Senin, 22 September 2014

Sebuah Jalan

by:
Kartun Muslimah
Oleh: Nahlatul Azhar

“Aku punya impian yang ingin kuwujudkan, Wit.”
“Apa?”
“Aku ingin ...”
Sayup kudengar impian besar Lasti.
Mimpi. Jika itu bukan milik orang yang sedang tidur, maka mimpi adalah milik mereka yang punya banyak uang. Seseorang dengan penyokong dana yang terus mengalir.
Lah aku?
“Wita kamu punya mimpi juga kan?” Lasti menatapku dengan wajah penasaran.
Aku tersenyum tanpa memberi jawaban.
Mimpi bukan milkku, bahkan ketika aku menginginkannya.
**
Akan mudah bagiku untuk punya mimpi jikala hidupku sama dengan Lasti. Gadis kaya yang baik hati. Sayangnya hidupku justru kebalikan dari Lasti.
Aku anak seoran pemulung sampah.
Jika ibu tidak mati-matian menyuruhku ke sekolah, niscaya aku akan memilih menemaninya mengais plastik-plastik untuk dikumpulkan lalu dijual.
“Ibu yakin selalu ada jalan, Nak.”
Itu kalimat yang selalu dikatakan Ibu jika aku mengeluh tentang biaya buku yang harus dilunasi.
“Bu, percuma aku sekolah toh nantinya aku hanya akan sampai es-em-pe,” ucapku suatu pagi sebelum berangkat.
“Kata siapa itu percuma? Kata siapa juga hanya sampai es-em-pe?” tanya Ibu tanpa menoleh padaku.
“Maksud Ibu?”
“Nak, kamu harus berhasil. Kamu harus mewujudkan mimpi Ibu!”
Ibu punya mimpi?
Aku tak mengatakan apa-apa lagi. Ibu memang wanita tangguh, wanita dengan keinginan yang kuat.
**
Mimpi hanyalah milik orang yang sedang tidur, atau mereka yang punya banyak uang. Seseorang dengan penyokong dana yang terus mengalir.
Kalimat itu sekali lagi terpikirkan di kepalaku. Sepenuhnya semua itu benar. Aku yang anak seorang pemulung, yang tak pernah berani bermimpi akhirnya menyelesaikan kuliahku di universitas terkenal.
Keyakinan ibu tentang jalan untuk setiap masalah juga terbukti benar.
Lasti dengan mimpinya juga berhasil.
“Aku ingin membantu orng-orang tidak mampu untuk melanjutkan sekolahnya!” itulah mimpi Lasti. Dan orang pertama yang ia bantu adalah aku.
Mimpi Ibu juga terkabul. Melihatku lulus kuliah.
Sebab mimpi berhak dimiliki oleh siapa pun. Juga aku.
 @selesai@

#MenangEvent_KBM 

Jumat, 19 September 2014

Tentang Kita yang Berubah

by:
Kartun Muslimah
Awalnya kita satu, lalu terbelah menjadi dua, lalu tiga, empat, lima ... dan entah sekarang menjadi berapa.
Masing-masing dari kita ciptakan harmoni berbeda.
Masing-masing kita merajut kisah romantis tak sama.
Kita tak saling melupakan, hanya terikat kuat pada satu sisi.
Tak melupakan sisi yang lain, namun hanya mengirim kata sesekali.
Ya, itu kita. Kita yang tak sedang merasa.

Awalnya kita berjanji tak bermain rasa dalam frasa.
Berjanji jujur untuk hati-hati kita.
Awalnya.
Kemarin tak selamanya sama dengan hari ini kan?
Kita berubah.
Bremetamorfosis.

Esok entah apa lagi.
Semoga ada kabar bahagia.
Semoga tak ada yang terlupakan.

Sebab kita tetap kita, yang lahir dari rahim yang sama.




Kamis, 18 September 2014

Bukan Aku!


by:
Kartun Muslimah


Ada bunga yang tumbuh. Kau kira itu bungaku?
Tidak! Itu bunga tetangga yang hatinya tengah bahagia.
Lalu kau lihat pula tangkai yang patah? Jangan sangka itu milikku!
Sebenarnya ... tangkai itu pun milik tetanggku.
Semalam ia patahkan, entah. Bisa jadi hatinya luka.
Tadi pagi kau tanya lagi perkara gumpalan asap berwarna merah muda.
Katamu, tak biasanya.
Lagi-lagi kau kira asap itu mengepul dari balng atap rumahku.

Tidak!
Jangan memastikan semuanya.
Kau justru tak tahu apa-apa jika begitu.

Tetanggaku tengah meracik rasa.
Aku yang berdampingan dengannya tentulah terlihat sama.
Aku bersumpah, semua itu bukan atas namaku.

Yang sebenarnya ...
aku menerka-nerka
mengapa kau memata-matai diriku?


Rabu, 17 September 2014

Ge dan Na: Di Sini ada Cinta



  Ada Ge yang berubah.
Ada Na yang berubah.
Berubah berlaku bagi keduanya.

