Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Mei 2019

30 HRDC day 13: Lipstik Wanita Itu

Dila meradang, wanita itu mengiriminya sebuah pesan di WhatsApp. Singkat namun memancing bara di hati Dila.
'Suamimu pesan lipstik loh'
Yang terpikirkan di kepala Dila, untuk siapa suaminya beli lipstik. Kalau untuk dirinya, pastilah Dila tahu, karena suaminya pasti memberi tahu. Suaminya bukan tipe laki laki yang suka memberi kejutan.
'Masa sih? Untuk siapa ya?'
Balas Dila. Pikirannya mulai mengembara. Siapa wanita itu? Yang beruntung itu.
'Untuk kamu lah, Dil. Untuk siapa lagi coba?'
Balas wanita itu. Wanita yang bagi Dila adalah seorang sahabat.
'Tidak, bukan untukku. Suamiku tidak pernah cerita soal lipstik itu.'
Dila membalas cepat. Rasa penasarannya mulai terpancing.
'Mana mungkin bukan, pastilah untukmu.'
Wanita itu mencoba meyakinkan Dila.
'Mungkin untuk Ibunya, mertuaku. Atau saudaranya yang nitip dipesankan ke kamu.'
Balas Dila lagi. Suasana hatinya benar benar tidak enak. Keruh.
Di sampingnya si kecil yang tengah lelap tertidur mulai terganggu, mungkin sadar dengan perubahan hati ibunya.
'Ya ampun Dil, suamimu bilang lipstik itu untukmu! Sebenarnya dia larang aku buat bilang, katanya kejutan, hadiah buat istrinya pasca melahirkan.'
Sahabat Dila, si wanita penjual lipstik mulai sewot. Dia heran dengan temannya, Dila, yang curigaan.
'Tidak mungkin, pasti suamiku cerita kalau ...'
Dila lagi lagi tak percaya.
'Terserah deh, Dil. Kali emang buat perempuan lain!!!'
Sahabat Dila mulai jengkel juga. Heran dia sama sahabatnya, sudah dijelasin baik baik masih juga curiga.
'Nyesel aku cerita ke kamu, Dil!'
Lanjut pesan wanita itu sekaligus mengakhiri percakapan mereka lewat WA.
.
.
.
Malam makin larut, wajah Dila kusut, sekusut cucian yang belum dia rapikan.
Suaminya yang sedari tadi bertanya mengapa wajahnya mayun, diabaikan begitu saja. Malah, setelah menidurkan si kecil, Dila memilih ikutan tidur.
Beruntung suaminya sudah sangat paham tabiat istrinya tersebut.
"Sayang, kenapa? Aku ada salah?" Bisik sang suami di telinga istrinya. Namun yang ditanya hanya diam, menggeleng pun tidak.
"Sayang, cerita dong, ada apa? Aku ada salah lagi ya?"
Dila diam.
"Sini deh,"
Bilal mendudukkan istrinya dengan sedikit memaksa. Dia paling tidak tahan dengan diamnya sang istri. Bahaya.
"Tolong cerita, Sayang. Ada apa, hmm?"
Dila luluh akhirnya. Lalu mengalirkan cerita perihal lipstik pesanan sang suami.
"Ya ampun Sayang, untuk siapa lagi kalau bukan untuk kamu?"
"Kali..."
"Tuh kan, curigaan lagi. Rencananya untuk hadiah kejutan Sayang, bukan untuk siapa siapa."
"Tapi kan  kamu tidak pernah cerita."
"Kalau aku cerita, bukan kejutan lagi dong," senyum sang suami menenangkan Dila.
"Tapi kan..."
"Sstttt! Sudah sudah, besok teman kamu mau ke sini, bawa lipstiknya."
Bilal merangkul istrinya mesra. Dila pun akhirnya luluh.
.
.
.
"Nih lipstiknya, masih mau curiga?"
Wanita itu, si penjual lipstik menyerahkan lipstik pesanan suami Dila.
Dila sendiri kehabisan kata kata, hanya bisa tersenyum malu. Sifat cemburunya masih juga menghantui. Namun, suaminya, Bilal, juga terus meyakinkannya, kalau hanya Dila yang ada di hatinya dan dia siap membuktikannya. Dari hal hal kecil sampai besar, semisal kejutan lipstik itu.
Demikian seutas tinta.

