Minggu, 26 November 2017

Ada Darah!!!

Mengajar setelah dzuhur punya tantangan tersendiri. Misalnya, siswa sudah ngantuk selepas menikmati makan siang. Walau yang sampai tertidur hanya terhitung jari. Tapi ada, dan pernah ampai tertidur nyenyak. Karena kalau dibangunkan malah menimbulkan masalah baru, maka beberapa dibiarkan mimpi indah, beberapa juga bisa dibujuk agar bangun.
Tantangan lainnya adalah, semangat anak-anak untukenerima pelajaran juga sudah mulai menurun. Beberapa memilih bercerita di bagian belakang, ada yang bermain dengan alat tulisnya, tapi tetap kok ada yang masih semangat menerima materi.
Maka dari itu pelajaran selepas shalat dzuhur butuh trik trik khusus agar menarik bagi siswa. Minimal membuat mereka saling bersaing untuk tetap fokus pada pelajaran. Dan hari ini itulah yang saya lakukan. Mengajar matematika selepas istirahat siang, setelah habis makan.
Awalnya dengan memberi masing-masing nilai 100 bagi Ikhwan (siswa) dan akhwat (siswi). Setelah itu saya jelaskan, poin 100 bisa bertambah juga berkurang. Carany, misalkan ada dua kelompok akhwat yang bermain, maka poin akhwat yang 100 itu dikurang 2, jika 5 maka dikurang 5. Sebaliknya jika terdapat 1 akhwat yang memperhatikan dengan serius atau ada yang  dengan benar maka poinnya akan bertambah 1. Atau misalkan 12 akhwat menjawab dengan kompak makan mereka mendapatkan 12 poin.  Akibatnya adalah, siswa masing-masing akan saling mengingatkan untuk tertib. Hingga selama jam pelajaran matematika tadi, semua bersikap baik.
“Darah Ustazah!!!”
Teriakan siswa tiba-tiba memenuhi kelas. Saya yang saat itu memeriksa tugas mereka, dan membimbing salah seorang akhwat mengerjakan tugasnya, langsung kaget. Salah satu siswa tampak sujud dan di lantai bertepatan dengan wajahnya sudah ada darah yang berceceran.
Buru-buru saya menghampiri, karena darahnya sudah banyak di sekitar bibir dan hidung, jadi saya tidak tahu sumber darahnya dari mana. Untung saat itu ada Zah Ning yang dengan gesit mengambil tisu untuk membersihkan darah. Bersyukur lagi si Zah Ning melarang ke WC, mungkin dia pikir bakalan heboh kalau diliat siswa yang lain.
“Huhuhu... Gara-gara dia Ustazah.” Ucap siswa yang berdarah.
Wah... Gawat ini kalau salah seorang yang jadi penyebabnya. Itulah yang saya pikirkan. Sambil melap darah di sekitar bibirnya, saya mulai bertanya ke temannya yang lain tentang kronologi sebenarnya.
“Kena bantal Ustazah,” jelas salah satu dari mereka.
“Itu yang kasih kena bantal,” satunya lagi menunjuk temannya.
Yang ditunjuk mulai menjauh, wajahnya kaku. Pertanda mulai takut.
“Sebaiknya semua kembali ke tempat duduk masing-masing, selesaikan tugasnya dulu.” Saya berusaha menengahi. Akan gawat kalau sudah mulai saling menunjuk.
Darah mulai berkurang,  lukanya pun kelihatan. Ternyata yang luka adalah bibir bawahnya. Setelah ditanya, dia ternyata terjatuh dan yang pertama mendarat adalah dagunya, hingga tak sengaja menggigit bibirnya sendiri. Jadi bukan karena temannya.
Sambil menghentikan darah yang mengalir, saya mulai mencandai siswa tersebut, walau masih dengan linangan air mata, sang siswa yang memang tidak pernah lama kalau marah, mulai tersenyum.
Senyum yang akhirnya menenangkan hati saya. Nak, kamu semakin tangguh!

