Rabu, 21 Maret 2012

Kisah malam jum’at



8 Maret 2012
“Ada katak kasih makan gajah!” ucap Ira pada pada suapan kedua.
            Malam itu hujan turun tak deras lagi. Sudah sejak sore hujan menyapa kampung mereka yang terletak di lereng gunung. Ira yang sedang melahap agar-agar buatan Ibu sesekali juga menyuapi Dea, kakaknya. Mereka yang biasanya cakar-cakaran kali itu terlihat akur. Tak lupa sesekali bersenda gurau saling mengejek.
            “Ada katak memikul kerbau, Kak Dea cantik sayangnya bau.” Bukannya marah Dea malah tertawa, ternyata adiknya yang katanya benci pelajaran Bahasa Indonesia malah ahli bermain pantun.
            “Aa...”Dea berbalik lagi pada adiknya minta disuapi lagi. Senyum Ira mengembang pertanda mendapat akal tuk menjaili kakaknya.
            “Jangan dibanyakin dong!” sambil berusah mengunyah suapan adiknya.
            “Salah sendiri, masa aku yang adik malah suapin kakak.”
            “Kapan lagi coba? Nanti juga kalau sudah kembali kuliah, tidak lagi minta kamu yang suapin.”
            “Wah...jangan balik dululah!”
            “Bilang saja belum mau pisah dengan notebookku.”
            “Tau saja kakak ini.”
            Kembali Dea melanjutkan ketikannya, juga membalas satu persatu SMS teman-teman kuliahnya. Ungkapan rindupun salin terkirim. Dea merasa walau kadang jengkel pada teman-temannya, namun saat berpisah ada saja rasa rindu yang mencekam hatinya.
            Ada juga kabar Adawiah, teman sekelasnya yang mau ambil cuti kuliah. Katanya mau ambil cuti tuk menghapal Al-Qu’an. Dea tentu saja salut, selama ini ia juga punya harapan tuk menghapal. Sayangnya tak pernah kesampaian. Niatnya ada, tapi Dea sangat suliy merealisasikannya.
            “Kapan nih menikahnya?”
            “Kamu sendiri kapan terima lamaran saya?” itu bukan pertanyaan serius, di belakangnya ada tambahan, ‘just kiding’. Tapi cukup membuat jantung Dea melompat. Ia jadi bertanya bagaimana jika pertanyaan itu dilontarkan untuknya dengan sungguh-sungguh? Ada-ada saja si Mr.Kaca mata
            Itulah teman SMSan Dea yang lain. Sebenarnya Dea tak berharap dapat balasan, karena setahunya orang itu tak suka meladeni pertanyaan basa-basi. Toh akhirnya percakapan mereka via SMS itu berlanjut. Tak tanggu-tanggung pembahasannya merupakan hal yang membuat Dea penasarn akhir-akhir ini, meski berusah tak ambil pusing.
            “Tidak jadi.”
            Jawaban itu yang membayar pertanyaan gadis yang masih menatap layar sejak tadi. Rasa kasihan memenuhi relung hati, juga perasaan lega. Dea merasa jadi orang jahat saat itu juga.
            “Biarpun dia mau tapi walinya tidak, sama saja nol.” Sambungnya lagi, iba juga hati Dea, bagaimanapun Dea tau calon senoirnya itu dari Facebook. Setahunya gadis yang dilamar Mr.Kaca mata itu sudah siap menikah, malah sangat berharap lamaran itu diterima orang tuanya. Sayangnya wali sang calon tak menerima. Maka dari penuturan Mr.Kaca mata batallah rencana suci itu.
            SMS dengan Mr.Kaca mata berakhir, Ira, Jara, dan Hanif masuk kamar mulai ribut menganggu konsentrasi Dea. Belum lagi mutar lagu-lagu dari Negri Gingseng. Dari Cn Blue, Shinee, Super Junior, dan lain-lain. Dea sebenarnya suka saja, toh lagu-lagu itu ada di Hpnya namun berhubung ia sedang menulis, imajinasinya agak terganggu.
            Malam itu belum berakhir, bahkan dalam setiap kata yang dituliskan Dea tak ada makna yang tersimpan. Hanya mengalir sesui apa yang terjadi malam itu. Jemarinya telah lelah sama juga dengan hujan yang perlahan-lahan bersembunyi kembali di balik awan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah meninggalkan jejak :)