Tampilkan postingan dengan label DAFA07. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DAFA07. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Juni 2017

Aku, Kamu, Bertemu Lagi

Kita lalu bertemu, berpisah, bertemu, lalu berpisah lagi.

Bahagia. Itulah satu satunya kata yang terlintas dipikiran saya perihal reuni akbar ikapda kemarin, tepatnya tanggal 27 dan 28 bulan ini, Juni 2017. Bagaimana tidak, setelah perpisahan yang sekian lama (tidak berlaku untuk beberapa orang), akhirnya bisa bertemu lagi. Saling berkisah, tertawa, ah... Indah sungguh.

Walau bagi saya pribadi, ikut reuni kali ini sepertinya sekedar numpang saja pada alumni yang lebih tua, yang kalau tidak salah merupakan angkatan angkatan paling tua dari alumni DAFA. Iya lah, bayangkan saja, angkatan 70an, dimana saya belum lahir, orang tua juga belum nikah kayaknya saat itu. Tapi, berkat kegiatan yang digawangi para senior tersebut bertemulah saya, dengan kamu, dengan kalian.

Al, beberapa bulan tidak bertemu dengannya berakibat pada hati pecah-pecah, rindu berdarah darah, dada sesak, pikiran kacau balau (hahaha). Berkat reuni, sekalian saja bertemu dengannya. Ya... Hitung hitung nilai plus dari reuninya. Hehehe... Ehm... Kesempatan langkah setelah jarak yang memisahkan. Semoga bisa melipat jarak kita ya, Al. Ya? Jawab dong!! Hampir lupa, makasih THR nya, traktirannya, juga oleh-olehnya. Makasih pokoknya.

An, aduh maaf tak menyapa. Susah juga teman satu ini seakan sulit dijangkau. Segan mendekati malu sih. Hanya bisa menatap jauh dan berkata, berbahagialah dengan hidupmu. Diriku berharap hal yang sama. Hehehe.

Yu, hehehe... Kamu itu sungguh aneh. Setelah waktu yang tak saya hitung, akhirnya bisa bertemu kamu. Wah... Sebenarnya saya sedang mengetes sesuatu dengan bertemu denganmu, dikarenakan saya baik baik saja setelahnya maka kesimpulannya... Baiklah. Sudah bisa move on, kata adik kelas saya. Oh ya, sebenarnya saya merasa spesial bisa berbicara denganmu,  ketimbang teman yang lain. Hoho. Eh, terimakasih buat hadiah bukunya juga coklatnya. Sukses untuk pendidikanmu.

Pertemuan spesial yang lain adalah bisa bertemu guru guru dari masa lalu, Bu Setiawati, Bu Suryani, Bu Sri, Bu Masati, Pak Mardan, Pak Bidu, Pak Sumardin, Ust Hayat, dan lain lain. Masih banyak yang tak sempat bertemu, ya mestinya memang lebih banyak. Semoga dilain waktu.

Lalu, bertemu dengan kakak serta adik masa lalu. Yang tak mungkin bisa disebutkan satu satu. Ah tak apalah saya sebut yang sempat menyapa, Kak Tochy si pengganggu (hoho), Kak Jimmy yang sudah menjabat (keren), Kak Daus (sang Uztadz DAFA, suami seangkatan saya Imma), Kak Iqbal (ehmmm andalan ini), Kak Mahira (wah barusan ketemu), Kak Fitri yang tambah imut aja, dan yang lain yang tak sempat namanya tersebutkan.

Adiks adiks yang super heboh, Nia diks kesayangan alias nene, Fiqa, Irna, Uznul, Rini, Ningsih yang sudah berubah banget, Sakinah si tingtong, Aida yang kalem tapi heboh pas main Ludo king, Hilda, dan kawan kawannya. Ada juga Tara, Itha, Rahma, semua semuanya deh. Inna dan Daya yang cuman berdua.

Juga teman teman seangkatan yang super super super nyenengin. Aduh jadi rindu lagi. Sulthana yang tak pernah berubah, selalu heboh dan jadi bahan bakar buat tertawa. Kayaknya cuman pas tidur saja deh dia tak heboh.
Ada Nini yang masih manja, Tika si ibu guyu yang jauh tapi dekat di hati, Imma yang sudah jadi seorang istri (salut), Wati yang unyu unyu sejak zaman dahulu kala, Inna R yang lincah belanja es krim, Ada juga Yusri, Jabal yang sudah ikutan subur (akakaka), dan teman teman lainnya. Yang ngga disebut berarti sudah sering ditemui di kota Daeng.  Kalian keren!!! Dimana saja bisa jadi kompor meleduk.

Sementara kegiatan berlangsung, ada saja yang bisa dilakukan, dari yang malah ngumpul di depan kantor makan es krim, cerita, nginap di pondok, jalan santai. Pokoknya dua hari kemarin seakan jadi obat buat rindu yang kebangetan. Saya yang rindu pondok akhirnya bisa mondok walau hanya semalam.

Terimakasih. Suka sangat. Semoga tahun depan bisa begini lagi. Kumpul lagi. Lagi!!!

Kamis, 30 Maret 2017

(Tak) Sia Sia

Hari ahad yang entah beberapa minggu sebelumnya, kami (bukan cuma aku kamu) kembail bertemu. Sebuah janji harus dituntaskan, ya kan? Awalnya sih tak ada yang mau bergerak alias pada malas. Terlebih saya yang super ngantuk setelah kegiatan persami di sekolah. Ya walau hanya kebahagian masak masaknya. Terimakasih untuk Bu Ainun yang turut membantu.

Maka, waktu bertemu yang tadinya dijadwalkan habis Zuhur, molor sampai sudah ashar. Dan tempat ketemunya adalah halte Pettarani samping Telkom. Yang pertama datang adalah si ibu tiga serangkai, Fevi, Anis, dan Ainun. Ketiganya memang selalu bisa diandalkan soal urusan memulai. Lalu datanglah Bapak Faisal. Saya yang berikutnya. Tak berapa lama datang pula safar. Maka jadilah kita nongkrong di halte sambil menunggu yang lain. Selanjutnya Muin juga hadir.
Sembari menunggu yang lain (berharap masih ada yang datang), berdiskusi lah kita yang sudah hadir. Tentang apa yang akan di bawa ke rumah salah seorang guru yang pernah mengajar saat duduk d bangku SMP (kalau saya sampai SMA).
Maka diputuskanlah bahwa, dua orang pergi membeli buah sebagai sedikit buah tangan, Muin dan Fevi lah yang diutus. Oh ya, berhubung tulisan ini baru dibuat setelah sekian hari bahkan bulan, rasa rasanya saya pun ikut lupa kronologi nya.

Sebenarnya tujuan berkumpul di sore yang mendung adalah menjenguk salah seorang guru kita yang sudah tak bertemu sekitar 7 sampai sepuluh tahun silam. Bayangkan alangkah rindunya hati pada sesosok yang disegani dan dihormati. Demikianlah rencana dijalankan. Alhasil hari itu kami tak bertemu belia, Bu Fia. Sebab saat itu Bu Fia sedang ke Rumah keluarganya. Kami awalnya menunggu. Dan saat proses menunggu itulah beberapa kejadian menggelitik terjadi.

Pertama, akhirnya kami memutuskan shalat magrib di dekat rumah Bu Fia. Setelah selesai shalat kembalilah kami ke  kediaman beliau, nihil. Tapi menurut tetangganya yang juga keluarganya, ibu sedang dalam perjalanan pulang. Abba juga sudah bergabung saat itu. Kami memutuskan menunggu, dan ...karena rata rata dari kami sedang lapar, kita bersepakat untuk mencari tempat makan.

Berjalanlah kami, dan berhenti pada sebuah warung makan di pinggir jalan. Saat itu, dikarenakan pengaruh lapar, masuklah kami empat orang perempuan. Saat hendak duduk, ada beberapa hal yang sangat ganjil dan agak horor dari warung makan tersebut. Salah satunya senyum pelayannya yang agak ....anehlah. Selanjutnya beberapa aksesoris warung yang berbeda dari warung kebanyakan. Yang terakhir, kami para gadis sudah duduk manis dan siap memesan, tapi para alumni santriwan malah masih asik duduk di luar warung sembari tersenyum penuh arti.

Degh!!! Perasaan tak enak segera menjalari hati. Saya sendiri dengan alasan memanggil mereka, segera keluar dari warung dan ternyata Fevi ikut dibelakang saya. Saat bertanya kenapa si santriwan (anggap saja demikian) tidak masuk, bisik bisik lah mereka perihal ketakutan jika pemilik warung tersebut bukan orang muslim. Wah....saya sendiri yang sejak awal tak enak hati langsung cabut dari tempat itu. Berjalan meninggalkan lokasi diikuti yang lain, kami seolah tak peduli jika dua kawan kami, Ainun dan Anis masih ada dalam warung.

Setelah berjarak 4 meter dari tempat tersebut, tertawalah kami bersamaan, sembari mencoba menelpon dua teman kami yang masih bersemayam di sana. Beginilah percakapannya (kurang lebih).

