Cairan merah itu mengalir di tangan
kananku. Baju putih yang kukenakan pun mulai berubah warnah. Merah. Bau anyir
mulai menusuk hidungku. Tanganku bergetar hebat. Belati yang tadinya kugenggam
erat pun terjatuh. Sekujur tubuhku kaku.
Tak jauh dariku Rony jatuh bersimbah
darah. Ia mengerang menahan sakit. Matanya melotot padaku. Ada amarah di sana.
Namun tak lama, karena perlahan tubuhnya membeku. Diam tanpa helaan nafas.
Di samping Rony berdiri Zian yang terus saja
menatapku. Tatapan yang masih sama. Lembut. Ada senyum kecil terlihat di
bibirnya. Menenangkan ketakutanku. Aku pasrah. Polisi hampir sampai di tempat
kami berdiri.
***
Zian ...
Gadis yang periang. Pertama kali
melihatnya itulah yang terpikirkan olehku. Novita, begitulah nama yang ia
sebutkan saat mampir di tempat kerjaku. Dengan senyumnya ia menyapaku lalu
kemudian duduk di depan salah satu komputer yang lagi kosong.
Warung internet, ya di tempat itulah aku
sering berjaga. Menghabiskan waktuku selain kuliah. Tempat dimana aku bisa
mengerjakan tugas-tugas kuliah sekaligus menulis banyak kisah untuk dikirim ke
berbagai media. Sebisa mungkin aku mencari cara meminimalisir pengeluaranku
setiap bulannya. Termasuk mencari penghasilan, walau hanya sedikit. Sehingga pilihanku
jatuh pada warnet yang letaknya memang tak jauh dari tempatku ngekos.
Hidup di kota Makassar mulai kulakoni
sejak tamat SMA demi melanjutkan cita-citaku. Pun orang tua di kampun tidak
punya cukup biaya untuk kelanjutan sekolahku ini. Saat mengutarakan keinginanku
untuk lanjut kuliah, ibu dengan muka tak rela hanya diam. Ibu terlalu peka
mengenai urusan uang. Berbeda dengan bapak yang memikirkan segala hal dengan
kepala dingin. Bapak pula yang mendukung langkahku mati-matian. Demiku pula bapak
akhirnya melanggar prinsipnya untuk tidak meminjam banyak uang. Bagi bapak
utang hanya akan membawa sengsara. Ah, bapak ... aku terlalu kagum padanya.
“Kak, berapa?” suara renyahnya
membuyarkan lamunanku. Aku tersadar kembali terpukau dengan tatapan mata yang
berbinar di hadapanku.
“Tiga ribu.” Entah apa yang harus aku
ucapkan padanya. Padahal dalam hati aku ingin mengobrol dengannya.
“Makasih, Kak!” ucapnya sebelum pergi. Kembali
senyum manis dihadiahkannya untukku.
Kuikuti langkah kaki ringannya dengan tatapanku.
Ia menghilang setelah melewati pintu warnet.
Setauku dia juga mahasiswa. Dia juga
tinggal di kos-kosan, tak jauh dari tempatku. Sayangnya pengetahuanku
tentangnya hanya sampai di situ. Karena sepertinya dia pun penghuni baru di
salah satu kosan cewek.
“Hey!” Heri mengagetkanku, “kayaknya
kamu tertarik banget sama gadis itu,” lanjutnya.
“Apa-apaan sih,” elakku.
“Aku perhatikan tiap kali Vita datang
buat online kamu selalu merhatiin. Setelah dia pergi pun kamu masih aja
ngeliatin. Kalau matamu itu punya kaki, udah diikutin si Vita itu.” Heri
meledekku habis-habisan.
Teman satu kosanku itu memang paling
suka meledek orang. Termasuk aku. Walau selama ini aku tak banyak bicara, tapi
ada saja celah yang ditemukannya buat meledekku. Termasuk tentang ketertarikanku
pada Vita yang menurutnya sangat jelas terlihat.
“Tapi aku peringatkan ya, Zein. Vita itu
sudah punya pacar.”
“Kata siapa?” terpancing juga aku
akhirnya.
“Aku sering lihat dia diantar jemput
sama cowok,” jelasnya sambil duduk di sampingku.
“Saudaranya kali.”
“Mana ada saudara yang tiap hari mampir
ke kosan saudaranya. Lagian Lina teman kosnya juga ngiyaiin kok kalau Vita
sudah punya pacar.”
