Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Mei 2019

30 HRDC day 13: Lipstik Wanita Itu

Dila meradang, wanita itu mengiriminya sebuah pesan di WhatsApp. Singkat namun memancing bara di hati Dila.
'Suamimu pesan lipstik loh'
Yang terpikirkan di kepala Dila, untuk siapa suaminya beli lipstik. Kalau untuk dirinya, pastilah Dila tahu, karena suaminya pasti memberi tahu. Suaminya bukan tipe laki laki yang suka memberi kejutan.
'Masa sih? Untuk siapa ya?'
Balas Dila. Pikirannya mulai mengembara. Siapa wanita itu? Yang beruntung itu.
'Untuk kamu lah, Dil. Untuk siapa lagi coba?'
Balas wanita itu. Wanita yang bagi Dila adalah seorang sahabat.
'Tidak, bukan untukku. Suamiku tidak pernah cerita soal lipstik itu.'
Dila membalas cepat. Rasa penasarannya mulai terpancing.
'Mana mungkin bukan, pastilah untukmu.'
Wanita itu mencoba meyakinkan Dila.
'Mungkin untuk Ibunya, mertuaku. Atau saudaranya yang nitip dipesankan ke kamu.'
Balas Dila lagi. Suasana hatinya benar benar tidak enak. Keruh.
Di sampingnya si kecil yang tengah lelap tertidur mulai terganggu, mungkin sadar dengan perubahan hati ibunya.
'Ya ampun Dil, suamimu bilang lipstik itu untukmu! Sebenarnya dia larang aku buat bilang, katanya kejutan, hadiah buat istrinya pasca melahirkan.'
Sahabat Dila, si wanita penjual lipstik mulai sewot. Dia heran dengan temannya, Dila, yang curigaan.
'Tidak mungkin, pasti suamiku cerita kalau ...'
Dila lagi lagi tak percaya.
'Terserah deh, Dil. Kali emang buat perempuan lain!!!'
Sahabat Dila mulai jengkel juga. Heran dia sama sahabatnya, sudah dijelasin baik baik masih juga curiga.
'Nyesel aku cerita ke kamu, Dil!'
Lanjut pesan wanita itu sekaligus mengakhiri percakapan mereka lewat WA.
.
.
.
Malam makin larut, wajah Dila kusut, sekusut cucian yang belum dia rapikan.
Suaminya yang sedari tadi bertanya mengapa wajahnya mayun, diabaikan begitu saja. Malah, setelah menidurkan si kecil, Dila memilih ikutan tidur.
Beruntung suaminya sudah sangat paham tabiat istrinya tersebut.
"Sayang, kenapa? Aku ada salah?" Bisik sang suami di telinga istrinya. Namun yang ditanya hanya diam, menggeleng pun tidak.
"Sayang, cerita dong, ada apa? Aku ada salah lagi ya?"
Dila diam.
"Sini deh,"
Bilal mendudukkan istrinya dengan sedikit memaksa. Dia paling tidak tahan dengan diamnya sang istri. Bahaya.
"Tolong cerita, Sayang. Ada apa, hmm?"
Dila luluh akhirnya. Lalu mengalirkan cerita perihal lipstik pesanan sang suami.
"Ya ampun Sayang, untuk siapa lagi kalau bukan untuk kamu?"
"Kali..."
"Tuh kan, curigaan lagi. Rencananya untuk hadiah kejutan Sayang, bukan untuk siapa siapa."
"Tapi kan  kamu tidak pernah cerita."
"Kalau aku cerita, bukan kejutan lagi dong," senyum sang suami menenangkan Dila.
"Tapi kan..."
"Sstttt! Sudah sudah, besok teman kamu mau ke sini, bawa lipstiknya."
Bilal merangkul istrinya mesra. Dila pun akhirnya luluh.
.
.
.
"Nih lipstiknya, masih mau curiga?"
Wanita itu, si penjual lipstik menyerahkan lipstik pesanan suami Dila.
Dila sendiri kehabisan kata kata, hanya bisa tersenyum malu. Sifat cemburunya masih juga menghantui. Namun, suaminya, Bilal, juga terus meyakinkannya, kalau hanya Dila yang ada di hatinya dan dia siap membuktikannya. Dari hal hal kecil sampai besar, semisal kejutan lipstik itu.
Demikian seutas tinta.

