Kamis, 31 Oktober 2013

Akankah Aku Sepertimu?

Kemarin jalan-jalan ke Gramedia di salah satu mall di sini (Makassar) sekalian manasin diri. Kenapa manasin? Niat untuk nulis novel (niat lagi dan lagi) sudah panas/gerah. Kali dengan lihat buku-buku teman yang majang di Gramedia gerahku itu makin nambah.
Dan benar saja. Menggebu-gebu nih semangat. Ya, ngga beli sih. Tanggal tua soalnya. Emang niat manasin hati aja. Biarin deh terbakar habis-habisan sudah itu di siram minyak tanah lagi biar api semangat ini ngga pada. Amiin. Be-te-we, buku siapa sajakah yang ada di samping? Yang aku kenal penulisnya, bukan mengenalnya saja tapi dia kenal denganku dan ada komunikasi yang terjalin. Tak sering. Pun di dunia maya.
Mereka adalah ....




Tara ....
Leyla Hana dengan 'Surga yang Terlarang'. Dengan tebal buku 372 halaman dan warna sampul putih biru. Dengan manis buku itu melambai padaku, mungkin sambil mengejek, "Kapan kamu menulis dan mengisi rak buku di sini?" manas-manasin banget deh.
Sebenarnya nyari novel yang satu juga (Jean Sofia). Bukan buat beli, tapi buat di fotoin. Tapi ngga ada.
Aku sendiri belum kelar baca novel ini (bukunya sih sudah ada) jadi belum komentar.
Yang sudah itu Cinderella Syndrome. Buku yang sukses membuatku senyum-senyum, jenkel, bete, juga senang (pengen nulis komentar baca buku itu tapi bukan di postingan ini).

Selanjutnya ...




Ngga cuman kenalan di dunia maya, bahkan di dunia nyata, di rak buku novel keduanya pun kenalan alias di pajang berdekatatan. Kebetulan? Ngga lah, mana ada kebetulan di dunia ini, yang ada itu sudah ditakdirkan. Dari sononya udah dituliskan oleh-Nya.
Dan duo buku ini bikin panas kumat sampai di ubun-unbun. Manis banget ngelahirin buku. Duh ... (ngiler).
Yang mana sih bukunya?
Itu loh 'Yang Tersimpan di Sudut Hati' (Mba Ade Anita) dan 'Betang Cinta yang Tumbuh dalam Diam' (Mba Shabrina WS). Penasaran? Tentu saja. Pengen banget baca novel keduanya. Kapan dong belinya?
Heheh ... nunggu tanggal muda lagi. Wah ... ngiler benner!
Mahasiswa kere cuman bisa mandangin fotonya dulu. Nelan ludah.
Ingat niat awal lagi deh, MANASIN HATI!

Lanjut!

Ini jepretan terakhirku. Malu juga ... ke toko buku cuman modal hp dan jepret sana sini. Mana sembunyi-sembunyi lagi (Maaf, niat awalnya emang bukan buat beli).
Penulis yang baru aku sadari keberadaannya setelah beberapa waktu. Sadar-sadar aku heboh sendiri, terus bilang ke Mbanya, "Wah ternyata Mba penulis novel Anak Kos Dodol ya? Wah ..."
Pun kenal di dunia maya, tetap saja aku bangga. Sangat malah. Mana main pamer pula. Bukannya novel sendiri yang di banggain. Malah perkenalan dengan penulis. Payah kan?
Novel Mba Dedew dengan manisnya berbaris di rak buku. Menambah gerah suasana siang di Kota Makassar. Hubungannya apa coba?
Maksudku gerah di hatiku.
Gerah sampai mau pulang cepat-cepat buat nulis lagi. Lagi?
Tentu. Lagi dan lagi.
Waktuku luang. Jadi, kuniatkan untuk menulis. Kali ini tak sekedar menulis ini dan itu, yang kebanyakannya curhat tak jelas. Inginku sama seperti mereka. Yang ada di atas. Yang berkarya pun sibuk. Yang memberi manfaat tiap masa. Sebab mereka penulis. Dan aku pun penulis (walau amatiran masih tetap tersandang di pundakku).
Selamat untuk yang sudah punya novel, buku, karya.
Dan untukku, SEMANGAT melanjtkan langkah yang tertatih tatih. SEMANGKA!!!

