Jumat, 31 Oktober 2014

Menutup Jendela Malam


Sepertinya jendela mataku sudah harus tertutup, Kawan.
Bukan sebab aku kecewa padamu dan lakonmu bersama kumbang merah muda di sampingmu.
Yang mengoceh bersamamu.
Yang bermimpi denganmu.
Bukan pula dikarenakan curahan hati yang esok lusa akan kita perdengarkan.
Melahirkan tanya dan penasaran di kepalaku.
Berputar-putar hingga leherku hampir terkilir.
Bukan, Kawan.
Tentang jendela mataku yang pakunya hampir lepas adalah pertanda jika malam menghamburkan tinta hitam dengan jumlah yang sangat banyak.
Menyajikan gumpalan-gumpalan mimpi.
Jendelaku kututup.
Besok sebelum matahari malau-malu menampakkan diri ... aku berjanji membukanya lagi.


Mimpiku Untuk Ibu


Ft by: Kora Cakrawala

“Ifah ...” suara teriakan ibu mengagetkanku.
“Iya Bu?” sahutku. Ada apa lagi sekarang? Lagi asiknya menulis juga.
Aku berlari keluar dari kamarku. Begini nih kerjaan kalau liburan, hanya di rumah mendengar omelan ibuku yang cantik.
“Kamu tuh ya, sudah dari tadi dipanggil malah ngga nyahut-nyahut. Itu telinga dikemanain?” suara amukan ibu menyambutku saat sampai di dapur rumah sederhana kami.
“Yah ibu, dari sini ke kamarku mana bisa dengar, yang ada tetangga yang mendengarnya. Disangkanya ntar ibu lagi marah-marah. Padahal kan ibu manggilku dengan nada penuh cinta,” aku mulai merayu, berharap ibu tidak lagi marah.
“Alasan saja kamu. Ngerjain apa sih? Liburan sekolah saja masih saja sok sibuk, sekali-kali kamu itu harus bantuin ibu di dapur. Biar pintar masak juga, kan malu ibunya pintar masak anaknya ... “ Ibu menatapku dengan tatapan yang, uhk ... ngga banget.
Begitulah keseharian kami, aku yang suka ngeles dan ibu yang menuntut aku agar kelak sama sepertinya, tangguh. Terlebih setelah bapak tiada. Walhasil ibulah tulang punggung dalam keluarga kecilku. Makanya akhir-akhir ini aku jadi mikir untuk menghasilkan uang sendiri. Selama ini aku hanya bantuin ibu jaga warung. Ibu sendiri sangat tidak suka aku membantunuya, katanya cukuplah aku belajar yang rajin. Tapi kali ini beda, sudah seminggu aku libur semester. Jadinya harus belajar ini dan itu, seperti kata ibu.
Tapi berkat kerasnya ibu saat membesarkan aku, membuatku berpikir untuk melakukan banyak hal. Termasuk membantu ibu dalam hal ekonomi. Walau masih kels satu SMA, aku sudah pikirkan baik-baik tentang hal itu.