Madata, 13 Ramadhan 1440H
#Day13
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Sumber gambar: @beytal_4


Jumat, 17 Mei 2019

30 HRDC day 12: Uang dan Pasangan

Uang habis, atau di kantong sudah
sedikit tinggal receh, apa yang kamu lakukan?

Walau tidak sampai habis, tapi kalau sudah menipis aku bisa pusing tujuh keliling. Takut kalau kalau... Ada aja yang kurang kalau uang sisa sedikit. Setidaknya begitulah yang aku rasakan saat masih sekolah, sampai kuliah.
Saat itu kalau ngerasa uang sudah sedikit, sisa seratus ribu misalkan, langsung nelpon ke kampung, bapak, mamak, uangku habis. Tak jarang pun sudah kerja, masih juga begitu. Gaji ngga sampai sebulan sudah habis saja. Terlebih pas dapat gajinya tiga bulan sekali. Mana tiap hari mesti naik angkot. Beruntungnya punya orang tua yang baik, sering ngirim pundi pundi untuk anaknya.
Merepotkan! Iya, aku tahu diri jika sudah sebesar itu tapi masih juga mengharap dari orang tua. Harusnya kan sebaliknya, aku yang memberi mereka, terlebih lagi saat aku sudah kerja. Tapi entah mengapa, selalu saja kehabisan duit sebelum masa gajian tiba.
Boros? Oke bisa jadi iya. Lapar mata jadi penyebabnya. Terlebih di ibu kota, apa sih yang tidak dibeli. Udara untuk bernafas mungkin, selebihnya, bayar.
Sifat suka panik menjelang uang tinggal sedikit, kebawa dong sampai aku menikah. Apa lagi setelah memutuskan untuk berhenti kerja, dan secara otomatis tinggal suami yang mencari nafkah. Setiap kali kantong menipis, mulai lah aku panik. Ngga sampai ngomong ke suami, cuman muka tak bisa bohong menunjukkan suasana hati.
Jika sudah seperti itu, di kepalaku, sudah muncul tuh daftar kebutuhan yang musti dibeli. Tapi pakai apa? Misal, sabun cuci hampir habis, padahal cucian menumpuk.
Perlengkapan mandi sisa sedikit. Air minum yang habis, gas habis, lampu kamar mulai redup. Belum lagi kebutuhan buat makan, walau tinggal bareng keluarga, tapi berasa juga ngga enaknya kalau makan dibayarin mulu. Walaupun keluarga tak ada yang mempersoalkan, tapi tetap saja daku panik tiap kali bangun tidur.
Lantas bagaimana kelanjutannya?
"Sayang, tenang, rezki Allah yang atur, dan akan ada untuk kita. Jangan cemberut gitu dong."
Kayak berada di teriknya matahari, tiba tiba ada yang nyiram air. Adem. Begitulah Pak suami. Paling bisa menenangkan istrinya. Ada ada saja yang dia katakan, lakukan, yang akhirnya membuatku tenang kembali. Begitu juga dengan persoalan isi dompet yang menipis.
Salah satu kesyukuran aku menikah adalah karena banyak dari sifat sifatku, yang merupakan kekuranganmu, tertutupi oleh kelebihan dia. Semisal tadi, aku yang panikan soal harta, dan dia dengan keyakinannya soal rezki yang telah di atur Sang Khalik. Aku dengan sikap mudah tersinggung, dia dengan segala candaanta ngebuat bibir tersungging.
Kembali soal isi dompet, karena usaha suami yang selalu meyakinkanku, aku jadi luluh, dan memang, tak perlu waktu lama, dan entah dari mana saja, rezki benar benar hadir. Adaaaaa saja sumbernya. Kalau sudah begitu, suami tinggal bilang, "Kan aku bilang juga apa, yakin Sayang. Rezki sudah ada yang atur, yang penting kita berusaha mencari, juga tak lupa berdoa." Kalau doi sudah bilang begitu, tak jarang air mataku meleleh, ya ampun kok aku rapuh banget ya. Habis itu adegan selanjutnya diskip saja, lagi puasa. Takut jomblo baper. Hehe.
Pernah suatu waktu, pas habis lahiran kan mau aqiqah si adek, nah, sempat bingung juga apa lagi kala itu, lahirannya oprasi, walau ada kartu BPJS, tapi ada saja yang dibayar, dan pengeluaran adalah beberapa. Nah sempat bilang ke suami, "Yang, uangnya cukup ngga?" Kata suami, "Insyaallah ada. Jangan mikir itu dulu," busuknya di telingaku. Dan benar saja, belum juga pulang dari rumah sakit, paska melahirkan, rezekinya sudah ada. Tak disangka sangka, dan jumlahnya juga tidak sedikit. Saat itu aku dan suami bertatapan penuh haru, rezeki anak insyaallah.
Alhamdulillah, adek diaqiqah setelah dua Minggu, dan kami banyak dapat bantuan dari keluarga. Masyaallah, jadi semakin yakin tentang rezeki yang datangnya tak disangka sangka. Allah tidak pernah ngebiarin hambaNya pada posisi yang tidak bisa dia hadapi.
Makin ke sini makin belajar, dari suami, dari keluarga, dari sekitar, bagaimana seharusnya bersikap sebagai seorang istri, malah sekarang nambah, sebagai seorang ibu, terlebih sebagai seorang hamba yang mesti banyak bersyukur. Alhamdulillah.

