Tampilkan postingan dengan label Kisah Merah Marun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Merah Marun. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2016

Gadis Yang Jatuh

Gadis ini sedang jatuh. Dia tak sadar sejak kapan. Tau tau dia merasa rindu saat tak bertemu. Lalu dia sadar... aku telah jatuh.

Gadis ini terperangkap dalam rasa yang tak terungkap. Hanya rasa dan rasa yang mengangkasa tiap saat. Gadis ini semakin jatuh.

Untuk dia yang membuatnya jatuh, ia berharap... ada cahaya darinya suatu saat nanti. Pun itu entah kapan, sang gadis tetap berharap. Walau harus jatuh berkali kali.

#Nun

Selasa, 05 April 2016

Malam Para Gadis

Malam para gadis. Begitulah awal dari kisah kali ini. Tentang sebuah malam yang tercipta berdasarkan resah. Hahaha … terlalu lebay ya. Kesalahan dalam penulisan mohon dimaklumi, lama tidak bersua dengan dunia kata. Begitu juga jika ada kesamaan tokoh dan yang dialami, hehehe … ini murni tentang perjalanan hidup, pengalaman juga.
Sebut saja namanya Nun, gadis yang sebentar lagi menyandang S2. Nun akhir-ahir ini sering ke kosanku. Maklum, doi tidak suka sendirian, dan di kosannya dia hanya seorang diri sebab tetangga kamarnya pada punya dunia sendiri. Walhasil Nun sering nginap di kosan sahabat sahabatnya, salah satunya ya …. Aku, Na.
Tik, gadis bertitel PNS yang terangkat kurang lebih setahun yang lalu. Gadis yang satu ini tergolong mulus dalam berbagai hal, menurutku. Sebab ia cepat menyelesaikan kuliahnya, cepat dapat kerjanya. Dalam hal karir mantaplah dia. Satu hal yang baru baginya adalah CINTA. Masalah yang selalu ia pertanyakan saat kami sedang ngumpul. Sok jadi senior dalam cinta? Tidak dong, justru kita senior dalam hal patah hati. Hikz…
Ada juga Nis. Kalau gadis yang satu ini masih sementara kuliah. Sama kayak Nun. Gadis ceria dengan pengalaman cinta segudang. Dibanding yang lain, dia paling pede, sangat lincah, hehehe dan satu lagi paling langsing pula. Ada juga Del, kalau yang satu ini paling jarang ngumpul. Dijulukin sama kita-kita dijulukin Ibu konselor.
Kalau aku … aku Na.
Oh ya… tentang dimana kami bertemu, dulu sekali … saat masih mondok di pesantren.
Selalu ada malam para gadis saat kita kumpul, walau tidak pernah lengkap tapi yang ada selalu membahas sesuatu hingga larut malam, pun hanya aku dan Nun yang berkumpul. Pembahasan paling hangat ya seputaran cinta, jodoh, nikah, pasangan, cinta, cinta, dan lagi lagi cinta.
Begitulah kisah malam para gadis. Untuk pembahasan lebih lanjut (asik) nantilah. Ini sudah waktunya ngajar coy. Maklum Na, si guru honor harus bertugas. ^^
Makassar,050316.

Rabu, 09 Maret 2016

Guru

Sebenarnya guru menurutku saat... mereka yang pernah tersentuh hatinya mengingatmu kala mereka dewasa. Lalu diam diam merindukanmu, mengirimimu doa, juga harapan ingin bertemu dan mengucapkan terimakasih.
Jika ada yang datang padamu dengan tujuang tersebut, menurutku... kaulauh sebenarnya guru.
Aku sama, merindu mereka para guruku. Semoga keselamatan, kesehatan senantiasa tercurah untuk mereka.
#PRusman#PSukri#PTamsil#BSuarni#BPia#BMasati dan lain lain.

