Kamis, 15 Juni 2017

Sepucuk Pesan

Ketika kau layangkan pesan untukku, pesan yang Kunanti jauh jauh hari. Yang kutunggu dan membuat hatiku ciut sebab mungkin kau tolak.

Pesanmu datang menjelang tengah malam. Dengan rasa yang sulit tuk digambarkan, kubaca pesan itu berkali kali. Tak percaya.

Sepucuk pesanmu nyata adanya. Menyebabkan gejala sulit memejam mata, dada berkecamuk tak karuan.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagiku. Sebab pesanmu tentu saja.

Sudahlah.... Sepucuk pesan yang kau selip pada malam yang hampir berpamitan akan kudoakan dalam dalam.

Semoga berjodoh. Semoga aku bisa menjadi lebih baik lewatmu. Semoga anak anak cinta kembali menyapa. Anak anak cinta yang lain.

Menuh harap, Na.

Kamis, 30 Maret 2017

(Tak) Sia Sia

Hari ahad yang entah beberapa minggu sebelumnya, kami (bukan cuma aku kamu) kembail bertemu. Sebuah janji harus dituntaskan, ya kan? Awalnya sih tak ada yang mau bergerak alias pada malas. Terlebih saya yang super ngantuk setelah kegiatan persami di sekolah. Ya walau hanya kebahagian masak masaknya. Terimakasih untuk Bu Ainun yang turut membantu.

Maka, waktu bertemu yang tadinya dijadwalkan habis Zuhur, molor sampai sudah ashar. Dan tempat ketemunya adalah halte Pettarani samping Telkom. Yang pertama datang adalah si ibu tiga serangkai, Fevi, Anis, dan Ainun. Ketiganya memang selalu bisa diandalkan soal urusan memulai. Lalu datanglah Bapak Faisal. Saya yang berikutnya. Tak berapa lama datang pula safar. Maka jadilah kita nongkrong di halte sambil menunggu yang lain. Selanjutnya Muin juga hadir.
Sembari menunggu yang lain (berharap masih ada yang datang), berdiskusi lah kita yang sudah hadir. Tentang apa yang akan di bawa ke rumah salah seorang guru yang pernah mengajar saat duduk d bangku SMP (kalau saya sampai SMA).
Maka diputuskanlah bahwa, dua orang pergi membeli buah sebagai sedikit buah tangan, Muin dan Fevi lah yang diutus. Oh ya, berhubung tulisan ini baru dibuat setelah sekian hari bahkan bulan, rasa rasanya saya pun ikut lupa kronologi nya.

Sebenarnya tujuan berkumpul di sore yang mendung adalah menjenguk salah seorang guru kita yang sudah tak bertemu sekitar 7 sampai sepuluh tahun silam. Bayangkan alangkah rindunya hati pada sesosok yang disegani dan dihormati. Demikianlah rencana dijalankan. Alhasil hari itu kami tak bertemu belia, Bu Fia. Sebab saat itu Bu Fia sedang ke Rumah keluarganya. Kami awalnya menunggu. Dan saat proses menunggu itulah beberapa kejadian menggelitik terjadi.

Pertama, akhirnya kami memutuskan shalat magrib di dekat rumah Bu Fia. Setelah selesai shalat kembalilah kami ke  kediaman beliau, nihil. Tapi menurut tetangganya yang juga keluarganya, ibu sedang dalam perjalanan pulang. Abba juga sudah bergabung saat itu. Kami memutuskan menunggu, dan ...karena rata rata dari kami sedang lapar, kita bersepakat untuk mencari tempat makan.

Berjalanlah kami, dan berhenti pada sebuah warung makan di pinggir jalan. Saat itu, dikarenakan pengaruh lapar, masuklah kami empat orang perempuan. Saat hendak duduk, ada beberapa hal yang sangat ganjil dan agak horor dari warung makan tersebut. Salah satunya senyum pelayannya yang agak ....anehlah. Selanjutnya beberapa aksesoris warung yang berbeda dari warung kebanyakan. Yang terakhir, kami para gadis sudah duduk manis dan siap memesan, tapi para alumni santriwan malah masih asik duduk di luar warung sembari tersenyum penuh arti.