  • Demikian setitik tinta.


Madata, 12 Ramadhan 1440H
#Day12
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Selasa, 07 Mei 2019

30 HRDC day 2: Hari Pertama Puasa

Memasuki hari kedua puasa, izinkan saya bercerita pengalaman puasa di hari pertama. Bertempat di rumah mertua, Enrekang, Sulawesi Selatan. Sebenarnya tak ada yang spesial, berhubung sama sajalah dengan puasa tahun tahun sebelumnya. Namanya puasakan menahan diri dari segala yang membatalkan.

Saya menuliskan ini karena keadaan saya yang berbeda dari tahun tahun sebelumnya. Inj tahun pertama puasa dikala sudah berekor alias udah punya bayi. Dan saat ini si adek baru usia tiga bulan. Jadi masih ASI eksklusif.

Ceritanya, malam pertama Ramadhan sudah diisi dengan shalat tarawih, witir, di masjid, biasanya. Tapi saya tak mungkin meninggalkan si adek kesayangan di rumah, jadilah rencananya shalat di rumah saja, nunggu pas si kecil tidur. Nah bapaknya, juga mertua dan keluarga di rumah suami sudah pada ke masjid, eeee... Si adek malah ngga tidur tidur. Main mulu, ngajak emaknya cerita pula. Sambil dikasih senyum doi yang manis tanpa gula, nyamiyy banget pokoknya.

Hingga orang dari tarwih pun adek belum tidur juga, walu sudah diayun lima belas menit lebih, sampai akhirnya saya selesai shalat isya, dia belum tidur juga. Malah tambah asik belajar tengkurap, yang tiap endingnya harus dibantuin, soalnya tangannya masih kejepit sama badannya. Begitu terus sampai tak terasa pukul sepuluh malam. Mungkin karena kelelahan, akhirnya tidur sendiri tanpa perlu diayun. Alhamdulillah. Emaknya, yang tadinya niat tarawih, ketiduran juga.

Barulah pukul tiga dini hari, saya dibangunkan suami buat shalat, sekalian sahur. Yang spesial, giliran azan subuh berkumandang, giliran si adek yang sahur, minta disusui. Emaknya, abis makan langsung baring lagi. Ya Allah perut tambah buncit ini alamatnya.

Oke, subuh berlalu, duo kesayangan  bercengkrama dalam mimpi masing-masing, giliran saya bersibuk ria, nulis sedikit buat dipost di blog, belajar konsisten, juga menulis kembali. Setelahnya kembali ke rutinitas biasanya, memandikan si adek, nyusu, menidurkannya, bangun, nemenin main, dan ... puklu sepuluh menjelang siang, oh...perut sudah kukuruyuk. Masyaallah pedihnya, padahal baru tiga kali nyusuin si kecil setelah sahur. Dan ini belum juga setengah hari sudah awut awutan dalam perut dan sekitarnya. Benarlah adanya, perjuangan ibu tiada duanya. Hikz, ingat mamak di kampung.

Lanjut cerita sembari menahan ketidak enakan di perut, saya pun hendak menidurkan si kecil yang lumayan rewel. Setelah disusui sebelumnya dan di ayun, doi tetap saja menangis, dikeluarin lagi dari ayun, diajak jalan ke beranda rumah, dia diam, tertawa tawa tapi habis itu nangis lagi.

