Kamis, 17 Januari 2013

Putaran Waktu Mengikis Cahaya


Belajar mengalah, meneriama segala sesuatu apa adanya, tidak menuntut banyak. Bahkan berusaha jatuh cinta pada situasi yang tidak mengenakkan dengan dalih semua akan ada hikmahnya. Menjalininya dengan meminimalisir keluhan, pun helaan nafas sering kali masih terdengar. Dan hanya menebar duka dengan jemari yang berbicara. Sebisa mungkin beristigfar saat setan mulai lewat, mulai menggelitik ketenangan. Saat mahluk yang sudah nyata sebagai musuh itu mulai membisikkan rayuan berupa godaan nikamat pembawa laknat. Sungguh, semuanya butuh proses yang memakan waktu tidak sedikit.
Tiap harinya hanya itu?
Bosan mulai menggerogoti. Amarah kembali mengambil tempat. Dendam pun tak tinggal diam. Satu-satu anggota tubuh minta haknya. Lalu aku yang entah siapa mulai tersesat. Arah yang dulunya sangat kuhapal mulai berubah, rutenya tak lagi sama. Kompas yang harusnya dalam genggaman entah jatuh di mana. Bayangan-bayangan gelap mulai menghantui, tak ayal membuat sekujur tubuh dicekam rasa takut. Aku mulai buta arah.
Lalu sembari mendekap kedua lutut karane hawa panas yang mencekam aku kembali terlempar ke masa lalu. Saat-saat masih ada cahaya yang menerangi dengan nyata. Sikap, kata masih terjaga. Mata masih tunduk terjaga. Pikiran bersih tampa pamrih. Di samping kiri dan kanan masih ada yang mengingatkan. Di depan masih tampak jelas contoh yang baik. Di belakang tak lupa sebuah dorongan kecil untuk senantiasa mengambil jalan lurus. Itu dulu! saat aku masih terperangkap dalam indahnya taman-taman surga. Walau saat ini titik-titik cahaya itu masih terlihat, namun sepertinya makin menjauh. Entah ia yang beranjak pergi, atau aku yang melepasnya pergi. Entahlah!
Masih dalam bayangan masa lalu. Dengan rasa bernama malu. Dulu sekali ... ketika kaki masih dirantai aturan. Tangan masih terkunci di depan dada. Di sebuah tempat penuh aturan. Dulu!
Lalu saat tersadar, ada rasa ingin kembali. Bukan berharap tetap di masa itu. hanya ingin kembali menenangkan diri, lantas kembali untuk berbenah diri. Hanya itu! bisakah?
TIDAK! Semua tahu jawaban itu. dan hanya itu jawaban yang tepat. Tapi ...
Aku tahu, mengelak dengan berbagai alasan pun tidak akan ada artinya. Tapi ...
Lutut yang tadinya kupeluk erat mulai kesemuatan. Bukan lagi panas yang menjamah tubuhku. Sebaliknya dingin mulai membuatku tersengal-sengal. Keringat becucuran. Seluruh tubuhku bergetar. Akankah ini pertanda lapar? Dan berakhir dengan tubuh terkapar?
Ataukah cahaya benar-benar telah terkikis habis. Meninggalkan aku yang hanya bisa meringis. Dengan perasaan teriris. Benar-benar miris.
Entahlah!
Aku yang entah siapa mulai melemah.
Le...mah...
L...e...m...a...h...
Mah...
H...
...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah meninggalkan jejak :)