Minggu, 14 September 2014

Ramuan Ajaib Bunda



Oleh: Nahlatul Azhar
 “Mel, minum susu dulu baru berangkat,” Bunda mengingatkan Meli pagi itu.
“Ngga deh Bun, ngga enak. Lagian sudah telat.” Meli menggeleng kuat-kuat.
Meli memang sangat malas minum susu. Tiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, Bunda selalu mengingatkannya.
Meli suka pura-pura lupa minum susu. Sampai-sampai Bunda pusing dibuatnya.
“Meli, ayo dong Sayang ...” pinta Bunda.
“Meli ngga suka Bunda!” ucap Meli dengan suara tnggi.
Hah ... Bunda menghela nafas melihat tingkah Meli yang sangat tidak suka minum susu.
“Siap Mel?” tanya Papa saat keluar dari kamar.
“Iya Pa.”
“Loh, kok susunya tidak diminum?” tanya Papa heran.
“Meli ngga suka, Pa!”
Meli akhirnya diantar Papa tanpa minum susu.
Begitulah Meli tiap pagi berangkat sekolah tanpa menghabiskan susu buatan bundanya.
                                                                   **
“Bun, susunya ngga ada ya?” tanya Meli pagi itu.
Bunda mengiyakan.
Meli heran, kenapa Bunda tidak menyuruhnya minum susu lagi?
Meli juga heran Bunda tidak banyak bicara pagi itu.
Sampai berangkat sekolah pun Bunda hanya diam.
Di sekolah Meli banyak berpikir tentang Bunda. Meli takut Bunda marah gara-gara ia tidak mau minum susu.
Hingga pulang sekolah pun Meli masih bertanya-tanya kenapa Bunda tidak banyak bicara.
“Bun, susu buat siapa ini?” tanya Meli saat melihat segelas susu coklat di atas meja ruang tamu.
“Oh ... itu buat Asti,” kata Bunda.
“Kok buat Asti?” tanya Meli.
Tentu saja Meli heran, kenapa Bunda membuat susu untuk tetangganya itu?
“Katanya Asti mau dibuatkan ramuan ajaib dari Bunda.”
“Ramuan ajaib?” lagi-lagi Meli bertanya.
“Iya, ramuan ajaib. Kan bisa membuat badan jadi sehat, pintar, tumbuh tinggi ...” jelas Bunda.
Ramuan ajaib ... pikir Meli.
**
“Susunya, Mel,” ucap Bunda pagi hari sebelum Meli berangkat sekolah.
“Sipp ... Bunda,”
Bunda tersenyum melihat Meli lahap meminum susu coklatnya.
Meli memang jadi rajin minum susu. Ia menganggap susu adalah ramuan ajaib yang disediakan Bunda tiap pagi. Lagi pula Meli merasa bersalah pada Bunda yang selalu membuatkan susu namun tidak diminumnya.
Setibanya di sekolah ...
“Aku punya ramuan ajaib!” ucap Meli pada sahabatnya, Nana.
“Benarkah? Ramuan ajaib bagaimana, Mel?” tanya Nana penasaran.
“Ramuannya bisa membuatku tambah pintar, tambah tinggi, tambah ...” Meli memikirkan kembali apa yang pernah dikatakan Bundanya.
“Tambah apa lagi?” tanya Nana masih dengan wajah penasaran.
“Pokoknya tambah pintar, Nana.”
“Mm ... kata siapa, Mel?”
“Kata Bundaku dong.”
“Ramuan apa?” Nana bertanya lagi.
“Mmm ... rahasia ...” ucap Meli lalu berlari ke luar kelas.
Nana yang penasaran tentu saja mengejarnya.(*)

Penulis merupakan anggota FLP Ranting Unismuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah meninggalkan jejak :)