Jumat, 27 September 2013

Bulan Berpulang

Rasa yang dulu kutuangkan untukmu sepertinya telah pudar
ditiup angin
ditelan ombak
menghilang kata demi kata
Yang kutulis dulu kala bersamau
di atas kertas-kertas putih
penuh
lebih
Hilang sudah
tak berbekas
tanpa belas kasih
musnah
Kini puing-puing rasa mencari kawan hampa
sesama duka
luka
menghibur diri pada malam tak berbintang
Berkisah pada bulan yang telah berpulang


Senin, 02 September 2013

“Lelet”


http://s-hitamputih.blogspot.com
Aku tidak bermaksud menceritakan kejelekan orang lain. Hanya saja kesalahan yang sama dan berulang kali terjadi itu sudah mulai menjengkelkan. Apatah lagi dilakukan oleh orang yang sama kepadaku. Dan menurutku itu cukup fatal, bagaimana tidak jika hal tersebut pun akhirnya berpengaruh pada diriku.
Sebut saja Non Lelet. Seperti namanya pastilah sudah terbesit letak masalahnya dimana. Ya! Temanku yang satu ini suka banget terlambatnya. Ngga cuman sekali, tapi berkali-kali. Parahnya aku sudah sering kena getahnya. Gara-gara doi, aku juga jadi keseringan terlambat. Rada ngga enak juga buat ninggalin karena sudah janjian sebelumnya.
Sudah berulang kali aku nyindir bahkan ngomong langsung kalau kebiasaannya itu musti dirubah. Kalau dianya sendiri yang telat sih ngga apa-apa(dianya juga yang nanggung akibat), tapi kalau bawa orang lain kan celaka.
Aku sendiri paling anti sama kata TERLAMBAT. Sebisa mungkin menghindarinya. Aku pikir terlambat juga salah satu masalah serius yang musti diberantas. Namun di Indonesia sendiri kata terlambat sudah menjamur bin mewabah bahkan jadi hobi mereka yang sering melakukannya. Maka wajarlah si temanku begitu. Kesalahan yang diwajarkan tepatnya.
Karena jelas aku membenci dan menghindarinya (walau kadang-kadang tak terhindarkan) maka saat aku hendak pergi lantas ada yang nungguin habis itu sadah agak lama, mending aku suruh ninggalin aku. Ngga enak banget nyuruh orang nunggu lama. Mungkin karena aku tahu rasanya nunggu lama kali ya. Yang jelas, benar-benar ngeselin pekerjaan yang namanya nunggu itu.
Sedikit tipsku sendiri biar ngga telat:
-         Kalau sudah tahu ada janji, sesuatu yang musti didatanginlah, maka kalau malam tidurlah yang cepat (apa lagi janjiannya pagi).
-         Pas malamnya usahain tuh nyiapin pakaian yang mau dipake keesokan harinya (setrika memang kalau perlu).
-         Pekerjaan yang harusnya dikerjain pagi hari, kalau bisa diselesaikan sebelum tidur.
-         Siapkan barang-barang yang hendak dibawa malamnya. Jangan pas mau berangkat baru sibuk nyari. Yakin deh ada yang tertinggal.
-         Apa lagi ya? Oh ini, biarpun malamnya tidur cepat, semua keperluan beres, kerjaan sudah semuanya tapi kalau bangunnya kesiangan ya sama juga. Nyalain alaram kenceng-kenceng (Kan shalat subuh juga, ya jangan tidur lagi).
-         Mandi ngga usah lama. Bagai tuan putri yang bakal nikah. Bentar saja ingat kamar mandi pagi-pagi banyak yang butuh).
-         Biasanya kalau cewek tuh dandannya yang lama. Rempong pokoknya. Wajahmu sudah jelas cantik, ngga usah dilukis warna warni lagi.
-         Sudah tahu model jilbab kayak gitu rempongnya minta ampun, masih juga dipakai. Keburu mobilnya pergi, jodohnya kabur, reskinya dipatuk ayam. Lama! Simple aja. Yang jelas seuai tuntunan agama. Sudah. Beres. Berangkat!
-         Masih telat juga??? (dipertanyakan tuh).
Bener-bener deh. Eh, temanku sudah sms tuh. Biarin nunggu juga (hihi, balas dendam). Ngga deh, aku berangat dulu. Sambil nunggu, masih sempat nulis. Semoga bermanfaat.


