Tampilkan postingan dengan label FF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FF. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 November 2014

Pohon Sakura dalam Hati

“Lalu?” tanyaku bodoh.
“Apa lagi? Ya sudah tinggalkan saja aku!” bentaknya dengan wajah memerah.
“Tidak bisa, aku tidak ingin kamu ...” tecekat. Aku tidak ingin dia mati.
“Hah, kau pikir aku akan mati? Dengar Kel, dunia tidak sesempit yang ada di kepalamu. Aku mati karena hal ini? Yang benar saja!” judes, galak, mengesalkan. Gabungan sikap yang membuatku tidak betah lama-lama berada di dekatnya. Mungkin juga bagi Liz.
“Tapi ...”
“Pergilah! Sana!”
Huft! Baiklah tuan ...
Aku melangkah mundur, menatap wajahnya yang penuh kemarahan sesaat.
Benar kata Liz, pohon sakura tidak akan tumbuh lama di hatinya. Dan tentang Liz yang meninggalkannya, bagaimana kabarnya? Apakah ia masih menyimpan rasa untukku? Rasa yang sebenarnya salah.
“Di hatiku hanya ada pohon sakura untukmu, Kel!” kudengar bisikan Liza sekali lagi.
Untuk kebersamaan yang tidak mungkin. Sebab pohon sakuraku hanya untuk sang tuan.

Kamis, 13 November 2014

Oppa! (Gagal Event)

kenh14.vn
“Jadi Nita-ssi, kamu pilih Abu atau aku?” Teriak Joowon. Wajahnya serius dan ... ya ampun tangannya menggenggam pergelangan tanganku.
“Mmm ... aku ...” aku bergumam.

Pun aku yakin Abu tahu siapa yang akan aku pilih.
“Nita, kamu sudah janji denganku. KAMU AKAN MEMILIHKU!” hardik Abu. Pergelangan tanganku yang lain ditariknya.
Sontak saja aku kaget. Mana keras banget tarikan tangannya, hampir saja aku jatuh.
“Hey! Kamu menyakitinya!” bentak Joowon saat melihatku hampir jatuh.
Huft ... berada di tengah mereka berdua membuatku nyaris gila. Abu si penulis terkenal dan Joowon si artis favoritku. Kenapa pula aku berada diantara keduanya?
Abu mendesak lagi. Iya sih dulu banget aku pernah bilang kalau akan jadian sama dia, itu saat aku
couch-kimchi.com
masih berstatus anak es-de. Parahnya dia masih ingat saja sampai sekarang. Tapi ... itu kan dulu ...

Sekarang ... saat di depanku berdiri pangeran impianku, yang bela-belain datang ke Indonesia untuk menyatakan cintanya padaku, yang dengan segala kepandaiannya sudah selancar itu menggunakan bahas persatuan Indonesia, masa iya aku nolak?
Kedua cowok tampan ini menatapku. Tampan versi Indonesia dan Korea. Aku sendiri ditatap sedemikian rupa jadi merinding.
“Aku akan membawamu ikut denganku!” tukas Joowon. Ah matanya begitu bercahaya. Aku tersipu.
“Hah ... yang benar saja, bagaimanapun gigihnya kamu ingin membawanya, kedua orang tua Nita tidak akan mengizinkan!” suara Abu terdengar sangat sinis.
“Aku kan bisa memohon pada mereka, Bu.” Ucapku.
Sontak saja kedua mata Abu melotot padaku.
“Kamu dengar itu? Sudah jelas kan dia memilih siapa,” sera Joowon.
lielysdiary.blogspot.com

