Kamis, 25 April 2013

HW Pertama (Berkemah)



Tenda yang sudah jadi
Ini dia penghuninya
Penghuninya pada kemana?


Siap-siap shalat
Azan dikumandangkan
Pagi-pagi di suruh ngapalin lagu
Serius banget :)

Kyaaaaa capekkkkk

Biar kata capek, yang namanya foto harus bergaya 


Hehehe, ada yang nyadar kamera

Pada lihat apa sih?

Ini namanya bingkai dalam bingkai

Kebersamaan itu indah
duduk bersama tanpa alas
lelah bersama
makan bersama
bahkan sampai ...
KAGAK MANDI BERSAMA :p
Widih nambah tuh yang nyadar kamera











 Panas yah? Sangat panas malah, tapi kita tetap dituntut berdiri di sana. Ditengah hantaman matahari. Tapi semua berjalan indah karena bersama. Ada aku, kamu, dia, dan mereka.


Bermain ... bersama
Nah, terakhir pulang deh. Salam-salaman. Bis itu ngumpulin barang masing-masing. Dan yang paling penting pulang ke rumah dengan hati gembira. Pasti pada pulas kan tidurnya? (Ngga ussah ditanya)      

Rabu, 24 April 2013

Pengalaman Berjilbab: Jangan Setengah-setengah


http://kartun.web.id/2013/anime-muslimah-berjilbab/

Pagi ini aku disambut dengan candaan oleh sang pemilik rumah. Tahu sendirilah aku kan numpang di salah rumah keluarga. Dan saat turun dari kamar yang kutempati bersama seorang sepupuku dari lantai dua karen disuruh ngambil sesuatu sang pemilik berkat, “Eh Nahla masih punya rambut toh, kirain sudah botak,” ucapnya dengan senyum dan nada suara bercanda. Membuatku yang mendengar dan menjadi sasaran candaannya tersenyum sebelum naik kembali ke kamar.
Yah beginilah nasib kalau numpang di rumah orang otomatis laki-laki yang juga ada di rumah ini (suami pemilik rumah, anak laki-lakinya) bukanlah muhrim. Walhasil pun berada dalam rumah tetap saja wajib pakai jilbab. Kurang lebih dua tahun aku berada di rumah ini. Niatnya biar biaya hidupku di Makassar tidak terlalu banyak. Tidak terlalu merepotkan orang tua. Apalagi sekarang dua orang adikku tengah sekolah di sebuah pesantren yang notabenenya butuh biaya lebih.
Tidak mudah bertahan dengan cara seperti ini. Aku tentu saja gerah. Terlebih saat tengah bekerja, membersihkan, cuci piring dan lain-lain. Keringat bercucuran, rambut mudah banget baunya. Gatal menyerang dari segala sisi. Tapi karena sudah terbiasa berhijab tetap saat duduk di bangku SMP maka aku selalu menikmati saja semua sensasi itu.
Hal tersebut pula yang menjadikan pemilik rumah bercanda padaku. Karena yang sering ia lihat adalah aku selalunya pakai jilbab mulu pas dia ada. Tapi aku suka dengan candaanya itu. aku suka dengan keadaanku yang terus menjaga auratku. Pun kekurangannya masih banyak, aku kan tetap berusaha menjaga diri hingga nanti hijab yang kukenakan tak setengah-setengah lagi. Amin.