Minggu, 01 September 2013

Dream


“Aku mimpi lagi,” ucap Sean, “kali ini aku benar-benar melihat wajahku dalam mimpi. Dan itu memang aku, Jen!” lanjutnya.
Jeny yang duduk di sampingnya hanya bisa mendengarkan. Ia bahkan tak tahu harus bilang apa lagi. berkali-kali ia mengatakan kalau mimpi yang dialami Sean hanyalah bunga tidur belaka. Tapi untuk saat ini ia sendiri jadi berpikir tentang arti dari semua mimpi laki-laki di sampingnya.
“Apa Gea tahu?” tanya Jeny.
“Tidak. Aku bahkan malu menceritakan mimpi-mimpi itu padanya. Aku tak ingin dia berpikir aku laki-laki penakut yang hanya karena mimpi sampai uring-uringan seperti ini.”
Gea adalah kekasih Sean. Mereka jadian baru dua bulan lalu. Tapi keduanya sangat jarang terlihat jalan berdua, malah Sean lebih sering menghabiskan waktunya dengan Jeny. Wanita yang ia anggap sahabat.
Tentang mimpi laki-laki itu, ia melihat seseorang dengan pakaian bagai prajurit kerajaan tengah menghunus pedangya. Tak hanya sampai di situ, pedang yang terhunus itu akhirnya tertancap pada perut seorang wanita dengan pakaian serba putih. Saat pertama kali bermimpi, Sean hanya melihat kejadian itu dari jauh.
Kemudian mimpi yang sama kembali menghampirinya. Dan dalam mimpi berikutnya ia melihat kalau dirinyalah sang laki-laki yang menghunuskan pedang tersebut. Dua mimpi pertama ia memang menganggapnya bunga tidur saja. tapi kemudian ia bermimpi lagi dan lagi. Hingga ia coba menceritakan semuanya pada Jeny.
“Tapi ... hanya wajahku yang aku lihat. Entah siapa wanita yang aku bunuh itu.” Suara Sean terdengar bergetar.
“Aku pun tak bisa berkata apa-apa lagi,” ucap Jeniy, “kantung matamu semakin bengkak saja ditambah warna hitam di sekelilingnya,” lanjutnya.
“Haruskah kita ke paranormal saja?” tanya Sean. Akibat mimpi-mimpi itu ia sangat takut tuk memejamkan mata. Jeny diam mendengar pertanyaan itu. Haruskah seperti itu? Pikirnya.
***
“Inilah persembahanku padamu ratuku. Darah wanita ini akan menjadi bukti betapa besarnya cintaku padamu.” Laki-laki dengan baju besinya tersebut memberi hormat pada wanita di hadapannya.
“Baiklah! hukumlah ia sebagaimana mestinya. Aku tidak ingin ada penghianat yang mengacaukan istana ini. Sekalipun itu adalah temanmu sendiri,” ucap wanita yang dipanggil ratu tadi.
“Baik ratuku.”
Kembali benda tajam itu keluar dari tempatnya. Berburu mangsa yang sudah disiapkan. Dan ... ces ... darah kembali mengalir.
“Tidak ... tidak ... tidaaaaaaakk!”
Teriakan itu berasal dari kamar Sean. Ia kembali bermimpi. Mimpi yang sama, dan kembali dengan wajahnya sebagai pembunuh, juga wajah lain yang sangat ia kenali. Wajah kekasihnya, Gea.