Degh!!! Perasaan tak enak segera menjalari hati. Saya sendiri dengan alasan memanggil mereka, segera keluar dari warung dan ternyata Fevi ikut dibelakang saya. Saat bertanya kenapa si santriwan (anggap saja demikian) tidak masuk, bisik bisik lah mereka perihal ketakutan jika pemilik warung tersebut bukan orang muslim. Wah....saya sendiri yang sejak awal tak enak hati langsung cabut dari tempat itu. Berjalan meninggalkan lokasi diikuti yang lain, kami seolah tak peduli jika dua kawan kami, Ainun dan Anis masih ada dalam warung.

Setelah berjarak 4 meter dari tempat tersebut, tertawalah kami bersamaan, sembari mencoba menelpon dua teman kami yang masih bersemayam di sana. Beginilah percakapannya (kurang lebih).

Fevi: Halo
Ainun: Kenapa pergi semuaki'?
Fevi: Nun, keluarmaki'. Kayaknya tidak ada label halalnya di situ.
Ainun: Wi.... Bagaimana caranya. Tidak enakka. (Sambil bisik bisik)
Fevi: Ai... Keluarmi.
Ainun: O... Ada akalku.

Jeda beberapa saat lalu.

Ainun: Adami ibu? (Sudmra dibesarkan)
Fevi: Adami (tertawa)
Ainun: Ok, ke situma pade.

Maka begitulah cara Ainun dan Anis keluar dari warung dengan sedikit kebohongan yang mungkin diketahui pemilik warung. Anehnya mereka tak marah kok. Malah senyum aneh kembali dipertontonkan.
Setelah kedua kawan kami keluar, tertawalah kami. Sebenarnya akan lebih lucu lagi jika saat itu saya langsung tulis.
Pesannya adalah, selapar apa pun kita, mohon tetap memperhatikan keadaan warung sebelum masuk. Hehe...

Malam itu kami tak bertemu Bu Fia. Tapi kami tetap senang dengan pengalaman yang menarik dan lucu.

Dilain harilah baru kami bertemu sang guru. Dan semoga bisa mengisahkannya di lain waktu.

Sungguh tak ada yang sia sia, selama kita bisa memetik hikmah. Dan bagi saya pribadi yang masih perlu banyak belajar berfikir positif.

Minggu, 26 Maret 2017

Jumat, 24 Maret 2017

DAFA 07 "Terimakasih Guru"

