Jumat, 07 Juli 2017

Yang Baru

Pun ada yang baru, yang lama jangan terlupakan.

Tempat yang baru, suasana yang baru, orang-orang yang baru. Harapan yang baru pula. Begitulah kira-kira kalimat-kalimat yang mewakili suasana hari ini. Dimulainya sih kemarin, namun baru bisa diabadiakan hari ini.

Tentang tempat yang baru ini, ada banyak yang belum saya ketahui, tapi kebaikan kebaikan sudah terlihat di serial sudutnya. Dari orang orangnya yang ramah, sampai kebiasaan kebiasaan yang dilakukan, ruangan ruangan yang bersih, insyaallah pilihan kali ini adalah yang terbaik.

Harapan harapan kembali melangit. Bismillahirrahmanirrahim.

Jumat, 30 Juni 2017

Aku, Kamu, Bertemu Lagi

Kita lalu bertemu, berpisah, bertemu, lalu berpisah lagi.

Bahagia. Itulah satu satunya kata yang terlintas dipikiran saya perihal reuni akbar ikapda kemarin, tepatnya tanggal 27 dan 28 bulan ini, Juni 2017. Bagaimana tidak, setelah perpisahan yang sekian lama (tidak berlaku untuk beberapa orang), akhirnya bisa bertemu lagi. Saling berkisah, tertawa, ah... Indah sungguh.

Walau bagi saya pribadi, ikut reuni kali ini sepertinya sekedar numpang saja pada alumni yang lebih tua, yang kalau tidak salah merupakan angkatan angkatan paling tua dari alumni DAFA. Iya lah, bayangkan saja, angkatan 70an, dimana saya belum lahir, orang tua juga belum nikah kayaknya saat itu. Tapi, berkat kegiatan yang digawangi para senior tersebut bertemulah saya, dengan kamu, dengan kalian.

Al, beberapa bulan tidak bertemu dengannya berakibat pada hati pecah-pecah, rindu berdarah darah, dada sesak, pikiran kacau balau (hahaha). Berkat reuni, sekalian saja bertemu dengannya. Ya... Hitung hitung nilai plus dari reuninya. Hehehe... Ehm... Kesempatan langkah setelah jarak yang memisahkan. Semoga bisa melipat jarak kita ya, Al. Ya? Jawab dong!! Hampir lupa, makasih THR nya, traktirannya, juga oleh-olehnya. Makasih pokoknya.

An, aduh maaf tak menyapa. Susah juga teman satu ini seakan sulit dijangkau. Segan mendekati malu sih. Hanya bisa menatap jauh dan berkata, berbahagialah dengan hidupmu. Diriku berharap hal yang sama. Hehehe.

Yu, hehehe... Kamu itu sungguh aneh. Setelah waktu yang tak saya hitung, akhirnya bisa bertemu kamu. Wah... Sebenarnya saya sedang mengetes sesuatu dengan bertemu denganmu, dikarenakan saya baik baik saja setelahnya maka kesimpulannya... Baiklah. Sudah bisa move on, kata adik kelas saya. Oh ya, sebenarnya saya merasa spesial bisa berbicara denganmu,  ketimbang teman yang lain. Hoho. Eh, terimakasih buat hadiah bukunya juga coklatnya. Sukses untuk pendidikanmu.

Pertemuan spesial yang lain adalah bisa bertemu guru guru dari masa lalu, Bu Setiawati, Bu Suryani, Bu Sri, Bu Masati, Pak Mardan, Pak Bidu, Pak Sumardin, Ust Hayat, dan lain lain. Masih banyak yang tak sempat bertemu, ya mestinya memang lebih banyak. Semoga dilain waktu.

Lalu, bertemu dengan kakak serta adik masa lalu. Yang tak mungkin bisa disebutkan satu satu. Ah tak apalah saya sebut yang sempat menyapa, Kak Tochy si pengganggu (hoho), Kak Jimmy yang sudah menjabat (keren), Kak Daus (sang Uztadz DAFA, suami seangkatan saya Imma), Kak Iqbal (ehmmm andalan ini), Kak Mahira (wah barusan ketemu), Kak Fitri yang tambah imut aja, dan yang lain yang tak sempat namanya tersebutkan.