***
 “Apa maksudmu tidak bisa? Bukankah kemarin aku sudah minta kamu menemaniku belanja?” ucap Gea kesal. Ia sudah berencana membeli tas baru untuk diperlihatkan pada teman-temannya. Ia bahkan sudah jauh-jauh hari merencanakannya dan meminta Sean mengantarnya.
“Aku tidak bisa, Ge. Semalam aku ngga tidur, bahkan malam-malam sebelumnya juga. Aku sangat lelah.”
“Pacar macam apa kamu? Harusnya kamu menemaniku. Aku dengar kemarin kamu ketemu lagi dengan Jeny.”
“Jadi sekarang kamu memata mataiku, ha?” tanya Sean dengan kesal.
“Untuk apa coba? Harusnya kamu bersyukur jadi pacarku dan mau jalan bareng aku. Bukan malah bermesraan sama ... gadis kampung itu.”
“Apa?”
“Dengar baik-baik! Kalau kamu masih mau jadi pacar aku, jangan bertemu gadis kampung itu lagi. Paham?” ucap Gea sebelum pergi.T inggallah Sean dengan amarah yang berkecamuk dalam dadanya.
***
Sekali lagi mimpi buruk itu mendatanginya. Bahkan lebih sadis lagi. Dengan jelas ia lihat pedang itu menancap di perut wanita berbaju putih. Lalu perlahan noda darah bertebaran pada baju yang ia kenakan.
Tampak pula wajah Sean sendIri di sana. Tersenyum namun dengan pandangan kosong. Ada yang salah dengan wajahnya, harusnya ia tersenyum puas. Bahkan mungkin tertawa, ia telah menjalankan tugasnya. Juga memperlihatkan betapa ia sangat kuat.
Melihat wajahnya sendiri, ia jadi semakin yakin itu dirinya. Seorang pembunuh. Tak tahan lagi, ia pun pandangi sosok yang kini berlumuran darah.
Jeny?
***
Pagi itu Sean sangat terburu-buru keluar dari rumahnya. Biasanya ia akan memilih melanjutkan tidurnya yang tertunda. Tapi hari itu ia dengan cepat menyambar kunci motor, memacu motornya sekencang mungkin. Tujuannya satu, rumah Jeny.
Sesampainya di sana ia dapati pintu rumah terbuka lebar. Saat berjalan masuk yang ia dapat adalah kesunyian.
“Jen!” teriaknya.
“Jen! Kamu dimana?”
“Jeny!”
Nihil. Hanya suaranya yang saling bersahutan akibat pantulan. Ia semakin tak sabar. Ia sudah sering main ke tempat sahabatnya itu makanya ia pun tahu letak kamar Jeny. Tanpa pikir panjang lagi ia pun naik ke lantai dua.
“Jen!”
Masih tak ada yang menjawab panggilannya. Ia sudah berdiri di depan kamar Jeny. Pintunya terbuka sedikit. Sean pun masuk.
“Ngapain kamu?!” teriak Jeny, ia sangat kaget melihat kehadiran Sean apalagi dalam kamarnya.
Bukannya pergi, Sean malah berjalan ke arah Jeny lalu kemudian memeluknya erat. Sangat erat.
“Kamu ngga apa-apa kan?” tanyanya penuh kekhawatiran. Jeny mendorong tubuh Sean agar menjauh.
“Kamu kenapa sih. Aneh-aneh aja deh! Mana masuk kamar orang sembarangan pula, ini tuh kamar cewek.”
Mendengar ucapan Jeny, barulah Sean sadar akan perbuatannya. Kekhawatirannya berganti rasa malu yang sangat.
