Senin, 20 Januari 2014

Kisahku Bersamamu, Ibu

Ibu…
Aku membencimu! Membenci caramu membela adik-adikku. Membenci caramu menasehatku, terlebih jika sedikit bernada tinggi juga memaksa. Aku benci. Sangat!
Sebagai anak pertama, seorang kakak, aku merasa diasingkan, Bu. Ibu lebih menyayangi adik-adikku. Membela mereka setiap kami berkelahi. Memberi adikku lebih banyak jatah makanan. Membelikan mereka banyak mainan. Memeluk mereka lebih sering dariku. Apa ibu lupa punya anak yang lain? Atau … apakah dugaanku benar sebagai anak pungut?
Ingat kan Bu, saat aku dengan penuh amarah membanting pintu kamar. Melemparkan tubuh ke atas kasur tua yang sewaktu-waktu bisa roboh. Lalu menarik paksa selimut di ujung kasur, bersembunyi dibaliknya sambil tiduran. Aku menangis, meraung, mengambil bantal, memukulnya. Menangis tertahan, sembari menyumpahi dan memaki dirimu. Kataku pula, “Aku bukan anak ibu! Aku bukan anak ibu!” berulang kali kuucap kata itu. Sampai lelah menelusup perlahan pada dua bola mataku yang terus menangis. Pada mulutku yang enggan mencerca lagi. Perlahan aku terlelap dalam marah. Sepi kemudian. Kala itu apa yang ibu lakukan di luar kamar?
Ibu …
Aku masih membencimu. Kala aku dipukuli bapak karena kesalahan-kesalahanku. Dan pada saat bersamaan ibu tidak menampakkan diri. Pun ada, ibu hanya memandangiku tanpa suara. Diam seribu bahasa. Bu … saat itu aku sungguh berharap dirimu membelaku. Menarikku dalam dekapanmu, dan meminta bapak menghentikan aksinya. Tapi Bu, harapku tinggal harap saja. Ibu mungkin telah diminta bapak untuk tidak peduli. Atau ibu memang tidak peduli? Saat itu ibu hanya menirukan kata-kata bapak, “Setan yang ada padamu lah yang di pukuli, yang diusir.”. Aku tidak mengerti maksud ibu. Yang kupahami, ibu membiarkanku begitu saja.
Bu … masih dengan kebencianku, saat dengan tatapan tidak peduli ibu hanya melihatku dihukum bapak. Disuruh berdiri di atas kasur dengan kaki kiri diangkat sedang dua tanganku memegangi telinga. Tepatnya menarik telingaku sendiri. Walau bukan tanpa alasan ayah melakukannya, karena saat itu aku dengan kepolosanku membuat seorang santri mengaji bapak menangis. Sebatang lidi kuarahkan ke mata santri tersebut, kena! Lalu … aku kena hukuman.
Aku berharap saat itu ibu meminta bapak menghentikan hukumanku. Apa ibu tidak kasihan melihatku berdiri sekian waktu? Ibu tetap tidak peduli? Ah ibu … dirimu sungguh tega. Bu, itu hanya beberapa alasan benciku. Sering kali ibu tidak membelaku saat mendapat hukuman dari bapak.
Dan tak cuman sekali itu kulampiaskan marah pada pintu, kasur, selimut, dan bantal karena sikap tak peduli ibu. Berkali-kali bahkan sampai aku tak tahu berapa jumlahnya. Yang teringat olehku adalah bahwa saat itu aku masih anak-anak yang tak tahu maksud sikap ibu. Tidak paham mengapa diperlakukan begitu. Mengapa ibu diam saja saat aku dihukum bapak. Yang kupikirkan saat itu, ibu tidak menyayangiku.
Bu … aku lupa jika enam tahun sebelumnya aku seorang diri dipeluk olehmu karena belum pnya adik. Ya, enam tahun kemudian aku baru memiliki adik laki-laki, dua tahun setelahnya adik perempuan lahir pula, dua tahun lainnya adik perempuan lahir lagi. Selama rentang waktu enam tahun aku seoran diri menerima curahan kasih darimu. Ditimang, disuapi, bahkan dipeluk tiap petang dijemput malam. Aku lupa hal itu ibu. Padahal … akulah yang paling banyak menikmati pelukan darimu. Ah ibu … tahu apa anak-anak tentang kasih sayang. Tahu apa aku saat itu, Ibu?
Ibu … maafkan diriku yang tak tahu. Maaf …
Justru, berkali-kali kubuat dirimu menangis. Engkau yang lembut hatinya kubuat melelehkan butiran air pada kedua pipimu. Ibu … aku tidak pernah lupa kala itu. Saat dimana ibu menyuruhku mencuci piring. Sekali, dua kali, tiga kali, berkali kali. Sampai akhirnya ibu enggan meminta lagi karena aku selalu mengatakan ‘sebentar’, ‘nanti, ‘tunggu dulu’. Berapa saat kemudian kudengar isak tangis dari dalam kamar. Aku kecil kaget bukan main. Saat kuhampiri ibu dengan berlinang air mata mengatakan, “Apa susahnya Nak cuci piring dulu? Nanti setelah itu kamu bisa main lagi,” serak suara ibu menjelaskan padaku. Aku jadi takut, Bu. Aku takut mendapat siksa neraka karena tangismu. Pun masih anak-anak, tapi ibu dan bapak selalu menekankan untuk tidak durhaka.
