar yang rajin. Tapi kali ini beda, sudah seminggu aku libur semester. Jadinya harus belajar ini dan itu, seperti kata ibu.
Tapi berkat kerasnya ibu saat membesarkan aku, membuatku berpikir untuk melakukan banyak hal. Termasuk membantu ibu dalam hal ekonomi. Walau masih kels satu SMA, aku sudah pikirkan baik-baik tentang hal itu.
“Fah, jadi penulis saja. Kan ngga ribet tuh, kalau masalah ngetiknya gampang deh. Lagian dulu kamu ngebet banget kan jadi penulis, sampai bela-belain maksa bapak kamu buat beliin notebook.” Itulah saran Rati, sahabatku.
Tentu saja aku ingat cita-citaku itu. Saat bapak yang sehari-harinya bekerja sebagai guru SD masih hidup. Namun seiring waktu berjalan, dan bapak telah tiada mimpiku untuk jadi penulis terkenal seakan ditelang bumi.
Jadi sebelum liburan tiba aku sudah memutuskan ingin jadi penulis. Kalau dulu alasanku sebatas cita-cita saja, kali ini alasanku bertambah. Aku ingin mengisahkan perjalanan hidupku bersama ibu juga bapak yang telah menghadap ke pangkuannya, juga aku ingin membantu ibu dalam hal ekonomi keluarga kami.
**
“Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu sering mengurung diri di kamar, Fah. Ada masalah?” tanya ibu saat kami sedang duduk bersama di ruang makan. Bersama dua orang adikku yang lain.
“Ibu tenang saja, kalau Ifah ada masalah pasti cerita kok,” jawabku tenang.
Tentu saja aku tidak bisa bilang aku sudah mulai menerbangkan mimpiku. Tentang ingin jadi penulis, aku memang belum bilang. Takut ibu marah, aku hanya ingin membuktikannya dulu dengan nilaiku di sekolah yang tetap baik dan tulisanku yang membuahkan hasil.
“Assalamu’alaikum ... “ Seseorang memecahkan keheningan suasana rumah kami.
“Biar ibu yang buka, kalian lanjutkan makannya,” ucap ibu.
“Wa’alaikusalam,” lanjut ibu sambil berjalan ke ruang tamu. Aku dan kedua adikku kembali menikmati masakan ibu. Dan sepertinya ibu terlibat percakapan dengan sang tamu. Hampir lima belas menit berlalu hingga ibu akhirnya muncul dengan sesuatu di tangannya.
“Fah ... “ ibu memanggil namaku.
“Iya, Bu?”
“Ini apa?” tanya ibu sambil mengarahkan pandangannya pada bungkusan yang ada di tangannya.
“Ini tadi diantar tukang pos, katanya kiriman buatmu. Ini dari mana?” tanya ibu lagi. Pahamlah aku kini benda apa yang ada di tangan ibu.
Dua minggu lalu aku mengirimkan sebuah cerpen untuk diikutkan lomba. Lewat bantuan sahabatku Rati tentunya.
“Itu hadiah, Bu. Hasil dari jerih payahku sebagai penulis.”
Ibu masih menatapku penuh tanya, sedikit ada tatapan marah di sana. Tapi aku akan berusaha meredamnya. Aku akan menjelaskan semuanya. Akan kukatakan mimpi yang pernah terlupakan dalam hatiku, juga harapan dapat membantu ibu dalam meringankan bebannya.


Sabtu, 31 Mei 2014

Memeluk Senja (Dimuat di Koran Cakrawala)



Oleh: Nahlatul Azhar
Senja menua. Berpamitan bersama tenggelamnya sang raja langit. Dan aku terpaku pada nisan yang berkisah pilu.
Lima tahun yang lalu aku meninggalkan dia yang kupanggil ibu dengan rasa malu. Bukan tanpa alasan, setiap kali kupanggil wanita itu dengan kata ibu, saat itu pula cemooh menghampiri telingaku. Hanya segelintir simpati untukku dan ibu. Sedikit saja, dan selebihnya hanya menonton dari jauh, juga sesekali berbisik agar tak menggaggu kami.
Lima tahun lalu saat hendak memasuki bangkus es-em-a, dengan wajah tak bersalah kutinggalkan ibu seorang diri. Aku kabur dari nasib yang membelenggu. Mencari kelayakan yang bisa menerimaku tanpa kehadiran wanita itu.
Lima tahun yang lalu. Kukubur rasa bersalahku dan menjauhi ibu tanpa tahu apa yang ingin disampakannya.
Lima tahun setelah kepergianku, dan kembali dengan kemenangan untuk ibu. Kemenangan yang direnggut olehnya. Lagi.
***
“Heh! Untuk apa kau kembali?” cibiran itu datang dari Mira. Sahabatku, sebelum aku pergi dulu.
“Mira, maafkan aku ... “
Susah payah kuracik kata demi kata agar ia mengerti.
“Maaf?! Hewan pun paham untuk tidak meninggalkan induknya yang sakit, sedang kau...” ada kilatan marah di kedua mata Mira. Sahabat sekaligus wanita yang pernah kucintai.
“Mira ...”
Aku menelan ludahku. Ah, betapa sulit menemukan kata yang pas untuk menjelaskan situasiku. Mungkin memang hanya maaf karena akulah yang salah.
“Ibuku ... dimana dia sekarang?” tanyaku. Satu beban berat telah kuletakkan. Sebuah pertanyaan yang sekian lama membatu di hatiku akhirnya mencair juga.
“Ibu? Ibumu? Sejak kapan kau sebut wanita itu ibu?”
Ah, Mira ...
Kapan kau bisa mengerti jika aku selalu menganggapnya ibu. Justru keadaan di sekitarkulah yang memaksaku menjauh dari ibu.
“Bahkan ibumu berencana menyusulmu hari itu,” penjelasan itu sedikit memberikan cahaya padaku.
“Jadi ... ibu menyusulku?”
“Untuk apa? Jelaskan padaku Wan, untuk apa wanita itu menyusul anak durhaka sepertimu?” suara Mira semakin meninggi.
“Mira, harusnya kau paham perasaan seorang ibu, sebab kau adalah ibu dari anakmu. Sedangkan ibu tak akan pernah membenci anaknya, terlebih ibuku yang mengerti keinginanku!” aku tidak sanggup jika hanya diam mendengar Mira mencaciku.
“Tapi kau meninggalkannya, Wan ... “
“Tapi ibu mengerti aku ...”
“Tapi kau meninggalkannya dalam waktu yang lama, sangat lama ...”
Aku terdiam. Mira benar. Terlalu lama aku pergi.
“Ibu selalu menunggumu, Wan. Tak kenal waktu.”
Bahkan saat menjelang malam? Ketika senja?
Ibu tidak menyukai gelap, ibu akan meraung ketakutan jika lampu padam. Ibu marah jika aku duduk di depan rumah padahal hari mulai gelap, pun masih senja.
“Ibu menunggu hingga waktu menjemputnya ...”
Air mata Mira berguguran.
Aku ikut terguguk.
***
Kutatap senja. Tak ada takut seperti ketakutan ibu. Karena senja menyampaikan pesan jika malam akan datang. Karena senja menjadi wajah hangat ibu yang tak sempat kupeluk.
Senja beranjak. Kupeluk sebelum menghilang. Seperti memeluk ibu.(*)
Penulis merupakan anggota FLP Ranting Unismuh