Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2020

Mencintaimu, Sayang!

Seperti air yang selalu ingin kuteguk
Seperti udara yang tak pernah lupa kuhirup
Seperti keringat yang selalu melekat pada raga
Seperti itu cintaku padamu
Utuh!

Selasa, 26 April 2016

Jadilah Warnaku

Jadilah warnaku...
Merah muda lukiskan senyum rona wajah
Abu sisakan gundah tanya dan kesedihan
Hijau  penyejuk yang selalu ada
Merah sisakan marah yang menggunung meraja
Namun selalu padan oleh biru yang menenangkan kembali
Jadilah orange, ungu, kuning, coklat, jingga ....

Jadilah warnaku
Warnai hidupku

Buruk

Mimpi buruk. Terlampau buruk tuk memulai hari ini. Terasa janggal, sakit. Seakan nyata dan meninggalkan bekas ketakutan pada pagi.
Di sana, kau berdiri lalu berbalik pergi. Tak tampak wajahmu menoleh pun hanya sedikit.
Di sana, pada mimpi semalam kau seperti pembunuh yang memotong denyut debyut rasa.
Tangis pecah dalam bisu. Hanya memandang berharap kau menoleh, melihat aku hancur tak bersisa.
Di sana kau mengeggam tangan yang lain. Kau ajak lari bersama menelusuri jalan. Wajah yang lain.

Di sana dalam malam sepi, pada mimpi yang menari, aku terkapar terbunuh belatimu.
Aku padam.
Terbangun oleh ketidak nyamanan.
Pertandakah?

Jumat, 08 April 2016

Aku Kau Wajah

Kucoba mainkan wajah tuk dapatkan wajahmu di sana.
Kutajamkan mata seperti tajamnya tatapan matamu.
Kukerutkan kening seperti kau yang diam diam melakukannya.
Kupikirkan kau seperti kau yang memikirkanku.
Kutiru kau ...
Tapi tak bisa, sejujurnya kau adalah kau. Tak akan bisa aku seperti kau.
Aku nikmatki kau yang berbede dengan aku.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Tebu



Tebu di bibirmu tak kau jaga dengan baik
manisnya dinikmati yang lain
sisanya kau buang begitu saja
ah, wanita...

Sindiran Malam



Wanita
bibirmu melengkung senyum kengerian
bag pedang siap menebas hati hati yang diam
tebas
sisakan malam dengan tangisnya
ah wanita...

Aku Memikirkanmu



Menggila di atas singgasana kepalaku
bagai pohon yang tumbuh
dengan ranting ranting menjalar tak kenal arah
kepalaku dipenuhi semakmu
semakin dan semakin
sebab kau
aku memikirkanmu

Kamis, 09 April 2015

Melukis Harapan


Oleh: Nahlatul Azhar
Lukis kisah bisu dengan jemari 
tentang cinta, tak pernah berujung suka
tentang cita,  masih ada dalam dekapan angan
juga asa yang terpatri dalam jiwa
Cinta maha sunyi menyimpan sejuta misteri
sisakan tanya dalam benak
sudikah ia menyapa?
pada insan penuh cacat karena dosa
Cita belum jua terjamah wujud nyatanya
memperkuat sebuat fakta
dakah berubah dari angan ke nyata?
sedang ada yang begitu yakin kelak berbuah manis
Asa sejuta dalam jiwa satu-satu menunjukkan tunasnya
menajamkan harapan agar berubah buah atau bunga
kembali semburan tanya keluar, mampukah?
Tentang cinta, cita juga asa
ungkapkan hingga tak hanya harapan belaka
dalam balutan usaha
dengan setuhan doa
juga harapan sepanjang masa

2015

Senin, 06 April 2015

Aku Cemburu

Aku cemburu, setiap hari saat kau bertahta di atas sana
Dengan kebesaran cahaya dengan kilau sempurna
Juga karena pasang pasang mata tunduk tak menatapmu
Aku cemburu, sepasang kekasih duduk bersama memandangimu
Menjadikanmu simbol kerinduan hati
Pengikat saat ada jarak yabg terbentang
Aku cemburu....
Aku yang bukan siapa-siapa sangat cemburu
Dulu...
Sebelum satu nama berkata, kau bunga yang indah!
2015

Jumat, 03 April 2015

PUISI CAKRAWALA-28 Maret 2015



Mimpi adalah Kita


Oleh: Sitti Mardiyah

Mimpi adalah kita yang berlarian bersama
pada jalan-jalan setapak berkelok
di sana ada pohon-pohon tempat berteduh
ada sungai yang airnya keruh perlahan jernih
Mimpi adalah kita yang berkejaran
kadang aku di depanmu, kadang kau dahului aku
saat tanjakan kita berpegangan tangan
kala aku terjatuh tanganmu terulur membantu
Mimpi adalah kita
kita yang terkulai dalam lelah
kita yang memjamkan mata
dan kita yang kembali bangkit untuk mimpi
Mimpi adalah kita ...

2015


Tentang lelaki yang Menanam Benih Benci
Oleh: Sitti Mardiyah
Laki-laki yang menanam benih benci di hatimu
saat dulu
ketika usia belia di sandang
berwujud galak
mata garang menusuk
melarang kemana kaki melangkah
menyuruhmu tak bermain dengan si tua
memaksa tidur di siang hari
tak ada jatah jajan yang banyak
yang ada dipaksa ini itu dan lainnya
saat malam, matamu redup
kau dipinta mengulang hapalan
tak merebahkan badan jika semua belum usai
laki-laki itu ...
kau ... benci dengan segenap hati
dan kecamuk dendam yang meletup letup
Kini laki-laki itu bungkuk di depanmu
matanya berair setiap hari
kulitnya mengeriput
suaranya tak lagi tegas menusuk
dan kau ...
tak ada benci di hatimu
tak ada dendam
di hatimu berjuta rasa termakasih tumbuh subur
menggantikan benih benci yang mengering
Laki-laki itu memelukmu hangat
dan kau menangisi hari
terimakasih, katamu.
2015