“Bu, jangan menangis lagi. Iya, aku pergi cici piring sekarang, tapi jangan menangis lagi,” janjiku. Ibu mengangguk. Dengan langkah cepat kuhampiri tumpukan piring kotor yang menyebabkan air matamu tumpah. Pikirku saat itu piring-piring itulah penyebabnya. Saat itu, aku berjanji tak membuatmu menangis lagi. Tapi … ternyata aku mengulanginya lagi.
Saat itu untuk kedua kalinya kubuat ibu menangis. Padahal aku sudah duduk di kelas di bangku es-em-a. Ibu yang saat itu pergi ke pasar kuminta membelikanku sepatu. Kata ibu aku pergi saja, biar bisa memilih sendiri. Tapi karena malas, aku minta ibu saja yang memilihkan. Dan saat ibu pulang dengan semangat kusambut kedatangan ibu, mencari sepatu pesananku.
“Kenapa begini? Ibu sepatunya kenap kekecilan? Terlalu sempit,” aku mulai berkomentar. Aku kecewa.
“Makanya ibu tadi mengajakmu pergi memilihnya sendiri kan?” suara ibu terdengar parau.
“Tapi kan besok aku harus kembali ke pondokan,” tanpa sadar suaraku meninggi.
Aku tidak memikirkan perasaan ibu. Tak kupikirkan ibu lelah saat itu. Bu, aku memang egois, pemarah, tidak tahu terimakasih. Dan lagi kubuat ibu menitikkan air mata. Lagi! Janji tinggal janji.
Tahu ibu tengah menangis di kamar, aku segera menghampiri. Kukunci kamar ibu dari dalam. Takut adik-adikku tahu kelakuanku yang membuat ibu kami menangis. Wajah ibu sembab, di sana jelas terukir gurat kelelahan.
“Bu, maaf …” kuraih tangan ibu. Ah, aku selalu menyusahkan ibu. Membuat ibu menangis dan menangis. Tapi ibu selalu memelukku setelahnya. Pintu maaf ibu selalu terbuka. Tahukah ibu, aku benar-benar mencintaimu, takut kehilanganmu, sebab bagaimanalah aku tanpa sentuah hangatmu?
Aku memang membenci ibu. Tapi aku bersumpah itu dulu. Itu saat yang kutahu hanya bermain dan bermain. Bu, sungguh, itu hanya saat aku masih anak-anak. Dan lagi … benciku tak selama aku menuliskan surat ini. Benciku hanya sebentar. Karena sebentar saja membencimu adalah sikasaan bagi hati kecilku. Pun masih anak-anak saat itu, tapi Bu, aku tidak bisa benar-benar membencimu. Sebab benci akan menguap begitu saja, bersama hangatnya pelukan ibu.
Lagi pula, bagaimana bisa benciku bertahan lama, sedang akulah yang pertama kali mengisi rahim ibu. Akulah yang pertama kali membuat ibu kesakitan. Seperti percakapnku dengan ibu baru-baru ini, ingatkah Bu?
“Kalau anak pertama mau lahir memang kayak gitu, sakit dikit saja sudah blingsatan.”
“Jadi pas saya lahir gimana, Bu?”
“Kamu yang paling susah, Nak. Bayangin saja, ibu ngerasa sakit mulai hari jum’at tapi kamu lahirnya hari senin.”
“Wah, lama banget dong sakitnya. Maaf ya, Bu.”
“Loh, kenapa? Itu hal wajar, Nak. Ibu cerita juga biar kamu tahu saja.”
“Tetap saja … maaf Ibu.”
Saat itu bagaimana cara ibu menahan sakit? Aku ingin belajar darimu ibu, belajar tentang hidup. Belajar menahan sakit. Dan semua itu bukan lagi tentang benci, Bu.
Bu, berapa lama pacaran sama bapak?” tanyaku penasaran. Sangat.
“Mmm … agak lupa, Sayang.” Mencoba mengingat.
“Ayolah Bu, cerita. Ya, ya …” aku sedikit memaksa. Tentu saja, aku sudah lama ingin menanyakan hal itu.
“Hampir dua tahun kalau tidak salah,” akhirnya memperoleh jawaban juga.
“Wah … lama juga.” Ibu … bagaimana mempertahankan cintamu pada bapak? Salahkah jika kini aku ingin tahu dan belajar tentang cintamu. Pada keluargamu tentu saja. Pada bapak dan lima orang buah hatimu. Dan lagi Bu, semua itu bukan lagi tentang benciku. Tapi cinta ibu. Cinta yang ingin kupelajari.
Jadi Ibu, maaf untuk rasa benciku dulu juga terimakasih telah melahirkanku, Ibu.
***
Bu …
Cara menyampaikan rasaku yang kadang sulit terucap secara langsung padamu adalah dengan ini. Tutur tak langsung dari mulutku. Namun jujur dari hatiku. Ibu …aku dilanda rindu saat ini. Padamu.
Lalu Benci?
dan tanyalah hatimu baik-baik
pernahkah benar-benar beci?

