Kamis, 27 Juni 2013

Sedikiti Kisah Tentang si ‘Tiga Mata’


          Sebenarnya ngga pede nulis ini. Baru juga sekali nangkring di halaman Budaya Fajar. Ntar yang sudah sering bilang apa? Hehehe ...
Aku pernah menulis cerpen tentang demo. Judulnya bahkan demo. Tapi ngga pernah dimuat. Judulnya pastilah tidak menarik. Baru di baca judulnya saja sudah ketahuan isinya gimana. Hanya dengan judul, ya kan? Adapun Tiga Mata bernasib lain. Idenya sama. Sudut pandangnya saja yang berbeda, juga judul yang menurutku (menurutku yah) mengundang tanya (jiah, pede banget).
Aku sendiri tidak percaya cerpen Tiga Mata dimuat. Aku sangat sadar kalau kekuranganku dalam menulis adalah susah mengembangkan kalimat. Sulit mendeskripsikan tempat. Justru sukanya dengan percakapan. Sedang pada cerpen Tiga Mata, yang bercerita adalah sebuah benda yang pastinya ngga bisa ngomong. Belum lagi dengan semangat nulis yang naik turun. Sebenarnya kebanyakan turunnya sih. Sampai-sampai sepupuku bilang, “Semangatnya ada pas ada tulisannya doang yang termuat.” Nah, makanya pasa kemarin tahu cerpen itu dimuat, aku tidak percaya sebelum melihatnya langsung.
Berawal dari kejengkelanku pada situasi demo yang minggu kemarin lagi marak-maraknya akibat BBM naik. Juga pada anak pemilik rumah yang memarahiku gara-gara demo itu. Kata sia anak, “Kasih tau tuh sama teman-temannya jangan demo!” sambil teriak. Aku yang asik di depan tv langsung kaget dong. Padahal aku kan juga korban demo. Takut kemana-mana karena demo. Namun dari situlah terpikir membuat cerpen tersebut.
Aku tidak terlalu tahu sih tentang teori cerpen, pun sudah sering dengar. Tapi ngga pernah aku hapal. Aku lebih suka mengalir saja saat menulis. Sambil nulis sambil mikir. Paling sering pula cerpenku dimulai dengan percakapan. Kalau tidak beberapa awalan kalimat yang (maunya sih) mengundang tanya. Tidak jarang tuh mentok di tengah jalan karena emang ngga pake rambu-rambu teori menulis. Yang paling parah, keseringan ngga dimuat karena garing. Begitulah, sering pula aku tidak mengerti tentang tulisanku sendiri.
Pada cerpen Tiga Mata sendiri aku menjadikan diriku sebuah lampu lalu lintas yang letaknya di pertigaan jalan raya. Oh iya, dulu sekali pas si lampu lalulintasnya pecah aku jadi mikir kasihan banget. Andai saja si lampu merah bisa ngomong, si hijau nangis, terus si kuning balas melempari sang pelaku pelemparan, pastinya kan adil. Kembali lagi, mana mungkin kan? Makanya aku jadiin diriku si lampu lalulintas, walau ngga akurat sama sekali (ahk... nyadar diri amat akunya ya).
Jadi, Tiga Mata di sini adalah si lmpu lalu lintas yang tengah mengisahkan suasana di bawah sana. Tangisan sang ibu, gerutu mahasiswa, lemparan batu, dan keadaan lainnya. Aku pribadi tidak pernah menyaksikan demo besar-besaran secara langsung. Ngeri duluan soalnya. Aku juga ngga begitu suka lihat wajah-wajah bonyok, terlebih saat makan. Rada gimana gitu. Tiga Mata hanya pandangan secara luas saja.
Tapi yang pasti, aku berterima kasih pada para demonstaran. Setidaknya ide itu dari mereka. Sikap anarkisnya itu yang bikin jengkel. Terimakasih juga pada lampu lalulintas yang telah setia aku tuliskan (loh?). Sarangheo (parah).
BENAR ADANYA, TULISLAH APA YANG DEKAT DENGAN KITA.