Aku mulai bertanya tanya sekarang, "Akankah aku sepertimu?".


Minggu, 27 Oktober 2013

My Life as Blogger: Dengannya Hidup Lebih Berwarna (mejikuhibiniu)


Me: Mengawali kisah hidupku selama ini dengannya. Dengan segala bumbu-bumbunya. Aku yang bermimpi menjadi seorang penulis yang kelak dapat diperhitungkan ternyata harus merintis karir menulis lewat blogger dulu. Tentu saja tidak mungkin bisa bersaing dengan penulis-penulis yang sudah punya nama besar. Sudah punya kursi kebesaran masing-masing. Lah aku?
Jadi agar tulisan-tulisanku punya wadahnya tersediri, tidak berhamburan, punya tempat bagi yang ingin membacanya, maka aku pun mendaftar di dunia lain bernama blogger. Diamana awalnya cuman ogotak atik sendiri. Nanya ke Om Google. Sesekali nanya teman yang dianggap bisa, tapi dijawabnya malah, “Otak atik sendiri saja, Nah. Nanti juga bisa kok.” Dan benar saja, pun sederhana aku puas dengan blogku sendiri. Rumahku. Si dunia Kata(K): http://nahlatulazhar-penuliscinta.blogspot.com/ .
Ji: Jika dipikir-pikir blog menjadikan aku punya banyak teman. Meraka para pemaikai blogger juga banyak yang ramah. Terutama di salah satu grup blog yang memang sudah besar. Begitu juga dengan salah satu grup penulis dimana aku banyak belajar. Para penghuninya yang rata-rata sudah punya akun blog dengan senang hati memberi banyak masukan tentang dunia blogger. Tidak hanya itu, dari sana berbagai invo juga bisa diperoleh. Hingga tak terasa, blogger  menjadi salah satu pemicu (ya elah) pertemanan. Di dunia maya sampai ke nyata.
Ku: Kurang apa lagi? Walau bukan saya yang mengalami langsung, tapi berkat blog banyak para IRT yang hanya melakoni perannya sebagai ibu rumah tangga juga bisa berkarir. Hebat bukan? Sampai saya sendiri merasa iri dengan mereka. Sebut saja si A yang menang lomba blog, terus dapat uang serta paketan yang lumayan banyak. Itu berkat nge-blog. Dan lagi blog memberi manfaatnya.
Hi: hidup lebih berwarna bukan? Dari blog orang lain aku banyak mendapatkan informasi. Apa pun itu. Lomba kepenulisan, bahan-bahan tugas kuliah, dan masih banyak yang lain.
Bi: Bisa apa lagi? Banyak lah. Dan para peminat dan penikmatnya tentu sangat tahu manfaat apa saja yang diperoleh dari blog.
Ni: Nih satu lagi, blog menjadi salah satu penghubung dengan dunia luar. Dunia luas yang belum pernah aku datangi. Tentu saja dengan beragam isi di dalamnya.
U: Untuk kalimat terakhirku, aku hanya ingin mengucapkan, “Selamat hari blogger dan terima kasih untuk warna yang telah di hadirkannya dalam hidupku.”

Selasa, 08 Oktober 2013

Tidak Lagi

Tak menyapa
Tak bersua
Tak menatap
Tak bicara

menyembunyikan wajah
menelan kata
menyimpan rasa
membunuh suka

sebab hilang jadi harapnya
sama jadi doanya
penjara untuk hatinya
dan rindu yang tersirami, padam