Madata, 13 Ramadhan 1440H
#Day13
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Sumber gambar: @beytal_4


Selasa, 05 Mei 2015

Senja Yang Terenggut!


Oleh: Sitti Mardiyah

“Kali ini nenek akan bercerita lagi,” ucap Nek Maryam pada cucunya.
“Tapi cerita yang lain ya, Nek. Kalau kiasah cinta nenek aku sudah mendengarnya puluhan kali.” Jamilah merengek sambil memeluk neneknya erat.
Jamilah sangat menyayangi neneknya. Karena Nek Maryam adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Walau demikian, keduanya hidup dengan sangat behagia dalam istana megah milik Nek Maryam. Ya! Nek Maryam memang orang kaya, dan satu-satunya pewarisnya adalah Jamilah.
“Ya, nenek tahu kamu sudah bosan dengan cerita nenek itu.”
“Aku tidak bosan, hanya saja butuh selingan baru, Nek!” ucap Jamilah membuat neneknya tertawa.
“Kamu ini tidak bisa bohong sama nenek.”
“Hehehe ... jadi bagaimana? Nenek jadi cerita kan?” tanya Jamilah. Kali ini wajah Nek Maryam terlihat serius. Perlahan ia menarik nafasnya dalam untuk memulai ceritanya.
“Dengarkan baik-baik ... “
***
Gadis itu berlari-lari dengan riangnya di tepi pantai. Hamparan pasir yang luas menjadi saksi betapa bahagianya gadis tersebut. Ombak pun sesekali menjilat kaki putihnya yang tak beralaskan apapun.
Gadis tersebut tengah menikmati liburannya. Walau ia hanya bersama pengawal ibunya, namun ia cukup bahagia. Ia tak menuntut banyak pada sang ibu yang punya berbagai macam kesibukan. Baginya, cukuplah ia mendapat izin dari wanita yang dihormatinya itu untuk bersantai sejenak. Kencintaannya pada laut membuatnya rela jauh dari ibu dan rumah megahnya.
Senja sebentar lagi berganti malam, ia masih betah saja di pantai. Pun saat itu pantai mulai sepi. Ia hanya ditemani Jamal, pengawalnya. Tapi Jamal tiba-tiba mendapatkan telepon dari ibu gadis tersebut, ia pun menjauh dari tempat sang gadis. Jamal tak menyangka kalau sesuatu yang buruk telah menanti putri tuannya.
Dan saat kembali, alangkah kagetnya laki-laki usia 27 tahun itu. Gadis yang menjadi tanggung jawabnya tak lagi di tempat. Raib entah kemana, padahal hari mulai gelap. Jamal segera mencari keberadaan sang gadis.
“Nona Senja!” terikanya berkali-kali.
“Senja!”
“Senja!” kepanikan mulai merasuki laki-laki tersebut. Apa yang akan ia katakan pada ibu gadis tersebut nanti. Terlebih lagi, hatinya mulai resah. Senja! Dimana kamu?
Keringatnya tak lagi terhitung berapa jumlah tetesannya yang membasahi bajunya. Pikirannya tertuju pada gadis yang diam-diam dicintainya. Dan ... ia pun sampai pada batu besar yang terletak tak jauh dari pantai. Ia pun mendekati bebatuan tersebut, berharap gadis yang dicarinya ada di sana.
“Senja!” terikanya kaget. Di balik batu tersebut Senja tergeletak tak berdaya. Dalam gelap masih dapat Jamal melihat bercak-bercak darah pada pakaian gadis yang mulai beranjak dewasa tersebut. Kepanikan makin meraja. Jamal pun menggendong sang gadis untuk kembali ke hotel.
***
 “Jadi gadis itu kenapa, Nek?” tanya Jamilah pada nenekny.
“Dia ... kehormatn gadis itu direnggut.” Perlahan air mata Nek Maryam mengalir.
“Terus bagaimana kelanjutannya?”
“Pengawal gadis itu mengaku kalu dialah pelakunya. Bahkan gadis tersebut pun mengiayakan. Nenek baru tahu kebenarannya sesaat setelah gadis tersebut melahirkan.”
“Jadi nenek kenal dengan gadis itu?”
“Tentu saja karena dialah satu-satunya putri ibu.”
“Putri nenek?! Maksudnya ... “
“Dialah ibumu Jamilah. Ibu yang meninggal setelah melahirkanmu.”
Ibu yang tak pernah aku temui karena malam merenggutnya dariku! Bisik hati Jamilah pilu. Air matanya jatuh. (*)