jika dia ibumu
wanita yang melahirkanmu
yang menjadikanmu ada lewat sentuhan cinta
maka benci tak akan pernah kau sandang lama
tidak!
karena sejatinya
kau, aku, kita sama saja
tak bisa membenci wanita itu
wanita bernama ibu
sebab dia pemilik cinta sejati
Bu, terlalu mudah bagiiku menggambarkan berapa besarnya yang kupunya untukmu. Tapi … aku tak akan pernah bisa menghitung berapa besarnya cinta yang kuperoleh darimu. Pun begitu, aku akan tetap mengatakan bahwa, aku benar-benar mencintai ibu. Sungguh.
Persembahanku untuk saat ini bukanlah apa-apa, sebab aku belum menjadi apa-apa, hanya perangkai kata bisu, tapi Bu, ini dari hatiku …

Wanita Cinta

Bilik kecil jadi saksi kesakitannya kala itu
jerit tertahan membelah malam kelam
menembus langit satu hingga tujuh
menyisaakan bilur-bilur yang enggan melepas dirinya
juga senyum manis dalam harap, tuhan lindungi hidup anakku!
ia kalah dalam lelah, menang di atas surga sana
adalah dia luka yang bersembunyi dari bayinya
berusaha menjawab teka teki hidup separuh hatinya itu
akan jalan baru nyawa dari rahimnya
bertanya tiapa waktu, tuhan jalan apa yang dia lalui nanti?
sebab dia awal kehidupan
sebab itu pula dia cinta pertama bayi yang dikandungnya
karena dia ibu
tak mengumbar cinta namun mengukir cinta


menulisnya pada darah bayinya
tak perlu ia ucap lagi
sang bayi tahu, wanita itu bernama cinta
 
*Untuk ibu: Sebab aku mencintaimu.

Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional untuk Mahasiswa

Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional untuk Mahasiswa

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) OBSESI menyelenggarakan Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional untuk mahasiswa DIPLOMA dan S1 se-Indonesia. Lomba ini merupakan rangkaian acara yang diadakan oleh LPM OBSESI dengan tema “PEREMPUAN DAN KESUCIAN”


Adapun syaratnya sebagai berikut:
1. Tema cerpen yaitu “Perempuan Dan Kesucian”
2. Cerpen wajib karya asli dari si penulis, bukan karya terjemahan atau jiplakan dan belum pernah dikirim untuk dipublikasikan kepada media massa atau suatu perlombaan
3. Panjang cerpen 5-10 halaman kuarto, huruf times new roman, size 12, dan spasi ganda
4. Pengiriman karya disertai dengan biodata penulis + file foto close up dan scan KTM mahasiswa diploma dan Strata 1 (SI)
5. Setiap cerpenis boleh mengirimkan lebih dari satu karya
6. Jika cerpen menggunakan kutipan, maka gunakanlah “End Note”
7. Karya dikirimkan melalui email obsesipress@gmail.com (dalam bentuk dock.)
8. Pengiriman naskah cerpen diterima mulai 17 Januari 2014 dan paling akhir pada 4 April 2014 pukul 00.00 WIB
9. Penganugerahan juara akan diselenggarakan pada 2 Mei 2014 sekaligus launching buku. Dari lomba ini akan dipilih 30 nominator dan 3 pemenang, yang kemudian akan diterbitkan menjadi sebuah antologi cerpen oleh Penerbit OBSESI Press.
Para Nominator dan Pemenang akan mendapatkan imbalan:
1. Juara ke-1 mendapatkan trophy dan sertifikat pemenang, uang tunai Rp 1.750.000, dan 3 eksemplar buku cerpen hasil lomba;
2. Juara ke-2 mendapatkan trophy dan sertifikat pemenang, uang tunai Rp 1.500.000, dan 3 eksemplar buku cerpen hasil lomba;
3. Juara ke-3 mendapatkan trophy dan sertifikat pemenang, uang tunai Rp 1.250.000, dan 3 eksemplar buku cerpen hasil lomba.
Juri Lomba Cipta Cerpen:
1. Drs Joni Ariadinata ( Redaktur Ahli Majalah Sastra Horison/ Cerpenis)
2. Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. (Dosen Ilmu Sastra/Sastrawan)
3. Arif Hidayat, S.Pd., M.Hum. (Dosen Ilmu Sastra/Sastrawan )
Contact Person:
Septi : 085747116373
Rofik : 085655664537
Baity : 085726168571

sumber: https://negerigunturalam.wordpress.com/2014/01/18/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-untuk-mahasiswa/

Lomba Menulis Cerita Pendek Hutan & Lingkungan

Berhadiah Total Rp 50 Juta + Perhutani Green Pen Award.

Lomba Menulis Cerita Pendek Hutan & Lingkungan

PERHUTANI GREEN PEN AWARD

Berhadiah
Uang Tunai, Piagam dan Buku Menulia Sastra Hijau Bersama Perhutani

Peserta Kategori A (Pelajar SLTP dan SLTA)
Peserta Kategori B (Mahasiswa, Guru, Dosen, Penulis/Pengarang dan Umum)