“Fah, jadi penulis saja. Kan ngga ribet tuh, kalau masalah ngetiknya gampang deh. Lagian dulu kamu ngebet banget kan jadi penulis, sampai bela-belain maksa bapak kamu buat beliin notebook.” Itulah saran Rati, sahabatku.
Tentu saja aku ingat cita-citaku itu. Saat bapak yang sehari-harinya bekerja sebagai guru SD masih hidup. Namun seiring waktu berjalan, dan bapak telah tiada mimpiku untuk jadi penulis terkenal seakan ditelang bumi.
Jadi sebelum liburan tiba aku sudah memutuskan ingin jadi penulis. Kalau dulu alasanku sebatas cita-cita saja, kali ini alasanku bertambah. Aku ingin mengisahkan perjalanan hidupku bersama ibu juga bapak yang telah menghadap ke pangkuannya, juga aku ingin membantu ibu dalam hal ekonomi keluarga kami.
**
“Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu sering mengurung diri di kamar, Fah. Ada masalah?” tanya ibu saat kami sedang duduk bersama di ruang makan. Bersama dua orang adikku yang lain.
“Ibu tenang saja, kalau Ifah ada masalah pasti cerita kok,” jawabku tenang.
Tentu saja aku tidak bisa bilang aku sudah mulai menerbangkan mimpiku. Tentang ingin jadi penulis, aku memang belum bilang. Takut ibu marah, aku hanya ingin membuktikannya dulu dengan nilaiku di sekolah yang tetap baik dan tulisanku yang membuahkan hasil.
“Assalamu’alaikum ... “ Seseorang memecahkan keheningan suasana rumah kami.
“Biar ibu yang buka, kalian lanjutkan makannya,” ucap ibu.
“Wa’alaikusalam,” lanjut ibu sambil berjalan ke ruang tamu. Aku dan kedua adikku kembali menikmati masakan ibu. Dan sepertinya ibu terlibat percakapan dengan sang tamu. Hampir lima belas menit berlalu hingga ibu akhirnya muncul dengan sesuatu di tangannya.
“Fah ... “ ibu memanggil namaku.
“Iya, Bu?”
“Ini apa?” tanya ibu sambil mengarahkan pandangannya pada bungkusan yang ada di tangannya.
“Ini tadi diantar tukang pos, katanya kiriman buatmu. Ini dari mana?” tanya ibu lagi. Pahamlah aku kini benda apa yang ada di tangan ibu.
Dua minggu lalu aku mengirimkan sebuah cerpen untuk diikutkan lomba. Lewat bantuan sahabatku Rati tentunya.
“Itu hadiah, Bu. Hasil dari jerih payahku sebagai penulis.”
Ibu masih menatapku penuh tanya, sedikit ada tatapan marah di sana. Tapi aku akan berusaha meredamnya. Aku akan menjelaskan semuanya. Akan kukatakan mimpi yang pernah terlupakan dalam hatiku, juga harapan dapat membantu ibu dalam meringankan bebannya.