Selasa, 21 November 2017

Zah Mar: Celoteh Pelajar Tua

Aku hanya akan bilang, tak ada kata terlambat untuk memulai lagi. Mengulang kenangan lalu dan kembali menuliskannya sebagaimana sebelumnya.
Kali ini aku akan menjadi Zah Mar, sebenarnya begitulah aku akrab di sapa empat bulan belakangan ini.
Saat ini tentang anak-anak cinta yang lain. Anak-anak yang kini menjadi guru hidup.
Sepertinya memang harus mengulang janji, menulis lagi. Ayo!!!

Jumat, 07 Juli 2017

Yang Baru

Pun ada yang baru, yang lama jangan terlupakan.

Tempat yang baru, suasana yang baru, orang-orang yang baru. Harapan yang baru pula. Begitulah kira-kira kalimat-kalimat yang mewakili suasana hari ini. Dimulainya sih kemarin, namun baru bisa diabadiakan hari ini.

Tentang tempat yang baru ini, ada banyak yang belum saya ketahui, tapi kebaikan kebaikan sudah terlihat di serial sudutnya. Dari orang orangnya yang ramah, sampai kebiasaan kebiasaan yang dilakukan, ruangan ruangan yang bersih, insyaallah pilihan kali ini adalah yang terbaik.

Harapan harapan kembali melangit. Bismillahirrahmanirrahim.

Jumat, 30 Juni 2017

Aku, Kamu, Bertemu Lagi

Kita lalu bertemu, berpisah, bertemu, lalu berpisah lagi.

Bahagia. Itulah satu satunya kata yang terlintas dipikiran saya perihal reuni akbar ikapda kemarin, tepatnya tanggal 27 dan 28 bulan ini, Juni 2017. Bagaimana tidak, setelah perpisahan yang sekian lama (tidak berlaku untuk beberapa orang), akhirnya bisa bertemu lagi. Saling berkisah, tertawa, ah... Indah sungguh.

Walau bagi saya pribadi, ikut reuni kali ini sepertinya sekedar numpang saja pada alumni yang lebih tua, yang kalau tidak salah merupakan angkatan angkatan paling tua dari alumni DAFA. Iya lah, bayangkan saja, angkatan 70an, dimana saya belum lahir, orang tua juga belum nikah kayaknya saat itu. Tapi, berkat kegiatan yang digawangi para senior tersebut bertemulah saya, dengan kamu, dengan kalian.

Al, beberapa bulan tidak bertemu dengannya berakibat pada hati pecah-pecah, rindu berdarah darah, dada sesak, pikiran kacau balau (hahaha). Berkat reuni, sekalian saja bertemu dengannya. Ya... Hitung hitung nilai plus dari reuninya. Hehehe... Ehm... Kesempatan langkah setelah jarak yang memisahkan. Semoga bisa melipat jarak kita ya, Al. Ya? Jawab dong!! Hampir lupa, makasih THR nya, traktirannya, juga oleh-olehnya. Makasih pokoknya.

An, aduh maaf tak menyapa. Susah juga teman satu ini seakan sulit dijangkau. Segan mendekati malu sih. Hanya bisa menatap jauh dan berkata, berbahagialah dengan hidupmu. Diriku berharap hal yang sama. Hehehe.

Yu, hehehe... Kamu itu sungguh aneh. Setelah waktu yang tak saya hitung, akhirnya bisa bertemu kamu. Wah... Sebenarnya saya sedang mengetes sesuatu dengan bertemu denganmu, dikarenakan saya baik baik saja setelahnya maka kesimpulannya... Baiklah. Sudah bisa move on, kata adik kelas saya. Oh ya, sebenarnya saya merasa spesial bisa berbicara denganmu,  ketimbang teman yang lain. Hoho. Eh, terimakasih buat hadiah bukunya juga coklatnya. Sukses untuk pendidikanmu.

Pertemuan spesial yang lain adalah bisa bertemu guru guru dari masa lalu, Bu Setiawati, Bu Suryani, Bu Sri, Bu Masati, Pak Mardan, Pak Bidu, Pak Sumardin, Ust Hayat, dan lain lain. Masih banyak yang tak sempat bertemu, ya mestinya memang lebih banyak. Semoga dilain waktu.