Minggu, 09 November 2014

Menjemputmu: Menuju Kaki Langit


gambarkartun2.blogspot.com
Pulang adalah satu-satunya caraku mendapatkanmu. Bukan berarti karena di sini kita tidak akanbertemu, justru di tempat inilah aku melihatmu hampir di tiap harinya. Menemukan wajahmu dalam sulaman kain berwarna hitam, warnamu, menempatkanmu dalam dua meter dari jangkauanku, pada lima belas menit setiap kamu bisa. Selama aku mampu.
Di tempat ini, dalam kota yang menjadi tempat aku dan orang-orang kampung lainnya menuntut ilmu. Ilmu menjadi alasan utama kan? Sebenarnya alasannya hanyalah agar kita, penghuni kampung, dengan mudah mendapat pekerjaan selepas dari kota ini.
Dulu aku tidak sempat berpikir kenapa harus kota ini, kenapa bukan tempat lain yang lebih menjanjikan. Ke luar kota misalkan, atau luar negeri. Jawaban mudah setelah pemikiran itu aku temukan, biaya? Ah, itu bukan alasan. Aku selalu percaya jika ada jalan bagi yang mau pun tidak mampu. Mau yang kumaksud pun bukan mau seperti ‘hanya mau’ yang aku maksudkan adalah, mau berusaha, berjuang, berkorban, dan ... berdoa.
Aku? Saat itu masih menganggap hal-hal itu sepela. Maka, di sinilah aku, kota tempat kita bertemu. Makassar.
Awal pertama bertemu pun sebenarnya bukan dikatakan sebuah awal, yang sebenarnya aku pernah berjumpa denganmu. Tepatnya tiga tahun yang lalu, saat kita masih duduk di bangku sekolahan. Saat itu kamu adalah adik kelas yang sama sekali tidak aku kenal. Kamu pernah meminjam bukuku. Ucapmu agar aku mengingat perihal kita memang saling mengenal. Oh, tentu. Aku ingat, gadis itu ternyata dirimu, yang tertunduk dengan muka memerah. Semerah sampul buku yang baru saja berpndah ke tanganku, novel karya penulis kesukaanku. Asma Nadia. Kamu mengingatku dengan baik ternyata.
Tentang jarak dua meter tadi, itu teramat jauh bagiku. Bukan perkara aku mulai serakah, atau memang iya? Anggaplah aku serakah karena menganggap jarak dua meter itu terlampau jauh, karena yang kuinginkan sebenarnya adalah, kita tidak berjarak hingga aku bisa menggenggam tanganmu, menyentuh wajahmu, dan ...
www.downloadgambar.info
Ah, tak perlu lebih dari itu sebab jarak dua meter itu masih berlaku. Sedang aku mulai didatangi mimpi-mimpi tanpa jarak di antara kita. Mimpi yang menurutku indah jika benar-benar terjadi. Sayangnya hal itu hanya datang dalam tidurku, lalu saat subuh semuanya buyar. Maka tak jarang aku enggan bangun, berharap tidur kembali dan mimpi aku bersamamu kembali diputar.
Dan apa yang terjadi?
Kamu tidak ada di dalamnya. Di sana kutemukan api yang membakar. Ya! Panasnya matahar dari balik jendela menerobos masuk kamarku menjadikan wajahku panas.
Pulang. Satu-satunya cara mendapatkanmu. Demi bertanya pada orang-orang yang aku kasihi, apakah boleh aku datang pada orang tuamu?
***
Jika pulang menjadi caraku, maka siapkah kamu kudatangi?
Aku berulang kali menanyakan hal itu padamu. Kuakui jawabanmu menjadi penguat bagiku. Dari
qudin78.wordpress.com
jawabanmu yang terbata-bata saat kita bertemu terakhir kali kudapati rasa lain yang menggelora. Wajahmu yang memerah saat itu, sepasang matamu yang menunduk memandang tanah, seolah di sana ada sesuatu yang hendak kamu cari, semua itu bagai sihir yang menguatkanku, meyakinkanku bahwa jalanku kali ini adalah benar.
Dan sekarang aku telah menempuh delapan jam perjalanan dari kota pertemuan kita ke kampung halamanku. Lalu melanjutkannya ke rumah orang tuamu
Lalu ... bagaimana dengan kita nanti?

Selasa, 28 Oktober 2014

Ungkapan Rasa dan Pohon Cinta

06:16:49
Terkadang,
aku kehilangan kata-kata
untuk mengungkapkan rasa ini.
Namun,
cinta ini
tak pernah hilang
untukmu

06:30:53
Ada pohon kisah
tentang kita
tertanam pada kedalaman tak seberapa
belum sepenuhnya subur
bunga-bunganya belum mekar
daun-daunnya belum  melebar
katamu, kita rawat bersama
selamanya
pohon cinta 

06:21:54
Bahagia terpatri di hati,
cinta tertanam
tumbuh dengan indah

06:33:05
 Tentang pohon kita
bercerita tentang rasa
pada akarnya ia tanamkan kekuatan
pada batangnya harapan berselimut
pada ranting-ranting tersematkan keyakinan
pada daun tumbuh kasih sayang
pada  bunga tercipta bahagia sempurna
pohon kita
pohon cinta