Kamis, 30 Oktober 2014

Hikmahnya dapat Pembimbing Galak

Sementara
Sudah menjadi rahasia umum jika urusan akhir perkuliahan adalah masa paling sulit saat kuliah. Terlebih jika mendapat pembimbing yang lumayan galak. Galak di sini bukan tampa sebab, maksud si pembimbing adalah membimbing makanya rada-rada sensi. Belum lagi kalau yang dibimbing malah bantah sana sini, atau ngga ngerti-ngerti juga. Maka ya ... bagaimana pintar-pintarnya pasang wajah dan kerjain skripsinya aja.
Oke, tak usah berpanjang lebar. Aku juga bukannya mau ceramah. Baru saja skripsiku acc dan diizinkan ikut ujian skirpsi, tak terhingga dong bahagianya gman. Secara sudah berapa minggu, tiap hari kamis atau jum’at duduk manis depan teras rumah si pembimbing. Syukur-syukur kalau dapat komen ngga sinis pas bimbingan, kalau dapat? Hehehe ... muka panas, kepala berat, pengen segera meleleh atau kalau tidak menghilang dari hadapan orang penting tersebut.
Sudahlah, bukan itu sih yang mau aku ungkap di tulisan ini.
Aku mau bahas tentang hikmah yang aku rasakan setelah bimbingan berminggu-minggu. Yang aku rasakan langsung maksudnya. Sebab, rahasia di balik rahasia pastilah ada (halah ... ngga tahu nulis apa ini).
#Jadimahasiswasabar
Itulah hikmah pertamanya. Beberapa orang yang mengenalku, maksudnya yang sangat mengenalku, pasti sangat tahu jika aku bukan orang yang sabar. Terbukti dengan tidak bisanya aku disuruh menunggu kalau ada apa-apa.
Maka tak heran kalau Bapak dan Ibu di kampung selalu menekankan kalimat ini setap kali aku mengeluh mengenai skripsiku yang tak kunjung acc, “Latihan sabar ...” atau “Yang sabar ...” dan “Semua ada waktunya, sabar Nak ...” de-el-el.
Mau tidak mau, suka tidak suka, rela tidak rela, aku harus menunggu dan menunggu bimbingan dari sang dosen yang hanya sekali seminggu. Ditambah lagi dengan perbaikan yang berkali-kali.
Maka dosen galak tak hanya membimbing skripsi sebagai tugas akhir kuliah, beliau juga tengah melatihku, teman-teman seperjuanganku untuk sabar. Sabar, sabar.
#Jadimahasiswaberpikiranpositif
Untungnya aku bukan orang yang mengutuk orang lain lantaran dipersulit hehehe ...
Sebab dosen pembimbingku demikian orangnya maka kutanamkan keyakinan dalam hati ...
Hey ... selalu ada kemudahan dalam kesulitan.
Selalu ada kenikmatan dalam kesulitan.
 Allah tuh ngga tidur, Dia lagi ngeliat kamu sampai sejauh mana kamu bisa bertahan.
Atau ...
Bersakit sakit dahuli, senang-senangnya menyusul.
Lagi ...
Ya ampun baru juga gitu, gimana kalau malah ngga ketemu dosennya.
Ada yang lebih sulit dari kamu keles ...
Dan masih banyak prasangka baik yang berusaha aku tumbuhkan di hatiku. Kusirami, kupupuk. Kusayangi (yang ini aneh).
#Jadimahasiswakuat
Tahan banting dong kite. Iyalah secara sudah berapa minggu di bantng kiri kanan. Dengar ulasan halus sampai yang terkesan sinis. Atau kalimat-kalimat super pedas dengan cabe yang banyak.
Mungkin karakter si dosen memang kali yang demikian. Nah, sebagai mahasiswa yang tau posisi, dapat dosen dengan karakter begitu menjadikan benteng pertahanan makin kokoh. Dan imbasnya, kalau ketemu yang galak-galak, ngga kaget-kaget amat lagi.
#Jadisemakindekatdengankeluarga
Bukan berarti sebelum-sebelumnya aku tidak dekat ya dengan keluargaku. Aku sangat dekat dengan mereka dan dengan kesulitan ini (bimbingan skripsi) aku jadi semakin dekat lagi.
Kalau ada apa-apa, pasti cerita ke Ibu, minta masukan ke Bapak. Kedua orang tua juga sangat paham dengan kebimbanganku. Keduanya sangat sering memberi nasehat yang menerangi gelisahnya hati. Malah sama si Bapak sudah ngasih istilah saja sama dosen pembimbingku.
Kalau Ibu juga tak kalah membantu. Ibu dengan kelembutannya selalu menasehati. Selalu menyemangati. Pokoke sama keluarga jadi semakin romantis deh.
Itu saja dulu. Karena sudah acc ... melangkah lagi ke tahap selanjutnya. Perjuangan tetap berlanjut. Semoga kelak berbuah manis. Semoga ^^

Selasa, 28 Oktober 2014

Ungkapan Rasa dan Pohon Cinta

06:16:49
Terkadang,
aku kehilangan kata-kata
untuk mengungkapkan rasa ini.
Namun,
cinta ini
tak pernah hilang
untukmu

06:30:53
Ada pohon kisah
tentang kita
tertanam pada kedalaman tak seberapa
belum sepenuhnya subur
bunga-bunganya belum mekar
daun-daunnya belum  melebar
katamu, kita rawat bersama
selamanya
pohon cinta 