Bagi seorang guru mengajar maupun mendidik adalah kewajibannya. Namun, bukan berarti yang diajar atau dididik lantas begitu saja menjadi baik. Entah sikap siswa akan berubah baik atau sebaliknya itu urusan belakangan. Yang penting menjalankannya kewajiban dulu tentu dengan ikhlas. (Semoga saya pun demikian, ikhlas). Tapi alangkah bahagianya seorang gulu, manakala siswa yang pernah diajarnya masih mengingatnya, bahkan mencari dan mendatanginya. Yakinlah, akan ada haru yang menyentuh hatinya.
Bukan sok bijak, hanya bingung mau mengawali tulisan ini. Terlampau bahagia. Bahagia yang melambung ke angkasa, ha-ha-ha. Oh iya, semalam sebelum tidur ibu calon dosen yang kosnya saya tempati nebeng bilang, "Mar tulismi lagi tentang malam ini. Kutunggu tunggu nah." Katanya (bahagianya dalam hati). Sambil mengecek jam saya bilang, "Besokpi, ngantuk sekalima. Masih kuingatji besok." Hehe...
Baiklah... Mari tunaikan janji yang tak sekedar janji yang tak disegerakan.
Semalam pertemuan sesama alumni DAFA 07 yang dimana orang orangnya ada di Makassar, bisa berlangsung lagi. Bagi yang tak berdomisili bukan di Makassar mohon maaf, bukan ajang mau pamer kalau ketemuan terus. Hanya saja kami yang di Makassar menginginkan hal yang sama dilakukan juga oleh teman-teman yang berada di tempat lain. Semoga bisa ya. ^^
Lia wisuda. Yeyyyyyyyy!! Kita dapat undangan makan. Anugrah kalau kata pak ketua (Abba). Maka dengan perencanaan yang matang, janjianlah kita ngumpul di Rumah Anis.
Oh iya, acara makan makannya bukan sekedar itu. Kita juga berencana bersilaturahmi dengan salah satu guru kita dulu di DAFA. Pak Rafrin, beliau yang mengajarkan Al-Quran Hadist dulu. Dimana di dalam pelajaran tersebut ada ilmu tajwidnya.
Saya pribadi tidak pernah lupa bagaimana beliau mengajar ilmu tajwid. Jika pelajaran itu tiba (hampir setiap bab ada ilmu tajwidnya) maka para santriwati (kan saya santriwati) bergiliran maju membaca Al-Quran yang harus tajwidnya harus bagus. Kita juga disuruh menyebutkan hukum bacaan yang beliau tunjuk. Kalau tak tahu.... Hahahaha.... Dapat sedikit omelanlah kita. Tapi kalau tahu, nilainya juga bagus.
Dari pelajaran tersebut, tajwid, saya sendiri bisa mengajarkan hal yang sama pada siswa saya, terutama saat bulan Ramadhan dan diadakan pesantren kilat. Jika sudah membahas tajwid maka saya akan mengingat pak Rafrin, dan dalam hati sangat bersyukur diajari beliau. Terimakasih banyak pak. Sangat, sangat terimakasih.
Lanjut, kami berangkat bersama (Saya, Ainun, Anis, dan Fevi) dari rumah Anis, Safar, satu satunya santriwan (cieee) yang ngumpul di Rumah Anis mengikuti dari belakang. Kita naik gokar. Hehehe. Bersyukur sekarang sudah banyak yang bisa membawa kita ke mana mana. Bukan hanya Pete Pete kalau di Makassar.
Dan ternyata..... Tempatnya sangat jauh ><" untung saja pemilik mobil yang kami tumpangi sabar, dan banyak tersenyum. Jadi kita kita tidak terlalu kaku dan takut kalau kalau dia marah.
Jalan tak berujung pun bisa dilalui kalau niatnya baik. Hehehe. Maka sampailah kita setelah perjalanan panjang dan beberapa insiden kecil. Semisal yang pergi menjemput tapi tidak berpapasan. ^^
Kita disambut ramah oleh Ibunda Lia. Kakak kakak Lia juga yang sebagian besar alumni DAFA. Lalu Pak Rafrin beliau  masih sama kelihatannya saat masih mengajari kita dulu. Namun setelah mengalami kecelakaan, beliau sudah tak sesehat dulu.
Setelah bercengkrama kurang lebih sejam, sampailah kita di penghujung acara. Makan makan. Kembali ke daerah perintis setelah masuk pedalaman sudiang. Sampai belakang rasanya encok gegara duduk. Hihihi.
Nah, saat makan makan inilah yang lain, yang tak bisa ikut serta ke Rumah Lia, bisa ikutan gabung. Soalnya banyak yang punya urusan dulu.
Maka tadi malam yang berkumpul adalah (absen dulu ya).
Abba, Safar, Faisal, Fajar, Fahruddin, Zul, Anis, Ainun, Fevi, Fitrah dan tentunya yang punya hajatan (kalau ada yang namanya terlupa maafkan).
Sampai lupa, untuk Lia (Khairunnisa Rafrin) selamat atas wisudah dan gelarnya. Semoga ilmunya berkah, bisa dapat kerja (DAFA menunggu), dan semoga wisudah wisudah lainnya segera menyusul. Amin.
Sekian laporan saya, dan agenda selanjutnya adalah, silaturrahmi dengan salah satu guru kita yang lain. Siapakah beliau???