Saya ayun lagi, sebab di matanya jelas jelas ada tanda ngantuk berat. Saya ayun terus walau dia nangis jerit jerit, sambil nyanyi ala emak emak. Suara sedikit dikencangkan biar si adek dengar suara merdu ibunya, tapi bukannya tidur malah tambah nangis. Padahal matanya hampir terpejam, tapi masih saja nangis. Saya jadi bingung mau nyanyi apa lagi, dibacain ayat Al-Quran juga tetap nangis. Sambil berpikir itu, kan sayanya diam, eee...tau tau dia sudah tertidur saja. Ya Allah nak, nak. Ternyata kamu maunya emakmu ini diam diam saja ya tak usah nyanyi ngga jelas, jadi malu sendiri.

Sedikit kesimpulan:
1. Saat anak yang masih bayi menangis, sebagai ibu, apa lagi Mahmud, mamah mamah muda, mesti diperhatikan apa keinginan bayi saat menangis. Jangan sampai dianya lapar malah diayun, dianya ngantuk tapi malah dibawa kemana mana.
2. Bagi ibu menyusui dan ingin tetap puasa, perbanyaah makan sayur, minum airnya kalau ada. Banyak banyak.minum air putih di malam hari.

Insyaallah tips yang lainny menyusul. Soalnya ini lagi belajar juga nahan lapar.


Semoga puasa kita diberkahi. 29 hari lagikan sebelum lebaran?

Enrekang, 2 Ramadhan ¹440 H
#Day2
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah



Selasa, 09 April 2019

Writing Challenge

Kamu suka nulis? Bulan suci Ramadhan sudah di depan mata, persiapkan dirimu untuk mengikuti Writing Challenge #30HRDC dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut :
(1) Punya blog & follow blog 'Bianglala Hijrah' (2) Bergabung di grup WhatsApp "Writing Challenge" 30 Hari Ramadhan Dalam Cerita (3) Tema Bebas, diutamakan tetap inspiratif (4) Bagi yang belum punya blog, bisa tetap mengikuti Writing Challenge via Instagram dengan syarat posting flayer ini ke Instagram masing-masing dan mention ke sebanyak-banyak teman beserta @bianglalahijrah_
Bulan suci Ramadhan jadikan momentum untuk berbagi banyak kebaikan lewat tulisan, happy writing!!! 
Supported
IG : @bianglalahijrah_
Blog : https://yusniaagussaputri.blogspot.com/
Info lebih lanjut hubungi kontak WA 081225 323275
.
#bianglalahijrah  #onedayonepost30hrdc #writingchallenge30hrdc #30hariramadhandalamcerita

Jumat, 07 Juli 2017

Yang Baru

Pun ada yang baru, yang lama jangan terlupakan.

Tempat yang baru, suasana yang baru, orang-orang yang baru. Harapan yang baru pula. Begitulah kira-kira kalimat-kalimat yang mewakili suasana hari ini. Dimulainya sih kemarin, namun baru bisa diabadiakan hari ini.

Tentang tempat yang baru ini, ada banyak yang belum saya ketahui, tapi kebaikan kebaikan sudah terlihat di serial sudutnya. Dari orang orangnya yang ramah, sampai kebiasaan kebiasaan yang dilakukan, ruangan ruangan yang bersih, insyaallah pilihan kali ini adalah yang terbaik.

Harapan harapan kembali melangit. Bismillahirrahmanirrahim.

Kamis, 30 Maret 2017

(Tak) Sia Sia

Hari ahad yang entah beberapa minggu sebelumnya, kami (bukan cuma aku kamu) kembail bertemu. Sebuah janji harus dituntaskan, ya kan? Awalnya sih tak ada yang mau bergerak alias pada malas. Terlebih saya yang super ngantuk setelah kegiatan persami di sekolah. Ya walau hanya kebahagian masak masaknya. Terimakasih untuk Bu Ainun yang turut membantu.

Maka, waktu bertemu yang tadinya dijadwalkan habis Zuhur, molor sampai sudah ashar. Dan tempat ketemunya adalah halte Pettarani samping Telkom. Yang pertama datang adalah si ibu tiga serangkai, Fevi, Anis, dan Ainun. Ketiganya memang selalu bisa diandalkan soal urusan memulai. Lalu datanglah Bapak Faisal. Saya yang berikutnya. Tak berapa lama datang pula safar. Maka jadilah kita nongkrong di halte sambil menunggu yang lain. Selanjutnya Muin juga hadir.
Sembari menunggu yang lain (berharap masih ada yang datang), berdiskusi lah kita yang sudah hadir. Tentang apa yang akan di bawa ke rumah salah seorang guru yang pernah mengajar saat duduk d bangku SMP (kalau saya sampai SMA).
Maka diputuskanlah bahwa, dua orang pergi membeli buah sebagai sedikit buah tangan, Muin dan Fevi lah yang diutus. Oh ya, berhubung tulisan ini baru dibuat setelah sekian hari bahkan bulan, rasa rasanya saya pun ikut lupa kronologi nya.

