Tampilkan postingan dengan label Sahabat Anak Fajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat Anak Fajar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 November 2014

Ilmu #Puisi ini merupakan tulisan anak-anak tempatku penelitian


Oleh M. Rifki Fais

Ilmu ...
Di sekolah aku menuntutmu
Dari hari senin hingga sabtu
Diajarkan oleh guru-guru
Aku tidak bisa meraih cita-cita tanpa ilmu
Karena ilmu sangat berguna untukku
Oh ilmu ...
Semua orang membutuhkanmu

Oleh M. Rifki Fais Siswa MI GUPPI RUMBIA  Desa Lunjen Kec Buntu-Batu Kab Enrekang.

Aini dan Nenek Tua #Cerpen ini merupakan tulisan anak-anak tempatku penelitian


Oleh: Nurul Izza Khairiah Buhakim
Di hari minggu Aini dan teman-temannya janjian untuk bermain bersama. Akan tetapi sebelum berangkat, Aini di suruh ibu untuk mencuci seragamnya. Aini pun meuju ke sumur yang letaknya jauh dari rumah.
Di perjalanan Aini bertemu dengan seorang nenek tua yang tampak kebingungan. Karena kasihan Aini pun berencana mengantarkan nenek itu ke tempat tujuan. Aini lalu memulai percakapan.
“Nenek mau kemana?” tanya Aini.
“Nenek mau ke rumah cucu nenek,” jawab nenek tersebut.
“Nenenk tahu rumahnya?”
Muka nenek tua itu seketika berubah. Ia tampak sedih.
“Mau aku antar, Nek?” tanya Aini lagi.
Nenek tua akhirnya mengiyakan tawaran Aini. Aini pun mengantarkan nenek tua, walau sebenarnya ia tidak tahu dimana rumah cucu sang nenek.
Di perjalanan, nenen mulai bertanya-tanya pada Aini.
“Apa Aini punya sahabat?” tanya nenek.
“Punya dong, Nek.”
“Kamu sering bertemu mereka?”
“Hehehe, iya. Ketemunya di sekolah, dan saat pulang dari sekolah.”
“Ngapai saja biasanya?”
“Cuman main saja, Nek.”
“Kalian pernah bertengkar?” tanya nenek lagi.
“Pernah, malahan sampai berhari-hari. Tapi kami baikan lagi setelahnya.”
Nenek mengangguk-angguk mendengar cerita Aini.
“Eh, siapa nama cucu nenek?”
“Namanya Wiwi.”
“Wah, dia sahabat saya, Nek. Aku, Wiwi, Rosmini, Fani, Nasrah, dan Nurul, kami semua bersahabat.”
Akhirnya Ainipun mengantarkan Nenek ke rumah Wiwi.

Nurul Izza Khairiah Buhakim Siswi MI GUPPI RUMBIA  Desa Lunjen Kec Buntu-Batu Kab Enrekang. Suka dengan boneka, suka baca, dan juga menulis cerita.