Aku terdiam. Penjelasan dari teman
sekamarku itu sudah cukup membuat telingaku panas. Ternyata aku menyukai wanita
yang sudah punya kekasih. Niatku, rasa ini hanya akan kupendam dan kusingkirkan
seiring waktu berjalan.
***
Vita ...
“Dari mana saja kamu?” Rony menyambutku
dengan tatapan garangnya. Uhk ... lagi-lagi dia menunjukkan sikap menyebalkan
itu.
“Dari warnet.”
“Ngapain?”
“Emang kamu pikir ngapain? Makan?”
“Ow ... jadi sekarang kamu sudah bisa melawan?”
tanya Rony dengan mata melotot.
“Memang kalau iya kenapa? Aku ini
pacarmu atau apamu sih?” tanyaku jengkel.
Entah bagaimana ceritanya aku bisa jatuh
cinta pada laki-laki ini. Sudah hampir menginjak tahun kedua kami bersama, tapi
sikapnya makin hari makin tidak bisa aku tebak. Yang membuatku heran, walau
sudah benci setengah mati dengan tingkah lakunya tetap saja aku tidak bisa
putus darinya. Sangat sulit mengucapkan kata putus di hadapannya.
Pernah suatu hari aku minta putus.
Besoknya ia datang marah-marah ke kosku. Mengancam akan bunuh diri kalau aku
beneran minta putus. Tanpa pikir panjang aku batalkan saja minta putus darinya.
Bisa gawat kalau dia benaran bunuh diri.
“Vit, aku hanya tidak ingin kamu
berpaling dari aku.” Kali ini ia melunak. Kedua tangannya meraih tangan
kananku.
Justru
sikapmu yang seperti itu yang nantinya akan membuatku menjauh. Bisik hatiku.
“Kenapa kemari?” tanyaku mengalihkan
pembahasan kami.
“Aku rindu.”
“Bukannya tadi siang kamu juga ke sini?
Apa kata penghuni kos lain kalau kamu selalu ke sini?”
Sebenarnya alasanku pindah dari kos yang
lama karena ingin mengurangi jatah pertemuanku dengan Rony. Makanya aku pilih
kosan yang semua penghuninya adalah perempuan, dan juga aturan-aturannya yang
ketat.
“Alasan itu lagi,” wajahnya yang tadi
sudah mulai dihiasi senyum kembali menampakkan kemarahan.
“Sudah deh, Ron! Kamu lebih baik pulang.
Aku capek, pengen istirahat.” Tanpa memperdulikan panggilannya lagi aku pun
pergi.
Aku sangat suka dengan kosan baruku.
Karena kosku kali ini punya ruang tamu sendiri. Jadi tamu apa lagi kalau
laki-laki ngga lagi langsung masuk ke kamar. Dan saat aku marah karena tingkah
menyebalkan Rony, aku dapat langsung meninggalkannya di ruang tamu. Lagi pula
aku mulai jenuh dengan segala aturan yang ia putuskan sepihak dengan dalih
pacaran.
Rony tak tahu
... aku ingin merasakan ketenangan. Bukan kekangan.
***
Zian ...
Aku
ingin kita terjatuh bersama. Terjatuh pada rasa bernama cinta.
Tulisan itu kuukir dalam buku catatanku.
Buku kecil yang memang aku sediakan untuk menampung tulisan-tulisan yang kadang
tiba-tiba muncul di benakku. Aku tiba-tiba menjadi pemuja cinta tiap harinya.
Apa lagi jika dua, tiga hari aku tak melihat gadis penerjemah cintaku. Gelisah,
gundah, galau akan menghampiriku. Bahkan aku pikir akan jadi gila karenanya.
Lalu saat aku melihatnya lewat di depan
meja tempat aku memantau para pengunjung warnet, hatiku akan tenang. Tak jarang
berbisik syukur, “Ia tidak apa-apa. Vita
sehat saja.”
“Kak!” sebuah panggilan yang tentunya
ditujukan padaku. Aku mencari sumber suara tersebut.
“Iya?”Pandanganku tertuju pada orang
yang tadi memanggilku.
“Kayaknya komputer ini ngga bisa dipakai
deh,” ucap orang tersebut yang tak lain adalah gadis yang beberapa bulan
belakangan ini menyita perhatianku.
Tanpa berkata-kata lagi aku pun
menghampiri gadis itu. Sambil memeriksa komputer yang ia gunakan, sesekali
pandanganku tertuju pada wajahnya yang manis.