Sebenarnya tujuan berkumpul di sore yang mendung adalah menjenguk salah seorang guru kita yang sudah tak bertemu sekitar 7 sampai sepuluh tahun silam. Bayangkan alangkah rindunya hati pada sesosok yang disegani dan dihormati. Demikianlah rencana dijalankan. Alhasil hari itu kami tak bertemu belia, Bu Fia. Sebab saat itu Bu Fia sedang ke Rumah keluarganya. Kami awalnya menunggu. Dan saat proses menunggu itulah beberapa kejadian menggelitik terjadi.

Pertama, akhirnya kami memutuskan shalat magrib di dekat rumah Bu Fia. Setelah selesai shalat kembalilah kami ke  kediaman beliau, nihil. Tapi menurut tetangganya yang juga keluarganya, ibu sedang dalam perjalanan pulang. Abba juga sudah bergabung saat itu. Kami memutuskan menunggu, dan ...karena rata rata dari kami sedang lapar, kita bersepakat untuk mencari tempat makan.

Berjalanlah kami, dan berhenti pada sebuah warung makan di pinggir jalan. Saat itu, dikarenakan pengaruh lapar, masuklah kami empat orang perempuan. Saat hendak duduk, ada beberapa hal yang sangat ganjil dan agak horor dari warung makan tersebut. Salah satunya senyum pelayannya yang agak ....anehlah. Selanjutnya beberapa aksesoris warung yang berbeda dari warung kebanyakan. Yang terakhir, kami para gadis sudah duduk manis dan siap memesan, tapi para alumni santriwan malah masih asik duduk di luar warung sembari tersenyum penuh arti.

Degh!!! Perasaan tak enak segera menjalari hati. Saya sendiri dengan alasan memanggil mereka, segera keluar dari warung dan ternyata Fevi ikut dibelakang saya. Saat bertanya kenapa si santriwan (anggap saja demikian) tidak masuk, bisik bisik lah mereka perihal ketakutan jika pemilik warung tersebut bukan orang muslim. Wah....saya sendiri yang sejak awal tak enak hati langsung cabut dari tempat itu. Berjalan meninggalkan lokasi diikuti yang lain, kami seolah tak peduli jika dua kawan kami, Ainun dan Anis masih ada dalam warung.

Setelah berjarak 4 meter dari tempat tersebut, tertawalah kami bersamaan, sembari mencoba menelpon dua teman kami yang masih bersemayam di sana. Beginilah percakapannya (kurang lebih).

Fevi: Halo
Ainun: Kenapa pergi semuaki'?
Fevi: Nun, keluarmaki'. Kayaknya tidak ada label halalnya di situ.
Ainun: Wi.... Bagaimana caranya. Tidak enakka. (Sambil bisik bisik)
Fevi: Ai... Keluarmi.
Ainun: O... Ada akalku.

Jeda beberapa saat lalu.

Ainun: Adami ibu? (Sudmra dibesarkan)
Fevi: Adami (tertawa)
Ainun: Ok, ke situma pade.

Maka begitulah cara Ainun dan Anis keluar dari warung dengan sedikit kebohongan yang mungkin diketahui pemilik warung. Anehnya mereka tak marah kok. Malah senyum aneh kembali dipertontonkan.
Setelah kedua kawan kami keluar, tertawalah kami. Sebenarnya akan lebih lucu lagi jika saat itu saya langsung tulis.
Pesannya adalah, selapar apa pun kita, mohon tetap memperhatikan keadaan warung sebelum masuk. Hehe...

Malam itu kami tak bertemu Bu Fia. Tapi kami tetap senang dengan pengalaman yang menarik dan lucu.

Dilain harilah baru kami bertemu sang guru. Dan semoga bisa mengisahkannya di lain waktu.

Sungguh tak ada yang sia sia, selama kita bisa memetik hikmah. Dan bagi saya pribadi yang masih perlu banyak belajar berfikir positif.