Melihatnya dari dekat sungguh lebih tampan ternyata.
“Bu ... bukan begitu, Oppa. Maksudku ... eh ... iya sih Abu ada benarnya, tidak semudah itu,” ucapku terbata-bata.
Oppa? Aku mengatakannya? Panggilan sayang itu? Wajahku seakan mendidih sekarang.
“Aku bisa pindah ke sini Nita-ssi. Aku bisa memulai karirku di sini,” ucap Joowon lembut.
Hah? Benarkah?
Abu buru-buru menarikku. Tangannya melepaskan genggaman Joowon dariku. Selanjutnya dia menarikku menjauh dari sang pangeran pujaan hatiku.
“Oppa ... Oppa ...” teriakku.
Tapi percuma Abu menarikku dengan cepat. Sebentar saja kami sudah berada di luar rungan yang di sewa Joowon husus untuk bertemu denganku.
“Dengar! Dia ngga mungkin ngejar ke sini, mana mau dia ambil resiko dikerubungi para fans,” ucap Abu.
“Bu, kamu kenapa sih sewot amat. Mau-mau aku dong jadian sama siapa, kamu juga kenapa ngungkit janji-janji pas kita anak-anak?”
“Aku ingin kamu menepati janji itu sekarang!”
“Hah? Heh ... kamu itu udah nolak aku selama ini. Katamu aku ngga ada bagus-bagusnya.”
Ya. Faktanya selama ini aku memang menginginkan kebersamaan yang lebih dengan Abu. Tapi ... dia
indonesiana.tempo.co
selalu menolak. Lalu sekarang ...

“Makanya aku ingin kita bersama sekarang!”
Hua! Pengen banget ninju muka orang satu ini. Aku sudah berhasil move on darinya, sudah melupakannya dan mulai menikmati keseharianku dengan membuka hatiku pada Oppa. Kenapa sekarang malah dia yang ... huft! Menyebalkan.
“Kamu pikir aku mainan? Perasaanku kamu anggap apa? Atau kamu memang ngga mau aku bahagia, hah?”
Kutarik nafas sesaat.
“Bu, aku tidak bisa denganmu, aku sudah terlalu sakit karenamu. Janji itu ingin aku tepati, kau yang menolaknya! Maka jangan minta janji itu sekarang ... aku tidak bisa!”
Aku berlalu, kembali ke dalam ruangan.
Oppa!
Di sana ... di sana ... di tempat yang sama denganku dia berdiri. Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang
menjulang, tangannya yang terbentang untukku.
Aku berlari.
Aku memilihmu ... Oppa!
www.dkpopnews.net