Syarat-Syarat Lomba:
1. Peserta lomba adalah: Warga Negara Indonesia, Pelajar SLTP dan SLTA (Kategori A) dan Mahasiswa, Guru, Dosen, Penulis/Pengarang dan Umum (Kategori , di di Tanah Air maupun yang bermukim di luar negeri
2. Lomba dibuka 22 November 2013 dan ditutup 22 Februari 2014 (Stempel Pos/Jasa Kurir)
3. Judul bebas, tema cerita: Kehidupan manusia dan makluk hidup lainnya (binatang dan tumbuhan) dengan berbagai aspeknya terkait dengan hutan dan lingkungan hidup yang melingkupi eksistensi bumi
4. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang benar, indah (literer) dan komunikatif. Boleh menggunakan jargon bahasa daerah, bahasa asing dan bahasa gaul untuk segmen dialog para tokoh cerita
5. Naskah yang dilombakan karya asli (bukan jiplakan, terjemahan atau saduran) dan belum pernah dipublikasi
6. Panjang naskah 5 – 10 halaman A4, ditik 1,5 spasi dengan huruf Times New Roman ukuran 12 font, margin standar.
7. Naskah diprint sebanyak 2 (dua) rangkap, file dimasukkan dalam CD dilampiri Biodata dan Identitas (Kategori A melampirkan fotocopy Kartu Pelajar/Surat Keterangan dari Sekolah; Kategori B melampirkan Kartu Mahasiswa/KTP bagi Mahasiswa, Guru, Dosen dan Umum melampirkan Fotocopy KTP). Cantumkan alamat, Telepon/HP dan E-mail yang mudah dikontak.
8. Peserta wajib melampirkan tulisan singkat tentang salah satu kegiatan Perum Perhutani. Tulisan ditik rapi sebanyak 70 – 100 kata, diperbolehkan menambahkan foto apabila ada. Sumber informasi mengenai Perum Perhutani dapat diaskes di Situs Remi: www.perumperhutani.com atau dari internet, surat kabar, majalah dll dengan menyebut sumbernya
9. Peserta mengirimkan karya i 1 (satu) judul, maksimal 2 (dua) judul, dikirimkan ke Panitia Lomba Menulis Cerpen Hutan dan Lingkungan (LMCHL) Perum Perhutani – Jl. Gedung Hijau I No.17 Pondok Indah, Jakarta Selatan 12450
10. Naskah yang dilombakan menjadi milik penyelenggara, hakcipta pada pengarang
11. Pemenang diumumkan 22 Maret 2014 melalui Situs: www.perumperhutani.com, www.rayakultura.net dan Grup-Grup Penulis di Jejaring Sosial
12. Hadiah Bagi Pemenang Kategori A
- Pemenang 1: Perhutani Green Pen Award + Uang Tunai Rp 4.000.000,-
- Pemenang 2: Piagam Perhutani Green Pen + Uang Tunai Rp 2.000.000,-
- Pemenang 3: Piagam Perhutani Green Pen + Uang Tunai Rp 1.000.000,-
- 3 (Tiga) Pemenang Karya Unggulan, masing-masing mendapat hadiah Piagam Perhutani Green Pen + Uang Tunai Rp 750.000,-
- 50 (Lima Puluh) Pemenang Harapan mendapat Piagam Perhutani Green Pen Award
13. Hadiah Bagi Pemenang Kategori B
- Pemenang 1: Perhutani Green Pen Award + Uang Tunai Rp 5.000.000,-
- Pemenang 2: Piagam Perhutani Green Pen + Uang Tunai Rp 3.000.000,-
- Pemenang 3: Piagam Perhutani Green Pen + Uang Tunai Rp 2.000.000,-
- 3 (Tiga) Pemenang Karya Unggulan, masing-masing mendapat hadiah Piagam Perhutani Green Pen + Uang Tunai Rp 1.000.000,-
- 50 (Lima Puluh) Pemenang Harapan mendapat Piagam Perhutani Green Pen Award

Catatan:
1. Seluruh Pemenang mendapat Buku Seni Menulis Sastra Hijau
2. Informasi Perhutani Green Pen Award dapat diakses di www.perumperhutani.com dan www.rayakultura.net
3. Bagi yang ingin mendalami Sastra Hijau dapat mengakses Artikel-artikel Penulisan Sastra Hijau di Situs: www.rayakultura.net

Jakarta, 22 November 2013
Naning Pranoto – Koordinator Lomba

 SUMBER: http://www.rayakultura.net/lomba-menulis-cerpen-genre-sastra-hijau/

Contoh-contoh Simulasi Kreatif

Pemanis boooo' :P
Contoh-contoh  Simulasi Kreatif
1.      Metode Role Playing
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing:
ü  Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.
ü  Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
ü  Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
ü  Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
ü  Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

2.      Metode Demonstrasi
Demonstrasi adalah metode yang digunakan pada pengajaran manipulatif dan keterampilan, pengembangan pengertian, untuk menunjukkan bagaimana melakukan praktik-praktik baru dan memperbaiki cara melakukan sesuatu.
Menurut Nursidik (2002) Jenis metode demonstrasi sebagai berikut:
Ø  Metode Demonstrasi Cara:
Demonstrasi cara menunjukkan bagaimana melakukan sesuatu. Hal ini termasuk bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan yang sedang dikerjakan, memperlihatkan apa yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya, serta menjelaskan setiap langkah pengerjaannya. Biasanya dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat dan tidak memerlukan banyak biaya.
Ø  Metode Demonstrasi Hasil:
Demonstrasi hasil dimaksudkan untuk menunjukan hasil dari beberapa praktik dengan menggunakan bukti-bukti yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan.
  • Kelebihan
  1. Demonstrasi menarik dan menahan perhatian
  2. Demonstrasi menghadirkan subjek dengan cara mudah dipahami
  3. Demonstrasi menyajikan hal-hal yang meragukan apakah dapat atau tidak dapat dikerjakan.
  4. Metode demonstrasi adalah objektif dan nyata.
  5. Metode demonstrasi menunjukkan pelaksanaan ilmu pengetahuan dengan contoh.
  6. Demonstrasi mempercepat penyerapan langsung dari sumbernya.
  7. Dapat membantu mengembangkan kepemimpinan lokal
  8. Dapat memberikan bukti bagi praktik yang dianjurkan.
  9. Melihat sebelum melakukan. Manfaat bagi siswa dengan melihat sesuatu yang dilakukan sebelum mereka harus melakukannya sendiri.