Minggu, 26 Februari 2017

Si A B C

Awalnya adalah si A

Tentang si A si B dan si C begitu sulit mengisahkan mereka. Ada saja kendala yang memaksaku berpikir ulang menuliskan kisah mereka. Sulit sebab entah harus memulai dari mana.
Tapi harus kucoba sebab janji adalah janji.
Si A. A n a k ku!!!

Si A yang selalu membuatku marah dengan kelakuannya akan menjadi sasaran empuk dunia curhatanku. Hampir setiap hari kepalaku dipenuhi tanduk tanduk runcing karenanya. Si A yang selalu jail dengan yang ada di sekitarnya. Dia juga akan tertawa, bernyanyi, menganggu dan yang pasti bukunya tetap putih tak berwarna abu.
Si A juga diam diam meninggalkan tempatnya saat mataku tertuju pada si C atau si B dan E, Z.
"Aaaaaaaaaaaaa!!!"
Saat mendengar suara teriakankulah dia akan berbalik, memandangku lalu tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang pendek dan jarang. Aku geram tapi merasa lucu dengan senyumnya. Si A akan duduk kembali, sedikit menulis kata. Namun jika mataku tak lagi bersamanya, dia akan menghilang, mengulang hal yang sama.

Setelahnya aku tak peduli. Bermainlah sepuasmu, Nak. Setelah semua pulang kita akan bersama.

Selasa, 26 April 2016

Buruk

Mimpi buruk. Terlampau buruk tuk memulai hari ini. Terasa janggal, sakit. Seakan nyata dan meninggalkan bekas ketakutan pada pagi.
Di sana, kau berdiri lalu berbalik pergi. Tak tampak wajahmu menoleh pun hanya sedikit.
Di sana, pada mimpi semalam kau seperti pembunuh yang memotong denyut debyut rasa.
Tangis pecah dalam bisu. Hanya memandang berharap kau menoleh, melihat aku hancur tak bersisa.
Di sana kau mengeggam tangan yang lain. Kau ajak lari bersama menelusuri jalan. Wajah yang lain.

Di sana dalam malam sepi, pada mimpi yang menari, aku terkapar terbunuh belatimu.
Aku padam.
Terbangun oleh ketidak nyamanan.
Pertandakah?

Kamis, 21 April 2016

Aku Batu!!!

Batu begitu sabar menghadapi tetes demi tetes air yang jatuh di atasnya.
Dibiarkannya tubuhnya basah.
Tak pula ia marah.
Batu tetap diam menunggu air jadi paham dan berhenti menetes.
Batu hanya memohon air dapat pahami kediamannya.
Batu biarkan air nikmati kebahagiaannya akan waktu yang bergulir.
Dan wahai air yang menetes dengan kesejukannya, kelak kau hancurkan batu berkeping keping.
Kelak kau hancurkan batu yang menungguimu dengan sabar.
Untuk berhenti meneteskan kenyamanan semu.

Air... mengertikah engkau?

Senin, 11 April 2016

Sangat Sulit

Apa yang ada di depan mata, yang kita punya, yang menjadi hak kita, kadang sulit menerimanya, mensyukurinya, berterimakasih karenanya.

Sedang yang orang lain punya, yang bukan hak kita, kadang sangat menginginkannya, berharap memilikinya.

Kita jadi memaksa diri untuk punya padahal tak mampu. Kita buat susah diri kita dengan keinginan yang tak mudah bahkan tak mungkin.

Kita jadi terluka unuk hal hal tak penting, untuk hal hal yang sama.

Padahal jika mensyukuri yang ada, justru akan menemtramkan jiwa. Berbaliklah, Allah maha tahu yang terbaik untuk kita.