Kamis, 09 Oktober 2014

Untuk, Si Cengeng


by:
Kartun Muslimah
Bagaimana kabarmu? Masih sama seperti dulu. Menangis jika melihat cacing, menjerit saat ada kecoak yang terlihat oleh matamu, atau merengek jika Bapak tak membiarkanmu memanjat pohon di belakang rumah?
Masihkah?
Kau ingat saat aku pernah menurunkanmu dari pohon? Aku telah menjadi pahlawanmu sejak itu. Kau memanggilku Kakak sejak hari itu. Padahal sebelumnya kita tak saling kenal. Aku yang baru saja menjadi tetanggamu jadi senang karenanya. Kadang kala kau buat aku jengah juga. Bagaimana tidak jika kemanapun aku pergi, kau selalu mengekor di belakangku. Sampai teman-temanku menyebutmu pengawalku.
Cengeng. Sebenarnya itu bukan namamu. Itu hanya panggilan dariku karena kau terlalu mudah menangis. Ya, setidaknya itu alasan awalnya sebab lambat laun aku menjadikan “cengeng” sebagai panggilan sayang padamu. Tentu tanpa sepengetahuanmu.
Tunggu, aku baru saja menuliskan kata “sayang” bukan?
Maaf terlambat mengatakannya. Rasa itu tumbuh begitu saja. Aku menyadarinya sejak duduk di bangku es-em-pe kelas tiga. Dan tentu saja kita masih tetangga.
Kau yang saat itu adalah adik kelasku, diminta oleh ibumu agar terus aku jaga. Sejak itu pula aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyanggupi permintaan ibumu. Lagi pula, mana mau aku ada yang mengganggumu.
Ingat tentang Roy yang menyatakan suka padamu di belakang sekolah?
Tahukah kau kenapa keesokan harinya dia tak muncul dan memintamu memberi jawaban?
Itu karena aku menghajarnya sepulang sekolah. Aku mengancamnya. Makanya dia tak berani lagi menemuimu. Maafkan aku tentang hal itu. Aku ingin menjagamu. Atau lebih tepatnya, aku tak ingin ada yang memilikimu.
Lalu kita masuk bangku es-em-a. Aku tetap sama, menjagamu sebisaku, tanpa sepengetahuanmu. Maka jangan heran jika tak ada yang berani mendekatimu. Itu karena aku. Aku melarang mereka.
“Aku juga ingin punya pacar,” ucapmu suatu senja. Saat aku mengajarimu pelajaran matematika, pelajaran yang kau benci.
Mendengar perkataanmu, aku jadi panas dingin tak karuan. Inikah saatnya kuutarakan cinta yang selama ini kupendam padamu? Bisik hatiku.
Tidak!
Aku tidak ingin merusak kepercayaan ibumu. Aku tidak ingin merusak hubungan kita. Bagaimana jika kau tolak? Berbagai pikiran berkecamuk di kepalaku.
Bodohnya aku jika kupikir ulang. Andai kukatakan, kita tidak akan berpisah begitu saja tanpa tahu perasaan masing-masing.
Ya, kita akhirnya berpisah. Hari itu kau menangis keras. Aku dan keluargaku pindah lagi. Hari itu kurasakan sesak di dadaku. Sempat kupikir meminta ayah membiarkanku menyelesaikan sekolah di tempatmu. Tidak mungkin. Ibuku tidak akan setuju.
Maka lihatlah, bertahun-tahun kurindukan kau, Cengeng. Bertahun-tahun hingga tak kusadari rasaku berakar sedemikian dalam padamu.
“Kak, Wawan?” seorang gadis berjilbab menatapku.
Membuatku heran setengah mati. Bagaimana mungkin seorang muslimah menatap laki-laki dengan tatapan tak berkedip.
“Iya? Siapa ya?” tanyaku.
“Ini aku Kak, Cengeng.”
Degh! Aku hampir melompat memelukmu jika saja tak kusadari siapa aku. Jika saja tak kulihat pakaian yang kini menutup tubuhmu.
Ah, si Cengeng kecil telah berubah.
Tapi tunggu. Kau masih cengeng ternyata, sempat kulihat genangan air di matamu kala itu. saat untuk pertama kalinya kita bertemu lagi setelah sekian tahun lamanya.
Kau tahu? Hatiku kembali bergetar karenamu. Ah, hatiku memang selalu bergetar bahkan hanya dengan mengingat wajahmu. Maka hari itu juga aku berjanji, untuk kedua kalinya pada diriku sendiri: aku tidak akan melepasmu!
Si Cengeng yang kucintai ...
Janji-janji kutepati. Kujadikan kau wanita terindah dalam hidupku. Kujadikan ratu di istanaku.
Satu hal yang pasti, kau tetap cengeng seperti dulu. Saat kulamar dirimu, dengan sepasang mata yang masih sama saat kau kecil, air matamu tumpah lagi. Bersama sunggingan senyum dengan lafaz hamdalah yang terucap.
Si Cengeng yang kusayangi ...
Bersama surat ini kukirimkan hadiah yang tak sempat kuberikan di awal kebersamaan kita. Kau tentu ingat, aku melamarmu dengan uang tak seberapa. Hanya cinta yang begitu besar aku janjikan hari itu.
Dan lagi, katamu, “Biarlah kita hidup sederhana, asal hidup dalam kemewahan cinta.”
Aku terharu.
“Kakak juga cengeng,” ucapmu.
Ini untumu.
Hanya untukmu. Sebab aku mencintaimu.

Dari yang mencintaimu. Pahlawanmu.
**
“Surat untuk siapa, Kak?” tanya Fia pada suaminya.
“Surat untuk Si Cengeng,” jawab Wawan tersenyum.
Fia pun mengerti siapa yang dimaksud suaminya. Perlahan diraihnya surat bersampul merah muda itu bersama bingkisan kecil berisi sebuah cicin berlian.
@selesai@