senja kembali berbeda
menyambut malam yang terluka

Ge dan Na: Alasan Cinta



“Pagi Na.”
“Pagi juga Ge.”
“Baik untuk hari ini?”
“Hehehe ... seperti yang kamu lihat.”
“Bagik tidak? Masalahnya aku kan ngga bisa ngintip hati kamu.”
“Hahaha ... bisa saja kamu. Baik, sangat baik. Semoga.”
“Lah, kok semoga?”
“Belum bisa nebak semenit yang akan datang.”
“Be-te-we aku ada satu pertanyaan yang mengganjal nih Na.”
“Kamu bawa ngga tuh pertanyaan?”
“Na!”
“Iya, iya ... apa?”
“Kenapa bisa?”
“Apanya?”
“Itu ...”
“Itu apa?”
“Hehehe ... aku mulai sama kayak kamu deh Na.”
“Kan sehati.”
“Iya, hihihi.”
“Terusa kenapa apa?”
“Kenapa kamu bisa suka?”
“Fitrah manusia kali Ge.” (jawaban asal tapi benar kan?)
“Selain itu?”
“Ngga tahu.”
“Ye... pelitnya.”
“Hihihi, ngga pelit juga cuman bingung saja ngejelasin alasan suka itu.”
“Masa sih?”
“Aku pikir-pikir dulu deh ...” (sambil mikir)
Diam. Hening. Sejenak.
“Aha ... aku ingat.”
“Apa, apa?”
“Sepertinya karena dia laki-laki.”
“Ampun deh Na, itu sih sama juga kamu bilang ‘takdir’”
“Hehehe ... mmm, apa ya? Aha, pernah dengar kisah pas aku dulu masih mondok?”
“Iya, sudah hampir seratus kali kamu ceritain. Tapi apa hubungannya?”
“Dia juga mondok di situ kali.”
“Hah?”
“He eh.”
“Tapi apa hubungannya? Masalahnya bukan dia yang biasa kamu ceritain.”
“Emang bukan. Cuman dulu sering minjam buku sama orang itu. Pernah juga minjamin sih, tapi tidak berkali-kali.”
“Terus hubungannya sama suka apa?”
“Berhubunganlah, saudara malah. Kamu ngga tahu kalau bapaknya saudaraan?”
...... (Ge diam, nambek)
“Hehehe, dari situ sih, Pernah kagum. Habis orangnya baik. Tapi kagum doang, tahu sendiri kan aku ngga punya kakak.”
“Hubungannya sama kakak apa lagi?”
“Aduh Ge ... dalam hati ku terbesit kalimat ‘coba punya kakak kayak dia, pasti senang banget’.”
“Ooo ...”
“Tapi itu dulu.”
“Terus sekarang?”
“Kalau sekarang  ya ... siapa suruh dia muncul lagi!” (berapi-api)
“Na,  ngga usah pake ngepalin tinju begitu deh.”
“Hah ... nyesel aku.”
“Nyesel apa?”
“Bilang suka.”
“Lah bukannya lega?”
“Lega apaan. Sakit gini juga. Tahu ngga semalam sampai bangun berapa kali, mimpi buruk mulu. Udah gitu perut nyeri pula.”
“Itu mah lapar neng.”
“Hehehe, termasuk lapar sih.”
“Jangan bilang mimpiin dia.”
.... (terseyum simpul)
“Wah parah kamu Na.”
“Y a iya lah. Aku sudah pernah bilangkan kalau aku sampai mikirin sesuatu  terus lama sebelum tidur, maka bisa kebawa mimpi.”
“Kebiasaan aneh.”
“Emang. Aku emang orang aneh sih.”
“Mulai deh.”
“Pusing mau gimana.”
“Eh Na aku punya pertanyaan lagi. Emang andai sama-sama suka mau ngapain?”
“Ngga ada. Mau tahu aja sama tidak rasanya. Makanya kemarin-kemarin harap-harap cemas.”
“Lah ... kalau ngga jelas gitu ngapain bilang suka?”
“Hehehe ... kan udah aku bilang biar lega.”
“Bohong! Nagrep lebih kan?”
“Entahlah. Pacaran kan ngga dibolehin, tapi masa nikah?”
“Kan emang itu tujuannya.”
“Hehehe, belum siap.”
“Nah loh ... “
“Iya dah nikah, nikah, nikah. Kenapa sih Ge malah ngomporin? Lagian mau nikah sama pohon apa?”
“Hahaha ... sama aku aja gimana?” (kedipin mata)
“Boleh.” (balas ngedipin mata)
Keduanya tertawa. Matahari ikut tersipu mendengar celoteh Ge dan Na.

