Kamis, 31 Januari 2013

Mr Be dan Sebuah Hutang

Sedikit saja untuk menemani
Tentangmu sang bunga mimpi
Kuukir malam ini
Dengan kata tanpa makna yang berarti

Teringat pada sepasang mata
Yang hilang ditelan tawa
Pada malam tanpa purnama
Mata milikmu wahai yang ternama

Namun bukan berarti aku melihatmu
Sebab terlampau jauh tuk kujangkau
Niat pun tak hendak kurangkai, lalu ...
Hanya kulukis dalam bisu

Kau terpana
 lalu menghilang ...


31 Januari 2013, di kamar bertemankan AC.
teruntuk Mr. Bi

Rabu, 30 Januari 2013

Tulis Namaku Dalam Kisahmu


Tawa khas terdengar di seberang sana. Menggelitik hati, membangunkan rasa rindu yang sempat terlupa. Ah, kita benar-benar sudah lama tak bersua. Dalam maya, nyata bahkan hanya saling memperdengarkan suara sudah sangat jarang. Masa-masa kebersamaan kita dulu seakan tertelan kesibukan. Mungkin bukan maksud hati saling melupakan, bahkan mungkit tak ada niat untuk itu hanya saja benar adanya waktu kita tersita kesibukan.
Apa kabarmu?
Pertanyaan itu makin jarang terucap di antara kita. Aku, kamu dan yang lainnya. Alangkah bahagia saat malam ini kembali aku mendengar suaramu dan dia (Ya! Hanya kita bertika, Aku, Akbar dan Jum). Hanya suara, tanpa saling tahu seperti apa wajah kita saat ini.
“Kamu sudah langsing, Mar?” tanya Jum padaku.
Pertanyaan yang membuatku tertawa. Yah ... ada niat menuju ke sana, tapi tahukah apa yang terjadi? saat aku mulai berencana, magh malah menggerogoti lambungku. Maka tinggallah niat yang tersisa (tapi alasan itu tak aku utarakan karena cukup tawaku menjadi jawaban, mungkin saja hal itu hanya akan jadi angan semata, ya tentang langsing itu)
“Sudah lama aku tidak melihat tulisanmu,” kali ini Akbar mulai berkomentar. Ya, dari sekian banyak teman kita di masa-masa SMA, mungkin memang dia yang paling sering menanyakan kabar tulisanku (tentu saja setelah menanyakan kabar penulisnya dulu ... hmmm ...)
Memang akhir-akhir ini aku tak melahirkan tulisan. Kembali kesibukan menjadi alasanku. Dan mendapat pertanyaan seperti itu, semangatku kembali menyala (Hehe ... dan siap saja jadi bahan di dalamnya).
“Sekali-kali masukin namaku ke tulisanmu dong,” pintanya lagi yang tentunya membuat tawaku kembali pecah (ku tak yakin Jum paham maksud permintaan itu, terbukti setelah Akbar nutup teleponnya, Jum malah nanya “Maksudnya masukin itu apa?”).
Aku pun menimpali, “Kalau kamu ngizinin masukin namamu maka tunggu saja, bakalan aku selipin deh.” (jarang-jarangkan ada yang mau jadi korban)
Sudah lama kita tak bercanda seperti ini, saat malam mulai beranjak ke pertengahan dan jam menunjukkan angka 22.00 pada rabu malam tepatnya tanggal 30 januari 2013. Dan lagi-lagi hanya kita bertiga : aku, Akbar, dan Jum.
Kemana yang lainnya? Al, Sul, Ira, Ani, Dini, Hajar, Fitri, Ardi, Yusri, dan Sukri tak terdengar kabar beritanya. Tapi dengan tulus aku mendoakan semoga mereka baik-baik saja dan kelak dapat berkumpul untuk melepas rindu yang mendera (di sini entah di sana).
Dimana pun kalian saat ini, semoga tulisan ini kalian lihat karena terselip harapan di dalamnya. Juga sedikit kisah malam ini yang tak seberapa. Kisah rindu pada kawan saat masih mengenakan seragam putih abu. Kelak, mungkin kisah kebersamaan kita akan kutulis lagi, seperti pinta Akbar dan tentu saja aku yang juga menginginkannya.
Tunggu kisah lainnya J

Nb. Sebenarnya beberapa malam yang lalu aku mimpi tentang kalian. Kita bersama di perpustakaan Dafa dengan salah satu guru yang entah siapa.





Kamis, 17 Januari 2013

Putaran Waktu Mengikis Cahaya


Belajar mengalah, meneriama segala sesuatu apa adanya, tidak menuntut banyak. Bahkan berusaha jatuh cinta pada situasi yang tidak mengenakkan dengan dalih semua akan ada hikmahnya. Menjalininya dengan meminimalisir keluhan, pun helaan nafas sering kali masih terdengar. Dan hanya menebar duka dengan jemari yang berbicara. Sebisa mungkin beristigfar saat setan mulai lewat, mulai menggelitik ketenangan. Saat mahluk yang sudah nyata sebagai musuh itu mulai membisikkan rayuan berupa godaan nikamat pembawa laknat. Sungguh, semuanya butuh proses yang memakan waktu tidak sedikit.
Tiap harinya hanya itu?
Bosan mulai menggerogoti. Amarah kembali mengambil tempat. Dendam pun tak tinggal diam. Satu-satu anggota tubuh minta haknya. Lalu aku yang entah siapa mulai tersesat. Arah yang dulunya sangat kuhapal mulai berubah, rutenya tak lagi sama. