Jumat, 28 Maret 2014

Ge dan Na: Putus!

 
“Putus?” Ge bertanya dengan mata membulat sempurna.
“Ya ...”
“Bahkan aku tak tahu ada kata jadian,” gumam Ge.
“Hm ...”
“Jadi?”
“Tidak bisa!”
“Kenapa?
“Sulit.”
“Sesulit apa?”
“Entah, itu yang ingin kutahu.”
“Hmm ...”
“Hmmm ...”
“Hmmmm ...”
“Ge!”
“Ya, Na.”
“Kamu tahu sesulit apa?”
“Entah ... bukannya kamu yang ngalamin?”
“Hehehe ... sok tahu.”
“Memang iya, kan?’
“Sok lagi,”
“Biarin.”
“Jadi?”
“Yuk jadian ...”
“Haa?!” Kali ini mulut Ge membulat, hampir sempurna.
“Ya, aku tidak ingin putus denganmu. Tidak ingin sudahi persahabatan kita!”
Na bersemangat. Matanya menala-nyala.
Ge?
Jangan tanya, ia kembali bingung seperti sebelum-sebelumnya.
“Kamu tahu, Ge, putus tak selamanya tentang aku dan dia!”
Aku dan kamu.


Rabu, 26 Maret 2014

Ge dan Na: Yang Kembali

“Sudah lama ya,” suara Na agak serak.
“Iya, lama tak menyapa penggemar kita.” Ge senyum malu-malu.
“Hah? Kita kan bukan artis?”
“Emang hanya artis yang butuh penggemar?”
Na menatap heran.
“Ge ... kamu berubah!”
“Gara-gara artis itu?”
“Bukan!”
“Terus?”
“Kamu makin ...”
”Cantik?”
Geleng.
“Baik?”
Geleng.
“Langsing?”
Geleng.
“Apa dong??”
“Hehehe ... makin rindu!”
Loh?!?
Ge bingung.

Tularkan Hobi Menulis Sejak Dini (Budaya Fajar, Ahad 23 Maret 2014)



Tularkan Hobi Menulis Sejak Dini
Oleh: Nahlatul Azhar

Menjadi penulis sebenarnya bukan perkara sulit. Tinggal niat yang kuat lalu tulis apa yang ingin diunkapkan. Itu jika memang sekedar ingin jadi penulis. Tapi jika ingin menjadi penulis yang dikenal, maka perkara niat dan menulis haruslah ditambahi dengan mempublikasikan tulisan di depan banyak orang.
Di Sulawesi Selatan sendiri sudah bertebaran para penulis dengan jam terbang yang sudah bisa diperhitungkan. Baik menulis untuk koran-koran lokal, maupun koran nasional, tidak jarang pula yang mampu bersaing pada lomba-lomba kepenulisan, dan sudah barang tentu mendapatkan kursi kemenangan.
Organisasi kepenulisan bertebaran di dunia nyata pun maya. Tidak hanya mereka, penulis yang memang aktif di organisasi kepenulisan, bahkan yang hanya berbekal pengalaman pun sudah bisa menembus media. Tidak hanya mereka dengan jiwa-jiwa yang sudah punya segudang ilmu kepenulisan, yang baru memulai pun sudah terlihat sedikit taringnya.
Sedikit masalah yang mungkin akan menjadi serius jika diseriusi adalah, penulis yang memang dikader sejak kecil masih sangat sedikit. Bahkan sangat jarang. Di SULSEL sendiri penulis-penulis cilik sangat jarang terlihat. Bahkan tidak ada. Padahal, menulis sejak dini tentu sangat membantu anak-anak zaman sekarang agar dapat menyalurkan imajinasi yang dimiliki.
Kendala kurang tertarik menjadi alasan. Alasan lain adalah karena memang menulis jarang diperkenalkan secara mendalam kepada anak-anak usia dini. Menulis hanya diperkenalkan saat duduk di bangku sekolahan, itu juga hanya saat pelajaran bahasa indonesia dan sekali lagi sebatas perkenalan cara, tanpa kelanjutan yang lebih mendalam.
Padahal anak-anak tentu punya khayalan yang tak terbatas. Khayalan-khayalan itu dapat disalurkan ke dunia menulis tentu dengan pertimbangan manfaat yang sangat baik. Dari menulis anak-anak akan terlatih merangkai kata, anak yang sulit berpendapat dengan lisan pun bisa menyampaikan pendapatnya dengan menulis, dilain sisi terdapat apresiasi jika tulisan-tulisan anak dapat menembus media, seperti koran atau majalah misalnya.
Saya pribadi termasuk lambat mengenal dunia tulis menulis secara mendalam, dan memang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.  Mengenalnya pun saat duduk di bangku kuliahan, padahal jika menoleh ke belakang, bapak sendiri suka menulis, tante juga sama, sayangnya menulis tidak dianggap penting saat itu. Sehingga saya baru mengenal dunia penuh kata setelah duduk di bangku kuliah.
Saat ini saya mulai menularkan hobi menulis kepada adik-adik saya di kampung, toh menulis tidak butuh bawaan lahir, menulis hanya jika ingin itu masih bersemayam dalam diri. Hanya perlu menyulut kobaran apinya yang sudah ada sejak awal dengan sedikit minyak tanah. Maka hasilnya sedikit demi sedikit akan tampak. Contoh kecilnya yaitu dua adik saya sudah masuk dalam dunia kata. Sebutlah saja Nurul Izza Khaeriah dengan cerpennya dan Sitti Muhajirah dengan pusinya.
Nahlatul Azhar
Tidak hanya sampa di situ, mengenalkan dunia menulis di sekolah tempat pelaksanaan P2K (pemantapan profesi keguruan) mulai saya jalani. Awalnya mengenalkan puisi adik yang dimuat koran fajar, lalu cerpen anak yang juga dimuat Koran Harian Fajar, dan membacakannya di depan mereka. Tidak banyak yang tertarik memang, terlebih murid laki-laki. Tapi ada beberapa murid yang menaruh minat sangat besar. Terbukti keesokan harinya, ada dari mereka yang menunjukkan sebuah karya berupa cerita.
Maka makin yakinlah saya, menularkan hobi menulis sejak dini itu perlu bahkan penting. Hingga cerita-cerita anak tidak hanya ditulis oleh orang-orang dewasa, namun dapat pula ditulis oleh anak itu sendiri. Anak-anak pun akan semakin kreatif karenanya, mentalnya juga akan terus terlatih.
Jika dunia menulis kelak sudah melekat dalam hati anak-anak sejak dini, hanya menunggu waktu SULSEL akan melahirkan penulis-penulis cilik yang patut diperhitungkan. Semoga.*.


Sabtu, 22 Maret 2014

Sang Bidadari (KeKeR, Sabtu 22 Maret 2014)