Selasa, 21 Maret 2017

Saat Galau Melanda

Saat saat paling tak mengenakkan adalah kalau galau melanda dan sebab sebabnya hitam pekat tak tahu apa. Sampai kiri kanan marah marah tidak jelas. Menyalahkan orang lain dan berbuah permusuhan. Saya pribadi seperti itu. Masalah di tempat lain, terbawa ke tempat yang satu. Marahnya ke yang ini tapi yang di situ kena juga. Parah bin payah dan membuat orang sekitar jadi menjauh.

Pun begitu, jika sudah sadar alias galaunya sudah reda barulah minta maaf pada yang kena getahnya. Maafkan saya. Mungkin begitu kira kira.

Maka tips galau ala Nahlatul Azhar alias Sitti Mardiyah, adalah:

#Kenali penyebab galau. Karena apa? Masalahnya dimana?

#Selesaikan masalah berdasarkan penyebab
Contoh penyebab galau:
1. Kena marah di tempat kerja
2. Kantong lagi kering
3. Jodoh tak kunjung datang
4. Uang tidak ada
5. Habis kena ceramah tanpa judul
6. Teman nikah, aku kapan?
7. Sudah rajin masuk ngajar masih kena semprot juga.
8. Pengen beli jilbab duitnya tidak ada.
9. Aduh pangerannya sudah ditelan bumi.
10. Hal hal di atas hanya 3 penyebab galau yang dikembangkan sedemikian rupa.

Setelah tahu penyebab galau, misal karena uang alias duit maka ... Ngepetlah, eh cari uanglah yang halalan toyyibah. Kalau masih belum dapat juga mintalah pada yang punya banyak uang.

Kalau karena dimarahi di tempat kerja, pasrahlah. Tugas atasan ya marah marah. Bawahan terima saja.

Kalau karena jodoh belum datang, itu sudah takdir. Alias belum saatnya nikah.

Sekian. Saya sebenarnya lagi curhat. Cuman tak tahu harus pada siapa yang berwujud manusia.

Sekali lagi sekian.
Tips anti galau paling ampuh sebenarnya curhat pada Pemilik kita. Mohon jalan dan hati yang lapang.

Sekian untuk ketiga kalinya.

Makassar, 21 Maret 2017
21:22 dan hujan keras.



Punya Teman yang Sahabat

Saya punya sahabat, setidaknya saya menganggap dia sahabat, tak tau kalau menurut dia menganggap saya bagaimana. Namun saya sering salah paham sama dia, saya merasa sudah terlalu menganggap dia sahabat. Sampai sampai sudah kayak saudara, Namaun belakangan saya merasa, ah... Saya berlebihan menanam rasa buat dia. Saya semakin dalam menganggap dia sahabat. Tapi penerimaan yang saya rasa dari dia berbeda.
Sekali waktu dia akan hangat. Namun di lain waktu dia sedingin es. Disaat lain dia mengingat, setelah itu dia melupakan. Atau saya yang terlalu dalam?
Entahlah. Akhir akhir ini sensitif bertambah parah. Kantong kering, hati pun gersang. Dan... Keduanya saling mendukung untuk suasana hati yang sensitif.
Sahabat, maafkan aku menganggapmu sahabat, maafkan berharap perlakuan yang sama darimu.
Aku kini sadar, mungkin, di sisimu aku tidak pantas.
Makassar, 21 Maret 2017