Minggu, 14 September 2014

Ramuan Ajaib Bunda



Oleh: Nahlatul Azhar
 “Mel, minum susu dulu baru berangkat,” Bunda mengingatkan Meli pagi itu.
“Ngga deh Bun, ngga enak. Lagian sudah telat.” Meli menggeleng kuat-kuat.
Meli memang sangat malas minum susu. Tiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, Bunda selalu mengingatkannya.
Meli suka pura-pura lupa minum susu. Sampai-sampai Bunda pusing dibuatnya.
“Meli, ayo dong Sayang ...” pinta Bunda.
“Meli ngga suka Bunda!” ucap Meli dengan suara tnggi.
Hah ... Bunda menghela nafas melihat tingkah Meli yang sangat tidak suka minum susu.
“Siap Mel?” tanya Papa saat keluar dari kamar.
“Iya Pa.”
“Loh, kok susunya tidak diminum?” tanya Papa heran.
“Meli ngga suka, Pa!”
Meli akhirnya diantar Papa tanpa minum susu.
Begitulah Meli tiap pagi berangkat sekolah tanpa menghabiskan susu buatan bundanya.
                                                                   **
“Bun, susunya ngga ada ya?” tanya Meli pagi itu.
Bunda mengiyakan.
Meli heran, kenapa Bunda tidak menyuruhnya minum susu lagi?
Meli juga heran Bunda tidak banyak bicara pagi itu.
Sampai berangkat sekolah pun Bunda hanya diam.
Di sekolah Meli banyak berpikir tentang Bunda. Meli takut Bunda marah gara-gara ia tidak mau minum susu.
Hingga pulang sekolah pun Meli masih bertanya-tanya kenapa Bunda tidak banyak bicara.
“Bun, susu buat siapa ini?” tanya Meli saat melihat segelas susu coklat di atas meja ruang tamu.
“Oh ... itu buat Asti,” kata Bunda.
“Kok buat Asti?” tanya Meli.
Tentu saja Meli heran, kenapa Bunda membuat susu untuk tetangganya itu?
“Katanya Asti mau dibuatkan ramuan ajaib dari Bunda.”
“Ramuan ajaib?” lagi-lagi Meli bertanya.
“Iya, ramuan ajaib. Kan bisa membuat badan jadi sehat, pintar, tumbuh tinggi ...” jelas Bunda.
Ramuan ajaib ... pikir Meli.
**
“Susunya, Mel,” ucap Bunda pagi hari sebelum Meli berangkat sekolah.
“Sipp ... Bunda,”
Bunda tersenyum melihat Meli lahap meminum susu coklatnya.
Meli memang jadi rajin minum susu. Ia menganggap susu adalah ramuan ajaib yang disediakan Bunda tiap pagi. Lagi pula Meli merasa bersalah pada Bunda yang selalu membuatkan susu namun tidak diminumnya.
Setibanya di sekolah ...
“Aku punya ramuan ajaib!” ucap Meli pada sahabatnya, Nana.
“Benarkah? Ramuan ajaib bagaimana, Mel?” tanya Nana penasaran.
“Ramuannya bisa membuatku tambah pintar, tambah tinggi, tambah ...” Meli memikirkan kembali apa yang pernah dikatakan Bundanya.
“Tambah apa lagi?” tanya Nana masih dengan wajah penasaran.
“Pokoknya tambah pintar, Nana.”
“Mm ... kata siapa, Mel?”
“Kata Bundaku dong.”
“Ramuan apa?” Nana bertanya lagi.
“Mmm ... rahasia ...” ucap Meli lalu berlari ke luar kelas.
Nana yang penasaran tentu saja mengejarnya.(*)

Penulis merupakan anggota FLP Ranting Unismuh

Selasa, 17 Juni 2014

Maaf, Tanteku Sayang! (Sahabat Anak, Ahad 22 Desember 2013)