Senin, 22 April 2013

Wanitaku

"Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, pada minggu ketiga."
Sebutlah ia wanita penyulut api. Berjalan kokoh dengan segala aksi. Tak kenal lelah dan kalah oleh dirinya sendiri. Ia lahir sebagai perisai suci. Tuk putra dan putri yang ia cintai.
Ibu dan aku
Adalah dia yang kusayangi. Menemani tidur saat aku bayi. Memeluk bagai tak ingin pergi. Hangat selalu hingga kubangun lagi.
Dialah yang sealalu kunanti. Saat rindu mulai berkecamuk dalam hati. Padanya yang kurindui. Selalu sampai kumati.
Sumbang suaraku memanggilnya, “Ibu ... “
“Ibu ... “
“Ibu ... “
Wanitaku dalam hidup ini, wanitaku yang kukasihi, wanitaku yang minggu depan kan kutemui lagi.
***
Dari hari sabtu kemarin aku menunggu tema tentang minggu ini. Gatal rasanya kedua jari telunjukku menyimpan rasa penasarannya. Terlebih aku mulai terbiasa kejar DL dua minggu belakangan. Makanya tuk minggu ini aku ingin menyetor tulisan tuk kegiatan “8 Minggu Ngeblog” bersama ‘Komunitas Blogger Makassar’ lebih awal. Dan rencananya menyetor lebih dari satu (mudah-mudahan saja).
Maka pagi tadi saat pengumuman keluar dan tema untuk minggu ini adalah “Perempuan Inspiratifku” aku sangat senang. Tema yang sangat cocok dengan hari kartini. Dan lagi di kepalau sudah menari-nari siapa yang pas kujadikan kisah dalam dunia kataku. So, mari ki’ di’ ....
Beberapa menit yang lalu aku kembali menjeajahi blog Angin Mamiri dan kutemukan sebuah komentar dari salah seorang yang ikut kegiatan ini. Kalau tidak salah namanya Bunda Imma, “Perempuan inspiratif. Sepertinya teman-teman banyak yang akan menulis tentang ibunya masing-masing.” Saat membaca komentar tersebut, aku lalu berpikir. Benar juga. Ibulah yang paling dekat dengan kita, yang membesarkan dengan cinta. Tak jarang dengan peluh dan air mata. Jadi kenapa tidak tuk menjadikannya “Wanita inspiratifku?”
Kembali tentang hari ini. Seorang dosen mengatakan, “Cinta itu lahir karena banyak tahunya obyek akan subyek.” Jadi kukatakan seperti ini, “Cinta itu kian tumbuh dan berkembang karena banyaknya banyaknya pengetahuan orang yang mencintai terhadap yang dicintainya.” Kalau dikaitkan dengan ibu, sangat paslah menurutku. Sebab manusia pertama yang kukenal di dunia ini adalah ibu, sekian tahun bersama, mengenalnya, bahkan sesekali membuatnya menangis.
Dari itu, Bu. Izinkan anakmu mengabadikanmu dalam tulisan bisu yang berbicara dengan lelehan air mata yang tak nampak. Karena rasa bersalah juga rindu yang berkecamuk. Lagi dan lagi.
***
Tentang ibuku. Ia sederhana. Telampau sederhana malah. Namun dari kesederhanaannya aku belajar untuk tampil apa adanya. Ibu juga mudah bergaul, sifat yang satu ini tidak menurun padaku (walau berusaha keras tuk mengakrabkan diri). Ibu juga orang yang taat pada agama. Yang mengajariku pertama kali tuk berhijab.
Aktifitas pagi
Walau bukan orang kantoran ibu juga termasuk orang yang sibuk. Subuh terbangun tuk menyiapkan sarapan, pergi memancing air (masih pakai selang pula), baju bapak yang harus disetrika,  juga bekal adikku yang masih TK. Yang kusalutkan, ibu masih memberi makanan pada rohaninya saat ustaz YM sudah tampil di tv, ibu kan bolak balik dari dapur tuk menyaksikan ceramah ustaz tersebut.