  • Kelemahan
  1. Demonstrasi yang baik tidak mudah dilaksanakan. Keterampilan yang memadai diperlukan untuk melaksanakan demonstrasi yang baik.
  2. Metode demonstrasi terbatas hanya untuk jenis pengajaran tertentu.
  3. Demonstrasi hasil memerlukan waktu yang banyak dan agak mahal.
  4. Memerlukan banyak persiapan awal.
  5. Dapat dipengaruhi oleh cuaca.
  6. Dapat mengurangi kepercayaan jika tidak berhasil
  7. Tidak mengalami langsung. Sebuah demonstrasi bukan merupakan pengalaman langsung bagi siswa kecuali mereka mengikuti dari awal, sebagai guru adalah menunjukkan langkah atau keterampilan.
  • Aplikasi dalam Pembelajaran
Sebagai seorang guru sebaiknya menggunakan teknologi dan media untuk membantu demonstrasi di kelas. Misalnya, menyiapkan video dari demonstrasi di depan kelas, menunjukkan ke seluruh kelas dan berbicara dengan siswa tentang apa yang mereka lihat. Hal ini berguna untuk melakukan demonstrasi sehingga guru tidak perlu melakukan demonstrasi dan panduan pengamatan mereka pada waktu yang sama.
 Hal ini sangat efektif dengan prosedur yang kompleks. Juga, guru dapat menggunakan objek aktual untuk demonstrasi; hanya memastikan bahwa setiap orang akan memiliki pandangan yang benar mengenai apa yang ditayangkan.
Demonstrasi dapat digunakan pada seluruh kelas, kelompok kecil, atau individu yang membutuhkan sedikit tambahan penjelasan tentang bagaimana melakukan suatu tugas.
Siswa dapat memberikan demonstrasi kepada kelas mereka pada keterampilan atau prosedur baru yang telah mereka pelajari. Sebagai contoh, seorang siswa yang sudah tahu cara untuk memindahkan foto dari kamera digital ke komputer dapat meminta untuk menunjukkan teman-temannya atau kepada seluruh kelas. Menggunakan peralatan yang tersedia dalam laboratorium kimia antarsiswa dapat menampilkan kepada seluruh kelas mengenai prosedur tertentu yang mereka gunakan dalam menyelesaikan tugas.
Demonstrasi dalam kerucut Dale berada pada urutan ke-4 setelah dramatisasi, pengalaman buatan, dan pengalaman langsung. Metode ini memberikan porsi waktu 70% milik pengajar/ guru dan 30% milik siswa.
3.      Metode Resitasi
Biasanya metode ini digabung dengan metode “Pemberian Tugas Belajar”, setelah anak mengerjakan tugas-tugasnya, kemudian melaporkan hasil kerjanya untuk dievaluasi oleh guru, sebelum mengerjakan tugas-tugas yang berikut.
Macamnya       : a. Laporan lisan
                          b. laporan tertulis.
  • Kelebihan metode resitasi :
  1. Pengetahuan yang anak didik peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.
  2. Anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri.
  • Kelemahan metode resitasi :
  1. Terkadang anak didik melakukan penipuan dimana anak didik hanya meniru hasil pekerjaan temennya tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri.
  2. Terkadang tugas dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.
  3. Sukar memberikan tugas yang memenuhi perbedaan individual.