Kamis, 27 November 2014

Yang Tak Terucap

Brakkk!!!

Pintu rumah dibenting keras olehnya. Ia pergi tanpa mendengarkan penjelasan dariku. Aku pasrah dalam kebisuan sunyi. Kemana perginya dia yang dulu? dimana pula keagungan cinta yang pernah ia perlihatkan padaku?
***
Wawan termenung di kursi kerjanya. Hampir tiga tahun usia pernikahannya dengan Dewi. Sudah banyak yang keduanya lalui, namun yang paling membuatnya khawatir adalah sikap Dewi padanya yang tidak pernah berubah. Pun saat fakta menyakitkan datang menghampiri keluarga kecil mereka. Fakta bahwa mereka tidak akan dikaruniai anak karena Wawan mandul.
“Wi, kalau kamu minta aku bisa menceraikanmu,” ucap Wawan suatu hari.
“Apa-apaan sih, jangan bercanda yang aneh-aneh deh!” balas Dewi sambil tersenyum manis.
“Aku serius, Wi!”
“Tapi ... sedikit pun aku tak pernah memikirkan hal itu,” Melihat sikap Dewi yang begitu teguh, Wawan pun tidak rela mengambil keputusan sepihak. Terlebih lagi, ia sangat mencintai wanita yang telah menjadi istrinya itu.
Tapi, Wawan mulai dihinggapi rasa takut. Takut kehilangan, takut Dewi berpaling. Ia tidak ingin kehilangan cintanya. Hal itu pula yang mendasari sikapnya berubah. Ia mulai enggan pulang ke rumah, bukan karena benci pada istrinya sebaliknya ia menahan gejolak rindu dalam dadanya. Jika Dewi bertanya, ia hanya akan memberikan alasan yang sama tiap saat. Alasan pekerjaan. Lalu kejadian yang sangat ia takutkan terjadi. Tepatnya dua hari yang lalu.
asaljadi.com
Malam itu Wawan sudah mempersiapkan kejutan untuk istrinya. Wawan sadar sudah lama tidak memberikan suprise untuk istrinya. Maka setelah pulang dari kantor ia pun singgah di toko bunga. Ia pun mengatur segalanya. Setelah semuanya beres ia pun bergegas pulang ke rumah.
“Wah, ada apa nih Wan? Lagi seneng ya?” tanya seorang tetangga rumahnya saat ia sudah hampir sampai. Mendengar perkataan itu Wawan hanya tersenyum.
“Paling juga sebentar lagi dia marah,” ucap anak tetangganya, Yani. Sudah lama gadis itu menaruh hati pada Wawan makanya ia sering memanas-manasi laki-laki itu.
“Maksudmu?”
“Kamu itu bodoh banget yah, Wan. Ngga bisa bedain perempuan baik-baik dan yang pura-pura baik!” ucap Yani membuat Wawan semakin tidak mengerti.
“Apa maksudmu sebenarnya?”
“Pulang saja sana, dan lihat kelakuan istrimu itu!” jawab Yani sinis.
Tanpa bertanya lagi Wawan pun bergegas ke rumahnya. Tanpa mengucapkan salam ia menerobos masuk. Tidak ada siapa-siapa di ruang tamu. Amarah semakin menguasainya. Prasangka yang paling ia hindari mulai terpikir begitu saja.
“Hahaha ... kamu ini masih seperti dulu ternyata, takut pada ... “
Suara tawa itu diikuti oleh kehadiran sosok laki-laki dan istrinya yang baru saja keluar dari kamar. Kamar miliknya dan istrinya. Wawan kalap secepat kilat di arahkan bogem mentahnya pada laki-laki di hadapannya. Dewi menjerit, menangis memohon Wawan mendengarkan penjelasannya. Tapi tidak dengan suaminya, ia sudah kehilangan kendali.
***
Seharusnya kamu tahu aku. Harusnya kamu kembali dan mendengarkan semuanya. Harusnya! Tapi kenapa kamu tidak kembali, Mas?
Aku akan menunggu! Menunggumu kembali lagi ke sisiku, lalu menjelaskan semua kesalahpahaman kita. Semuanya!
Satu yang harus kamu tahu, cintaku hanya untukmu seorang, Mas. Ku mohon pulanglah!