06:21:54
Bahagia terpatri di hati,
cinta tertanam
tumbuh dengan indah

06:33:05
 Tentang pohon kita
bercerita tentang rasa
pada akarnya ia tanamkan kekuatan
pada batangnya harapan berselimut
pada ranting-ranting tersematkan keyakinan
pada daun tumbuh kasih sayang
pada  bunga tercipta bahagia sempurna
pohon kita
pohon cinta

28 Oktober 2014


AkU dan CiNtA-Ku

Foto by: Meira's Art
Aku dan cintaku...
Menemanimu jalani hidup.
Aku dan cintaku...
Suka duka bersamamu.
Menapaki waktu.
Meniti harap, menuju bahagia.
Aku dan cintaku ...
selalu untukmu

by: Habib Al-Furqon

00:46:01
27 Oktober 2014

Senin, 27 Oktober 2014

Alamat-Alamat Koran dan Cara Mengirim Tulisan

Koran Tempo
  • Email kirim puisi ke koran tempo minggu: ktminggu@tempo.co.id
  • Email kirim cerpen ke koran tempo minggu: ktminggu@tempo.co.id
  • Honor cerpen koran tempo sekitar Rp. 700.000,-
  • Honor puisi di koran tempo berkisar Rp. 600.000,- atau tergantung berapa puisi yang dimuat
  • Biasanya honor akan dikirim dua minggu pasca pemuatan
  • Redaktur Puisi dan Cerpen Koran Tempo Nirwan Dewanto
Kompas
  • Email kirim puisi ke kompas: opini@kompas.co.id, opini@kompas.com
  • Email kirim cerpen ke kompas: opini@kompas.co.id, opini@kompas.com
  • Email kirim esai ke kompas: opini@kompas.co.id, opini@kompas.com
  • Jumlah honor cerpen kompas Rp. 1.400.000,- (tidak dipotong pajak),
  • Honor puisi kompas Rp. 500.000,- (tidak dipotong pajak),
  • Biasanya honor dikirim dua atau tiga hari setelah pemuatan.
  • Nama rubrik Seni
  • Ada beberapa penjaga gawang alias redaktur kompas, salah satunya adalah Putu Fajar Arcana.
  • Menemus koran kompas memang tidak mudah, dan anda mungkin perlu membaca rahasia agar cerpen dan puisi kita bisa tembus di kompas.
Suara Merdeka
  • Kirimkan cerpen, puisi dan esai ke suara merdeka lewat email swarasastra@gmail.com
  • Honor cerpen suara merdeka sekitar 300 ribu. Sementara honor puisi sekitar 200 ribu dipotong pajak, begitu pula honor esai.
  • Honor akan dikirim ke rekening atau kadang bisa juga via wesel pos. Jika tulisan kita dimuat, segeralah hubungi bagian keuangan.
  • Redaktur Saroni Asikin
 Jawa Pos
  • Email untuk kirim cerpen ke jawa pos : ari@jawapos.co.id . Ada juga yang memberikan email ariemetro@yahoo.com. Mungkin bisa dicoba kedua-duanya.
  • Email untuk kirim puisi dan esai, dan rubrik ruang putih dan di balik buku juga menggunakan email yang sama
  • Honor cerpen di jawapos sekitar 900 ribu sampai satu juta.
  • Sementara honor puisi sekitar Rp. 500.000,-
  • Jika dimuat, honor akan dikirim ke rekening kita 1 sampai 2 minggu pasca pemuatan
  • Redaktur Arief Santoso
Media Indonesia
  • Media indonesia kembali membuka rubrik cerpen. Untuk mengirim cerpen ke media Indonesia bisa lewat cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id
  • Aturan kirim cerpen: Naskah paling panjang 9.000 karakter.
  • Honor pemuatan cerpen Rp. 500.000 sampai dengan Rp 700.000 (dipotong pajak)  akan dikirim dua minggu setelah pemuatan.