Selasa, 05 April 2016

Malam Para Gadis

Malam para gadis. Begitulah awal dari kisah kali ini. Tentang sebuah malam yang tercipta berdasarkan resah. Hahaha … terlalu lebay ya. Kesalahan dalam penulisan mohon dimaklumi, lama tidak bersua dengan dunia kata. Begitu juga jika ada kesamaan tokoh dan yang dialami, hehehe … ini murni tentang perjalanan hidup, pengalaman juga.
Sebut saja namanya Nun, gadis yang sebentar lagi menyandang S2. Nun akhir-ahir ini sering ke kosanku. Maklum, doi tidak suka sendirian, dan di kosannya dia hanya seorang diri sebab tetangga kamarnya pada punya dunia sendiri. Walhasil Nun sering nginap di kosan sahabat sahabatnya, salah satunya ya …. Aku, Na.
Tik, gadis bertitel PNS yang terangkat kurang lebih setahun yang lalu. Gadis yang satu ini tergolong mulus dalam berbagai hal, menurutku. Sebab ia cepat menyelesaikan kuliahnya, cepat dapat kerjanya. Dalam hal karir mantaplah dia. Satu hal yang baru baginya adalah CINTA. Masalah yang selalu ia pertanyakan saat kami sedang ngumpul. Sok jadi senior dalam cinta? Tidak dong, justru kita senior dalam hal patah hati. Hikz…
Ada juga Nis. Kalau gadis yang satu ini masih sementara kuliah. Sama kayak Nun. Gadis ceria dengan pengalaman cinta segudang. Dibanding yang lain, dia paling pede, sangat lincah, hehehe dan satu lagi paling langsing pula. Ada juga Del, kalau yang satu ini paling jarang ngumpul. Dijulukin sama kita-kita dijulukin Ibu konselor.
Kalau aku … aku Na.
Oh ya… tentang dimana kami bertemu, dulu sekali … saat masih mondok di pesantren.
Selalu ada malam para gadis saat kita kumpul, walau tidak pernah lengkap tapi yang ada selalu membahas sesuatu hingga larut malam, pun hanya aku dan Nun yang berkumpul. Pembahasan paling hangat ya seputaran cinta, jodoh, nikah, pasangan, cinta, cinta, dan lagi lagi cinta.
Begitulah kisah malam para gadis. Untuk pembahasan lebih lanjut (asik) nantilah. Ini sudah waktunya ngajar coy. Maklum Na, si guru honor harus bertugas. ^^
Makassar,050316.

Rabu, 09 Maret 2016

Guru

Sebenarnya guru menurutku saat... mereka yang pernah tersentuh hatinya mengingatmu kala mereka dewasa. Lalu diam diam merindukanmu, mengirimimu doa, juga harapan ingin bertemu dan mengucapkan terimakasih.
Jika ada yang datang padamu dengan tujuang tersebut, menurutku... kaulauh sebenarnya guru.
Aku sama, merindu mereka para guruku. Semoga keselamatan, kesehatan senantiasa tercurah untuk mereka.
#PRusman#PSukri#PTamsil#BSuarni#BPia#BMasati dan lain lain.

Rabu, 19 November 2014

Salah

Mengulang salah
salah yang terulang
untuk salah
selamat pagi
kemarin adalah salah terindah
lulu tangis di atas penyesalan
merasakan salah di atas salah
duduk berbubah gelisah
sebab salah tersadar
bukankah langgar telah terlakoni?
janji terbantahkan
kubur dalam jantung-jantung yang hanya mengaku suka
sayangnya, salah mengangkasa
salah mengambil bagian
salah terpelhara di sini
pada sudut hati
yang selalu dirindukan
yang selalu diingnkan
tentang kita yang menikmati salah
semoga, jalan itu tak tertutup pintunya
kelak
jika bertemu lagi
semoga salah tak lagi bersatatus salah
dan kita merdeka

*Hari Salah=Kemarin--->menikmati kesalahan 
Sebab salah adalah saat dimana aku tersadar kembali

Minggu, 16 November 2014

TERIMAKASIH KU-UCAPKAN

Pertama-tama termakasih tiada terhingga untuk Penciptaku. Untuk Dia yang membuatku semakin yakin, memohon padanya adalah kekuatan paling besar. Meminta padanya adalah cara terampuh memperoleh sesuatu. Berkat Dia dengan segala kekuasaannya, aku diliputi rasa syukur yang sangat besar. Terimakasih, hamba-Mu benar-benar bersyukur.
Selanjutnya, untuk Nabiku. Rasulku. Manusia yang terjamin keselamatannya. Manusia yang dipuja pengikutnya. Terimakasih, berselawat padamu membuat nadi tak berpacu sedemikian cepatnya.
Untuk kedua orangtuaku. Tercinta. Terkasih. Tersayang. Terimakasih. Semangat tak pernah surut karena kehadiran orang tua yang penuh pengertian, perhatian. Pelajaran tentang bersabar kutuai dari keduanya. Doa yang tak pernah putus selalu mengikuti keberadaanku. Hingga aku semakin percaya, doa-doa orang tua begitu dahsyatnya.
Nenekku yang begitu rajin meracikkan sebuah kiriman hangat untukku. Untuk kami cucu-cucunya. Nek, kegigihanmu mengagumkan dalam doa. Ah ... terimakasih, sangat, sangat terimakasih. Untuk nenekku yang satunya juga. Terimakasih banyak.