4.      Metode Eksperimen (Percobaan)
Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Metode eksperimen merupakan suatu metode mengajar yang menggunakan alat dan tempat tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali.Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah.
Sama halnya dengan metode-metode lainnya, metode ini juga memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing.
  • Kelebihan
  1. Metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku.
  2. Memotivasi peserta didik untuk mengeksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi.
  3. Dapat membina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan.
  • Kelemahan
  1. Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan mengadakan ekperimen.
  2. Memerlukan jangka waktu yang lama.
  3. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu sains dan teknologi.
  4. Aplikasi dalam Pembelajaran

Prosedur eksperimen menurut Roestiyah (2001:81) dalam kutipan blog Martiningsih (2007) adalah :
  1. Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksprimen,mereka harus memahami masalah yang akan dibuktikan melalui eksprimen.
  2. Memberi penjelasan kepada siswa tentang alat-alat serta bahan-bahan yang akan dipergunakan dalam eksperimen, hal-hal yang harus dikontrol dengan ketat, urutan eksperimen, hal-hal yang perlu dicatat.
  3. Selama eksperimen berlangsung guru harus mengawasi pekerjaan siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen.
  4. Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, mendiskusikan di kelas, dan mengevaluasi dengan tes atau tanya jawab.
  5. Dalam metode eksperimen, guru dapat mengembangkan keterlibatan fisik dan mental, serta emosional siswa. Siswa mendapat kesempatan untuk melatih ketrampilan proses agar memperoleh hasil belajar yang maksimal. Pengalaman yang dialami secara langsung dapat tertanam dalam ingatannya. Keterlibatan fisik dan mental serta emosional siswa diharapkan dapat diperkenalkan pada suatu cara atau kondisi pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan juga perilaku yang inovatif dan kreatif.
5.      Teileren
Teileren Method yaitu suatu metode mengajar dengan menggunakan sebagian-sebagian, misalnya ayat per ayat kemudian disambung lagi dengan ayat lainnya yang tentusaja berkaitan dengan masalahnya
6.      Global (Ganze Model)
Metode Global yaitu suatu metode mengajar dimana siswa disuruh membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang dapat mereka serap atau ambil intisaridari materi tersebut.
7.      Peer Teaching Method
Peer Teaching Method adalah suatu sistem mengajar yang dilakukan oleh dua orang guru atau lebih, mengajar sejumlah anak yang mempunyai perbedaan-perbedaan baik minat, kemampuan maupun tingkat kelasnya.
Ciri-ciri Peer Teaching Method yang baik:
  1. Tiap anggota tim mempunyai pengertian dan pandangan yang searah tentang pengajaran yang akan dilakukannya.
  2. Cukup fasilitas yang diperlukan (ruangan, alat pelajaran) untuk kelompok-kelompok peserta didik.
  3. Masing-masing anggota tim mengambil bagian sesuai dengan minat dan kecakapannya dalam rangka keseluruhan pendidikan.
  4. Waktu tim bekerja diatur sebaik-baiknya sehingga tiap anggota mempunyai waktu yang cukup dan memungkinkan untuk mengadakan pertemuan-pertemuan diantara tim.
  5. Dapat mengelompokan peserta didik menurut minat kemampuannya masing-masing. Pengelompokan peserta didik hendaknya tidak terlalu besar, berkisar antara tiga atau lima orang.
  6. Tugas-tugas yang haris diselesaikan peserta didik janganlah terlalu sukar, etapi harus menarik dan mendorong peserta didik belajar dan menyelesaikannya.
  • Jenis-jenis team teaching:
  1. Team Teaching yang didasarkan atas mata pelajaran untuk kelas-kelas yang pararel. Misalnya pengajaran bahasa indonesia yang diberikan oleh dua orang guru untuk kelas IIIA dan IIIB. Guru yang seorang memberikan tata bahasa dan mengarang sedangkan guru yang lainnya mengajarkan kesusastraan dan puisi.
  2. Team Teaching yang mendasarkan atas mata pelajaran untuk kelas yang berbeda tingkatannya. Misalnya Bahasa Indonesia untuk kelas I dan II atau kelas III dan IV. Guru membuat tugas yang memungkinkan dapat dipilih peserta didik sesuai dengan kemampuan dan kecepatan peserta didik.
  3. Team Teaching yang didasarkan atas masalah-masalah yang dihadapi peserta didik, misalnya “menjernihkan air”. Prinsipnya sama saja dengan pengajaran unit. Pelaksanaannya dilakukan oleh bebrapa guru atas tanggung jawab bersama.