Sabtu, 13 September 2014

Sketsa Mimpi (Cakrawala, Sabtu 13 September 2014)


Foto by:
Sastra Harian Cakrawala

Oleh: Nahlatul Azhar
Selama aku tidak membuka mata, mungkin mimpi akan selamanya kuagungkan. Namun, sampai kapan mata ini harus terlelap? Sedang perut meminta jatahnya untuk diisi. Tidak hanya satu perut, empat perut kosong terus saja bergemuruh sejak kemarin sore. Lalu masihkah aku akan dibelenggu mimpi-mimpi tak pasti?
Zahrah adikku yang paling bungsu kembali menangis. Perutnya sudah kembung karena hanya diberikan air oleh Fatimah, nama anak kedua dalam keluargaku. Walaupun aku yakin perut Fatimah juga sudah merintih sejak tadi, namun pada wajahnya yang terpancar hanya ketegaran semata. Bisa jadi karena dia adalah anak perempuan pertama dan juga menuruni sifat sabar dari ibu.
Berbeda lagi dengan Arham, adikku yang lainnya. Semalam tanpa pamit pada kami ia pergi begitu saja, mungkin karena tidak tehan perutnya kian melilit. Adikku yang satu itu memang terbilang pendiam, tak banyak bicara namun ahli dalam membuat masalah. Entah apa lagi yang ia perbuat di luar sana, yang pasti sudah sering aku menasehatinya. Memintanya agar lebih memaklumi keadaan kami, tapi toh kesemuanya itu hanya masuk telinga kanannya saja lantas keluar dari telinga kirinya. Bahkan sesekali menerikkan kekesalannya padaku.
“Tahu apa kakak tentang kehidupan kita?!” bentaknya suatu hari dan aku hanya diam mendengarnya. Bukan tidak berani membalas, justru aku berusaha menahan kecamuk amarah yang ada dalam dadaku. Aku anak tertua dalam keluarga kami saat ini, pengganti ayah juga ibu. Pun aku sadari sangat jauh dari sikap kedua orang tua kami tersebut. Satu yang tak pernah aku lupakan dalam menghadapi ketiga adikku, “Jangan sekali-kali kamu memukuli adikmu, Nak.” Berkat pesan ibu itu, amarahku selalu tertahan.
Matahari yang seharusnya sudah tinggi masih juga tak tampak di depan mata. Sebaliknya hujan terus mengguyur bumi seperti enggan untuk berhenti menyebabkan banjir di sana sini. Hal itu pula yang menjadi alasan aku tidak bisa kemana-mana. Harusnya pagi tadi aku mengantarkan koran, lalu siang hari mulai bekerja di warung Bu Salmah, tapi karena hujan tak satu pun yang terlaksana. Bahkan warung Bu Salmah sudah tiga hari tutup akibat air yang mulai menjamah seluruh tempat.
“Kakak tidak pergi mencari Arham?” pertanyaan Fatimah membuyarkan lamunanku.
“Biarkan saja, nanti juga pulang sendiri,” jawabku. Bukannya tidak peduli. Aku juga takut meninggalkan dua adikku ini. Air bisa saja semakin meninggi, tak mungkin juga mengharapkan orang lain untuk mengulurkan tangan pada kami, siapa yang peduli saat semuanya berada dalam posisi yang sama?
