Minggu, 26 Februari 2017

Catatan Salah (Malam 1)

Keputusan yang berat.
Ditemani air mata yang jatuh berbutir butir, aku dan hatiku pilu menahan sesak. Bukan perkara mudah melepas sesuatu yang telah lama dianggap kepunyaan sendiri. Walaupun sebenarnya tak sekalipun barang itu berhak dimiliki.

Toh memang harus begitu.
Harus!!!

Walau berat.
Walau sakit.

Lepaslah kembali, sebagaimana mestinya.

Si A B C

Awalnya adalah si A

Tentang si A si B dan si C begitu sulit mengisahkan mereka. Ada saja kendala yang memaksaku berpikir ulang menuliskan kisah mereka. Sulit sebab entah harus memulai dari mana.
Tapi harus kucoba sebab janji adalah janji.
Si A. A n a k ku!!!

Si A yang selalu membuatku marah dengan kelakuannya akan menjadi sasaran empuk dunia curhatanku. Hampir setiap hari kepalaku dipenuhi tanduk tanduk runcing karenanya. Si A yang selalu jail dengan yang ada di sekitarnya. Dia juga akan tertawa, bernyanyi, menganggu dan yang pasti bukunya tetap putih tak berwarna abu.
Si A juga diam diam meninggalkan tempatnya saat mataku tertuju pada si C atau si B dan E, Z.
"Aaaaaaaaaaaaa!!!"
Saat mendengar suara teriakankulah dia akan berbalik, memandangku lalu tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang pendek dan jarang. Aku geram tapi merasa lucu dengan senyumnya. Si A akan duduk kembali, sedikit menulis kata. Namun jika mataku tak lagi bersamanya, dia akan menghilang, mengulang hal yang sama.

Setelahnya aku tak peduli. Bermainlah sepuasmu, Nak. Setelah semua pulang kita akan bersama.

Menunggu Apa yang Enak?

9 Februari 2016

Hari ini judulnya benar benar menunggu. Menunggu jemuran kering dikarenakan hujan terus menerus turun.
Lanjut menunggu jam ngajar yang berakhir dengan sedikit terlambat.
Setelah itu menunggu kabar teman yang rumahnya mau didatangi buat nginap.
Nunggu teman yang juga mau nginap bareng tapi ada agenda lain dulu, dan ujungnya katanya batal nginap, tapi akhirnya jadi nginap juga.
Setelah itu menunggu lagi, menunggu teman buat berangkat bareng ke tempat nginap. Oh punggung alangkah baik jika ia mau kompromi tapi bebannya berat sekali. Jadi semakin lama menunggu itu terasa. Juga perut.... Masyaallah rintihannya tak terdengar tapi menusuk hingga ngilu segala raga.
Teman datang. Kita berangkat. Sampai di tujuan, teman yang rumahnya mau ditempati menginap meminta untuk menunggu di sekitar pasar. Ya! Menunggu lagi. Saat si empunya Rumah datang lagi lagi harus menunggu si teman dan satunya lagi ke pasar buat belanja bahan dapur. Ah.... Menunggu. Alangkah tidak enak dia.

Maka, tak usahlah kita buat yang lain terlalu lama menunggu. Sebab menunggu butuh stok sabar super duper, dan kebanyakan kita tak punya itu. Terutama aku dan perutku.

Lalu menunggu apa yang enak?
Uang masuk rekening? Nunggu juga kan?

Jodoh?

Kepala yang Digoreng

Tiba tiba ingin menggoreng kepala itu hingga menggelepar. Jika tak ada lagi nyawa di sana mungkin rusuh di sekitar akan musnah pula. Kepala yang dipenuhi kecamuk harusnya musnah saja. Racun yang dihasilkan tak perlu diumbar ke sana ke mari.

Kepala yang hendak kugoreng itu kuletakkan di dalam ember, kubilas dengan cuka, biar amisnya hilang, biar tak menjijikkan lagi. Lalu garam... Ah sudah tak perlu garam. Toh setelah kugoreng, segera akan ku buang di sungai belakang rumah.

Membayangkannya saja aku sudah puas.
Ngomong ngomong perihal kepala itu, sebenarnya adalah kepalaku, mu, kita.

Ke Rumahmu

Aku ke rumahmu.
Kuketuk berkali kali.
Ketukanku kukeraskan.
Salamku sedikit keras dari biasanya.
Sunyi.
Tak ada jawaban.
Aku tetanggamu yang dulu pergi.
Mungkin dua tahun lalu.
Kini aku kembali sebab perkara rindu adalah soal bertemu.
Lagi.
Tapi tak ada balasan dari dalam rumahmu.
Tetap sunyi.
Kemana kamu?
Aku lalu pulang, oleh oleh untukmu ka bawa juga.
Mungkin nanti aku kembali lagi.

Sebelum kembali kudapati tulisan kusam di depan pagar rumahmu.
Tak terlihat olehku tadi.

Di sana tertulis....

1 minggu yang lalu.
2 bulang yang lalu.
6 bulan yang lalu.
1 tahun yang lalu.

Sepertinya kamu pun lupa pulang wahai tetanggaku.

Mungkinkah kau tak rind

Kegilaan

Di antara harapan harapan yang menggila di atas kepalaku, ada satu yang benar benar tak mungkin bagiku, yaitu mengulang kembali masa masa diman kita berada di kota santri.
Menikmati basah wajah di sepertiga malam, menikmati makan beramai ramai, menikmati cinta yang tumbuh dalam diam, dan malu.

Masa di mana aku dan kamu masih berdiri sendiri.