“Aku mulai cemburu,” Ge mengirim pesan singkat.
Kali ini tak ceria, tak sama dengan kisah cinta kemarin.
“Karen kepoin dia kan?” Na membalas.
Ada yang menggelitiknya. Aku juga dulu sama, Ge.
“Aku tidak pantas merasakannya kan Na? Siapalah aku?”
Apakah cinta bertanya sebelum mampir di hati?
Hati Na berbisik.
Tidak pernah! Tak permisi! Tau-tau dia jatuh menimpa hati dan kepala. Meracuni segalanya.
“Na ...”
“Ya? Bisakah menikmatinya dalam diam? Biarkan mekar tanpa dinkmati yang lain?”
“Entah.”
“Hmm ...”
“Aku jatuh, sama sepertimu!”
“Jangan, Ge! Jangan pernah!”
“Kenapa?”
Sunyi.
Sebab jika sama sepertiku, kamu akan menyesal!
Malam mendua. Meninggalkan keramaian berbaring di sisi sepi. 

17-9-14


Minggu, 14 September 2014

FLP-Q: Menghidupkan Rumah Kita



Sekolah nulis FLP RANUS
Janganlah terus cemburu pada rumput tetangga yang beranjak hijau muda. Juga tak memandanginya pula saat hijau tua rumputnya.

Harusnya, segera kita tanam rumput kita. Hingga dapat dipelihara dan dinikmati indahnya.

Kelak kita tak lagi cemburu pada rumput tetangga.

Kelak kita akan bersorak saat rumput-rumput kita tumbuh subur. Menghijau. Hijau tua.

Sekolah nulis FLP RANUS
Sok hijau?

Tidak!

Cukuplah tetangga kita jadi cambukan. Untuk dijadikan tangga agar mendaki lebih tinggi. Hidupkan rumah kecil kita.

Mari.

by: Nahlatul Azhar

Ramuan Ajaib Bunda



Oleh: Nahlatul Azhar
 “Mel, minum susu dulu baru berangkat,” Bunda mengingatkan Meli pagi itu.
“Ngga deh Bun, ngga enak. Lagian sudah telat.” Meli menggeleng kuat-kuat.
Meli memang sangat malas minum susu. Tiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, Bunda selalu mengingatkannya.
Meli suka pura-pura lupa minum susu. Sampai-sampai Bunda pusing dibuatnya.
“Meli, ayo dong Sayang ...” pinta Bunda.
“Meli ngga suka Bunda!” ucap Meli dengan suara tnggi.
Hah ... Bunda menghela nafas melihat tingkah Meli yang sangat tidak suka minum susu.
“Siap Mel?” tanya Papa saat keluar dari kamar.
“Iya Pa.”
“Loh, kok susunya tidak diminum?” tanya Papa heran.
“Meli ngga suka, Pa!”
Meli akhirnya diantar Papa tanpa minum susu.
Begitulah Meli tiap pagi berangkat sekolah tanpa menghabiskan susu buatan bundanya.
                                                                   **
“Bun, susunya ngga ada ya?” tanya Meli pagi itu.
Bunda mengiyakan.
Meli heran, kenapa Bunda tidak menyuruhnya minum susu lagi?
Meli juga heran Bunda tidak banyak bicara pagi itu.
Sampai berangkat sekolah pun Bunda hanya diam.
Di sekolah Meli banyak berpikir tentang Bunda. Meli takut Bunda marah gara-gara ia tidak mau minum susu.
Hingga pulang sekolah pun Meli masih bertanya-tanya kenapa Bunda tidak banyak bicara.
“Bun, susu buat siapa ini?” tanya Meli saat melihat segelas susu coklat di atas meja ruang tamu.
“Oh ... itu buat Asti,” kata Bunda.
“Kok buat Asti?” tanya Meli.
Tentu saja Meli heran, kenapa Bunda membuat susu untuk tetangganya itu?
“Katanya Asti mau dibuatkan ramuan ajaib dari Bunda.”
“Ramuan ajaib?” lagi-lagi Meli bertanya.
“Iya, ramuan ajaib. Kan bisa membuat badan jadi sehat, pintar, tumbuh tinggi ...” jelas Bunda.
Ramuan ajaib ... pikir Meli.
**
“Susunya, Mel,” ucap Bunda pagi hari sebelum Meli berangkat sekolah.
“Sipp ... Bunda,”
Bunda tersenyum melihat Meli lahap meminum susu coklatnya.
Meli memang jadi rajin minum susu. Ia menganggap susu adalah ramuan ajaib yang disediakan Bunda tiap pagi. Lagi pula Meli merasa bersalah pada Bunda yang selalu membuatkan susu namun tidak diminumnya.
Setibanya di sekolah ...
“Aku punya ramuan ajaib!” ucap Meli pada sahabatnya, Nana.
“Benarkah? Ramuan ajaib bagaimana, Mel?” tanya Nana penasaran.
“Ramuannya bisa membuatku tambah pintar, tambah tinggi, tambah ...” Meli memikirkan kembali apa yang pernah dikatakan Bundanya.
“Tambah apa lagi?” tanya Nana masih dengan wajah penasaran.
“Pokoknya tambah pintar, Nana.”
“Mm ... kata siapa, Mel?”
“Kata Bundaku dong.”
“Ramuan apa?” Nana bertanya lagi.
“Mmm ... rahasia ...” ucap Meli lalu berlari ke luar kelas.
Nana yang penasaran tentu saja mengejarnya.(*)

Penulis merupakan anggota FLP Ranting Unismuh