“Aku tunggu di bawah ya!” ucapnya lalu pergi.
“Aneh! Ada apa lagi dengan anak itu. Kemarin ceweknya yang datang marah-marah, sekarang dia yang datang langsung main peluk aja. Eh ... peluk?” Jeny bicara sendiri saat Sean sudah pergi. Ia rasakan hatinya kembali bergejolak.
Butuh lima belas menit bagi Jeny untuk menenagkan dirinya sendiri sebelum menemui Sean.  Saat berjalan ke ruang tamu pun ia masih sempat bolak balik keluar masuk kamarnya. Tapi ia samperin juga laki-laki yang tadi membuatnya kaget setengah mati.
“Kenapa?” tanya Jeny sok cuek.
“Maaf, Jen. Aku pikir kamu kenapa-kenapa. Semalam aku mimpi lagi dan ...”
“Dan kenapa?”
“Wanita yang aku bunuh dalam mimpiku itu adalah kamu. Karena hawatir aku langsung ke sini. Aku kira benar  terjadi sesuatu, soalnya saat sampai tidak ada siapa-siapa. Rumah kamu juga terbuka.”
“Oh ... itu si bibi lagi belanja di depan, tadi pamit kok. Rumah ngga ditutup paling ibu yang lupa,  lagi keasikan rawat tamannya di depan.” Keduanya masih nampak canggung.
“Kemarin Gea ke sini. Dia minta aku jangan nemuin kamu lagi,” ucap Jeny.
“Aku tahu. Semalam aku putus dengan dia.”
“Apa?”
Sean pun bercerita tentang kejadian ia putus dengan Gea semalam. Mantannya itu membuatnya muak. Terlebih saat ia tahu Gea habis datang ke rumah Jeny dan membuat keributan.
“Perasaanku ngga bisa kusembunyikan lagi, Jen. Hmm ... sejujurnya kaulah wanita yang aku cintai. Bahkan sebelum aku mengenal Gea.”
Mendengar pengakuan Sean, Jeny hanya tersenyum.
“Aku tahu.”
“Hah? Sejak kapan?”
“Saat pertama kali kamu cerita tentang mimpimu. Sebenarnya aku pun memimpikanmu. Hanya saja jalan ceritanya yang berbeda.”
“Jadi?”
“Saat kamu jadian dengan Gea aku sangat sakit hati. Bahkan aku pikir kita tidak akan bertemu lagi. Tapi saat kamu bilang tentang mimpimu itu, juga saat kamu bilang kalau Gea ngga tahu tentang mimpi itu aku semakin yakin kamu juga suka sama aku,” jelas Jeny.
“Sakit hati? Juga suka?” Sean mengulang apa yang diucapkan Jeny sambil tersenyum.
“Emm ... maksudnya ...”
“Mungkin inilah maksud dari mimpiku itu. Aku bahkan melukaimu lebih dalam dari tusukan pedang-pedangku dalam mimpi.” Keduanya pun tersenyum mengetahui perasaan mereka sama.
“Tadi kamu bilang, kamu juga memimpikan aku kan? Bagaimana cerita di dalam mimpimu itu?” tanya Sean.
“Oh ... itu ... “ Mendapat pertanyaan itu membuat muka Jeny memerah. Mana mungki ia menceritakan pada Sean bahwa dari awal ia sudah tahu kelanjutan dari mimpi laki-laki itu? Jeny akhirnya hanya tersenyum membuat Sean semakin penasaran.
Kini kau datang padaku. Tak hanya lewat mimpiku, tapi kini benar-benar nyata di hadapanku.(*)