Senin, 24 Juni 2013

Dia Ada, Hanya Perlu Menyadari Nikmat dariNYA


Aku semakin yakin Dia ada di saat yang tidak terduga. Dia ada di saat  segalanya terasa mustahil. Bahkan ada ketika diam menjadi pilihan.
http://agoyman.deviantart.com/
Teringat ramadhan kemarin. Saat bahagia dan duka silih berganti. Menghampiri keluarga besar kami. Kala itu ummat muslim tengah bahagia dengan berjumpa lagi dengan hari raya kurban. Selang beberapa minggu sepupuku melangsungkan pernikahannya. Aku yang saat itu tengah kuliah tentu tidak ingin melewatkan hari bersejarah kakak sepupuku. Apa lagi dia adalah sepupu pertama dari keluarga bapakku yang menikah. Jadi aku pun pulang kampung.
Bukan masalah sebenarnya. Aku tidak pernah bolos kuliah, jadi izin sesekali mungkin tidak masalah. Itu yang aku pikirkan. Aku pun sempat mengirim pesan pada dosen yang bersangkutan untuk diberi izin. Tak lupa juga beberapa temanku aku kabari. Aku termasuk orang yang tidak suka mencari masalah, apa lagi dengan urusan kuliahku. Niatku secepat mungkin menyelesaikan kuliah. Kerja. Sekolah lagi atau bahkan nikah (hehehe).
Lanjut pada kisah di atas. Acara berlangsung hidmat. Walau diserang lelah dan kantuk namun aku sangat bersyukur bisa berkumpul dengan sanak keluarga kami. Bahkan yang jarang atau sudah lama aku tidak temui kini bertatap muka lagi. tak lupa saling memperkenalkan diri masing-masing. Biasa, karena sudah lupa dan keadaan fisik yang memang telah banyak berubah. Berkaitan dengan kuliahku, aku tidak hadir beberapa pertemuan.
Setelah kembali masuk kuliah teman-temanku memberi kabar. Katanya salah satu dosen yang masuk saat aku tidak hadir sangat disiplin. Bagi dosen tersebut sangat penting nilai kehadiran mahasiswanya. Terlebih hari pertama kuliah. Wah ... bukan main kagetnya aku. Aku memang paling anti berurusan dengan dosen. Aku sangat mudah deg-degan. Mudah keringat dingin. Mungkin yang lain tidak menyadari, namun faktanya saat tampil simulasi atau diskusi di depan kelas aku sering bergetar. Hati bahkan ngga karuan. Dan kini musti berhadapan dengan dosen tegas? Aku kehabisan kata-kata dibuatnya.
http://agoyman.deviantart.com/
Menit berganti. Jam berlalu. Hari silih berganti. Bulan pun genap sudah. Bulan baru menghampiri. Dan kabar duka itu pun datang. Ayah dari sepupuku yang menikah beberapa bulan sebelumnya meninggal dunia. Innalillah. Banyak yang bilang beliau hanya menunggu anaknya menikah kemudian berpulang kepangkuanNya. Aku yakin beliau mendapat tempat yang layak, sebab setahuku beliau adalah orang yang baik. Sangat baik malah.
Kematian pamanku menjadi alasanku untuk pulang kampung lagi. Malam itu aku beserta orang-orang terdekatnya (keluargaku) mengantarnya pulang sebab beberapa hari sebelumnya beliau sempat di rawat di Makassar. Untuk pertama kalinya juga aku duduk dekat sekali dengan mayat. Aku yang penakut mana berani seperti itu.  Kuliahku kutinggalkan lagi. Dosen tegas pun sesaat terlupakan. Bahkan tugasku yang kala itu wajib dikumpul belum kelar. Kesedianlah yang meraja. Aku pasrah dengan nilai rendah dari sang dosen nantinya.