  • Redaktur: Damhuri Muhammad
Suara Karya
  • Kirimkan esai, cerpen, dan puisi ke Suara Karya via email ami.herman@yahoo.com
  • Honor cerpen Rp. 250.000, sementara puisi 150 ribu, dan esai 150 ribu.
  • Untuk mencairkan honor bisa hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
  • Redaktur Ami Herman
 Republika
  • Email cerpen republika adalah sekretariat@republika.co.id, jangan lupa CC ke aliredov@yahoo.com
  • Honor cerpen Rp. 400.000,- (potong pajak)
  • Kapan honor dikirim berbeda-beda. Jika honor lama tidak dikirim, segera kontak bagian keuangan via nomor telepon koran.
  • Suka dengan cerpen-cerpen islami, meski tidak selalu.
 Jurnal Nasional
  • Menerima kiriman puisi dan cerpen
  • Naskah cerpen dan puisi Jurnal nasional dikirim via emai tamba@jurnas.com dan witalestari@jurnas.com
  • Honor cerpen Jurnal Nasional sekitar Rp. 400.000,- (potong pajak), Puisi sekitar Rp. 200.000.
  • Honor dikirim kurang lebih 1 bulan, jika menghubungi bagian keuagan bisa cepat dikirim.
  • Rerdaktur Ari MP Tamba
 Pikiran Rakyat
  • Kirim puisi dan cerpen ke Pikiran Rakyat via email khazanah@pikiran-rakyat.com
  • Honor cerpen Rp. 300.000,- (potong pajak), honor puisi biasanya lebih sedikit dari honor cerpen.
  • Biasanya honor ditransfer 2-3 minggu setelah pemuatan, atau bisa juga diambil langsung ke kantor redaksi.
  • Rubrik yang memuat Cerpen dan Puisi Pikiran Rakyat terbit setiap hari Sabtu, kecuali bertepatan dengan hari libur besar nasional
 Tribun Jabar
  • Tribun jabatr adalah koran yang terbit di jawa barat. Menerima kiriman yang bisa dikirim ke cerpen@tribunjabar.co.id dan hermawan_aksan@yahoo.com
  • Untuk cerpen terbit setiap hari Sabtu.
  • Ada juga cerpen bahasa sunda yang terbit setiap kamis dan jumat.
  • Honor cerpen tribun jabar sekitar Rp. 200.000,- (tanpa potong pajak).
  • Honor ditransfer 3 hari atau 1 minggu setelah dimuat.
  • Redaktur Hermawan Aksan
 Kedaulatan Rakyat
  • Kedaulatan rakyat adalah koran lokal Jogjakarta dan jawa tengah. Tetapi bukan berarti penulis yang dimuat di sana adalah orang lokal. Siapapun bisa mengirim tulisan ke KR dan berpeluang di muat.
  • Cara mengirim puisi, cerpen, dan esai ke Kedaulatan Rakyat bisa via email jayadikastari@yahoo.com
  • Cerpen di KR relatif pendek di banding cerpen-cerpen di media lain, sekitar 5.000 karakter dengan spasi.
  • Honor cerpen Rp. 400.000,-
  • Honor Puisi Kedaulatan Rakyat Rp. 250.000
  • Redaktur Jayadi Kastari
 Joglo Semar
  • Joglo Semar juga koran Lokal di Jogakarta. Ada rubrik cerpen yang terbit setiap minggu.
  • Email untuk kirim cerpen ke Joglo Semar adalah harianjoglosemar@gmail.com
  • Honor pemuatan cerpen Rp. 100.000
 Minggu Pagi
  • Minggu pagi mungkin semacam tabloid, karena koran ini terbit seminggu sekali, yakni pada hari Jumat.
  • Minggu pagi menerima cerpen, puisi, dan esai.
  • Email untuk tulisan cerpen, puisi, dan esai Minggu Pagi adalah we_rock_we_rock@yahoo.co.id