Sketsa Mimpi


Selama aku tidak membuka mata, mungkin mimpi akan selamanya kuagungkan. Namun, sampai kapan mata ini harus terlelap? Sedang perut meminta jatahnya untuk diisi. Tidak hanya satu perut, empat perut kosong terus saja bergemuruh sejak kemarin sore. Lalu masihkah aku akan dibelenggu mimpi-mimpi tak pasti?
Zahrah adikku yang paling bungsu kembali menangis. Perutnya sudah kembung karena hanya diberikan air oleh Fatimah, nama anak kedua dalam keluargaku. Walaupun aku yakin perut Fatimah juga sudah merintih sejak tadi, namun pada wajahnya yang terpancar hanya ketegaran semata. Bisa jadi karena dia adalah anak perempuan pertama dan juga menuruni sifat sabar dari ibu.
Berbeda lagi dengan Arham, adikku yang lainnya. Semalam tanpa pamit pada kami ia pergi begitu saja, mungkin karena tidak tehan perutnya kian melilit. Adikku yang satu itu memang terbilang pendiam, tak banyak bicara namun ahli dalam membuat masalah. Entah apa lagi yang ia perbuat di luar sana, yang pasti sudah sering aku menasehatinya. Memintanya agar lebih memaklumi keadaan kami, tapi toh kesemuanya itu hanya masuk telinga kanannya saja lantas keluar dari telinga kirinya. Bahkan sesekali menerikkan kekesalannya padaku.
“Tahu apa kakak tentang kehidupan kita?!” bentaknya suatu hari dan aku hanya diam mendengarnya. Bukan tidak berani membalas, justru aku berusaha menahan kecamuk amarah yang ada dalam dadaku. Aku anak tertua dalam keluarga kami saat ini, pengganti ayah juga ibu. Pun aku sadari sangat jauh dari sikap kedua orang tua kami tersebut. Satu yang tak pernah aku lupakan dalam menghadapi ketiga adikku, “Jangan sekali-kali kamu memukuli adikmu, Nak.” Berkat pesan ibu itu, amarahku selalu tertahan.
Matahari yang seharusnya sudah tinggi masih juga tak tampak di depan mata. Sebaliknya hujan terus mengguyur bumi seperti enggan untuk berhenti menyebabkan banjir di sana sini. Hal itu pula yang menjadi alasan aku tidak bisa kemana-mana. Harusnya pagi tadi aku mengantarkan koran, lalu siang hari mulai bekerja di warung Bu Salmah, tapi karena hujan tak satu pun yang terlaksana. Bahkan warung Bu Salmah sudah tiga hari tutup akibat air yang mulai menjamah seluruh tempat.
“Kakak tidak pergi mencari Arham?” pertanyaan Fatimah membuyarkan lamunanku.
“Biarkan saja, nanti juga pulang sendiri,” jawabku. Bukannya tidak peduli. Aku juga takut meninggalkan dua adikku ini. Air bisa saja semakin meninggi, tak mungkin juga mengharapkan orang lain untuk mengulurkan tangan pada kami, siapa yang peduli saat semuanya berada dalam posisi yang sama?
“Takutnya terjadi apa-apa sama Arham, Kak. Kakak tahu sendirikan dia anaknya gimana.” Aku terdiam.
“Lagi pula, aku bisa menjaga Zahrah kok. Tenang saja, Zahra sudah tidak menangis lagi tadi dikasih kue sama tetangga, jadi sekarang agak mendingan. Kakak pergilah cari Arham sekalian nitip makanan kalau ada.” Fatimah menatapku dengan pandangan yakin, lalu mengambil uang pecahan sepuluh ribu dari kantongnya.
Sebisa mungkin kutahan cairan bening yang menerobos keluar dari mataku. Betapa kagum aku pada Fatimah disaat aku mulai bingung dan kehilangan pegangan, seringkali ia yang menopangku membuatku tersadar bahwa kami harus tetap bertahan. Sesekali kudapati matanya terselimuti kabut duka tapi ia tetap bisa menguasai dirinya. Dan jika aku tanya apa ia baik-baik saja, dengan semyum lembut ia akan mengangguk. Air mata yang seharusnya sudah melelah dari matanya malah terlihat seperti pemacu semangat buatku. Juga senyum tulusnya membuatku tersadar, ia benar-benar mewarisi wajah cantik ibu.
Aku menyusuri jalanan yang tak lagi memperlihatkan tanah yang basah. Yang ada justru genangan air di mana-mana. Air bahkan sampai di pinggangku pada beberapa tempat yang kulalui. Sungguh ironis kejadian ini, bertahun-tahun tidak bisa teratasi. Bahkan akibat banjir pula secara tak langsung nyawa ibu dan ayah terenggut olehnya.
“Mad, mau ke mana?” Pak Saleh suami dari ibu Salmah menyapaku saat melewati depan rumah mereka. Suami istri tersebut sangat baik pada aku dan ketiga adikku.
“Ini Pak, mau cari Arham. Semalam ia keluar dan sampai sekarang belum balik-balik juga.”
“Loh, memangnya dia tidak pamit?”
“Tidak Pak.”
“Ya sudah kamu cari sana, hati-hati air semakin tinggi,” pesan Pak Saleh.
Setelah pamit aku pun beranjak pergi. Arham belum juga menunjukkan tanda-tanda keberadaannya.
Aku masih terus melangkah sesekali bertanya mungkin ada yang melihat adikku. Nihil. Kemana perginya dia? lalu ...
“Kak, aku juga punya mimpi ingin jadi dokter.”
“Kenapa milih jadi dokter?”
“Kalau aku jadi dokter orang-orang kampung kita tidak akan mati begitu saja seperti ayah dan ibu.”
Bukan tanpa sebab aku mengingat pecakapanku dengan Arham. Bukan! Justru aku mengingatnya karena melihatnya ada di sana, dalam dekapan seorang bapak-bapak yang tak aku kenali. Semakin dekat semakin jelas pula tubuhnya yang membiru. Hingga sampai di hadapan orang yang membawanya, yang kudapati hanya tubuh kakunya. Tak ada mata yang memandang sinis, juga umpatan yang terdengar begitu tajam. Arham!
Dia membisu. Terbujur kaku.