“Takutnya terjadi apa-apa sama Arham, Kak. Kakak tahu sendirikan dia anaknya gimana.” Aku terdiam.
“Lagi pula, aku bisa menjaga Zahrah kok. Tenang saja, Zahra sudah tidak menangis lagi tadi dikasih kue sama tetangga, jadi sekarang agak mendingan. Kakak pergilah cari Arham sekalian nitip makanan kalau ada.” Fatimah menatapku dengan pandangan yakin, lalu mengambil uang pecahan sepuluh ribu dari kantongnya.
Sebisa mungkin kutahan cairan bening yang menerobos keluar dari mataku. Betapa kagum aku pada Fatimah disaat aku mulai bingung dan kehilangan pegangan, seringkali ia yang menopangku membuatku tersadar bahwa kami harus tetap bertahan. Sesekali kudapati matanya terselimuti kabut duka tapi ia tetap bisa menguasai dirinya. Dan jika aku tanya apa ia baik-baik saja, dengan semyum lembut ia akan mengangguk. Air mata yang seharusnya sudah melelah dari matanya malah terlihat seperti pemacu semangat buatku. Juga senyum tulusnya membuatku tersadar, ia benar-benar mewarisi wajah cantik ibu.
Aku menyusuri jalanan yang tak lagi memperlihatkan tanah yang basah. Yang ada justru genangan air di mana-mana. Air bahkan sampai di pinggangku pada beberapa tempat yang kulalui. Sungguh ironis kejadian ini, bertahun-tahun tidak bisa teratasi. Bahkan akibat banjir pula secara tak langsung nyawa ibu dan ayah terenggut olehnya.
“Mad, mau ke mana?” Pak Saleh suami dari ibu Salmah menyapaku saat melewati depan rumah mereka. Suami istri tersebut sangat baik pada aku dan ketiga adikku.
“Ini Pak, mau cari Arham. Semalam ia keluar dan sampai sekarang belum balik-balik juga.”
“Loh, memangnya dia tidak pamit?”
“Tidak Pak.”
“Ya sudah kamu cari sana, hati-hati air semakin tinggi,” pesan Pak Saleh.
Setelah pamit aku pun beranjak pergi. Arham belum juga menunjukkan tanda-tanda keberadaannya.
Aku masih terus melangkah sesekali bertanya mungkin ada yang melihat adikku. Nihil. Kemana perginya dia? lalu ...
“Kak, aku juga punya mimpi ingin jadi dokter.”
“Kenapa milih jadi dokter?”
“Kalau aku jadi dokter orang-orang kampung kita tidak akan mati begitu saja seperti ayah dan ibu.”
Bukan tanpa sebab aku mengingat pecakapanku dengan Arham. Bukan! Justru aku mengingatnya karena melihatnya ada di sana, dalam dekapan seorang bapak-bapak yang tak aku kenali. Semakin dekat semakin jelas pula tubuhnya yang membiru. Hingga sampai di hadapan orang yang membawanya, yang kudapati hanya tubuh kakunya. Tak ada mata yang memandang sinis, juga umpatan yang terdengar begitu tajam. Arham!
Dia membisu. Terbujur kaku.(*)
Biodata Penulis: Nahlatul Azhar adalah nama pena dari Sitti Mardiyah. Penulis kelahiran 4 November 1991. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar Jurusan PGSD. Penulis juga merupakan anggota FLP Rantung UNISMUH.