Singkat cerita, beberapa hari setelah pemakaman aku pun kembali pada aktivitas kuliahku di Kota Daeng. Mulai kembali fokus pada tugas-tugasku. Benar saja, akibat tugas yang belum kelar aku pun tidak diizinkan mengikuti mata kuliah dari sang dosen tegas. Kata beliau, sebelum tugas yang lumayan banyak itu selesai aku tidak boleh masuk di kelasnya. Untuk pertama kalinya aku diusir dari kelas. Untuk pertama kalinya dalam hidupku selama aku mengenyam bangku pendidikan.
Tugas terkumpul. Aku masih pasrah. Kelak jika nilaiku jelek terpaksa pula harus mengulang. Dasar beliaunya memang doseng disiplin, bayangin saja saat kebanyakan orang merayakan pergantian tahun di malam tahun baru, aku beserta mahasiswanya yang lain malah sibuk menghapal surah-surah yang sudah beliau tentukan. Katanya sebagai syarat masuk mid semester.
Aku bersyukur sudah hapal sedikit-sedikit surah yang disuruhkan. Makanya keesokan harinya aku dan lima teman sekelasku diperbolehkan ikut mid semester oleh sang dosen. Sedang teman-teman yang lain malah keesokan harinya. Bahkan ada beberapa yang baru masuk setelah beberapa hari.
Apa intinya? Aku sudah merasa pasrah dengan nilaiku. Namun Allah ternyata punya rencana lain. Ketika dua, tiga kali aku tidak hadir pada kuliah sang dosen, dengan firman-firmaNya aku malah mendapatkan kemudahan. Tidak hanya itu, dosen yang berangkutan bahkan memebrikan nila A padaku. Sedikit nikmat dariNya saja sudah begitu besar terasa. Sedikit menghapal ayatnya saja Dia sudah memberikan balasan berupa kemudahan, gimana kalau dihapal semuanya ya?
Dia ada. Bahkan saat aku merasa sendiri.
Ya! Aku semakin dan semakin yakin akan hal itu. beberapa hari ini aku mearsa terpuruk. Semakin bodoh, tidak pernah beruntung, selalu kena marah, mudah tersinggung, dan segudang kemarahan berkecamuk dalam hatiku. Siang tadi aku kembali pasrah.
“Sudahlah, pun marah, dengki, dendam semuanya tidak akan berubah.”
Maka sebelum air mataku keluar, aku pun ke kamar mandi ambil air wudhu lalu diam-diam shalat duha di kamar sepupuku. Habis itu nagis deh. Tetap nagisnya jaim. Diam-diam. Tapi bener loh, nikmat banget curhat sama Sang Pencipta kita. Adem rasanya. Sebenarnya aku jarang memohon, bukannya sombong. Aku sering merasa tidak pantas memohon padaNya. Kenapa? Pantaskah aku meminta saat amalanku tidak pernah sempurna? (itu yang aku pikirkan).
Setelah dua rakaat dan doa-doaku selesai, aku pun kembali tenang. Kembali beraktifitas seperti biasanya. Sebuah buku tentang tobat malah menemaniku. Hari-hari memang berat, statusku di fb bahkan aneh-aneh. Tapi suduahlah. Nikmatnya hidupku akan terasa jika aku menengok ke belakang. Melihat yang lebih susah dari pada aku.
Lalu malam ini kembali kejutan kecil dariNya menyapaku. BagiNya mungkin kecil. Tapi bagiku sungguh sebuah lebahagiaan yang luar biasa.
”Mardiyah, cerpenta’ yang judulnya Tiga Mata adai sekarang kubaca di koran Fajar edisi hari ini.”
Nada smsku berbunyi. Dan sms yang masuk adalah kaliamt di atas. Sesaat aku diam. Aku? Cerpenku? Bukankah itu aku kirim dua minggu yang lalau? Aku pikir tidak termuat karena memang rada aneh.
Kembali tertegun. Iya sih hari ini aku belum lihat koran langganan pemilik rumah. Tadi pagi niatnya mau lihat, tau-tau korannya sudah kebawa sama pemilik rumah pas mau jalan-jalan ke Malino. Tapi apa iya aku?
Karena yang empunya rumah sudah pulang makanya secepat mungkin aku tanya. Dan teryata ... wah senangnya. Hatiku tergelitik lagi. Malu lagi.