Sang Bidadari
Oleh: Nahlatul Azhar
http://ayuufeatayuu.wordpress.com/
Aku duduk di teras masjid kampus. Bukan mau ngaji melainkan nongkrong bareng teman-temanku. Biasa anak muda yang selalu menikmati hidup. Pasalnya dosen yang harusnya ngasih kuliah hari ini tidak datang. Ngga jelas deh alasannya apa. Yang pasti kata Dion si ketua kelas, hp dosen tersebut tidak aktif.
“Demo kemarin katanya rusuh ya?” Zein memulai perbincangan kami.
“Iya, sampai mahasiswa dan warga adu mulut,” aku menimpali, “padahal kan yang bermasalah polisi sama kita-kita, ngapain juga warga yang ngamuk!” lanjutku. Jelas saja dari suaraku agak terdengar bete.
“Yan, jelaslah warga ngamuk. Jalan raya ditutup gitu,” ucap Rehan yang lumayan alim diantara kami.
“Tetap saja mereka harusnya paham, kita itu membela yang lemah. Berontak karena teman kita mati ditembakin polisi!” suaraku makin meninggi.
“Tapi kalau dipikir-pikir tidak akan ada akibat kan tanpa adanya sebab terlebih dahulu,” ucap Rehan dengan tenang. Tangannya mengusap belakangku.
Iya sih. Rehan ada benarnya. Tapi tetap saja aku tidak setuju dengan sikap polisi yang
semaunya. Walaupun aku tidak suka ikut demo tapi kalau sudah ada korban begini aku pun ikutan panas.
Suara kami masih saling menyahut. Menimpali. Diam sejenak lalu membahas yang lain. Tentu aku juga nimbrung. Kalau sudah ngumpul kayak gini tidak jarang kami lupa waktu. Untungnya di teras mesjid jadi suara azan langsung ngagetin. Si Rehan juga bakalan maksa kami buat shalat berjamaah.
Masih dalam diskusi yang tak jelas. Kubuang pandanganku sejenak ke arah jalan menuju mesjid ini. Awalnya aku tidak peduli siapa yang lewat. Tapi ...
Sejak kapan ada bidadari nongol di kampus? Tanpa sayap pula. Tidak ada bundaran di atas kepalanya. Rambut? Ngga ada sehelai pun yang tampak. Yang ada justru kain yang menutupi kepalanya. Ngga cuman kepala sampai dada pula. Jilbab merah muda. Warna bawahan yang dikenakan pun senanda dengan jilbabnya. Cuman bajunya yang berwarna putih memperkuat kesan bedadari padanya.
http://hamdandesign.net/ikhwan/
Tunggu! Bidadari? Belum juga dua menit aku melihatnya, dan sekarang bidadari sudah aku semaikan padanya?
“Riyan!!!”
“Ya?” aku menoleh pada kedua sahabatku. Sumpah aku kaget banget.
“Lihat apa sih?” Zein mengikuti pandanganku.
“Ngga ada apa-apa, jadi sampai di mana tadi?”
“Sampai apanya, kamu ditanyain malah ngga jawab-jawab. Taunya ...” Zein tersenyum padaku. Sahabtku yang paling jail ini pasti akan memulai aksinya lagi.
Allahuakbar ... Allahuabar ...
Untunglah azan menyelamatkanku. Aku berjanji tanpa disuruh Rehan, aku akan shalat berjamaah kali ini. Kutinggalkan kedua sahabatku.
“Riyan, Mau kemana? Shalat dulu!” Rehan berteiak memanggilku.
Ups... salah jalan.
***
Sebulan berlalu sejak peristiwa di teras masjid kampus.
“Jadi gara-gara si Rahma?” Rehan mengagetkanku.
“Maksudmu?” aku pura-pura saja.
“Yan, dia itu ngga bakalan mau kamu pacarin. Yang begituan tidak ada dalam kamusnya.”
“Jelas! Yang ada di kamus tuh bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan satu lagi bahasa arab,” candaku.
“Dengar Yan, Rahma itu maunya langsung nikah. Ngga pake pacaran. Terus dia tidak suka cowok yang ngga rapi, ngga ngaji, apa lagi ngga shalat.”
“Tunggu! Kok kamu tahu banget sih?” tanyaku curiga.
Jangan-jangan Rehan juga tertarik sama Rahma. Jangan-jangan dia malah sudah mata-matain Rahma. Jangan-jangan ...
“Sebenarnya dia itu ... dia itu adik ibuku.”
“Hah?!” lama aku menganga tidak percaya, “Jadi kalau aku nikah sama dia, aku jadi paman alias om kamu dong?” tanyaku dengan nada tak percaya.
Walhasil Rehan menatapku dengan wajah bingung.(*)
Minggu ke tiga