Senin, 20 Maret 2017

Cara Mengirim ke Koran Amanah

Sudah lama tidak menulis cerpen membuat saya ketinggalan banyak dari teman-teman FLP di Makassar. Saya jadinya harus mengejar, mengulang lagi apa yang dulu sudah saya rintis. Menyesal juga pernah berhenti kurang lebih dua tahun.
Tapi... Musti bangkit lagi. Kalau kata teman saya, "Harusnya kamu tuh sudah banyak tulisan, kan sekarang lebih banyak pengalaman dari yang kemarin kemarin."
Teman saya ini juga ambil andil dalam membangunkan saya dari mimpi yang panjang. Beda lagi kalau di FLP disuruh nulis cerita anak. Katanya saya bagus di situ.
So, bismillahirrahmanirrahim baiklah, saya mulai menulis di sosmed dulu. Semisal FB, blog, IG. Dan kali ini di blog pengen nulis tips ngirim ke koran Amanah Makassar.
Kalau kata senior di FLP rata rata tulisan yang dimuat di koran Amanah itu tulisannya anak anak FLP. Bukan karena di dalam ada orang FLPnya, tapi karena yang rajin ngirim memang anak FLP. (Anak? Sok tua).
Baiklah... Begini caranya.
1. Kalau mau ngirim berarti harus ada yang dikirim, nah apa yang dikirim? Tentu tulisan dong. Masak makanan? Jadi siapkan tulisan terbaikmu. Khusunya cerpen atau puisi.
Tuliskan naskah dengan rapi di ms. word (2003 atau 2007 atau 2010) yang rapi dan sudah diedit. Biar yang baca seneng dan tidak menyumpahi tulisan kita karena kebanyakan salah ketik. Hikzzz
2. Yang kedua di akhir naskah selipkan data diri penulis yang diserta dengan foto kita yang keceh baday. Bisa juga di ms. Word yang baru sih.
3. Kalau tulisan sudah siap kita lanjut buat ngirim. Ibarat mau pergi pasar, tentu dong ada kendaraannya. Makanya kita harus punya email sebagai kendaraan tulisan kita. Ya ngga?
4. Tahap selanjutnya bukalah email pilih kirim, taruh alamat yang kita tuju. Isi badan email dengan kalimat kalimat pengajuan cerpen atau puisi kita. Semacam pengantar. Lalu lampirkan file tulisan kita.
Contoh judul email pas ngirim : Cerpen_Membunuh Pengantin_Nahlatul Azhar
5. Kirim deh. Eh sampai lupa alamat koran Amanah Sastraislam@gmail.com.
Sudah kan??
Terakhir kalau mau tahu tulisan kita dimuat atau tidak belilah korannya. Khususnya cerpen dan puisi rilis hari Sabtu. Kalau tidak bisa beli korannya ya, bertanyalah pada yang punya koran. Kalau dalam seminggu tulisan kita belum dimuat juga, jangan berkecil hati. Bisa jadi Minggu depannya atau depannya lagi. Yang jelas kita musti sabar menunggu. Tenang saja kalau jodoh tidak lari kemana kok. Eh.
Maksudnya karena pasti yang ngirim tulisan banyak, jadi kita musti kuat dan sabar menunggu. Penantian panjang pasti berlabuh kok. Kalau jodoh pasti dipersatukan. Eh.
Sudahlah.
Demikian tulisan ini saya buat. Semoga berkenan. Dan jika ada kesalahan mohon perbaikan dan masukan. Terimakasih.
Makassar, 20 Maret 2017
Di kos teman, Ainun.

Kota Tua, Kita Tua, dan Benih 

Aku tua di sini
Aku lupa bagaimana cara menjadi aku yang dulu
Aku lupa kita pernah menanam benih yang sama
Bedanya kau jaga benihmu
Namun aku...
Benihku aku jaga sekejap mata sebelum kutinggalkan di kota tua ini
Kini kau dan benihmu sudah berbunga indah
Tatapanmu bangga walau kau sudah berumur tua
Aku pun tua
Namun tak meninggalkan makna sepertimu
Aku tua
Dan benihku mendekam di dalam kota.