Untuk adik-adikku (kata Bapak, mereka juga mengirim doa untukku) terimakasih. Semoga kelak aku (sebagai kakak) bisa ada untuk membantu kalian. Semoga!
Untuk Kak Ida, aku menjadikanmu patokan, pun tak bisa menyamaimu yang hebat (yang selalu membuatku kagum) minimal aku bisa belajar sedikit darimu, ah... maksudku banyak hal kupelajari darimu. Terimakasih, untuk segala bantuan yang tak bisa kusebutkan satu-satu.
Para tante dari yang narsis sampai bijak. Para om-om ganteng juga. Terimakasih. Motivasi, doa, segala hal yang membuatku tenang menjalani hari-hari (yang kadang kala melelahkan). Aku bersyukur punya keluarga yang wow banget.


Untuk Bunda, yang sampai saat ini tak bisa kusapa seenak hati. Bukan karena takut, aku terlampau segan dan hormat padata’. Terimakasih untuk menampungku, dan membiarkanku menggunakan fasilitas di rumahta’. Untuk Ayah juga. Untuk ponakan-ponakan jauhku. Aku merasa dekat (kalau mak bapaknya ngga ada di rumah).
Untuk sepupu-sepupu dimanapun berada. Aku yakin kalian mengirim doa untukku. Kekuatan doa memudahkan ujianku hari ini, 16 Noveber 2014.
Untukmu yang mengerti dan memotivasi. Terimakasih jadi tempat melepaskan keluh kesah dan segala unek-unekku. Terimakasih telah bersabar. Kau baik, aku yakin.
Untuk sahabat-sahabatku, teman sekelas, Ani, Rani, Sira, Sabil, Jum, Dila, Kak Asti, ah ... kalau nulis satu-satu kudu pegang absen dulu. Terimakasih. Bewarnanya masa kuliah karena ada kalian teman.
Untuk teman-teman FLP. Kak Irna, Kak Tina, Kak Hendra, Kak Adi, Kak Dikpa, semua-semuanya ... aku belajar menulis dari kalian. Aku belajar bicara banyak bersama kalian. Terimakasih telah ada di hidupku yang sempit. Terimakasih. Terimakasih telah mengajariku cara berbicara tanpa mengeluarkan suara. Untuk Yurie dan Uni yang belakangan tempat tinggalnya sering kukunjungi, terimakasih. Juga Kak Maidah yang jasnya telah menemaniku. Terimakasih Kak, berkat dirimu aku tidak kebingungan.
Sahabat-sahabat yang juga pernah merasakan hal yang sama denganku, Tika, Ade, Ainun. Terimakasih.
Para teman FB yang tak pernah bertatapan langsung, Mba Gem, Mba El (yang tulisannya menyemangatiku), Kak Niar, Mba Shabrina, Mba Leyla, Bunda Utami, dan semua yang pernah mampir di inbox Fbku, atau komenan denganku. Terimakasih.
Untuk siapa saja yang  pernah mampir lama atau sebentar di hidpuku. TERIMAKASIH.
Untuk dosen pembimbingku, Bu Tenri Ampa (biarlah kali ini tanpa titel, ya Bu) terimakasih. Berkat Ibu aku belajar banyak hal, bertahan, bersabar, menunggu. Ah ... selalu indah pada akhirnya. Terimakasih, di mataku sebenarnya Ibu sangat Baik.
Bu Haslinda yang banyak mahasiswa berharap beliau jadi pengujinya. Ibu keren, salut dengan kelembutan Ibu. Terimakasih untuk bimbingannya yang singkat.
Untuk Pak Munir yang mengujiku, Bapak hebat, bisa membuat mahasiswa kebingungan. Terimakasih karena hal itu tidak terjadi padaku. Berkat pertanyaan-pertanyaan yang membuatku tersenyum kaku (sebenarnya mataku hampir hujan). Bu Munirah dengan pertanyaan singkatnya, terimakasih. Begitupula dengan Pak Akhir. Terimakasih.
Untuk seluruh penghuni UNISMUH. Terimakasih.
Ah ... hanya kata terimakasih saja.

Menulis ini dalam linangan airmata.
Makassar, 16 November 2014-11-15 selepas ujian meja siang tadi.