Pukul tujuh lewat rumah kami hanya akan dihuni oleh nenek (ibu dari bapakku). Terlebih saat ini, aku yang sudah kuliah dua adikku (Mifta dan Humairah) yang lain juga sedang mondok si sebuah pesantren. Sedang bapak dan ibu akan berangkat ke sekolah buat ngajar. Begitu juga dengan dua adikku yang lain: Jira yang duduk di kelas 5 SD, dan Hanif si bungsu yang masih TK.
Ibu bukanlah guru yang sudah terangkat (PNS) ibu masih guru honor. Pun demikian aku melihat kesungguhannya tuk mengajar. Mungkin hal itu pula menular padaku. Sebab saat ini aku tengah menempuh Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Walau tak begitu tahu kegiatan ibu di sekolah, tapi aku sangat tahu saat ibu pulang jarang beliau langsung istirahat. Aktifitas sebagai ibu rumah tangga kembali berlanjut.
Belum lagi ibu yang menggantikan bapak memberi makan hewan ternaknya (sapi, kambing, juge beberapa ekor bebek). Rutinitas ibu yang satu ini tak jarang terjadi. Bapak sering ke kota kabupaten jika ada urusan sekolah, dan jika terlambat pulang ibulah yang menggantikannya memelihara hewan ternak kami. Hujan sering pula mengguyur tubuh kurus ibu. Tak jarang aku bertanya, “Kenapa tidak dijual saja?” Bapak dengan senyum khasnya menjawab, “Itu untuk tabungan sekolah kalian.” Benar saja, semua yang dilakukan orang tua selalu berorientasi pada anak-anaknya.
Menemani Hanif belajar
Sore berlalu dengan cepat. Jika dipikir-pikir mungkin saat malam tiba disitulah saatnya ibu akan beristirahat, begitu juga dengan bapak. Tapi yang terjadi adalah setelah shalat magrib ibu kan melanjutkan aktifitas kerohaniannya: mengaji. Beberapa halaman telah terbaca lalu kemudian ibu kembali mengajar mengaji. Jika bapak mengajari nenek (inilah keunikannya, nenek baru belajar mengaji. Namun semangatnya itu loh, ngalahin anak muda). Sedang ibu punya beberapa santri yang juga ikut mengaji. Itulah ibuku.
Isya pun datang. Bapak kembali ke mesjid untuk shalat sedang ibu pun sama. Malam berlanjut setelahnya dengan lelapnya tidur ibu, itu juga kalau si kecil Hanif tidak merengek minta macam-macam.
Bersama bapak
Hari ahad tiba. Jika yang kita tahu hari minggu adalah hari libur untuk berkumpul dengan keluarga maka berbeda dengan bapak dan ibuku. keduanya sangat kompak tuk ke kebun. Bukan untuk mengasingkan diri dari anak-anaknya. Justru bapak dan ibu malah sangat sibuk. Dan lagi, ibu tak membiarkan bapak pergi sendiri.
Ibu. Itulah kerjaannya hampir tiap hari. Itu yang kulihat dengan kasat mata. Yang tidak tampak olehku mungkin lebih banyak lagi. Sebab yang kutahu, ibuku adalah pahlawan bagi anak-anaknya. satu-satunya yang setia menemani bapak melangkah.
Wanita yang puluhan dulu dipinang bapak. Ya! Wanita itu adalah ibuku. ibu kami. Wanita kebanggaanku.
Bapakku dulu adalah petani, makanya ibuku juga Bu petani.
Sekarng bapakku guru, ibuku pun jadi Bu Guru.
Bapakku dan ibuku.
Ibu ...
Ibu ...
Ibu ...
Aku pun akan menjadi sepertimu.
Keluargaku

