Tampilkan postingan dengan label Na dan Ge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Na dan Ge. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 September 2014

Ge dan Na: Di Sini ada Cinta



  Ada Ge yang berubah.
Ada Na yang berubah.
Berubah berlaku bagi keduanya.

“Aku mulai cemburu,” Ge mengirim pesan singkat.
Kali ini tak ceria, tak sama dengan kisah cinta kemarin.
“Karen kepoin dia kan?” Na membalas.
Ada yang menggelitiknya. Aku juga dulu sama, Ge.
“Aku tidak pantas merasakannya kan Na? Siapalah aku?”
Apakah cinta bertanya sebelum mampir di hati?
Hati Na berbisik.
Tidak pernah! Tak permisi! Tau-tau dia jatuh menimpa hati dan kepala. Meracuni segalanya.
“Na ...”
“Ya? Bisakah menikmatinya dalam diam? Biarkan mekar tanpa dinkmati yang lain?”
“Entah.”
“Hmm ...”
“Aku jatuh, sama sepertimu!”
“Jangan, Ge! Jangan pernah!”
“Kenapa?”
Sunyi.
Sebab jika sama sepertiku, kamu akan menyesal!
Malam mendua. Meninggalkan keramaian berbaring di sisi sepi. 

17-9-14


Rabu, 28 Mei 2014

Ge dan Na: Di kemudian Hari (Pemain tambahan)



Tiba-tiba memikirkan ini:


Na untuk Day, dan Ge untuk ... Wa, mungkin.
Hmm ...Degh!
Semoga ada kisah baru.

Edisi Ge dan Na dikemudian hari.

Na: Bagaimana jika ...
Wa: Jika saja tak ada bagaimana...
Na: Jadi?
Wa: Tak ada yang ter'jadi.
Na: ... (bingung)
Wa: Hahaha
Ge datang.
Wa terdiam.
Na heran, kenapa Wa tiba-tiba diam?
Day nimbrung.
Day: Na, mau makan apa sore ini?
Hujan di luar sana tersipu.

Bagaimana jika Ge dan Na berkeluarga? Masihkah ada candaan aneh?
Aku menikmati permainan kataku. Semakin. Dan rasa dalam dada bergetar. Rasa seperti dulu, saat pertama kali memainkan penaku.

Sabtu, 24 Mei 2014

Ge dan Na: Asal Mula Rumah Kata(K)



http://k-budu.blogspot.com

“Ge ada yang bertanya padaku tentang rumahku,” ucap Na.
Suasana pagi masih sunyi. Walaupun hujan rintik-rintik telah tinggalkan kota.
“Kan emang aneh, Na. Rumah Kata sih oke, ngapain nambah-nambah K di belakangnya?” Ge antusias bertanya.
“Kan kerenan gitu, ada unsur gimana gitu ...”
“Ye ... unsur huruf lah emang apa lagi?”
Na menghadap Ge. Ada penjelasan sepertinya.
“Gini Ge sayang, tahukan itu rumah belum bagus, masih abal-abal perabotannya, atapnya kadang masih kemasukan hujan. Suasana di dalam panas dingin pula, belum lagi kondisi airnya yang macet-macetan ...”
“TUNGGU! Ini kamu bahasa rumah sebenarnya atau ...”
“Hehehe rumah Kata(K) lah,”
“Terus kenapa ada perabotan, atap, air, dan lain-lain?” dahi Ge mengerut.
Na tersenyum manis ala gula-gula.
“Hehehe ... kan diumpamakan rumah beneran. Tulisan di dalamnya adalah perabotan kan?” Na balik nanya.
“Ampun deh ... teruus-terus?”
“Nah, kan tuh rumahku belum bagus-bagus makanya tambahin unsur K di belakangnya. Jadi Rumah Kata(K), maksudnya isi dari blogku itu belum ada bagusnya.”
“Ow, ow, ow ... jadi katak nempel dikarenakan belum bagus? Ngatain katak jelek yah?” Ge jail kambuh.
“Yup! Kan ada tuh pangeran katak, jelek kan awalnya? Cuman setelah usaha dan dapat sentuhan ajaib jadilah ia pangeran tanpan yang diperebutkan banyak gadis,” Na balas dengan kerlingan mata.
“Termasuk kamu?” tanya Ge tak kehabisan akal.
“Haha ... ayolah, pangeran katak sudah ngga jaman sekarang, yang ada pangeran misikin yang ketukar pas masih bayi.”
“Yey, itu malah cerita sinetron kesukaanmu, Non!”
“Hehe, ngga lah. Sinetron Korea baru tak sukai.”
“Citai produk sendiri dong!” ucap Ge.
“Kalau pendamping hidup pastilah produk dalam negeri, hehehe ...”
“Ampun deh, Na. Itu kan beda lagi!!!” Malah Ge yang sebel ujungnya.
Na siap kabur.
Pagi masih buta.