Adiks adiks yang super heboh, Nia diks kesayangan alias nene, Fiqa, Irna, Uznul, Rini, Ningsih yang sudah berubah banget, Sakinah si tingtong, Aida yang kalem tapi heboh pas main Ludo king, Hilda, dan kawan kawannya. Ada juga Tara, Itha, Rahma, semua semuanya deh. Inna dan Daya yang cuman berdua.

Juga teman teman seangkatan yang super super super nyenengin. Aduh jadi rindu lagi. Sulthana yang tak pernah berubah, selalu heboh dan jadi bahan bakar buat tertawa. Kayaknya cuman pas tidur saja deh dia tak heboh.
Ada Nini yang masih manja, Tika si ibu guyu yang jauh tapi dekat di hati, Imma yang sudah jadi seorang istri (salut), Wati yang unyu unyu sejak zaman dahulu kala, Inna R yang lincah belanja es krim, Ada juga Yusri, Jabal yang sudah ikutan subur (akakaka), dan teman teman lainnya. Yang ngga disebut berarti sudah sering ditemui di kota Daeng.  Kalian keren!!! Dimana saja bisa jadi kompor meleduk.

Sementara kegiatan berlangsung, ada saja yang bisa dilakukan, dari yang malah ngumpul di depan kantor makan es krim, cerita, nginap di pondok, jalan santai. Pokoknya dua hari kemarin seakan jadi obat buat rindu yang kebangetan. Saya yang rindu pondok akhirnya bisa mondok walau hanya semalam.

Terimakasih. Suka sangat. Semoga tahun depan bisa begini lagi. Kumpul lagi. Lagi!!!

Kamis, 15 Juni 2017

Sepucuk Pesan

Ketika kau layangkan pesan untukku, pesan yang Kunanti jauh jauh hari. Yang kutunggu dan membuat hatiku ciut sebab mungkin kau tolak.

Pesanmu datang menjelang tengah malam. Dengan rasa yang sulit tuk digambarkan, kubaca pesan itu berkali kali. Tak percaya.

Sepucuk pesanmu nyata adanya. Menyebabkan gejala sulit memejam mata, dada berkecamuk tak karuan.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagiku. Sebab pesanmu tentu saja.

Sudahlah.... Sepucuk pesan yang kau selip pada malam yang hampir berpamitan akan kudoakan dalam dalam.

Semoga berjodoh. Semoga aku bisa menjadi lebih baik lewatmu. Semoga anak anak cinta kembali menyapa. Anak anak cinta yang lain.

Menuh harap, Na.

Kamis, 30 Maret 2017

(Tak) Sia Sia

Hari ahad yang entah beberapa minggu sebelumnya, kami (bukan cuma aku kamu) kembail bertemu. Sebuah janji harus dituntaskan, ya kan? Awalnya sih tak ada yang mau bergerak alias pada malas. Terlebih saya yang super ngantuk setelah kegiatan persami di sekolah. Ya walau hanya kebahagian masak masaknya. Terimakasih untuk Bu Ainun yang turut membantu.

Maka, waktu bertemu yang tadinya dijadwalkan habis Zuhur, molor sampai sudah ashar. Dan tempat ketemunya adalah halte Pettarani samping Telkom. Yang pertama datang adalah si ibu tiga serangkai, Fevi, Anis, dan Ainun. Ketiganya memang selalu bisa diandalkan soal urusan memulai. Lalu datanglah Bapak Faisal. Saya yang berikutnya. Tak berapa lama datang pula safar. Maka jadilah kita nongkrong di halte sambil menunggu yang lain. Selanjutnya Muin juga hadir.
Sembari menunggu yang lain (berharap masih ada yang datang), berdiskusi lah kita yang sudah hadir. Tentang apa yang akan di bawa ke rumah salah seorang guru yang pernah mengajar saat duduk d bangku SMP (kalau saya sampai SMA).
Maka diputuskanlah bahwa, dua orang pergi membeli buah sebagai sedikit buah tangan, Muin dan Fevi lah yang diutus. Oh ya, berhubung tulisan ini baru dibuat setelah sekian hari bahkan bulan, rasa rasanya saya pun ikut lupa kronologi nya.

