Minggu, 30 November 2014

Sebisa Mungkin: Petaka-Ku

Sebisa mungkin menahan sakit dan tidak mengeluh karenanya. Sebisa mungkin tak menyebabkan orang lain kerepotan dengan adanya diriku di sekitar mereka (kecuali orang tua yang selalu kurepotkan tentu saja). Namun ternyata ‘sebisa mungkin’ itu berubah petaka suatu waktu.  Malah kadang-kadang karena ‘sebisa’ itu orang malah tak menganggap keberadaanku, sebagai seseorang mungkin. Karena sebisa mungkin menahan sakit pula, seakan aku selalu sehat tanpa pernah merasakan sakit. Hah ... benarkah begitu? Aku hanya merasakannya di hati, kepala, belakang, hah ... dan karena sebisa itu pula aku mengganjar diriku sendiri. Tanpa sepengetahuan yang lain.
Ya! Sebisa mungkin menahan sakit tanpa mengatakannya berubah petaka hari ini. aku dan diriku berharap, besok masih bisa terbangun. Besok ... bisakah?

Kabar dari Langit



Kau sebut hujan kabarkan rindu pada sang kekasih 
gila! Hujan bahkan tak mengatakannya saat ia serang bumi
tak juga berteriak menyerukan kegembiraan
bahkan untuk senyum menawan pelepas dahaga
tetes-tetes yang dimatamu adalah pesan rindu sejoli hanya kebohongan
hujan tak pantas menerima tuduhanmu
hujan hanya rintik-rintik yang tak bisa kau hitung
hujan hanya kabar bahagia selepas kemarau
hujan hanya duka jika tak kenal titik


Kamis, 27 November 2014

Yang Tak Terucap

Brakkk!!!

Pintu rumah dibenting keras olehnya. Ia pergi tanpa mendengarkan penjelasan dariku. Aku pasrah dalam kebisuan sunyi. Kemana perginya dia yang dulu? dimana pula keagungan cinta yang pernah ia perlihatkan padaku?
***
Wawan termenung di kursi kerjanya. Hampir tiga tahun usia pernikahannya dengan Dewi. Sudah banyak yang keduanya lalui, namun yang paling membuatnya khawatir adalah sikap Dewi padanya yang tidak pernah berubah. Pun saat fakta menyakitkan datang menghampiri keluarga kecil mereka. Fakta bahwa mereka tidak akan dikaruniai anak karena Wawan mandul.
“Wi, kalau kamu minta aku bisa menceraikanmu,” ucap Wawan suatu hari.
“Apa-apaan sih, jangan bercanda yang aneh-aneh deh!” balas Dewi sambil tersenyum manis.
“Aku serius, Wi!”
“Tapi ... sedikit pun aku tak pernah memikirkan hal itu,” Melihat sikap Dewi yang begitu teguh, Wawan pun tidak rela mengambil keputusan sepihak. Terlebih lagi, ia sangat mencintai wanita yang telah menjadi istrinya itu.
Tapi, Wawan mulai dihinggapi rasa takut. Takut kehilangan, takut Dewi berpaling. Ia tidak ingin kehilangan cintanya. Hal itu pula yang mendasari sikapnya berubah. Ia mulai enggan pulang ke rumah, bukan karena benci pada istrinya sebaliknya ia menahan gejolak rindu dalam dadanya. Jika Dewi bertanya, ia hanya akan memberikan alasan yang sama tiap saat. Alasan pekerjaan. Lalu kejadian yang sangat ia takutkan terjadi. Tepatnya dua hari yang lalu.
asaljadi.com
Malam itu Wawan sudah mempersiapkan kejutan untuk istrinya. Wawan sadar sudah lama tidak memberikan suprise untuk istrinya. Maka setelah pulang dari kantor ia pun singgah di toko bunga. Ia pun mengatur segalanya. Setelah semuanya beres ia pun bergegas pulang ke rumah.
“Wah, ada apa nih Wan? Lagi seneng ya?” tanya seorang tetangga rumahnya saat ia sudah hampir sampai. Mendengar perkataan itu Wawan hanya tersenyum.
“Paling juga sebentar lagi dia marah,” ucap anak tetangganya, Yani. Sudah lama gadis itu menaruh hati pada Wawan makanya ia sering memanas-manasi laki-laki itu.
“Maksudmu?”
“Kamu itu bodoh banget yah, Wan. Ngga bisa bedain perempuan baik-baik dan yang pura-pura baik!” ucap Yani membuat Wawan semakin tidak mengerti.
“Apa maksudmu sebenarnya?”
“Pulang saja sana, dan lihat kelakuan istrimu itu!” jawab Yani sinis.
Tanpa bertanya lagi Wawan pun bergegas ke rumahnya. Tanpa mengucapkan salam ia menerobos masuk. Tidak ada siapa-siapa di ruang tamu. Amarah semakin menguasainya. Prasangka yang paling ia hindari mulai terpikir begitu saja.
“Hahaha ... kamu ini masih seperti dulu ternyata, takut pada ... “
Suara tawa itu diikuti oleh kehadiran sosok laki-laki dan istrinya yang baru saja keluar dari kamar. Kamar miliknya dan istrinya. Wawan kalap secepat kilat di arahkan bogem mentahnya pada laki-laki di hadapannya. Dewi menjerit, menangis memohon Wawan mendengarkan penjelasannya. Tapi tidak dengan suaminya, ia sudah kehilangan kendali.
***
Seharusnya kamu tahu aku. Harusnya kamu kembali dan mendengarkan semuanya. Harusnya! Tapi kenapa kamu tidak kembali, Mas?
Aku akan menunggu! Menunggumu kembali lagi ke sisiku, lalu menjelaskan semua kesalahpahaman kita. Semuanya!
Satu yang harus kamu tahu, cintaku hanya untukmu seorang, Mas. Ku mohon pulanglah!