Rabu, 02 Juli 2014

Pesan Baso pada Ma Rita (Budaya Fajar, 29 Juni 2014)

Foto by: AR Hamid Malewa


Oleh: Nahlatul Azhar

“Cari apa, Cantik?” suara Ma Rita membangunkan tidur siangku.
Lagi. Padahal aku tengah memimpikan sesuatu yang bagus. Terlahir dengan keadaan ekonomi yang sangat melimpah. Dalam mimpi kulihat seorang laki-laki dengan julukan presiden, tak lupa seorang wanita cantik di sampingnya, dan aku yang ada dalam pelukan wanita itu.
“Singgah, Pak.” Lagi-lagi suara Ma Rita memekik. Bising dan semakin bising telingaku karenanya.
Ma Rita selalu begitu.
“Berapaan ini?” tanya sesorang. Seorang gadis dengan jilbab warna merah menyala.
“Lima belas ribu, Dek.”
“Mahal sekali, sepuluh ribu bagaimana?”
Oh, lihatlah wajah Ma Rita ada sunggingan senyum manis di sana. Senyum yang dia sembunyikan jika sampai di rumah tua kami.
Ma Rita akan menangis semalam suntuk jika sampai di rumha. Ada saja alasan ia menangis. Karena dagangan yang tidak laku, Pa Andi, suaminya yang tidak menelepon, ataukah mertuanya yang datang minta uang. Kasihan Ma Rita tak ada teman disaat-saat sulit. Pun ada aku, namun tak mmbantu kesulitannya sama sekali.
“Tidak jadi ah, kemahalan. Mana bahannya tidak bagus lagi!” ucap gadis itu sebelum pergi.
Ma Reta terdiam. Dalam hati sumpah-sumpah kasar ia lontarkan.
Ah, Ma Rita sungguh kasihan.
***
“Hey Rita, ini aku bawakan makanan kesukaanmu.”
Laki-laki bertato ular itu mendekati tempat Ma Rita menjual. Seperti biasa dia akan merayu Ma Rita lagi. Pun dia tahu Ma Rita sudah bersuami bahkan sedang hamil, aku.
“Aku sudah bilang, tidak usah ke sini lagi! Apa kata orang-orang nanti, ingat Baso saya sudah punya suami, bahkan sebentar lagi punya anak!” ucap Ma Rita kasar.
“Halah ... suami apaan yang tega ninggalin istri padahal sedang hamil?”
Baso, preman yang suka mendatangi kios Ma Rita itu terkenal sangar. Payahnya, dia malah tunduk sama Ma Rita. Kadang aku heran, apa bagusnya Ma Rita yang sudah bersuami?
“Sudahlah Rita, ceraikan saja suami pecundang itu. Aku siap menghidupimu, bahkan bayi yang ada dalam kandunganmu!” ucap Baso dengan muka serius. Rambut gondrongnya tertiup angin sesekali, wajah sangar itu sama sekali tak membuat Ma Rita takut.
“Hey Baso, jaga ucapanmu!” teriak Ma Rita.
Akan ada kekacauan lagi setelah ini.