Sebenarnya tujuan berkumpul di sore yang mendung adalah menjenguk salah seorang guru kita yang sudah tak bertemu sekitar 7 sampai sepuluh tahun silam. Bayangkan alangkah rindunya hati pada sesosok yang disegani dan dihormati. Demikianlah rencana dijalankan. Alhasil hari itu kami tak bertemu belia, Bu Fia. Sebab saat itu Bu Fia sedang ke Rumah keluarganya. Kami awalnya menunggu. Dan saat proses menunggu itulah beberapa kejadian menggelitik terjadi.

Pertama, akhirnya kami memutuskan shalat magrib di dekat rumah Bu Fia. Setelah selesai shalat kembalilah kami ke  kediaman beliau, nihil. Tapi menurut tetangganya yang juga keluarganya, ibu sedang dalam perjalanan pulang. Abba juga sudah bergabung saat itu. Kami memutuskan menunggu, dan ...karena rata rata dari kami sedang lapar, kita bersepakat untuk mencari tempat makan.

Berjalanlah kami, dan berhenti pada sebuah warung makan di pinggir jalan. Saat itu, dikarenakan pengaruh lapar, masuklah kami empat orang perempuan. Saat hendak duduk, ada beberapa hal yang sangat ganjil dan agak horor dari warung makan tersebut. Salah satunya senyum pelayannya yang agak ....anehlah. Selanjutnya beberapa aksesoris warung yang berbeda dari warung kebanyakan. Yang terakhir, kami para gadis sudah duduk manis dan siap memesan, tapi para alumni santriwan malah masih asik duduk di luar warung sembari tersenyum penuh arti.

Degh!!! Perasaan tak enak segera menjalari hati. Saya sendiri dengan alasan memanggil mereka, segera keluar dari warung dan ternyata Fevi ikut dibelakang saya. Saat bertanya kenapa si santriwan (anggap saja demikian) tidak masuk, bisik bisik lah mereka perihal ketakutan jika pemilik warung tersebut bukan orang muslim. Wah....saya sendiri yang sejak awal tak enak hati langsung cabut dari tempat itu. Berjalan meninggalkan lokasi diikuti yang lain, kami seolah tak peduli jika dua kawan kami, Ainun dan Anis masih ada dalam warung.

Setelah berjarak 4 meter dari tempat tersebut, tertawalah kami bersamaan, sembari mencoba menelpon dua teman kami yang masih bersemayam di sana. Beginilah percakapannya (kurang lebih).

Fevi: Halo
Ainun: Kenapa pergi semuaki'?
Fevi: Nun, keluarmaki'. Kayaknya tidak ada label halalnya di situ.
Ainun: Wi.... Bagaimana caranya. Tidak enakka. (Sambil bisik bisik)
Fevi: Ai... Keluarmi.
Ainun: O... Ada akalku.

Jeda beberapa saat lalu.

Ainun: Adami ibu? (Sudmra dibesarkan)
Fevi: Adami (tertawa)
Ainun: Ok, ke situma pade.

Maka begitulah cara Ainun dan Anis keluar dari warung dengan sedikit kebohongan yang mungkin diketahui pemilik warung. Anehnya mereka tak marah kok. Malah senyum aneh kembali dipertontonkan.
Setelah kedua kawan kami keluar, tertawalah kami. Sebenarnya akan lebih lucu lagi jika saat itu saya langsung tulis.
Pesannya adalah, selapar apa pun kita, mohon tetap memperhatikan keadaan warung sebelum masuk. Hehe...

Malam itu kami tak bertemu Bu Fia. Tapi kami tetap senang dengan pengalaman yang menarik dan lucu.

Dilain harilah baru kami bertemu sang guru. Dan semoga bisa mengisahkannya di lain waktu.

Sungguh tak ada yang sia sia, selama kita bisa memetik hikmah. Dan bagi saya pribadi yang masih perlu banyak belajar berfikir positif.

