Jumat, 05 Desember 2014

Tentang Payung yang Tak Pernah Patah



Payung-payung milik nenekku yang kemanapun kami, ia selalu ada
cucu-cucu dengan keberadaan di berbagai tempat
bagai perisai untuk terk matahari
pelindung bagi serbuan hujan
payung-payung itu terbagi rata pada kami
 cucu-cucu yang kadang lupa berterimakasih
nenek bukan penjual payung seperti pikirmu
dia pembuat payung itu
dia penciptanya
bukan satu, dua, tiga payung
tapi banyak payung
sebenarnya,
payung-payung buatan nenek bukan hanya untuk cucu-cucu yang merantau
kau tahu bapakku? Dua tanteku? Cicit nenekku?
mereka telah menyimpan banyak payung dari nenek
di hati masing-masing
di kepala masing-masing
tak heran nenek jadi langganan meminta payung
sebab, payung nenek tak kenal patah
kekal sepanjang masa
tentang payung nenek yang kukisahkan
payung lebar yang dipenuhi doa-doa suci
payung doa milik nenek
untuk semua yang dikasihinya

Minggu Pagi yang Mencekik Bersama Fonem

Aku berada padamu yang bergemuruh menunggu minggu pagi
dengan hapalan-hapalan yang menjuntai panjang
tebal
membingungkan
Kalimat-kalimat yang penuhi kepala
memberat
menjadi batu
batu di kepala
Titik!
tunggu!
terlalu cepat menyudahi sebelum aku sempat memulai
ini pergolakan batin
aku tengah bercerita dan satu titik tak berhak menghentikanku
belum kuceritakan tentang Fonem yang membingungkan
kau tahu bagaimana dia menjerumuskanku?
mudah sekali,
kukira tuanku menyebutkan kata beras
kuambilkan segenggam, kuletakkan di atas meja
di depannya
mata tuanku membelalak
memerah
menusuk urat-urat biruku
“Aku menyuruhmu apa, Hah?”
aku tersengal
bukan beras, sayang. Tapi peras!
kata dayangnya, seorang bidadari berbibir tebal
pantaslah tuanku marah
dan kau tahu selanjutnya apa yang terjadi?
telingaku dicap bermasalah
aku ditendang dari tempatku berpijak
minggu pagi berubah petaka
ah, aku ingin terbangun jika itu hanya mimpi
kuharap mamak menyiram kepalaku dengan air dingin
kau tahu ...
sulit menaklukkan tuanku setelah kurang lebih empat tahun melayaninya
padahal ... aku hanya berharap beberapa angka untuk hidupku di depan sana
tapi tuanku tak peduli itu
hanya karena perbedaan satu huruf
aku kini berada di ujung tanduk
sebentar saja nafas dipinta
tuanku tertawa
dan aku?
masa depanku terancam sudah
dan satu huruf berbeda itu
tentang beras dan peras
telah mencekikku paksa
aku ...
tertimbun kata-kataku sendiri
Maka tuan ... sudikah merubah nilai-nilaimu?
ah! Dasar fonem!

Makassar-13-11-2014

Menjelang ujian akhir dengan kepala yang sakit
semoga minggu pagi penuh senyuman
* Panggung Tiga Kata 13 November 2014

Selasa, 02 Desember 2014

Kisah Patah-Patah

Malam itu aku menatap lagit. Berharap bebintang melukis wajahmu. Mengukir namamu agar rinduku jatuh satu-satu. Tak lagi beku namun mencarimu dan memberimu hangatnya rasa.
Pagi ini kupandangi jendela kaca. Di sana air mengalir deras. Hujan mendinginkan hati. Hatiku yang panas karena rindu. Padamu.
Aku menunggu siang menjemputku. Kiranya dia menghapusmu dari pikiranku. Agar aku tak hanya diam memikirkanmu.

Jeda sesaat. Kemelut hati terjadi. Jika Yayat saja menangis, apatahlagi Iyah? 
Maka kisah itu akan berakhir di mana?

Cinta ...  
Kumohon, diamkan aku darinya. 
Kita sudah saja sebelum rasa kian hambar. 

Aku menatap keduanya alam diam. Besok, aku akan temukan kisah serupa. Rindu yang pekat namun tak menemukan lilin sebagai cahayanya. Hanya gelap.


Senin, 27 November 2013