Fevi: Halo
Ainun: Kenapa pergi semuaki'?
Fevi: Nun, keluarmaki'. Kayaknya tidak ada label halalnya di situ.
Ainun: Wi.... Bagaimana caranya. Tidak enakka. (Sambil bisik bisik)
Fevi: Ai... Keluarmi.
Ainun: O... Ada akalku.

Jeda beberapa saat lalu.

Ainun: Adami ibu? (Sudmra dibesarkan)
Fevi: Adami (tertawa)
Ainun: Ok, ke situma pade.

Maka begitulah cara Ainun dan Anis keluar dari warung dengan sedikit kebohongan yang mungkin diketahui pemilik warung. Anehnya mereka tak marah kok. Malah senyum aneh kembali dipertontonkan.
Setelah kedua kawan kami keluar, tertawalah kami. Sebenarnya akan lebih lucu lagi jika saat itu saya langsung tulis.
Pesannya adalah, selapar apa pun kita, mohon tetap memperhatikan keadaan warung sebelum masuk. Hehe...

Malam itu kami tak bertemu Bu Fia. Tapi kami tetap senang dengan pengalaman yang menarik dan lucu.

Dilain harilah baru kami bertemu sang guru. Dan semoga bisa mengisahkannya di lain waktu.

Sungguh tak ada yang sia sia, selama kita bisa memetik hikmah. Dan bagi saya pribadi yang masih perlu banyak belajar berfikir positif.

Minggu, 19 Maret 2017

DAFA 07 Punya Cerita


Alhamdulillah sekali minggu minggu ini dipertemukan lagi dengan teman lama. Sesama alumni Pesantren Darul Falah Enrekang 07. Rasa rasanya setelah semua sudah keluar dari DAFA tak sekalipun ada pertemuan sesama alumni. Mungkin karena tak ada yang memulai. Atau karena masing masing telah sibuk dan saling melupakan? Semoga yang terakhir tidak ya.
Namun berkat seorang kawan yang jadi pelopornya akhirnya bertemulah kita lagi. Bahkan bahkan dengan sesama alumni angkatan yang sama namun tidak pernah bertemu. Mungkin demi mengulang kenangan kenangan lama yang sempat terkubur. Asik…
Dialah Abba, yang tiba tiba nelvon saya di malam Ahad lalu. Katanya sih sebab saya tak pernah berkabar dan digadang gadang mallaparru pake banget. Walhasil saat nelvon itulah tercetus ide buat reuni kecil kecilan dulu. Pas banget sebab malam itu di kamar saya lagi ada dua mahluk lain, hehehe ada Anisah wa Ainun. Maklumlah kedua mahluk berjenis sama namun berbeda sifat ini tiba tiba pengen nginap setelah sekian lama. Namun berkat keduanya jugalah pertemuan bisa berjalan mulus.
Tanpa pikir panjang Ainun bilang, besok saja biar langsung kejadian. Biasanya yang tidak direncanakan yang kejadian. Kata si ibu penuh semangat yang diiyakan dengan Ibu satunya lagi. Alhamdullillah betullah kita fixkan bertemu besoknya, tepat malam Senin.
Karena katanya reuni, pun kecil kecilan, maka sibuklah kami bertiga mencari anggota lain buat ngumpul. Sampai lupa waktu kalau sudah tengah malam. Kita pada cari kontak teman teman yang masih bermukim di Makassar. Dan..... Ehm..... Terkumpullah kurang lebih sepuluh orang untuk bertemu. Saya pribadi sangat senang. Hehehe.... Yang dulunya tak saling kenal akhirnya kenal. Bahkan saya salah orang, bilangnya Hakim taunya Safar. Ha-ha-ha.
Malam Senin alias Minggu malam bertemulah berupa rupa manusia. #lebay. Ada: saya, Ainun, Anis, Lia, Nunu, Fevi, Zul, Safar, Muin, Fajar, Faisal, dan Abba. (Semoga tak ada nama yang terlupa).
Pertemuan malam itu disertai rencana buat kapurung di rumahnya Anis. Benar saja, semalam kita sudah menikmati kapurung ala ala dan ditambah lagi personilnya, ada Fitrah, Udin, dan Ayyub. Ada juga sih yang tidak datang. Tapi... Sungguh sangat bersyukur.
Berbeda dengan pertemuan sebelumnya kali ini sudah mulai cair sih percakapannya. Ka;lau sebelumnya masih agak malu dan malu maluin. Heheh. Cerita cerita mengalir begitu saja. Hangat karena diselingi canda tawa. Kalian memang sesuatu.
Catatan semalam adalah, tanggal 23 bakalan kumpul lagi di acara syukuran wisudah Lia. Sekaligus bertemu guru kita dulu Pak Rafrin. Semoga terealisasi. Aminn.
Sampai jumpa lagi temang temang.
Makassar, 19 Maret 2017