Terenggutnya Senja


“Kali ini nenek akan bercerita lagi,” ucap Nek Maryam pada cucunya.
“Tapi cerita yang lain ya, Nek. Kalau kiasah cinta nenek aku sudah mendengarnya puluhan kali.” Jamilah merengek sambil memeluk neneknya erat.
Jamilah sangat menyayangi neneknya. Karena Nek Maryam adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Walau demikian, keduanya hidup dengan sangat behagia dalam istana megah milik Nek Maryam. Ya! Nek Maryam memang orang kaya, dan satu-satunya pewarisnya adalah Jamilah.
“Ya, nenek tahu kamu sudah bosan dengan cerita nenek itu.”
“Aku tidak bosan, hanya saja butuh selingan baru, Nek!” ucap Jamilah membuat neneknya tertawa.
“Kamu ini tidak bisa bohong sama nenek.”
“Hehehe ... jadi bagaimana? Nenek jadi cerita kan?” tanya Jamilah. Kali ini wajah Nek Maryam terlihat serius. Perlahan ia menarik nafasnya dalam untuk memulai ceritanya.
“Dengarkan baik-baik ... “
***
Gadis itu berlari-lari dengan riangnya di tepi pantai. Hamparan pasir yang luas menjadi saksi betapa bahagianya gadis tersebut. Ombak pun sesekali menjilat kaki putihnya yang tak beralaskan apapun.
Gadis tersebut tengah menikmati liburannya. Walau ia hanya bersama pengawal ibunya, namun ia cukup bahagia. Ia tak menuntut banyak pada sang ibu yang punya berbagai macam kesibukan. Baginya, cukuplah ia mendapat izin dari wanita yang dihormatinya itu untuk bersantai sejenak. Kencintaannya pada laut membuatnya rela jauh dari ibu dan rumah megahnya.
Senja sebentar lagi berganti malam, ia masih betah saja di pantai. Pun saat itu pantai mulai sepi. Ia hanya ditemani Jamal, pengawalnya. Tapi Jamal tiba-tiba mendapatkan telepon dari ibu gadis tersebut, ia pun menjauh dari tempat sang gadis. Jamal tak menyangka kalau sesuatu yang buruk telah menanti putri tuannya.
Dan saat kembali, alangkah kagetnya laki-laki usia 27 tahun itu. Gadis yang menjadi tanggung jawabnya tak lagi di tempat. Raib entah kemana, padahal hari mulai gelap. Jamal segera mencari keberadaan sang gadis.
“Nona Senja!” terikanya berkali-kali.
“Senja!”
“Senja!” Kepanikan mulai merasuki laki-laki tersebut. Apa yang akan ia katakan pada ibu gadis tersebut nanti. Terlebih lagi, hatinya mulai resah. Senja! Dimana kamu?
Keringatnya tak lagi terhitung berapa jumlah tetesannya yang membasahi bajunya. Pikirannya tertuju pada gadis yang diam-diam dicintainya. Dan ... ia pun sampai pada batu besar yang terletak tak jauh dari pantai. Ia pun mendekati bebatuan tersebut, berharap gadis yang dicarinya ada di sana.
“Senja!” terikanya kaget. Di balik batu tersebut Senja tergeletak tak berdaya. Dalam gelap masih dapat Jamal melihat bercak-bercak darah pada pakaian gadis yang mulai beranjak dewasa tersebut. Kepanikan makin meraja. Jamal pun menggendong sang gadis untuk kembali ke hotel.
***
 “Jadi gadis itu kenapa, Nek?” tanya Jamilah pada nenekny.
“Dia ... kehormatn gadis itu direnggut.” Perlahan air mata Nek Maryam mengalir.
“Terus bagaimana kelanjutannya?”
“Pengawal gadis itu mengaku kalu dialah pelakunya. Bahkan gadis tersebut pun mengiayakan. Nenek baru tahu kebenarannya sesaat setelah gadis tersebut melahirkan.”
“Jadi nenek kenal dengan gadis itu?”
“Tentu saja karena dialah satu-satunya putri ibu.”
“Putri nenek?! Maksudnya ... “
“Dialah ibumu Jamilah. Ibu yang meninggal setelah melahirkanmu.”
Ibu yang tak pernah aku temui karena malam merenggutnya dariku! Bisik hati Jamilah pilu. Air matanya jatuh.