Minggu, 19 Maret 2017

Dapur Kita (DAFA 07)

Masih tentang kami, alumni DAFA 07. Ceritanya pas lagi ngumpul buat bikin kapurung kemarin beberapa pengalaman sangat bagus buat dikisahkan. Seru soalnya.
Mulai dari pas ngumpul yang rencana awalnya jam 3 sore. Tau tau saling mengharap tinggal makan pas datang. Hihihi. Kalau tidak salah yang datang pertama adalah Bu Ainun. Dengan semangat 100% ke atas doi bawa mangga muda buat dibikin raca manngga andalannya. Saya akui deh, diam diam calon Bu dosen kita ini perlu diacungi sepuluh jempol. Sebab di kepalanya banyak ide ide yang belum ditularkan. Demi kelangsungan hubungan silaturrahmi alumni DAFA 07. Eaaaa.
Yang datang kedua adalah Bu Fitrah. Kalau ibu yang satu ini lumayan heboh. Maklum mungkin karena paling bahagia dari yang lain (sudah laku soalnya alias sudah nikah). Sedang yang lain masih menanti. Hikzzzz. Pas datang yang tadinya pengen tinggal makan, tau tau malah diminta ke pasar buat belanja bahan kapurung. Hehe tugas yang cocoklah buat istri shalehah.
Selanjutnya yang datang adalah saya. Bagian ini tidak ada yang spesial. Saya pelengkap saja. Hehehe.
Mmmm... Selanjutnya dua wanita yang sedang meniti karir pun datang. Bu Fevi dan Bu Lia. Keduanya jadi pelengkap yang bikin suasana dapur makin ramai oleh ide dan tawa.
Seperti saat lagi goreng kacang, Bu Lia lah yang bertugas. Berkali kali ibu dapur kita satu ini bertanya, sudah matang atau belum? Pas dijawab sudah, eeee malah bilang belum matang. Sampai berkali kali bertanya dan menjawab sendiri.
Oh iya Bu Lia juga yang paling semangat supaya kapurungnya cepat selesai. Sudah lapar katanya. Makanya saking laparnya terpaksa keluar beli makanan buat ganjal perut yang sudah melilit. Bu Lia maafkan keterlambatanku masak, kata kapurungnya.
Hampir lupa si empunya rumah. Bu Anisah lah yang paling heboh. Saking hebohnya si ibu satu ini siap rumahnya dijadikan tempat kedua buat kita ngumpul. Sarangheo Bu Anisah, terimakasih. Berkat dirimu kita bisa menikmati kapurung tanpa bentuk namun sedap itu.
Gas habis!!!!
Itulah yang terjadi kemarin. Yang jadi soal adalah setelah ganti tabung gas, dan sudah di pasang oleh wonder woman kita alias Bu Fevi (cuman ibu yang berani pasang gasnya kemarin), tau tau  kompornya tidak mau nyala. Berkali kali diperiksa dan buat kita semua panik. Sudah menjelang magrib tapi kompor malah mati. Mana yang lain sudah pada otw. Reputasi ibu ibu dapur dipertaruhkan. Sampai salah satu bapak yang datangnya cepat ikutan turun tangan pak Safar. Dan.... Ah, gagal pemirsa. Jadi bagaimana???
Wonder woman pun kembali beraksi. "Yes!!!" teriaknya dari dapur membuat kepanikan musnah disambar api #eh.
Adegan berikutnya adalah satu persatu bahan kapurung disatukan. Lombok dihancurkan, dibaurkan dengan tomat tomatan (apasih).
Tak lupa sahut sahutan dari beberapa suara memenuhi ruangan. Maklum ibu ibu dapur kita pada sibuk mengeluarkan ide berbeda.
Suasana dapur heboh ala ala lah pokoknya.
Dan.... Taraaaaaaaa.
Bapak bapak masuk, kita santap kapurung tak berbentuk bersama sama. Saya nambah, wajib! Soalnya makanan favorit. Yang lain juga, ya kan kan KAN??? Jawablah jangan bikin saya malu sendiri. Huhuhu...
Oh iya sampai lupa makanan penutupnya adalah es putar Pak Kumis yang dibawa langsung oleh Om Zul.
Sekian laporan dari dapur rempong.
Makassar, 20 Maret 2017
Pukul 00.03