*Suka tak sesimple itu, Na. Bukan sekedar mengucapkannya. Tapi lebih dari itu. By Ge.
*Hanya suka, apa itu salah? By Na

Senin, 07 Oktober 2013

Ge dan Na: Lagi-lagi Galau



 “Halo, dengan Ge?” (Na sambil nelvon)

“Iya, ada apa Na?
“Hikz ... penyakitku kambuh.”
“Sakit? perasaan tadi siang kamu masih sempat bercanda deh.”
“Itu ...”
“Apa?”
“Anu ...”
“Na?”
“Ya ...”
“Kamu habis nangis?”
“Kok tahu?”
“Iyalah, suaranya serak gitu.”
“Huhuhu ...”
“Aduh Na, ada apa?”
“Ge, aku pengen nyudahin semuanya!”
“Na! Istigfar deh. Jangan aneh-aneh gitu ah. Aku merinding nih. Jangan ke dapur! Jangan ke loteng rumah kamu! Jangan ke jalan raya! Jangan ...”
“Ngapain ke dapur, ke loteng sama jalan raya?”
“Ke dapur ngambil pisau, ke loteng buat loncat, ke jalan raya buat nabrakin diri.”
“Ikh ... ngga ada yang bagusan dikit apa? Semuanya kok pada horor sih? Bukan saran kan Ge?”
“Sudah dibilangin jangan! Jangan itu bukan saran tapi larangan. Aduh Na, kamu patah hati gitu tambah ngga nyambung bin aneh deh.”
“Maklum, gundah gulana, galau bin gila, aneh tapi nyata tengah menyerang.”
“Makanya pake benteng Na. Biar pas diserang bisa ngelawan. Kalau perlu bawa tombak juga, perang deh.”
“Ge ... sadar ngga?”
“Sadar apa?”
“Sadar kalau kamu juga sama anehnya denganku!”
“Kita kan sehati, Na.”
“Tapi Ge, kok sehatiku sama kamu mulu sih. Kapan dapat jodohnya kalau gitu. Kan ngga mungkin juga kita yang jodoh kan?”
“Mulai deh.”
“Bener loh Ge.”
“Kita juga jodoh tau!”
“Hah?!?” (syok)
“Jodoh dalam persahabatan.” (sambil senyum)
”Iya. Aku bersyukur sih kamu bukan laki-laki. Coba kalau iya, bisa jatuh hati aku.”
“Huss! Aneh lagi tuh.”
“Serius! Atau aku belok aja kali yah?”
“Na!!!”
“Hehehe... aku norkmal kali, Ge. Saking normalnya makanya dapat sakitnya mulu.” (mulai terisak lagi)
“Na ...”
“Ya ...”
“Andai aku dia ...”
“Hah?”
“Kan kuseka air matamu?”
“Hah?!” (Syok berat)
“Kupinjamkan bahuku untukmu bersandar.”
“Ge, kamu ...”
“Bahkan jika perlu kupeluk erat.”
“Ge!!!”
“Kenapa berteriak?”
“Andai kamu dia juga aku mana mau.”
“Lah kenapa?”
“Ingat, ingat bukan muhrim tau!!!”
“Hahaha ...”
“Malah ketawa lagi.”
“Iya. Kamunya normal lagi tuh.”
“Mmm, Ge ...”
“Apa?”
“Makasih ya.”
“Iya. Eh, kalau galaunya kumat nelvon aja lagi. Dijamin tak hibur sampai
ngangkak.”
“Hehehe. Sip.”
Percakapan berakhir. Ge dan Na siap dibuai mimpi menuju hari esok. Esok yang mungkin berbeda. Berbeda rasa.


