Rabu, 21 Agustus 2013

PPL: Karena Mereka


Aku melihatnya sendiri. Wajah-wajah penuh senyum. Tawa mendera. Terdengar menusuk telinga. Pun menusuk juga menghibur. Sebab aku pun tersenyum. Sama seperti mereka. Rasa sungkan yang awalnya menyiksa terkikis sudah. Hilang, tenggelam dalam tawa mereka. Satu-satu peluh jatuh. Dua. Tiga. Bahkan banyak. Aku senang karena mereka. Jiwa kecil yang meronta bebas.
Ini hanyalah awal yang dilakukan karena terpaksa. Tuntutan dunia yang kugeluti. Satu yang kuyakini, mereka menghilangkan keterpaksaan itu. Menggantinya dengan sebuah rasa menggebu-gebu. Dan masih tidak aku mengerti.





Minggu, 18 Agustus 2013

Foto Fiti: Waktu dan Generasinya

Dua generasi berbeda

Generasi yang sama dalam waktu yang berbeda

Bukan Kau


aku bukan kau
yang menari nari di bawah kata suka
bersama bahagia
diselimuti duka
bukan juga dia yang indah
pandai bersembunyi
pada mimpi mimpi dua sayap
tak juga ku serupa pelangi
berupa rupa warna menjelma selepas hujan
menunjukkan jalan para bidadari suci
aku bukan kelopak bunga
cantik
jatuh satu-satu dengan sabar
memberi kesempatan mekar pada yang lain
tak juga awan
yang bisa membunuh matahari, bulan
bukan!
aku tak mengenal aku
yang kuraba ...
dua mata memandang jauh
tidak pada raga sendiri

Jangan Menikmati!


Baru saja aku menyadari hal itu. Sudah lama aku mengatakan pada diriku sendiri untuk menikmati hidupku ini. Apa pun itu. Terlebih saat mengerjakan sesuatu. Namun ternyata menikmatinya saja tidak cukup. Banyak hal negatif yang menyertainya, itu jika aku jadi penikmat. Bisa jadi kuhalalkan cara agar bisa menikmati hari-hariku. Itu jika aku memang butuh sebuah alasan untuk jadi penikmat.
Maka dari itu, aku tak ingin jadi penikmat lagi. Entah harus jadi apa. Yang penting bukan penikmat. Nikmat hanya imbas dari kegiatan yang baik. Baik dimata-Nya.
Mungkin harus aku mulai dari rasa ikhlas.