          Oleh: Nahlatul Azhar
Namaku Zidan. Aku sekarang duduk di kelas 4 sekolah dasar. Hobiku adalah bermain. Main apa saja yang penting ada yang menemaniku. Karena aku punya dua hari libur: sabtu dan minggu, makanya ada banyak waktu aku bisa bermain main.
Aku biasa bermain dengan temanku yang tinggal di samping rumahku. Aku juga biasa menginap di rumah teman sekolah saat hari libur. Kami biasa main game sampai larut malam. Makanya bunda biasa marah padaku. Tapi aku suka bermain, jadi kebanyakan waktuku adalah untuk bermain.
Namun semenjak Tante Ida datang, jadwal mainku jadi berkurang. Tante ida selalu marah kalau aku main ini dan itu. Aku selalu di suruh menyelesaikan tugas dari sekolah. Kalau tidak tugas dari tempatku les matematika. Biasanya kalau sudah kesal dan ingin sekali bermain, aku akhirnya mnangis. Tapi bukannya mengizinkan, Tante Ida malah menyuruhku untuk terus mengerjakan tugas.
***
Tante Ida adalah sepupu ayah. Itu yang dikatakan bunda sebelum tante ida datang ke rumah kami. Kata bunda, tante ida yang akan menjaga kami selama ayah dan bunda pergi kerja. Bunda juga bilang kalau tante ida itu baik. Aku senang-senang saja karena aku pikir, jika ada Tante da aku bisa langsung pulang ke rumah setelah belajar di sekolah. Dan tentu saja bisa bermain lagi.
Sudah hampir sebulan Tante Ida di rumah kami. Adikku Wildan tentu saja sangat senang kepadanya. Tapi aku tidak. Tante Ida mengurangi jatah mainku. Pernah aku bilang pada bunda kalau Aku tidak lagi lama saat bermain gara-gara Tante Ida. Bukannya membelaku, bunda malah bilang itu bagus.
Aku jadi kesal pada Tante Ida. Sekarang sebelum azan magrib, aku sudah harus berada di rumah. Setelah itu mandi dan pergi shalat berjamaah di masjid depan rumah. Setelah shalat aku disuruh mengaji, sahalat isya, terus belajar. Tante Ida benar-benar tidak mengizinkanku bermain sebelum tugas-tugasku selesai. Menyebalkan sekali bukan?
Tidak hanya saat malam. Sore-sore juga sama saja. Tante Ida selalu melarang.
 “Aku mau pergi main ya Tan?” tanyaku. Sambil mengambil sepedaku. Sore ini aku akan pergi bermain sepeda dengan Alif, tetanggaku.
“Memang PR nya sudah selesai, Dan?” tanya Tante Ida.
“Belum. Nanti aku kerjakan setelah main sepeda.”
“Mending dikerjakan sekarang. Nanti tidak tante panggil-panggil lagi kan?”
“Aduh Tan, temanku sudah nunggu.”
“Biar tante yang bilangin kalau kamu mau kerja PR dulu.”
Tuh kan ... Tante Ida selalu gitu. Kalau sudah begini mau tidak mau harus ngerjain tugas dulu. Tentu saja mukaku cemberut dan sangat jengkel. Tante Ida tentu tidak peduli. Ia terus saja mengawasi dan mengajariku.
***
“Zidaaaaann!” suara Tante Ida mengagetkanku.
“Kenapa belum belajar? Besok kan ulangan!” lanjutnya lagi. Aku memang dari tadi main game.
“Nanti saja Tan,” ucapku masih menatap layar tv.
“Baiklah, tidak usah belajar kalau begitu.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Tante Ida pun pergi. Wah, baru kali ini Tante Ida mengalah dan tidak melarangku bermain. Aku sangat senang tentunya. Sekarang aku bisa bermain sepuasnya.
Namun sejak hari itu Tante Ida berubah. Tante Ida tidak pernah lagi mengingatkanku soal belajar. Ia membiarkanku terus bermain. Tante Ida tidak pernah lagi berbicara padaku, tidak juga mengajariku. Padahal aku masih ulangan dua hari lagi. Tapi ... bagus juga, aku lebih leluasa bermain kini. Tidak ada lagi yang melarang-larangku.
***
Aku sangat sedih sekarang. Nilai-nilaiku di sekolah banyak yang menurun. Padahal banyak temanku yang mendapat nilai bagus, tapi aku malah sebaliknya. Bahkan nilai matematikaku yang dulunya 95 sekarang hanya 70.
Aku jadi teringat perlakuanku pada Tante Ida. Aku menyesal tidak mendengarkan apa yang ia katakan. Seandainya aku mengikuti perkataannya. Seandainya aku tidak bermain terus tiap hari. Kini aku mengerti mengapa Tante Ida selalu menyuruhku belajar dan melarangku banyak bermain.
Aku berjanji tidak akan membantah perkataan Tante Ida lagi. Aku janji. Aku juga akan minta maaf padanya.
“Tante Ida, maafkan aku ...” ucapku setiba di rumah lalu memeluknya. Tante Ida memang pahlawanku.


Biodata Penulis: Nahlatul Azhar nama pena dari Sitti Mardiyah, penulis kelahiran Madatah 4 November 1991. Merupakan Mahasiswa PGSD Universitas Muhammadiyah Makassar dan anggota FLP Ranting UNISMUH. Tulisan-tulisannya dapat dijumpai di http://nahlatulazhar-penuliscinta.blogspot.com/.