*menulis ini serasa menjadi dua orang yang berbeda.
Setidaknya aku masih memiliki sepuluh jari yang tak menolak untuk mewakili hati, SEMANGKA!

Ge dan Na: Cara yang Aneh (ungkapan rasa)


“Geeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!” (teriak sekeras-kerasnya)
“Apa?” (sambil nutup telinga)
“Gawat!”
“Apanya yang gawat?”
“Aku sudah bilang.”
“Bilang apa?”
“Itu ...”
“Itu apa?”
“Saran kamu.”
“Saran yang mana?”
“Yang kasih tahu ke dia duluan.”
“Kasih tahu apa sih, Na?”
“Aduh, bukannya kemarin kamu ngasih saran.”
“Makanya itu, yang mana?”
“Ampun deh. Tulalit banget sih Ge.” (ngambek)
“Apanya yang tulalit, kamun yang ngga jelas ngomong apa.”
“Tentang perasaanku, aku sudah bilang ke dia. Kan kamu yang ngasih saran kemarin.”
“Hah?” (mulut terbuka, lama)
“Kok ‘hah’ doang sih reaksinya?”
“Yang benar, Na?”
“Iya.”
“Wah, berani juga kamu. Hebat, hebat.”
“Apanya yang hebat?” (wajah murung)
“Itu udah berani ngungkapin isi hati.”
“Berani itu kalau ke kuburan malam-malam plus sendiri pula.”
“Na, itu lain lagi kali. Terus reaksinya apa?”
“Ngga tahu.”
“Loh, kok ngga tahu?”
“Dianya ngga ngerti!” (muka dilipat)
“Masa sih, mana ada orang dikasih tahu tentang rasa terus ngga tahu. Budek kali dianya.”
“Yee ... aku ngga bilang langsung kali.”
“Terus lewat apa?”
“Lewat pak pos,”
“Maksudnya surat?”
“Iya.”
“Jadi dianya ngga bisa baca dong.”
“Mana mungkin. Orang gila baca gitu.”
“Terus kenapa ngga ngerti?”
“Itu karena ... mmm ...”
“Apa?!” (penasaran)
“Karena bahasa yang aku pake bahasa dari planet lain.”
“Hah?” (jelas ngga ngerti)
“Hah mulu sih dari tadi.”
“Kamunya juga aneh mulu dari tadi. Emang bisa bahasa planet apa saja, Na?”
“Hehehe, ngga banyak sih. Cuman merkurius, venus, mars, yupiter, saturnus, neptunus, uranus, sama pluto.” (muka ngga bersalah)
“Pamer aja terus. Aku tahu kok kamu hapal mati tuh nama-nama planet. Tapi Na yang baik, tidak sombong, suka nangis, galaunya kumat, ngambekan ...”
“Stop! Kok malah ngga muji sih. Kebongkar deh sifat asliku.”
“Biarin.”
“Yee ...”
“Jadi benaran dia ngga paham.”
“He eh.” (ngangguk-angguk)
“Kamu ngga jelasin gitu?”
“Ogah, pengennya dia cari di kamus planet lain sendiri. Usaha dikit napa!”
“Ya, tapi kan kamu doang yang suka bahasa planet lain, Na.”
“Kan biar kompakan kalau sama-sama suka bahasa lain.” (senyum malu-malu)
“Terus dia juga ngga balas surat kamu?”
“Balas sih.”
“Bilang apa dia.”
“Ngga ngerti.”
“Hah, itu sih sama juga bohong. Namanya doang yang ngomongin rasa. Pada hal yang diomongin ngga di jelasin sama dia. Sudah gitu pake bahasa aneh-aneh lagi.”
“Biarin! Kan kamu nyaraninnya cuman ngungkapin, bukan jangan make bahasa planet lain.”
“Cape deh ngomong ama kamu, Na. Udah ah, lapar tau ngomong ngga jelas sama kamu.”
“Ge, tungguin! Ngga ngasih saran lagi?”
“Ogah!”
Ge menjauh. Na bingung. Makanya ngungkapin rasanya yang jelas. Pake masako kek (eh).