Sederhana saja :)
Nahlatul Azhar
Makassar 22-4-2012



Jumat, 19 April 2013

Jiwa Pada Sebuah Nama Pena


Sitti Mardiyah adalah nama pemberian kedua orang tuaku. Dengan harapan dengan nama itu jalan yang kutempuh senantiasa di ridhai Allah. Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, aku sudah memikirkan harus bagaimana aku nanti. Menjadi seorang kakak yang tak pernah merasakan memiliki kakak kandung sebenarnya. Sebenarnya sangatah mudah jika tak mau ambil pusing. Tapi sebaliknya aku berpikir bahwa tanggung jawab seorang kakak sangatlah besar. Tidak hanya karena tanggung jawab untuk memberikan contoh bagi adik-adikku, lebih dari itu menjaga amanah orang tua atas kepercayaan yang disemaikan di pundakku jauh lebih berat. Sedang aku bukan siapa-siapa, hanya pengukir sajak dala warna abu-abu yang kosong
Adapun Nahlatul Azhar adalah nama yang kurangkai dari mereka. Aku tanyakan ini dan itu untuk tahu artinya. Satu orang memberiku penjelasan singkat tentang Azhar dan Nahla. Dia yang menorehkan berbagai tinta dalam hidupku. Meninggalkan jejak yang tak kunjung hilang. Entahlah, apa sesuai dengan yang kuinginkan. Lalu .... entah tanggal berapa saat itu kuresmikan nama penaku: Nahlatul Azhar. Aku berharap artinya adalah lebah bunga. Betapa ingin seperti lebah yang memberi banyak manfaat. Juga menjadi bunga yang menebar wangi. Inginku begitu, dan tentunya dengan melahirkan goresan-goresan berarti.
Aku cukup sadar, dari sekian banyak tulisan yang aku buat hanya beberapa tetes yang meninggalkan jejak manfaat. Selebihnya hanya goresan duka dan kegalauan serupa.
Keluh menjadi warna tersendiri dalam hidupku. Bukan mauku seperti itu, yang sebenarnya tak ada kawan tuk berbagi luka. Sebab aku sulit bergaul. Butuh jeda beberapa lama tuk bisa mengakrabkan diri dengan seseorang. Itu pula yang jadi alasan mengapa aku hanya berputar pada orang sama : dia, ia, dirinya.
Jadi pantaskah Nahlatul Azhar menjadi sebuah nama yang abadi?
Tanya itu masih tertata rapi di hadapanku. Seakan siap mencari jodohnya berupa jawaban. Aku masih meniti jalan setapak yang penuh duri dan basah. Entah kapan berjumpa dengan jawaban sebenarnya. Bukan tentang kewajibanku padaNya semata. Tapi arti diriku bagi semua.
Hingga kelak Nahlatu Azhar dikenang sebagai jiwa Sitti Mardiyah.


Oleh-oleh dari Enrekang


Aku tidak tahu berkisah tentang detail kota yang menjadi kotaku. Belum begitu banyak informasi darinya yang aku tahu. Namun begitu, ada sepenggal kisah yang ingin kuperkenakan. Mungkin sedikit, tapi masih tentang kota di mana aku lahir. Aku bisa memulainya dari perkampungan kecil. Kampungku : Madatah.

Karena terlahir sebagai anak pertama yang secara otomatis harus menjadi contoh bagi 4 adikku yang lian juga menjadi kebanggaan orang tua maka aku pun di kirim ke sebuah pesantren yang letaknya jauh dari kampung kecilku. Bukan keinginanku pada awalnya namun kata bapak, “Nak, bapak dan ibu ingin semua anak kami itu mengenyam sekolah di pesantren.”
Alasan bapak dan ibu sangat klise: di pesantren itu lebih terjaga. Polusinya sedikit. Itulah yang dikatakan bapak. Sebagai anak yang patuh tentulah aku terima.
Maka  perpisahan pun tercipta. Aku mulai terbiasa jauh dari orang-orang yang aku sayangi. Berwal dari situ pula saat-saat pulang adalah sesuatu yang sangat kunikmati. Jika dulunya tak ada sajian-sajian makanan yang spesial maka saat liburan di rumahku akan tersaji makanan-makanan khas nenek. Sebut saja kadonten sebagai contohnya. Makanan yang berbahan dasar  nangka muda itu tersaji nikmat terlebih saat ada kulit sapi yang sudah diolah sedemikian rupa bersama nangka tersebut. Bersama hidangan lain yang memang kebanyakan adanya di kampung tersebut terasa nikmat luar biasa. Dan sampai sekarang (aku sudah kuliah) saat pulang kampung nikmatnya kadonten akan terasa.
Lain dulu tak pernah terasa perubahannya sampai sekarang. Kebiasaan pulang kampung masih terus berlangsung. Jika dulu aku jauh dari orang tua karena sekolah SMP sampai SMA di kota Enrekang maka sekarang saat kuliah tempatnya lebih jauh lagi. Makassar jadi tempat berlabuhku selanjutnya. Menjadi salah satu mahasiswi PGSD di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Karena jarak kota Daeng ini dan kampungku sudah terbilang jauh maka aktivitas pulang kampung pun makin berkurang. Tentu saja hal itu pun berimbas pada kepulanganku. Saat pulang semua yang diinginkan (kalau pulkam aku suka minta dimasakin masakan kampung) dibuatkan. Belum lagi saat kembali ke kota. Nah oleh-oleh khas Enrekang pun tak ketinggalan.
Yang paling sering di bawa adalah Dangke. Makanan yang terbuat dari susu sapi atau kerbau itu merpakan makanan tradisional dari Enrekang yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Teksturnya yang mirip dengan tahu dan ditambah dengan rasanya yang gurih seperti keju menjadi kenikmatan tersendiri saat memakannya. Aku sendiri paling suka saat Dangke di potong-potong tipis lalu di goreng. Nyamyyyy ... tak hanya itu oahan lain dari Dangke adalah keripik dangke yang juga tak kalah enaknya.