Rabu, 26 November 2014

Perasaan yang Tak Pernah Bertahan Lama

Maaf. Selalu.

Tidurlah, semoga malam pekat larutkan luka di hatimu.

Terimakasih untuk mengerti dan memaafkan. Sebab aku tak bisa dan kau sangat bisa. Kau hebat.
‪#‎tambah_ngefans_jadinya‬


---> Dapat balasan begini ...

Maaf untuk perih yg ku cipta di hatimu.

Melewati malam yg indah bersama ..... (isi sendiri)


Marah tak bisa benar-benar lama

Selasa, 25 November 2014

Lagi-Lagi Terimakasih: Yudisium Rasa Nano-Nano dan Air Mata yang Runtuh

Selepas nangis-nagis
Yudisium pagi hingga siang tadi begitu berkesan. Perasaan campur aduk saat mengikutinya. Peserta yudisium Universitas Muhammadiyah Makassar adalah yang paling banyak hingga hari ini, dengan jumlah lebih dar seribu calon sarjana (setelah diyudisium berubah status jadi sarjana pendidikan). Pada awal acara dimulai dengan pengajian oleh salah satu petinggi FKIP, lalu sambutan-sambutan.
Suasana yang panas, kadang ribut, kadang tertawa campur aduk dalam acara tersebut. Guyonan-guyonan juga ditumpahkan sesiapa saja yang berdiri di podium. Misal tentang setelah selesai kulah yang mau lanjut S2 silahkan, mau ngajar di pedalaman silahkan, kalau ngga bau keduanya ya lanjut nikah saja. Mendengar ucapan salah satu yang tampil, sontak saja seisi auditorium tertawa. Adegan pengambilan gambar dimana-mana, seakan yang satu ini adalah kewajiban bagi siapa saja, terlebih bagi Pak MC.
Acara yang paling dinanti-nanti pun tiba, pengumuman nilai akhir mahasiswa. Sebab yang diumumkan banyak, butuh banyak waktu baru mendengar nama sendiri dikumandangkan di depan sana. Alhamdulillah nilai cumlaude diperoleh dengan usaha kurang lebih empat tahun. Aku pikir awalnya hanya sampai di situ, taunya acara numpahin air dari mata tidak terelakkan juga.
Puncak yudisium saat para calon sarjana berganti status jadi sarjana ... awalnya saat sang tuan di depan saana mengucapkan ucapan terimakasih yang harusnya kami utarakan mulai mengusikku. Pembahasan tentang orang tua berlanjut dengan air mata yang tumpah. Wah ... aku yang kuat-kuatin ngga nangis malah yang paling duluan nangisnya. Wajah Bapak dan Ibu terpampang jelas di depan mata. Pengen langsung nyiumin tangan keduanya rasa-rasanya. Ilanjutkan lagi dengan nyanyian tentang Ibu. Tammatlah. Aku kalau nangis susah berhentinya, maka tak heran sampai acara selesai masih mewek juga.
Mata sembab sudah pasti. Hidung mengembang, kurang lebih. Kusutlah jadinya. Tak mengapa. Acara seperti ini, yang merupakan tahap bersejarah dalam hidupku, memang wajar jika mengundang rasa bak nano-nano.
Terakhir, untuk semua penghuni kampus UNISMUH, dari yang benda mati, mahluk hidup, manusia-manusianya, pengurus-pengurusnya, petinggi-petingginya, yang telah bersinggungan langsung denganku, dan yang tidak, dari yang membantu, hingga yang mempersulit (bunga-bunga kuliah bukan?), aku ucapkan BANYAK-BANYAK TERMAKASIH. Semoga Allah swt membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik. Aamiin.
Tungguin tanggal pake toga
Untuk Bapak, Bapak, Ibu, Ibu, Ibu, terimakasih banyak. Sangat banyak. Banyak yang tidak terhitungkan. Untuk keluargaku juga, siapapun itu, terimakasih. Ucapan ini sudah aku tulis  di sini.
Aku tak mengganti nama hanya menambah tiga huruf di belakang namaku, Sitti Mardiyah, S.Pd. Kelak semoga ilmu yang didapat dapat bermanfaat dengan baik. sekali lagi terimakasih.

Senin, 24 November 2014

Kiriman Bahagia



helen-sister.blogspot.com
Kau mengirimi aku rasa bernama bahagia hampir setiap hari. Bentuknya ada-ada saja. Kadang sama, kadang pula berbeda. Seperti hari ini, benda merah muda kau selipkan di antara jemariku lantas berbisik dengan suara menyenangkan, tidak mahal. Kau menitipkannya pada merpati yang jadi pengantar kirimanmu.
Lalu aku membalas kirimanmu dengan senyum yang kulukis dengan air mata bahagia. Kataku, terimakasih, terimakasih, aku menyukainya.
Lantas kau kembali mengirim pesan lain dengan suara-suara bahagia yang menjelma jemari. Menghapus basah di pipiku.
Aku tersenyum.
Tak mudah menjadi dirimu, sebab yang kutahu, aku selalu takut. Dan untukmu, kadang sulit menyihir percaya ke dalam jiwaku.
cerpen.gen22.net
Belakangan benteng yang susah payah kau runtuhkan benar-benar musnah. Kini kau bebas mengirim pesan bahagia untukku.
Aku pun berterimakasih kau telah merobohkan benteng hitam dalam diriku.
Kita akan menjadi kawan, pun kadang-kadang menjadi lawan yang selalu kembali baik.
Oh ya ... terimakasih kirimannya. Aku bahagia menerimanya.