Kamis, 09 Oktober 2014

Untuk, Si Cengeng


by:
Kartun Muslimah
Bagaimana kabarmu? Masih sama seperti dulu. Menangis jika melihat cacing, menjerit saat ada kecoak yang terlihat oleh matamu, atau merengek jika Bapak tak membiarkanmu memanjat pohon di belakang rumah?
Masihkah?
Kau ingat saat aku pernah menurunkanmu dari pohon? Aku telah menjadi pahlawanmu sejak itu. Kau memanggilku Kakak sejak hari itu. Padahal sebelumnya kita tak saling kenal. Aku yang baru saja menjadi tetanggamu jadi senang karenanya. Kadang kala kau buat aku jengah juga. Bagaimana tidak jika kemanapun aku pergi, kau selalu mengekor di belakangku. Sampai teman-temanku menyebutmu pengawalku.
Cengeng. Sebenarnya itu bukan namamu. Itu hanya panggilan dariku karena kau terlalu mudah menangis. Ya, setidaknya itu alasan awalnya sebab lambat laun aku menjadikan “cengeng” sebagai panggilan sayang padamu. Tentu tanpa sepengetahuanmu.
Tunggu, aku baru saja menuliskan kata “sayang” bukan?
Maaf terlambat mengatakannya. Rasa itu tumbuh begitu saja. Aku menyadarinya sejak duduk di bangku es-em-pe kelas tiga. Dan tentu saja kita masih tetangga.
Kau yang saat itu adalah adik kelasku, diminta oleh ibumu agar terus aku jaga. Sejak itu pula aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyanggupi permintaan ibumu. Lagi pula, mana mau aku ada yang mengganggumu.
Ingat tentang Roy yang menyatakan suka padamu di belakang sekolah?
Tahukah kau kenapa keesokan harinya dia tak muncul dan memintamu memberi jawaban?
Itu karena aku menghajarnya sepulang sekolah. Aku mengancamnya. Makanya dia tak berani lagi menemuimu. Maafkan aku tentang hal itu. Aku ingin menjagamu. Atau lebih tepatnya, aku tak ingin ada yang memilikimu.
Lalu kita masuk bangku es-em-a. Aku tetap sama, menjagamu sebisaku, tanpa sepengetahuanmu. Maka jangan heran jika tak ada yang berani mendekatimu. Itu karena aku. Aku melarang mereka.
“Aku juga ingin punya pacar,” ucapmu suatu senja. Saat aku mengajarimu pelajaran matematika, pelajaran yang kau benci.
Mendengar perkataanmu, aku jadi panas dingin tak karuan. Inikah saatnya kuutarakan cinta yang selama ini kupendam padamu? Bisik hatiku.
Tidak!
Aku tidak ingin merusak kepercayaan ibumu. Aku tidak ingin merusak hubungan kita. Bagaimana jika kau tolak? Berbagai pikiran berkecamuk di kepalaku.
Bodohnya aku jika kupikir ulang. Andai kukatakan, kita tidak akan berpisah begitu saja tanpa tahu perasaan masing-masing.
Ya, kita akhirnya berpisah. Hari itu kau menangis keras. Aku dan keluargaku pindah lagi. Hari itu kurasakan sesak di dadaku. Sempat kupikir meminta ayah membiarkanku menyelesaikan sekolah di tempatmu. Tidak mungkin. Ibuku tidak akan setuju.
Maka lihatlah, bertahun-tahun kurindukan kau, Cengeng. Bertahun-tahun hingga tak kusadari rasaku berakar sedemikian dalam padamu.
“Kak, Wawan?” seorang gadis berjilbab menatapku.
Membuatku heran setengah mati. Bagaimana mungkin seorang muslimah menatap laki-laki dengan tatapan tak berkedip.
“Iya? Siapa ya?” tanyaku.
“Ini aku Kak, Cengeng.”
Degh! Aku hampir melompat memelukmu jika saja tak kusadari siapa aku. Jika saja tak kulihat pakaian yang kini menutup tubuhmu.
Ah, si Cengeng kecil telah berubah.
Tapi tunggu. Kau masih cengeng ternyata, sempat kulihat genangan air di matamu kala itu. saat untuk pertama kalinya kita bertemu lagi setelah sekian tahun lamanya.
Kau tahu? Hatiku kembali bergetar karenamu. Ah, hatiku memang selalu bergetar bahkan hanya dengan mengingat wajahmu. Maka hari itu juga aku berjanji, untuk kedua kalinya pada diriku sendiri: aku tidak akan melepasmu!
Si Cengeng yang kucintai ...
Janji-janji kutepati. Kujadikan kau wanita terindah dalam hidupku. Kujadikan ratu di istanaku.
Satu hal yang pasti, kau tetap cengeng seperti dulu. Saat kulamar dirimu, dengan sepasang mata yang masih sama saat kau kecil, air matamu tumpah lagi. Bersama sunggingan senyum dengan lafaz hamdalah yang terucap.
Si Cengeng yang kusayangi ...
Bersama surat ini kukirimkan hadiah yang tak sempat kuberikan di awal kebersamaan kita. Kau tentu ingat, aku melamarmu dengan uang tak seberapa. Hanya cinta yang begitu besar aku janjikan hari itu.
Dan lagi, katamu, “Biarlah kita hidup sederhana, asal hidup dalam kemewahan cinta.”
Aku terharu.
“Kakak juga cengeng,” ucapmu.
Ini untumu.
Hanya untukmu. Sebab aku mencintaimu.

Dari yang mencintaimu. Pahlawanmu.
**
“Surat untuk siapa, Kak?” tanya Fia pada suaminya.
“Surat untuk Si Cengeng,” jawab Wawan tersenyum.
Fia pun mengerti siapa yang dimaksud suaminya. Perlahan diraihnya surat bersampul merah muda itu bersama bingkisan kecil berisi sebuah cicin berlian.
@selesai@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah meninggalkan jejak :)