Selanjutnya makanan ringan yang tak boleh tuk dilewatkan adalah Deppa Te’tekan (kayaknya di sebut kue merah juga deh). Nah, makanan yang satu ini adalah makanan jenis kue yang terbuat dari bahan yang sangat sederhana. Pun sederhana, dalam pembuatan Deppa Te’tekan keahlian sangat diperlukan (kalau setahuku ngga sebarang orang bisa membuatnya, mungkin bisa di buat tapi tak seenak jika sang ahli yang menjamahnya). Kue yang terbuat dari tepung, gula merah, air, dan wijen tersebut menjadi salah satu makanan khas di Enrekang.
Selanjutnya tentang objek wisata kota Enrekang. Ada banyak sih objek wisata yang tak boleh tuk dilewatkan. Tapi beberapa yang pernah aku datangi dan sering aku lewati adalah Buttu Kabobong (Gunung Nona). Gunung yang letaknya sangat mudah tuk ditemukan dan dilihat keindahannya sebab dapat di saksikan dari pinggir jalan saat menuju ke Kota Enrekang.
Obejek selanjutnya yaitu Pemandian Alam Lewaja. Selain menyediakan kolam buatan, ada pula kolam alam yang tersedia. Ditambah dengan air terjunnya menambah indah pemandangannya. Tinggal menceburkan diri ke dalam pemandian tersebut maka akan terasa segarnya air yang menggigit kulit kita.
Pemakaman Di Tebing Tontonan ini sangatlah mudah tuk di lihat. Aku peribadi selalu menyaksikan keindahan dan keanehannya saat pulang kampung. Tak hanya itu tebing yang menjulang tinggi itu pun menjadi tantangan tersendiri bagi para pendaki untuk menaklukannya. Masih banyak objek wisata lain yang ada di Kota Enrekang seperti Bone-Bone yang merupakan perkampungan bebas dari asap rokok, Lo’ko Malillin, Buntu Latimojong, dan lain-lain.
Itulah yang terjamah banyak manusia. Padahal sebenarnya ada banyak makanan nikmat yang tak boleh di lewatkan terlebih jika dijadikan oleh-oleh. Tidak sedikit panorama alam yang tak tertangkap keindahannya. Jika kita mau lebih membuka mata, maka lihatlah suggun ciptaan Allah tak main-main, sangat indah dan mempesona mata. Hingga kadang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Nb: sangat terbatas, dariku.
Nahlatul Azhar
Makassar, 19/4/2013
 

 


Pamerin gunung di belakang sana :)





 Gunung di bealakang kalau di perhatikan mirip orang tidur loh (rada ngeri sih) 


"Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, pada minggu kedua."