Baso, laki-laki yang jatuh cinta pada Ma Rita dua bulan terakhir. Itu karena Ma Rita pernah membalut luka Baso tanpa rasa takut suatu hari. Baso yang saat itu habis berkelahi dengan preman lain sontak dibuat kagum. Laki-laki yang banyak mengundang keresahan penghuni Pasar Sentral itu jatuh hati pada pertolongan pertama yang dilakukan Ma Reta. Maka sejak saat itu, ia rutin datang ke tempat Ma Rita berjualan.
“Rita, Rita ... aku lebih hebat dari suamimu, apa yang akan kau pertahankan darinya? Aku bahkan bisa memberitahumu informasi rahasia. Ini penting! Dengar baik-baik, besok tempat ini akan hancur.”
Ma Rita tak peduli dengan perkataan Baso. Ma Rita justru sibuk dengan jilbab-jilbab yang ia jual. Dirapikannya kembali barang dagangannya itu.
“Bawa semua barang-barangmu saat pulang, jangan sampai meninggalkannya di sini!” nada suara Baso memelan, sengaja berbisik..
“Sudahlah Baso, pergi sana!”
“Ah Rita kau harus percaya padaku kali ini! Satu lagi, aku tidak akan berhenti mengejarmu. Kamu harus tahu itu!” ucap Baso sebelum bersiap-siap hengkang dari tempat kami.
“Jangan lupa makan itu,” katanya lagi sembari menunjuk bungkusan yang dibawanya tadi. Laki-laki menyeramkan itu pun lantas pergi.
Hah ...
Ada desahan nafas panjang terdengar olehku. Dari Ma Rita yang terduduk diam.
***
“Jilbabnya, Bu ...” Ma Rita bergumam dalam tidurnya.
Bahkan dalam mimpi pun dia sedang berjualan? Beruntunglah aku pernah bermimpi jadi anak persiden. Pun hanya bunga-bunga tidur. Pukul satu dini hari, akankah mimpi Ma Rita hanya tentang jualan-jualannya yang kurang laku belakangan ini?
Hah ...
Alunan lagu dandut tiba-tiba terdengar dari HP milik Ma Rita. Sontak saja wanita yang belum bisa kupanggil Mama itu terbangun.
“Halo,”
Jeda. Ma Rita tengah mendengarkan orang di seberang sana.
“Apa?!” jerit Ma Rita kemudian.
Ada apa ini? Kedua mata Ma Rita berair seketika. Tangisnya pecah setelahnya. Tersisa aku yang kebingungan dalam rahimya. Ma Rita, apakah yang terjadi?
***
Sudah pagi dan Ma Rita masih diam di tempat tidurnya, sesekali ia mengelus perutnya, mengelusku. Ada kehangatan di tiap sentuhannya, hanya saja wajahnya tampak muram. Ma Rita tak jua beranjak dari tempat tidur, padahal harusnya ia sudah bersiap-siap untuk jualan.
Meski tidak ada korban jiwa, namun kebakaran pasar sentral untuk kesekian kalinya tersebut menghanguskan 700 kios dan 106 Ruko pedagang, hingga kini polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran yang diperkirakan menyebabkan kerugian ratusan miliar rupiah itu.
Suara dari tv kecil Ma Rita mengagetkanku. Kupandangi wajah calon Mamaku, inikah penyebabnya?
Seketika aku teringat pada Baso, si preman pasar.(*)