DAFA 07 Punya Cerita


Alhamdulillah sekali minggu minggu ini dipertemukan lagi dengan teman lama. Sesama alumni Pesantren Darul Falah Enrekang 07. Rasa rasanya setelah semua sudah keluar dari DAFA tak sekalipun ada pertemuan sesama alumni. Mungkin karena tak ada yang memulai. Atau karena masing masing telah sibuk dan saling melupakan? Semoga yang terakhir tidak ya.
Namun berkat seorang kawan yang jadi pelopornya akhirnya bertemulah kita lagi. Bahkan bahkan dengan sesama alumni angkatan yang sama namun tidak pernah bertemu. Mungkin demi mengulang kenangan kenangan lama yang sempat terkubur. Asik…
Dialah Abba, yang tiba tiba nelvon saya di malam Ahad lalu. Katanya sih sebab saya tak pernah berkabar dan digadang gadang mallaparru pake banget. Walhasil saat nelvon itulah tercetus ide buat reuni kecil kecilan dulu. Pas banget sebab malam itu di kamar saya lagi ada dua mahluk lain, hehehe ada Anisah wa Ainun. Maklumlah kedua mahluk berjenis sama namun berbeda sifat ini tiba tiba pengen nginap setelah sekian lama. Namun berkat keduanya jugalah pertemuan bisa berjalan mulus.
Tanpa pikir panjang Ainun bilang, besok saja biar langsung kejadian. Biasanya yang tidak direncanakan yang kejadian. Kata si ibu penuh semangat yang diiyakan dengan Ibu satunya lagi. Alhamdullillah betullah kita fixkan bertemu besoknya, tepat malam Senin.
Karena katanya reuni, pun kecil kecilan, maka sibuklah kami bertiga mencari anggota lain buat ngumpul. Sampai lupa waktu kalau sudah tengah malam. Kita pada cari kontak teman teman yang masih bermukim di Makassar. Dan..... Ehm..... Terkumpullah kurang lebih sepuluh orang untuk bertemu. Saya pribadi sangat senang. Hehehe.... Yang dulunya tak saling kenal akhirnya kenal. Bahkan saya salah orang, bilangnya Hakim taunya Safar. Ha-ha-ha.
Malam Senin alias Minggu malam bertemulah berupa rupa manusia. #lebay. Ada: saya, Ainun, Anis, Lia, Nunu, Fevi, Zul, Safar, Muin, Fajar, Faisal, dan Abba. (Semoga tak ada nama yang terlupa).
Pertemuan malam itu disertai rencana buat kapurung di rumahnya Anis. Benar saja, semalam kita sudah menikmati kapurung ala ala dan ditambah lagi personilnya, ada Fitrah, Udin, dan Ayyub. Ada juga sih yang tidak datang. Tapi... Sungguh sangat bersyukur.
Berbeda dengan pertemuan sebelumnya kali ini sudah mulai cair sih percakapannya. Ka;lau sebelumnya masih agak malu dan malu maluin. Heheh. Cerita cerita mengalir begitu saja. Hangat karena diselingi canda tawa. Kalian memang sesuatu.
Catatan semalam adalah, tanggal 23 bakalan kumpul lagi di acara syukuran wisudah Lia. Sekaligus bertemu guru kita dulu Pak Rafrin. Semoga terealisasi. Aminn.
Sampai jumpa lagi temang temang.
Makassar, 19 Maret 2017





Wajah yang lain

Aku menemukanmu lagi. Pada malam yang kau sebut ada saat mata tak bercahaya. Di sana pada wujudmu kau menjelma lain. Kau datang menawarkan yang lebih dari kau dan wajahmu. Aku tersipu. Aku mengingatmu. Namun kau dan wajah lainmu menyajikan yang tak ada sebelumnya.

Aku bimbang.

Lalu mataku kembali bercahaya.