Lalu, bertemu dengan kakak serta adik masa lalu. Yang tak mungkin bisa disebutkan satu satu. Ah tak apalah saya sebut yang sempat menyapa, Kak Tochy si pengganggu (hoho), Kak Jimmy yang sudah menjabat (keren), Kak Daus (sang Uztadz DAFA, suami seangkatan saya Imma), Kak Iqbal (ehmmm andalan ini), Kak Mahira (wah barusan ketemu), Kak Fitri yang tambah imut aja, dan yang lain yang tak sempat namanya tersebutkan.

Adiks adiks yang super heboh, Nia diks kesayangan alias nene, Fiqa, Irna, Uznul, Rini, Ningsih yang sudah berubah banget, Sakinah si tingtong, Aida yang kalem tapi heboh pas main Ludo king, Hilda, dan kawan kawannya. Ada juga Tara, Itha, Rahma, semua semuanya deh. Inna dan Daya yang cuman berdua.

Juga teman teman seangkatan yang super super super nyenengin. Aduh jadi rindu lagi. Sulthana yang tak pernah berubah, selalu heboh dan jadi bahan bakar buat tertawa. Kayaknya cuman pas tidur saja deh dia tak heboh.
Ada Nini yang masih manja, Tika si ibu guyu yang jauh tapi dekat di hati, Imma yang sudah jadi seorang istri (salut), Wati yang unyu unyu sejak zaman dahulu kala, Inna R yang lincah belanja es krim, Ada juga Yusri, Jabal yang sudah ikutan subur (akakaka), dan teman teman lainnya. Yang ngga disebut berarti sudah sering ditemui di kota Daeng.  Kalian keren!!! Dimana saja bisa jadi kompor meleduk.

Sementara kegiatan berlangsung, ada saja yang bisa dilakukan, dari yang malah ngumpul di depan kantor makan es krim, cerita, nginap di pondok, jalan santai. Pokoknya dua hari kemarin seakan jadi obat buat rindu yang kebangetan. Saya yang rindu pondok akhirnya bisa mondok walau hanya semalam.

Terimakasih. Suka sangat. Semoga tahun depan bisa begini lagi. Kumpul lagi. Lagi!!!

Kamis, 15 Juni 2017

Sepucuk Pesan

Ketika kau layangkan pesan untukku, pesan yang Kunanti jauh jauh hari. Yang kutunggu dan membuat hatiku ciut sebab mungkin kau tolak.

Pesanmu datang menjelang tengah malam. Dengan rasa yang sulit tuk digambarkan, kubaca pesan itu berkali kali. Tak percaya.

Sepucuk pesanmu nyata adanya. Menyebabkan gejala sulit memejam mata, dada berkecamuk tak karuan.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagiku. Sebab pesanmu tentu saja.

Sudahlah.... Sepucuk pesan yang kau selip pada malam yang hampir berpamitan akan kudoakan dalam dalam.

Semoga berjodoh. Semoga aku bisa menjadi lebih baik lewatmu. Semoga anak anak cinta kembali menyapa. Anak anak cinta yang lain.

Menuh harap, Na.

Kamis, 30 Maret 2017

(Tak) Sia Sia

Hari ahad yang entah beberapa minggu sebelumnya, kami (bukan cuma aku kamu) kembail bertemu. Sebuah janji harus dituntaskan, ya kan? Awalnya sih tak ada yang mau bergerak alias pada malas. Terlebih saya yang super ngantuk setelah kegiatan persami di sekolah. Ya walau hanya kebahagian masak masaknya. Terimakasih untuk Bu Ainun yang turut membantu.

Maka, waktu bertemu yang tadinya dijadwalkan habis Zuhur, molor sampai sudah ashar. Dan tempat ketemunya adalah halte Pettarani samping Telkom. Yang pertama datang adalah si ibu tiga serangkai, Fevi, Anis, dan Ainun. Ketiganya memang selalu bisa diandalkan soal urusan memulai. Lalu datanglah Bapak Faisal. Saya yang berikutnya. Tak berapa lama datang pula safar. Maka jadilah kita nongkrong di halte sambil menunggu yang lain. Selanjutnya Muin juga hadir.
Sembari menunggu yang lain (berharap masih ada yang datang), berdiskusi lah kita yang sudah hadir. Tentang apa yang akan di bawa ke rumah salah seorang guru yang pernah mengajar saat duduk d bangku SMP (kalau saya sampai SMA).
Maka diputuskanlah bahwa, dua orang pergi membeli buah sebagai sedikit buah tangan, Muin dan Fevi lah yang diutus. Oh ya, berhubung tulisan ini baru dibuat setelah sekian hari bahkan bulan, rasa rasanya saya pun ikut lupa kronologi nya.