“Gimana, Kak?” tanyanya.
“Kayaknya memang butuh di servis dulu.”
“Duh bagaimana ini?” Ada guratan sedih
di wajahnya. Kuberanikan diri untuk bertanya. Pun hatiku mulai berdetak cepat.
“Memangnya ada apa?”
“Aku harus ngerjain tugas sekarang,
materinya harus nyari di internet. Mana harus dikumpulin besok pagi-pagi
sekali.”
Jadi
begitu ...
Tak perlu berpikir panjang utuk masalah
sekecil itu. Kutawarkan bantuan padanya yang langsung ia terima karena tak
punya pilihan lain, sedangkan malam semakin gelap. Entah datang dari mana
sepasang sayap di kiri dan kananku. Aku tiba-tiba menjadi pahlawan malam itu.
Aku memintanya meninggalkan buku catatannya, dan akulah yang akan mencarikan
materi yang ia butuhkan. Aku yang tak sudi mengerjakan tugas teman-temanku,
lantaran aku pikir melanggar prinsip kecilku kini telah berubah. Suatu tindakan
yang selama ini tabu menurut penilaianku. Aku benar-benar terjebak.
Malam itu, kembali aku menggantungkan asaku pada
langit. Berharap benih-benih cinta tak hanya tumbuh di hatiku saja.
***
Vita ...
“Vit, tugasmu lengkap banget.”
“Iya. Dipuji-puji tuh sama dosen, dapat
nialai plus pula. Jarang-jarang loh tuh dosen ngasih nilai bagus.”
Beberapa teman sekelasku memberiku
acungan jempol atas tugas yang tak kusentuh sama sekali. Kak Zianlah yang
mengerjakan semuanyi. Tadi sebelum berangkat hanya mampir dan bertanya padanya.
Ternyata semua sudah rampung ia kerjakan ditambah sampul dan namaku yang sudah
tertsusun rapi di sana.
Ada rasa tak enak menelusup ke hatiku.
Bagaimana mungkin aku bangga dengan nilai yang sebenarnya tak pantas aku
dapatkan?
“Vit, kamu kok malah lesu begitu?
Bukannya bersyukur dapat nilai bagus,” ucap Kila, salah satu teman sekelasku di
kampus yang juga satu kos denganku.
“Sebenarnya ... bukan aku yang ngerjain
tugas itu,” ucapku.
“Hah! Terus siapa dong, bukannya semalam
kamu ke warnet?”
“Iya sih.”
“Terus?” Mengalirlah kejadian semalam
dari mulutku. Tentang Kak Zian yang mengerjakan semuanya.
“Berita heboh tuh, Vit!”
“Heboh apanya?”
“Ya heboh dong. Semua sudah pada tahu
bagaimana pelitnya Kak Zian kalau
masalah tugas. Tidak pernah sekali pun ia mau ngerjain tugas temannya. Dia
paling anti tuh sama yang gituan,” jelas Kila.
Jujur saja, mendengar penjelasannya aku
sangat kaget. Malahan aku pikir Kak Zian sudah biasa ngerjain tugas mahasiswa
lain. Tentu saja dengan mendapatkan imbalan. Tapi ternyata ...
“Duh, menurut kamu kenapa dia gitu?”
tanyaku.
“Hmm ... kali aja dia suka sama kamu.”
Duarrr ...
Bagai guntur di siang bolong ucapan Kila
padaku. Suka? mana mungkin. Walau tidak pernah mencari informasi tentang Kak Zian,
toh aku bisa dengar di kanan kiriku orang-orang memperbincangkannya. Terutama
para gadis. Walau katanya laki-laki yang telah menolonku itu miskin, tapi tidak
sedikit yang diam-diam berharap mendapatkan hatinya. Terlebih karena otaknya
yang cemerlang dan wajah yang terbilang tampan. Jadi mana mungkin dia suka
padaku?
Hal yang sangat mustahil itu aku
singkirkan dari pikiranku. Yang sekarang harus aku lakukan adalah, mampir ke
tempat Kak Zian dan mengucapkan banyak terima kasih. Kalau perlu aku traktir dia
makan.
“Sayang, sudah selesai kuliahnya?”
Degh ... Rony sudah berdiri di
sampingku. Sepertinya ucapan terimakasihu harus ditunda dulu.
***
Zian ...