  4. Team tanpa kelas. Pada sekolah tanpa kelas terdapat ruang-ruang kerja seperti, ruang IPA, Bahasa, Sosial Studi, Musik, Olahraga, Kerajinan tangan, dan lain-lain. Pada tiap-tiap runag itu terdapat tugas-tugas yang harus diiselesaikan menurut minat dan kemampuan peserta didik masing-masing. Peserta didik mempunyai daftar tugas masing-masing yang harus diselesaikan pada waktu tertentu. Anak lulus atau tamat sekolah bila ia telah menyelesaikan tugas dengan baik.
  • Kelebihan Team Teaching
  1. Persiapan dan perencanaan mengajar lebih lengkap bila dikerjakan oleh team yang kompak dan penuh tanggung jawab.
  2. Bila salah seorang guru tidak dapat mengajar tidak perlu ada pembebasan kelas. Guru yang lainnya dapat melanjutkan pelajaran menurut rencana yang ditetapkan bersama.
  3. Guru-guru saling membantu bila diantara mereka (anggota) ada yang kurang memahami salah satu mata pelajaran.
  4. Anak-anak memperoleh sumber dan bahan pelajaran dari beberapa orang yang berbeda kecakapannya.
  5. Anak memilih dan melakukan tugas sesuai dengan minat dan kecakapan belejar masing-masing.
  6.  Team teaching memberi kesempatan terhadap ornag-orang yang mempunyai kecakapan khusus yang tidak mempunyai profesi guru, tetapi mau membantu guru mengajar.
  • Kekurangan Team Teaching
  1. Sukar membentuk suatu team yang kompak. Kadang-kadang dominasi kecakapan masing-masing guru sukar dihilangkan.
  2. Menciptakan dan mengatur organisasi kelas yang fleksibel yang memerlukan pemikiran yang cukup berat.
  3. Pimpinan kelompok yang kurang kuat, tidak dapat mengkoordinir usaha-usaha bersama. Team mudah kembali kepada kerja individual sehingga tanggung jawawb kelompok teabaikan.
  4. Kadang-kadang guru yang tidak mendapat giliran tugas mengajar tidak mengunakan waktunya untuk membuat persiapan dan perencanaan yang baik tetapi memandangnya sebagai waktu istirahat.
  5. Team dapat merugikan peserta didik bila didasarkan atas pertimbangan ekonomis, misalnya menggabungkan peserta didik/kelas supaya sedikit waktu giliran mengajar.
8.      Inquiry (Menemukan)
Pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristik, yang berasal dari bahasa Yunani yaitu heuriskein yang berarti “saya menemukan”. Strategi pembelajaran inquiry merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian karena dalam strategi ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran.
  • Kelebihan metode inquiry:
  1. Strategi pembelajaran inquiry merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
  2. Dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. 
  3. Strategi pembelajaran inquiry merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
  4. Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar baik tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
  • Kelemahan metode inquiry:
  1. Jika strategi pembelajaran inquiry sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit terkontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
  2. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran karena terbentuk dengan kebiasaan siswa dalam beljar. 
  3. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan. 
9.     Picture and Picture
Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
·         Langkah-langkah:
1.      Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.      Menyajikan materi sebagai pengantar.
3.      Guru menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
4.      Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5.      Guru menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6.      Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7.      Kesimpulan / rangkuman.

·         Kebaikan:
1.      Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2.      Melatih berpikir logis dan sistematis.
3.      Kekurangan:Memakan banyak waktu. Banyak siswa yang pasif.

Kesimpulan: Dalam mencapai tujuan pembelajaran, seorang guru dituntut untuk memiliki kemampuan serta kreativitas dalam mengajar. Dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat maka diharapkan tujuan tersebut dapat tercapai. Dalam menerapkan berbagai macam metode pembelajaran, terdapat beberapa prinsip yang dapat menjadi pertimbangan guru dalam memilih metode mana yang lebih tepat, diantaranya:
  1. sifat dari pelajaran
  2. Alat-alat yang tersedia
  3. Besar atau kecilnya kelas
  4. Tenpat dan lingkungan
  5. Kesanggupan guru
  6. Banyak atau sedikitnya bahan
  7. Tujuan mata pelajaran itu sendiri.
http://ikfarputriasrukhan.blogspot.com/2012/09/macam-macam-metode-pembelajaran.html