28 Oktober 2014


Kamis, 16 Oktober 2014

Menjemputmu: Ketika Tidak Percaya



Foto by: Meira's Art
Jangan tanya bagaimana perlakuan Al  Habib padaku. Kau pasti tidak akan percaya. Aku saja tak mempercayainya. Seluruh panca indraku seakan sulit menerima perlakuan darinya. Bukan karena dia jahat, bukan! Sebaliknya ... dia terlalu baik.
Atau inikah jeratan yang melenakan itu? Yang banyak membuat wanita terpedaya lalu menangis darah?
Entahlah ...
Aku pernah menanyakan itu padanya. Kau tahu apa jawaban darinya? Dngan tangis tertahannya dia bersumpah atas nama Pencipta, bahawa dia tidak akan meninggalkan aku.
Aku gadis dengan ke-pe-de-an bermasalah, yang minder karena keadaan fisik, yang merasa tidak memiliki kelebihan, gadis yang terlahir dalam perasaan kecil. Dengan perasaan seperti itu aku hanya mampu mencintai tanpa pernah merasakan balasan rasa yang sama. Bagiku, cinta adalah sepihak. Cinta adalah kesendirian dalam kekaguman dan kerinduan.
Pun pemikiranku tentang cinta sepihak sedemikian dalamnya, aku tetap saja jatuh dan jatuh pada virus berwarna merah muda itu. berkali-kali pada luka yang sama. lelah? Jangan kau tanya, saking lelahnya aku sampai berpikir, nasib perasaanku hanya begini saja.
Toh, aku punya keluarga yang begitu penyayang bukan?
Lalu perlahan Al muncul. Tak kupercaya bisa banyak bercerita padanya pun tak secara langsung. Hobi yang sama menjadi penyebabnya keakraban kami.
Butuh waktu yang lama. Butuh deretan bulan yang panjang. Al yang dulu aku tatap sekilas saja, sebab aku tak pernah merasa bisa sejajr dengannya, sekarang malah mengatakan kata-kata yang hanya ada dalam mimpi malamku.
“Apa yang kamu lihat dari dirku? Tak ada yang spesial, tak ada yang bisa aku banggakan,” ucapku beberapa kali. Dalam tangis.
“Orang lah yang menilaimu, kamu baik sangat baik, terutama untukku,” ucapnya.
Dari jarak berkilo kilo meter, aku sangat tahu matanya juga basah. Jelas terbaca dari suaranya yang serak.
Ketidak percayaanku nyatanya tak menyulutkan rasa di hatinya. Al gigih. Berkali-kali kuminta menyudahi semuanya. Berkali-kali juga aku menangis karena kata-kataku tak pernah sejalan dengan keinginan hatiku. Aku juga telah jatuh dalam rasa yang begitu dalam padanya.
“Aku ingin kita sudahi saja.”
“Karena kamu tidak percaya cintaku?”
Aku terdiam.
“Aku memang belum bisa apa-apa, Nda. Aku belum bisa memintamu pada orang tuamu, tapi jangan tinggalkan aku. Aku tidak akan pernah bisa melepasmu.”
Begitualah ... kami selalu menangis bersama, entah siapa yang selalu memulainya. Ah, Al memang berhati lembut. Dan aku semakin sering memujinya.
“Tunggulah, aku akan ke rumahmu,” ucapnya.
Dadaku tentu bergemuruh karenanya.
“Untuk apa?” tanyaku.
“Aku ingin bertemu orang tuamu, aku juga ingin tahu penilaian mereka tentang.”
“Hanya itu?”
“Dan untuk meyakinkanmu!” tegasnya.
Tak pernah ada teman-temanku yang datang ke rumah. Jarak yang jauh serta jalan yang tidak bagus jadi penyebabnya. Hal lain yang memang jadi masalah utamanya adalah, aku tidak mengizinkan.
Dari sekian banyak temanu, Al adalah yang paling gigih meminta untuk berkunjung. Bahkan jauh hari sebelum hati kami berwarna cinta.
Al datang ...
Benar-benar datang. Dia berdiri di depan rumah kami. Rumah panggung sederhana.
Jangan tanya perasaanku. Aku tetap tidak percaya.
Lalu kau masih bertanya-tanya ... bagaimana perlakuan Al padaku?
Aku pun tak bisa percaya.

Bersambung*