Rabu, 14 Mei 2014

Ge dan Na: Nona-nona Pelupa



“Hikz ...” Na ngusap air mata. Sedih rasanya.
“Kenapa, Na?” tanya Ge.
wwwayakamisaki.blogspot.com
“Aku kok pelupa banget ya, sampai-sampai berkali-kali.” Na sedikit membuka persoalan. Masih dengan mata bersimbah air (apaan sih).
“Oh ya? Tapi kamu ngga lupa kan kita sahabatan selamanya?” Ge mencoba bercanda.
Upz... garing!
“Ngga lah, mana bisa lupa sama kamu yang bentar lagi bakalan beliin makan siang,” ucap Na bercanda dalam linangan air mata.
“Yee ... tapi kali ini lupa apa lag, Na?”
“Huft ... aku lupa mencet tombol reskuker, padahal harusnya nasi udah mateng sekarang, pengen dimakan empunya rumah sebelum ngantor. Belum lagi beberapa hari sebelumnya aku lupa nyabutin kabel sebelum keluar rumah, padahal yang empunya rumah sudah wanti-wanti sebelum keluar. Juga lupa matiin pompa air, lupa ini dan itu, lupa yang lain-lain ... hu hu hu!” tangis Na menjadi-jadi.
Ge diam. Ini masalah serius pemirsa.
“Sumpah, Ge, aku ngga ingat, tidak berniat lupa, bahkan sedikit pun rasa sengaja untuk lupa tidak ada! Sering kali aku sudah ngingat dalem-dalem sebelumnya, tapi ujung-ujungnya lupa. Hikz ...”
Ge masih diam.
“Bukan apanya, aku merasa bersalah saja, sudah diamanahin masa lupa. Apa coba pikiran orang-orang, jangan sampe dikiranya aku sengaja. Kan ngga benget!” Na terus berbicara.
lilisuswatunhasanah.blogspot.com
“Lama-lama kalau begini terus rumah bisa kemasukan maling gegara aku, rumah bisa kebakaran ... huhuhu ...”
“Cup ... cup ... Na yang sabar ya, Allah maha tahu kok,”
“Huaaaa ...”
Na terus menangis,Ge di sampingnya kebingungan.
Nih anak nangis jangan-jangan gara-gara lapar pula, tadi kan minta dibeliin makanan. Pikir Ge.
Nona-nona pelupa, harus bagaimana diriku?
Afawan. Na.

Selasa, 13 Mei 2014

Ge dan Na: Tujuh Kata Aneh (Kata Hitam)

#edisispesiall_katanya

“Ge,” panggil Na dari kolom rumah.
“Ge!” Mengulang pangglannya karena yang dipanggil sepertinya tak muncul-muncul.
“Geeeee!” Kali ini dengan suara keras.
“Ehm ...” yang di panggil muncul dari belakang Na.
“Apaan sih terak-teriak, salam kek,” ucap Ge.
“Hehehe ...  ada yang baru makanya lupa,” Na cengengesan.
“Baru gmana? Namaku jadi salam pembuka, atau salam pas mau masuk rumah orang?” Ge bertanya. Wajahnya memerah, tidak terima namanya menjadi salam yang di rubah.
“Kata siapa?” tanya Na.
“Katanya ada yang baru,”
“Iya ... tapi bukan nama kamu yang jadi pengganti salam. Itu tadi aku khilaf bin salah dan minta maaf sebesar-besarnya,” ucap Na. Kebiasaan bicara cepatnya keluar.
“Minta maaf sama aku?” tanya Ge.
“Bukan, sama Allah, Pemilik kita.”
Ge tersenyum. Kapan lagi lihat Na mendadak alim.
“Terus apa yang baru?” tanya Ge kemudian. Matanya menatap sahabatnya dengan tatapan penasaran tingkatan sangat.
“Mmm ... itu ...” Na bergumam.
“Mulai deh itu, ituan. Apa yang baru?”
“Tugas,” ucap Na singkat.
“Tugas apaan?”
“Nyambungin kata jadi kalimat, kalimat jadi puisi, bisa juga cerpen, jadi novel malah lebih kerenan lagi,” jelas Na. Ge menganga. Tak paham.
Singkat cerita Na menjelaskan ala guru SD. Sesuai kemampuannya dong. Lagian Ge juga lama mengertinya. Kalau ditanya kenapa Ge lama ngertinya, paling dijawabnya, “Na itu bicaranya cepat, kadang lupa nafas, ujung-ujungnya bukan ngerti, aku malah ke dapur ngambilin segelas air pas dia selesai ngomong. Habis itu, lupa deh tadi Na ngomongin apa.”
Penjelasan usai. Ge bengong.
“Sungai, peti, hitam, sajadah, laptop, surat, dan keju?”
“Yup.”
“Apa hubungannya sungai sama peti hitam? Emang iya sih sambil gelar sajadah bisa ditemanin laptop. Tapi, konsentrasinya ke benda itu ntar. Terus surat? Oh iya bagaimana dengan surat bersampul warna keju?” Ge mencari ide, Na menganga.
“Ge, sebenarnya kamu kalau nulis bisa keren loh,” ucap Na.
“Kenapa memang?”
“Tuh, nyambungin katanya lancar.”
“Yang bener?”
“He eh ...”
“Ngga deh, Na. Cukup dengerin kisah kamu saja sudah bikin pusing, apa lagi menuliskannya?”
“Justru itu, dengan kamu nulis kamu bisa ngeluarin uneg-uneg tentang aku yang rada aneh.”
Ge berfikir. Betul juga.
“Ge?”
“Ya?”
“Kenapa diam?”
“Aku lagi rencanaiin nulis keluh kesah tentang kamu.”
“Nanti dong Ge, tadikan aku lagi certain tujuh kata aneh!”
“Aneh gimana? Bagus dong kalau bisa disambungin terus jadi cerita, nah ... bakalan meras otak tuh. Tapi tenang, Ge yang baik hati siap membantu.”
“Tapi kan tugas perseorangan Ge,”
“Yee ... aku bantu makan cemilan kamu doang kaleee ...”
Na berbalik siap pulang.
“Na! Bercandaaa ...” Ge mengejar setelah sebelumnya menyambar satu toples kue buat dpake membujuk si Na.
Hmm ... mari menyambungkan kata-kata hitam. Pikir Na.