  • Honor cerpen Rp. 150.000. Honor Puisi 100.000, esai sekitar 100 ribu sampai 150 ribu.
  • Redaktur Minggu Pagi Latief Noor Rochman
 Radar Surabaya
  • Email kirim cerpen ke Radar Surabaya adalah radarsurabaya@yahoo.com dan  diptareza@yahoo.co.id
  • Honor cerpen di Radar Surabaya Rp. 200.000,- (potong pajak) .
  • Biasanya honor sudah ditransfer seminggu setelah dimuat.
 Lampung Post
  • Email untuk cerpen dan puisi Lampung Post yaitu lampostminggu@yahoo.com
  • Honor cerpen Rp. 200.000, dan honor puisi juga sama.
  • Honor akan ditranfer via rekening bank seminggu pasca tulisan dimuat.
  • Bisa kontak emil_lampost@yahoo.com untuk pencairan honor
 Padang Ekspres
  • Email kirim cerpen dan puisi ke Padang Ekspress via yusrizal_kw@yahoo.com dan cerpen_puisi@yahoo.com
  • Honor cerpen padang ekspress berksar Rp. 100.000 sampai Rp. 125.000
  • Sementara honor puisi sekitar Rp. 75.000
  • Honor bisa diambil langsung atau bisa minta tolong teman di padang untuk mengambilkan di kantor sekretariat redaksi.
  • Redaktur padang eksres Yusrizal Kw
 Haluan (Padang)
  • Email untuk kirim cerpen ke koran Haluan yang terbit di Padang bisa via email nasrulazwar@yahoo.com
  • Honor pemuatan cerpen koran haluan Rp. 150.000,- sementara honor puisinya Rp. 100.000,-
 Singgalang (Padang)
  • Kirim cerpen ke koran Singgalang ke email hariansinggalang@yahoo.co.id dan a2rizal@yahoo.co.id
  • Honor cerpen harian Singgalang sekitar Rp. 50.000,- hubungi redaksi via email/telepon untuk konfirmasi pencairan honor, atau bisa diambil langsung ke kantor redaksi.
 Riau Pos
  • Koran Riau Pos menerima Cerpen dan esai
  • Kirim cerpen dan esai sobat ke budayaripos@gmail.com dan kabut.azis@gmail.com
  • Honor cerpen Riau Pos Rp. 150.000,-
  • Redaktur riau Pos Hary B Kori’un
Analisa (Medan)
  • Kirim cerpen ke Hadian Analisa Media via email rajabatak@yahoo.com
  • Honor cerpen di Analisa sekitar Rp. 100.000,-
  • Untuk mencairkannya bisa hubungi redaksi via email atau telepon, atau bisa juga diambil ke kantor redaksi.
 Sinar Harapan
  • Email kirim cerpen sinar Harapan adalah redaksi@sinarharapan.co.id, blackpoems@yahoo.com
  • Honor cerpen dan puisi di Sinar Harapan sekitar Rp. 100.000,-
 Berita Pagi
  • Kirim cerpen ke Berita Pagi via huberitapagi@yahoo.com
  • Honor cerpen Berita Pagi 100 ribu
Demikian tadi email dan honor cerpen, puisi dan esai di Koran. Untuk tata cara pengirimannya, sebagai berikut:
  1. Tulis cerpen, puisi atau esai anda
  2. Cantumkan Nomor rekening bagian bawah (masih dalam satu file)
  3. Kirimkan via email. Naskah dilampirkan, tidak dicopy paste di badan email.
  4. Berilah kata pengantar dan subyek. Misal [Cerpen] Judul Cerpen Anda.
  5. Tunggulah kabar atau rajinlah cek koran. Tidak semua koran mengonfirmasi pemuatan tulisan kita. Maka kita harus rajin mengcek koran atau bisa juga bergabung dengan group-group FB yang mengabarkan tulisan-tulisan yang dimuat di Koran.

SUMBER: https://santritimur.wordpress.com/2014/09/05/email-media-terbaru-2014/