Nahlatul Azhar adalah nama pena dari Sitti Mardiyah.
penulis merupakan anggota FLP Ranting Unsimuh.

Kamis, 19 Juni 2014

Lara pada Januari (KeKeR, Sabtu 4 Januari 2014)



Oleh: Nahlatul Azhar
Ketika pada akhirnya kau pergi, yang kupikirkan hanya diriku. Bagaimana tanpamu? Kusingkirkan kemana kenangan kita nanti? Mimpi yang kita racik bersama harus kuapakan? Aku lupa bertanya padamu, maukah tinggal bersamaku?
Sunyi. Tak ada lagi suasana pagi mencekam saat kau dapati tumpukan buku di atas tempat tidurku. Juga tidak ada lagi teriakan marahmu yang mendapati pakaian kotorku di sembarang tempat. Tak ada muka masam menyambut tiap pagiku. Kau yang menarik selimutku dengan paksa, membuka jendela kamarku lebar-lebar demi cahaya matahari pagi yang katamu sehat, lalu menggelitikku hingga terbangun. Tidak ada lagi semua itu.
Kau benar-benar pergi, itu menjadi penyesalan terbesarku. Bukannya mencari cara menahanmu, aku justru terdiam kaku dan tak melakukan apa-apa. Memandang kepergianmu pun aku enggan saat itu. Pun saat kau berkata, “Aku berangkat Za,” kalimat terakhirmu sebelum bayanganmu hilang ditelan pintu rumah kita.
“Za, maafkan aku.”
Sekali lagi kudengar bisikan angin membawa suaramu yang berisikan permohonan maaf. Untuk apa, jika akhirnya aku benar-benar hanya seorang diri. Harusnya aku memintamu. Harusnya. Ah ... sulit memintamu memadamkan mimpi yang telah terajut indah. Mimpimu. Bukan lagi mimpi kita berdua.
Kau bahkan lupa janji kita untuk terus bersama sampai kapanpun. Sayangnya aku pun lupa mengingatkanmu akan hal itu. Aku yang lupa dan kau pura-pura tidak mengingatnya.
“Za, sekarang januari lagi. Masihkah enggan membuka matamu?”
***
Satu Januari. Sisa-sisa pesta penyambutan tahun baru masih tersisa. Disana sini jalan masih sunyi pertanda para pelakon tahun baru masih asik dalam dunia mimpi. Tapi tidak denganku. Lalu ... kami bertemu.
Kami dipertemukan dalam kesamaan yang memilukan. Dalam duka dan kebisuan. Dengan langkah mantap seorang remaja seusiaku mendekat. Wajahnya penuh lebam. Pakaian yang dikenakan pun sangat tak layak. Yang tersisa pada wajahnya hanya senyum untukku.
Aku enggan pada awalnya. Dia sudah pasti hanya akan meminta jatah makanku. Tapi ...
“Aku Lara, kamu?” tanyanya tanpa mengulurkan tangan. Hanya sepasang matanya yang menari-nari menatapku.
“Reza,” jawabku singkat.
Sejak saat itu kami bukan lagi kebisuan yang berjalan sendiri-sendiri. Kami lantas menjadi sekawan mimpi. Mencari asa pada mahalnya kehidupan. Aku dan Lara.
“Kita harus menjadi orang kaya!” ucap Lara tiap kali kami akan meninggalkan rumah kecil peninggalan orang tuaku untuk mencari kerja. Kerja apa saja.
“Kenapa harus kaya?” tanyaku.
Sebelum menjawab pertanyaanku, Lara tersenyum. Seyum yang tak kumengerti.
“Kau tahu, Za? Cukuplah namaku yang hidup menderita. Sebagaimana lara yang dihadiahkan orang tuaku. Lebih dari itu aku tidak mau. Makanya, aku dan kamu harus menjadi kaya,” jelasnya.
 Lara, namamu memang terlalu banyak menyimpan duka.
***
“Za, sekarang januari lagi. Masihkah enggan membuka matamu?” Kali ini kalimat itu memenuhi gendang telingaku.
Bukan enggan membuka mata, menjadikan hatiku rela pada sebuah perpisahan yang lagi-lagi menyesakkan hatiku. Sungguh, aku ingin bangun dari mimpi buruk bahwa Lara, gadis yang selama ini kuanggap saudara tak lagi membangunkanku di pagi hari. Tapi aku sulit sadar dari ikatan mimpi kami. Hatiku terlalu rapuh saat ia meninggalkanku. Aku bahkan tidak mempersiapkan diri untuk perpisahan kami saat itu.
“Mungkin kita masih akan bertemu, Za. Hanya tidak untuk sementara waktu sampai kau tahu batasan kita yang sebenarnya.”Batasan. Itu yang dikatakan Lara.
Seminggu terakhir sebelum kepergian Lara, ia memang banyak berubah. Walau tidak aku katakan tapi ia memang berubah. Seperti menjauh dariku. Seperti menghindari kontak fisik denganku. Tak ada lagi gelitikan khas Lara juga adegan tanganku mengacak-acak rambut panjangnya. Tak ada pula pandangan matanya yang marah saat buku diarynya aku baca.
Kebersamaan kami seminggu terakhir memang berbeda. Berubah. Bahkan ia menjadi aneh. Aku tidak peduli awalnya, toh aku pikir hanya sementara saja. Tapi saat suatu pagi dengan menutup kepalanya, pakaian lengan panjang dan rok panjang hingga mata kakinya, Lara pamit padaku. Bukan untuk sehari, seminggu, atau sebulan. Bukan. Yang dia katakan adalah, “Aku harus pergi, kita tidak boleh seperti ini.”
Aku tak paham, ilmu apa yang membuatnya berubah. Aku tak mengerti. Terlebih setelah itu aku tak melihatnya lagi. Lara benar-benar pergi dariku. Aku kembali sendiri. Menikmati bergelas-gelas duka hingga detik, menit, jam, hari, hingga bulan saling memburu. Mencari jalan menuju akhir dari sebuah tahun yang berlalu begitu saja.
Dan apa yang aku lakukan? Kucari jawaban dari sejuta tanya yang memenuhi kepalaku. Dan salah satunya, “Kenapa Lara harus pergi?”
*Penulis merupakan anggota FLP Ranting UNISMUH