Minggu, 26 Maret 2017

Jumat, 24 Maret 2017

DAFA 07 "Terimakasih Guru"

Bagi seorang guru mengajar maupun mendidik adalah kewajibannya. Namun, bukan berarti yang diajar atau dididik lantas begitu saja menjadi baik. Entah sikap siswa akan berubah baik atau sebaliknya itu urusan belakangan. Yang penting menjalankannya kewajiban dulu tentu dengan ikhlas. (Semoga saya pun demikian, ikhlas). Tapi alangkah bahagianya seorang gulu, manakala siswa yang pernah diajarnya masih mengingatnya, bahkan mencari dan mendatanginya. Yakinlah, akan ada haru yang menyentuh hatinya.
Bukan sok bijak, hanya bingung mau mengawali tulisan ini. Terlampau bahagia. Bahagia yang melambung ke angkasa, ha-ha-ha. Oh iya, semalam sebelum tidur ibu calon dosen yang kosnya saya tempati nebeng bilang, "Mar tulismi lagi tentang malam ini. Kutunggu tunggu nah." Katanya (bahagianya dalam hati). Sambil mengecek jam saya bilang, "Besokpi, ngantuk sekalima. Masih kuingatji besok." Hehe...
Baiklah... Mari tunaikan janji yang tak sekedar janji yang tak disegerakan.
Semalam pertemuan sesama alumni DAFA 07 yang dimana orang orangnya ada di Makassar, bisa berlangsung lagi. Bagi yang tak berdomisili bukan di Makassar mohon maaf, bukan ajang mau pamer kalau ketemuan terus. Hanya saja kami yang di Makassar menginginkan hal yang sama dilakukan juga oleh teman-teman yang berada di tempat lain. Semoga bisa ya. ^^
Lia wisuda. Yeyyyyyyyy!! Kita dapat undangan makan. Anugrah kalau kata pak ketua (Abba). Maka dengan perencanaan yang matang, janjianlah kita ngumpul di Rumah Anis.
Oh iya, acara makan makannya bukan sekedar itu. Kita juga berencana bersilaturahmi dengan salah satu guru kita dulu di DAFA. Pak Rafrin, beliau yang mengajarkan Al-Quran Hadist dulu. Dimana di dalam pelajaran tersebut ada ilmu tajwidnya.
Saya pribadi tidak pernah lupa bagaimana beliau mengajar ilmu tajwid. Jika pelajaran itu tiba (hampir setiap bab ada ilmu tajwidnya) maka para santriwati (kan saya santriwati) bergiliran maju membaca Al-Quran yang harus tajwidnya harus bagus. Kita juga disuruh menyebutkan hukum bacaan yang beliau tunjuk. Kalau tak tahu.... Hahahaha.... Dapat sedikit omelanlah kita. Tapi kalau tahu, nilainya juga bagus.
Dari pelajaran tersebut, tajwid, saya sendiri bisa mengajarkan hal yang sama pada siswa saya, terutama saat bulan Ramadhan dan diadakan pesantren kilat. Jika sudah membahas tajwid maka saya akan mengingat pak Rafrin, dan dalam hati sangat bersyukur diajari beliau. Terimakasih banyak pak. Sangat, sangat terimakasih.
Lanjut, kami berangkat bersama (Saya, Ainun, Anis, dan Fevi) dari rumah Anis, Safar, satu satunya santriwan (cieee) yang ngumpul di Rumah Anis mengikuti dari belakang. Kita naik gokar. Hehehe. Bersyukur sekarang sudah banyak yang bisa membawa kita ke mana mana. Bukan hanya Pete Pete kalau di Makassar.
Dan ternyata..... Tempatnya sangat jauh ><" untung saja pemilik mobil yang kami tumpangi sabar, dan banyak tersenyum. Jadi kita kita tidak terlalu kaku dan takut kalau kalau dia marah.
Jalan tak berujung pun bisa dilalui kalau niatnya baik. Hehehe. Maka sampailah kita setelah perjalanan panjang dan beberapa insiden kecil. Semisal yang pergi menjemput tapi tidak berpapasan. ^^
Kita disambut ramah oleh Ibunda Lia. Kakak kakak Lia juga yang sebagian besar alumni DAFA. Lalu Pak Rafrin beliau  masih sama kelihatannya saat masih mengajari kita dulu. Namun setelah mengalami kecelakaan, beliau sudah tak sesehat dulu.
Setelah bercengkrama kurang lebih sejam, sampailah kita di penghujung acara. Makan makan. Kembali ke daerah perintis setelah masuk pedalaman sudiang. Sampai belakang rasanya encok gegara duduk. Hihihi.
Nah, saat makan makan inilah yang lain, yang tak bisa ikut serta ke Rumah Lia, bisa ikutan gabung. Soalnya banyak yang punya urusan dulu.
Maka tadi malam yang berkumpul adalah (absen dulu ya).
Abba, Safar, Faisal, Fajar, Fahruddin, Zul, Anis, Ainun, Fevi, Fitrah dan tentunya yang punya hajatan (kalau ada yang namanya terlupa maafkan).
Sampai lupa, untuk Lia (Khairunnisa Rafrin) selamat atas wisudah dan gelarnya. Semoga ilmunya berkah, bisa dapat kerja (DAFA menunggu), dan semoga wisudah wisudah lainnya segera menyusul. Amin.
Sekian laporan saya, dan agenda selanjutnya adalah, silaturrahmi dengan salah satu guru kita yang lain. Siapakah beliau???