Wajah yang hanya bisa aku tatap
diam-diam kini bisa aku pandangi
sepuasnya. Vita saat ini duduk manis di hadapanku. Dengan meja makan sebagai
pembatas kami, ditemani dua mangkuk bakso. Vita bercerita tentang segelanya,
sesekali ia bertanya padaku. Aku benar-benar jadi penengar setia malam ini.
Justru bakso yang sudah sejak tadi terhidang yang malah tidak terjamah.
“Kak, sekali lagi makasih ya sudah mau
ngerjain tugas aku.”
Aku hanya mengangguk sambil menatapnya.
Dia benar-benar bidadari. Cantik. Ceria.
“Tapi Kak, kenapa kakak mau ngerjain
tugas aku? Padahal katanya kakak ngga pernah mau ngerjain tugas siapa pun.”
Pertanyaan yang sudah aku duga. Namun tetap saja aku tidak punya jawaban pas
untuknya.
“Mungkin karena kasihan saja,’ jawabku.
Yang sebenarnya karena, aku mencintaimu.
***
“Hay
Kak!” ucapku saat masuk ke warnet yang ia jaga. Kak Zian tersenyum menyambut
kedatanganku. Aku semakin sering datang ke tempat ini.
Aku mulai online. Sebenarnya tidak ada
tugas yang harus kukerjakan. Tapi rutinitas datang ke mari semakin
menyenangkan. Terlebih saat mataku bersitatap dengan Kak Zian. Dadaku searasa
mau pecah.
Seperti malam ini. Berkali-kali mata
kami bertemu. Jika bukan aku yang gelagapan, Kak Zian yang langsung membuang
muka.
“VITA, IKUT AKU, SEKARANG!” Satu tarikan
keras di pergelangan tanganku sudah cukup untuk membuat tubuh terjatuh.
Ternyata Rony ada di sini. Mungkin sudah
melihat tingkahku sejak tadi. Dan mungkin inilah puncak kemarahannya.
“Ron, sakit!” rintihku. Aku mengikuti
langkahnya.
Malam itu pengunjung warnet hanya
beberapa orang sehingga tak ada yang perduli dengan sikap Rony. Berbeda dengan
Kak Zian yang segera berdiri mengejar kami.
“Hei! Kamu menyakitinya!” teriaknya.
“DIAM KAU!” maki Rony. Aku semakin
takut.
“Jangan ikuti kami!” Perintah Rony. Aku
memberi isyarat pada Kak Zian untuk mengikuti perkataan Rony. Kami pun menjauh.
Setelah berada di sebuah gang sempit,
Rony melepaskan cengkramannya pada tanganku.
“Ron! aku bisa jelaskan semuanya.”
“Apa yang akan kau jelaskan, hah! APA!?” Rony mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah
pisau kecil yang kemudian ia arahkan padaku.
“Baiklah, malam ini kita akan mati
bersama, Paham!” Aku menggigil ketakutan. Hanya bisa memejamkan mata.
BUGH!
Pukulan itu tepat mengenai pundak Rony.
Kak Zian sudah ada di belakangnya. Pisau yang tadi di genggam Rony terlepas.
Mereka pun berkelahi. Keadaan tak seimbang. Rony memang ahli bela diri. Dengan
mataku sendiri kusaksikan Kak Zian semakin terdesak. Berkali-kali Rony memukuli
wajahnya. Aku sudah tak tahan melihatnya.
Lalu ...
***
Tepat 1 Januari 2014.
Vita
...
Aku
akan berkorban apa saja untukmu. Bahkan untuk kebebasanmu. Kuingin kau terbang
setinggi mungkin, demi menggapai mimpi-mimpimu. Jika saatnya tiba, kembalilah
dan bebaskan aku. Agar bisa kembali menjagamu. Kembali bersamamu.

Di sana ... di sana dia berdiri dengan
tatapan yang sama. Lembut. Langkahku tak tertahan lagi. Dia yang kutunggu
kepulangannya, yang kunanti, yang membuatku bertahan untuk kata cinta. Kak ...
aku mencintaimu.
Tahun
baru kali ini aku tidak akan sendiri lagi, karena kini ada kamu yang menemani.
Ada kamu yang kuyakini ditakdirkan hanya untuk aku. Zian.
^selesai^
Biodata
Penulis:
Nama :Nahlatul Azhar
Twitter : @NaNahlatulazhar
Email : nahlatulazhar.na981@yahoo.com
Waahhh... akhirnyaaaaa....
BalasHapusAkhirnya apa mba Ade? Mkasih udah mampir.
Hapus