Sebenarnya tujuan berkumpul di sore yang mendung adalah menjenguk salah seorang guru kita yang sudah tak bertemu sekitar 7 sampai sepuluh tahun silam. Bayangkan alangkah rindunya hati pada sesosok yang disegani dan dihormati. Demikianlah rencana dijalankan. Alhasil hari itu kami tak bertemu belia, Bu Fia. Sebab saat itu Bu Fia sedang ke Rumah keluarganya. Kami awalnya menunggu. Dan saat proses menunggu itulah beberapa kejadian menggelitik terjadi.

Pertama, akhirnya kami memutuskan shalat magrib di dekat rumah Bu Fia. Setelah selesai shalat kembalilah kami ke  kediaman beliau, nihil. Tapi menurut tetangganya yang juga keluarganya, ibu sedang dalam perjalanan pulang. Abba juga sudah bergabung saat itu. Kami memutuskan menunggu, dan ...karena rata rata dari kami sedang lapar, kita bersepakat untuk mencari tempat makan.

Berjalanlah kami, dan berhenti pada sebuah warung makan di pinggir jalan. Saat itu, dikarenakan pengaruh lapar, masuklah kami empat orang perempuan. Saat hendak duduk, ada beberapa hal yang sangat ganjil dan agak horor dari warung makan tersebut. Salah satunya senyum pelayannya yang agak ....anehlah. Selanjutnya beberapa aksesoris warung yang berbeda dari warung kebanyakan. Yang terakhir, kami para gadis sudah duduk manis dan siap memesan, tapi para alumni santriwan malah masih asik duduk di luar warung sembari tersenyum penuh arti.

Degh!!! Perasaan tak enak segera menjalari hati. Saya sendiri dengan alasan memanggil mereka, segera keluar dari warung dan ternyata Fevi ikut dibelakang saya. Saat bertanya kenapa si santriwan (anggap saja demikian) tidak masuk, bisik bisik lah mereka perihal ketakutan jika pemilik warung tersebut bukan orang muslim. Wah....saya sendiri yang sejak awal tak enak hati langsung cabut dari tempat itu. Berjalan meninggalkan lokasi diikuti yang lain, kami seolah tak peduli jika dua kawan kami, Ainun dan Anis masih ada dalam warung.

Setelah berjarak 4 meter dari tempat tersebut, tertawalah kami bersamaan, sembari mencoba menelpon dua teman kami yang masih bersemayam di sana. Beginilah percakapannya (kurang lebih).

Fevi: Halo
Ainun: Kenapa pergi semuaki'?
Fevi: Nun, keluarmaki'. Kayaknya tidak ada label halalnya di situ.
Ainun: Wi.... Bagaimana caranya. Tidak enakka. (Sambil bisik bisik)
Fevi: Ai... Keluarmi.
Ainun: O... Ada akalku.

Jeda beberapa saat lalu.

Ainun: Adami ibu? (Sudmra dibesarkan)
Fevi: Adami (tertawa)
Ainun: Ok, ke situma pade.

Maka begitulah cara Ainun dan Anis keluar dari warung dengan sedikit kebohongan yang mungkin diketahui pemilik warung. Anehnya mereka tak marah kok. Malah senyum aneh kembali dipertontonkan.
Setelah kedua kawan kami keluar, tertawalah kami. Sebenarnya akan lebih lucu lagi jika saat itu saya langsung tulis.
Pesannya adalah, selapar apa pun kita, mohon tetap memperhatikan keadaan warung sebelum masuk. Hehe...

Malam itu kami tak bertemu Bu Fia. Tapi kami tetap senang dengan pengalaman yang menarik dan lucu.

Dilain harilah baru kami bertemu sang guru. Dan semoga bisa mengisahkannya di lain waktu.

Sungguh tak ada yang sia sia, selama kita bisa memetik hikmah. Dan bagi saya pribadi yang masih perlu banyak belajar berfikir positif.

Minggu, 26 Maret 2017