http://agoyman.deviantart.com/


Tuh kan ... ngga sabaran sih. Main menghakimi segala, makanya, berprasangkanya yang baik-baik. Jangan hatinya dibuat rusuh mulu kayak orang lagi demo. Tuh lihat, Allah baik banget masih mau ngasih nikmatNya. Ingat, lihat ke belakang. Ingat juga nikmat dariNya tuh bejibun. Dihitu pake alat secanggih apa pun kagak balan ngeh. Sekarang mau ngomong apa lagi coba???

(Masih dalam senyum malu-malu, atau malah malu-maluin?)


Jumat, 14 Juni 2013

Malam Kiamat

Setiap malam adalah kiamat bagiku.
http://adintab.blogspot.com/


Awalnya kupikir dia hanya khayalanku saja. Dia pemilik wajah seorang wanita cantik yang menggoda banyak pria. Dengan merahnya bibir juga kedipan mata nakal. Suasana gerah ia cipta. Wanita itu tersenyum penuh arti. Pada semua yang melihatnya. Padaku juga. Tapi, tidak berselang lama ia berjalan menghampiriku. Dengan senyum yang tidak kumengerti maksudnya. Sesaat aku terpuka. Pun sama, ternyata kecantikannya juga menggodaku. Kala hendak menyapanya, ia berlalu. Menghilang dalam kerumunan laki-laki.
Tak kurasakan kakiku melangkah mengikutinya. Mataku bergerak cepat menatap tiap sudut. Mencarinya dalam remang-remang lampu. Hingga sampai pada sebuah ruangan tidak berpenghuni. Aku pun masuk. Sepi. Tidak ada siapa-siapa di sini. Aku menyerah. Selanjutnya aku berencana kembali. Tak ada gunanya mencari wanita itu. Dia mungkin sudah pergi.
Bugh!!!
Sesuatu jatuh tepat di hadapanku. Bersamaan dengan munculnya wanita itu. Degh ... karena gelap aku tak melihat apa yang jatuh di hadapanku. Tapi wajah wanita itu sungguh sangat jelas. Wajahnya mengeluarkan cahaya merah. Dan ... dan di sekitar bibirnya ada ...
Seketika aku ingin muntah. Isi perutku seperti mendpat goncangan keras. Aku pikir wanita di hadapanku bukanlah dari jenis manusia. Wajahnya menyala, bibirnya tak lagi merah karena  gincu melainkan darah yang bertebaran. Nafasku tersengal, aku ketakutan. Aku  ...

Selasa, 11 Juni 2013

Foto Fiti: Bersama Teman-teman Kampus (edisi narsis ria)

Siap-siap jalan. Sambil nunggu narsis ngga ketinggalan. Nyampe di lokasi, bukannya masak-masak tapi langsung nyantap (hihihihi). Habis itu baru deh bakar-bakar jagung.












Hari itu emang husus untuk acara makan-makan kali ya. Belum juga rasa kenyang hilang habis nyantap jagung, sebelum pulang disajiin makanan lagi. Ngga ada yang nolak dong, malah tambah rame karena para laki-laki tampan (sambil mikir, tampan sajalah dari pada cantik) sudah pada ngumpul. Nyamyyyyy ....
Dan sebelum pulang, masih numpak foto fiti. Asiklah pokoke :)






Edisi nikahan teman sekelas. Jadi tamu spesial deh. Datang-datang langsung di suruh masuk kamar pengantin (gawat kan tuh). Yang lucu, baru datang udah minta makan aja (heheh kebiasaan) jadinya rusuh lagi deh (makan di kamar pengantin).
Nunggu beberapa lama akhirnya yang punya acara masuk kamar, foto fiti lagi, hua >,< selamat yah. Semoga jadi keluarga SaMaRa :).






Makin eksis aja kelas L di nikahannya orang. Sampai ngalangin para tamu yang pengen salaman sama si pengantinnya.













Kayaknya sudah jadi tradisi sebelum pulang wajib foto fiti deh :)
Siap?
Klik ....













Nb: Selalu ingin meninggalkan jejak pada tiap masa yang terlalui. Untuk mengabadikannya biar kelak bisa mengenangnya. Untuk teman-temanku yang saat ini tengah menempuh jalan yang sama denganku. Mengabadikan kalian di sini adalah sebuah kesenangan :)

Teruntuk L