Selasa, 21 Maret 2017

Saat Galau Melanda

Saat saat paling tak mengenakkan adalah kalau galau melanda dan sebab sebabnya hitam pekat tak tahu apa. Sampai kiri kanan marah marah tidak jelas. Menyalahkan orang lain dan berbuah permusuhan. Saya pribadi seperti itu. Masalah di tempat lain, terbawa ke tempat yang satu. Marahnya ke yang ini tapi yang di situ kena juga. Parah bin payah dan membuat orang sekitar jadi menjauh.

Pun begitu, jika sudah sadar alias galaunya sudah reda barulah minta maaf pada yang kena getahnya. Maafkan saya. Mungkin begitu kira kira.

Maka tips galau ala Nahlatul Azhar alias Sitti Mardiyah, adalah:

#Kenali penyebab galau. Karena apa? Masalahnya dimana?

#Selesaikan masalah berdasarkan penyebab
Contoh penyebab galau:
1. Kena marah di tempat kerja
2. Kantong lagi kering
3. Jodoh tak kunjung datang
4. Uang tidak ada
5. Habis kena ceramah tanpa judul
6. Teman nikah, aku kapan?
7. Sudah rajin masuk ngajar masih kena semprot juga.
8. Pengen beli jilbab duitnya tidak ada.
9. Aduh pangerannya sudah ditelan bumi.
10. Hal hal di atas hanya 3 penyebab galau yang dikembangkan sedemikian rupa.

Setelah tahu penyebab galau, misal karena uang alias duit maka ... Ngepetlah, eh cari uanglah yang halalan toyyibah. Kalau masih belum dapat juga mintalah pada yang punya banyak uang.

Kalau karena dimarahi di tempat kerja, pasrahlah. Tugas atasan ya marah marah. Bawahan terima saja.

Kalau karena jodoh belum datang, itu sudah takdir. Alias belum saatnya nikah.

Sekian. Saya sebenarnya lagi curhat. Cuman tak tahu harus pada siapa yang berwujud manusia.

Sekali lagi sekian.
Tips anti galau paling ampuh sebenarnya curhat pada Pemilik kita. Mohon jalan dan hati yang lapang.

Sekian untuk ketiga kalinya.

Makassar, 21 Maret 2017
21:22 dan hujan keras.



Punya Teman yang Sahabat

Saya punya sahabat, setidaknya saya menganggap dia sahabat, tak tau kalau menurut dia menganggap saya bagaimana. Namun saya sering salah paham sama dia, saya merasa sudah terlalu menganggap dia sahabat. Sampai sampai sudah kayak saudara, Namaun belakangan saya merasa, ah... Saya berlebihan menanam rasa buat dia. Saya semakin dalam menganggap dia sahabat. Tapi penerimaan yang saya rasa dari dia berbeda.
Sekali waktu dia akan hangat. Namun di lain waktu dia sedingin es. Disaat lain dia mengingat, setelah itu dia melupakan. Atau saya yang terlalu dalam?
Entahlah. Akhir akhir ini sensitif bertambah parah. Kantong kering, hati pun gersang. Dan... Keduanya saling mendukung untuk suasana hati yang sensitif.
Sahabat, maafkan aku menganggapmu sahabat, maafkan berharap perlakuan yang sama darimu.
Aku kini sadar, mungkin, di sisimu aku tidak pantas.
Makassar, 21 Maret 2017