Sabtu, 13 September 2014

Sketsa Mimpi (Cakrawala, Sabtu 13 September 2014)


Foto by:
Sastra Harian Cakrawala

Oleh: Nahlatul Azhar
Selama aku tidak membuka mata, mungkin mimpi akan selamanya kuagungkan. Namun, sampai kapan mata ini harus terlelap? Sedang perut meminta jatahnya untuk diisi. Tidak hanya satu perut, empat perut kosong terus saja bergemuruh sejak kemarin sore. Lalu masihkah aku akan dibelenggu mimpi-mimpi tak pasti?
Zahrah adikku yang paling bungsu kembali menangis. Perutnya sudah kembung karena hanya diberikan air oleh Fatimah, nama anak kedua dalam keluargaku. Walaupun aku yakin perut Fatimah juga sudah merintih sejak tadi, namun pada wajahnya yang terpancar hanya ketegaran semata. Bisa jadi karena dia adalah anak perempuan pertama dan juga menuruni sifat sabar dari ibu.
Berbeda lagi dengan Arham, adikku yang lainnya. Semalam tanpa pamit pada kami ia pergi begitu saja, mungkin karena tidak tehan perutnya kian melilit. Adikku yang satu itu memang terbilang pendiam, tak banyak bicara namun ahli dalam membuat masalah. Entah apa lagi yang ia perbuat di luar sana, yang pasti sudah sering aku menasehatinya. Memintanya agar lebih memaklumi keadaan kami, tapi toh kesemuanya itu hanya masuk telinga kanannya saja lantas keluar dari telinga kirinya. Bahkan sesekali menerikkan kekesalannya padaku.
“Tahu apa kakak tentang kehidupan kita?!” bentaknya suatu hari dan aku hanya diam mendengarnya. Bukan tidak berani membalas, justru aku berusaha menahan kecamuk amarah yang ada dalam dadaku. Aku anak tertua dalam keluarga kami saat ini, pengganti ayah juga ibu. Pun aku sadari sangat jauh dari sikap kedua orang tua kami tersebut. Satu yang tak pernah aku lupakan dalam menghadapi ketiga adikku, “Jangan sekali-kali kamu memukuli adikmu, Nak.” Berkat pesan ibu itu, amarahku selalu tertahan.
Matahari yang seharusnya sudah tinggi masih juga tak tampak di depan mata. Sebaliknya hujan terus mengguyur bumi seperti enggan untuk berhenti menyebabkan banjir di sana sini. Hal itu pula yang menjadi alasan aku tidak bisa kemana-mana. Harusnya pagi tadi aku mengantarkan koran, lalu siang hari mulai bekerja di warung Bu Salmah, tapi karena hujan tak satu pun yang terlaksana. Bahkan warung Bu Salmah sudah tiga hari tutup akibat air yang mulai menjamah seluruh tempat.
“Kakak tidak pergi mencari Arham?” pertanyaan Fatimah membuyarkan lamunanku.
“Biarkan saja, nanti juga pulang sendiri,” jawabku. Bukannya tidak peduli. Aku juga takut meninggalkan dua adikku ini. Air bisa saja semakin meninggi, tak mungkin juga mengharapkan orang lain untuk mengulurkan tangan pada kami, siapa yang peduli saat semuanya berada dalam posisi yang sama?
“Takutnya terjadi apa-apa sama Arham, Kak. Kakak tahu sendirikan dia anaknya gimana.” Aku terdiam.
“Lagi pula, aku bisa menjaga Zahrah kok. Tenang saja, Zahra sudah tidak menangis lagi tadi dikasih kue sama tetangga, jadi sekarang agak mendingan. Kakak pergilah cari Arham sekalian nitip makanan kalau ada.” Fatimah menatapku dengan pandangan yakin, lalu mengambil uang pecahan sepuluh ribu dari kantongnya.
Sebisa mungkin kutahan cairan bening yang menerobos keluar dari mataku. Betapa kagum aku pada Fatimah disaat aku mulai bingung dan kehilangan pegangan, seringkali ia yang menopangku membuatku tersadar bahwa kami harus tetap bertahan. Sesekali kudapati matanya terselimuti kabut duka tapi ia tetap bisa menguasai dirinya. Dan jika aku tanya apa ia baik-baik saja, dengan semyum lembut ia akan mengangguk. Air mata yang seharusnya sudah melelah dari matanya malah terlihat seperti pemacu semangat buatku. Juga senyum tulusnya membuatku tersadar, ia benar-benar mewarisi wajah cantik ibu.
Aku menyusuri jalanan yang tak lagi memperlihatkan tanah yang basah. Yang ada justru genangan air di mana-mana. Air bahkan sampai di pinggangku pada beberapa tempat yang kulalui. Sungguh ironis kejadian ini, bertahun-tahun tidak bisa teratasi. Bahkan akibat banjir pula secara tak langsung nyawa ibu dan ayah terenggut olehnya.
“Mad, mau ke mana?” Pak Saleh suami dari ibu Salmah menyapaku saat melewati depan rumah mereka. Suami istri tersebut sangat baik pada aku dan ketiga adikku.
“Ini Pak, mau cari Arham. Semalam ia keluar dan sampai sekarang belum balik-balik juga.”
“Loh, memangnya dia tidak pamit?”
“Tidak Pak.”
“Ya sudah kamu cari sana, hati-hati air semakin tinggi,” pesan Pak Saleh.
Setelah pamit aku pun beranjak pergi. Arham belum juga menunjukkan tanda-tanda keberadaannya.
Aku masih terus melangkah sesekali bertanya mungkin ada yang melihat adikku. Nihil. Kemana perginya dia? lalu ...
“Kak, aku juga punya mimpi ingin jadi dokter.”
“Kenapa milih jadi dokter?”
“Kalau aku jadi dokter orang-orang kampung kita tidak akan mati begitu saja seperti ayah dan ibu.”
Bukan tanpa sebab aku mengingat pecakapanku dengan Arham. Bukan! Justru aku mengingatnya karena melihatnya ada di sana, dalam dekapan seorang bapak-bapak yang tak aku kenali. Semakin dekat semakin jelas pula tubuhnya yang membiru. Hingga sampai di hadapan orang yang membawanya, yang kudapati hanya tubuh kakunya. Tak ada mata yang memandang sinis, juga umpatan yang terdengar begitu tajam. Arham!
Dia membisu. Terbujur kaku.(*)
Biodata Penulis: Nahlatul Azhar adalah nama pena dari Sitti Mardiyah. Penulis kelahiran 4 November 1991. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar Jurusan PGSD. Penulis juga merupakan anggota FLP Rantung UNISMUH.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah meninggalkan jejak :)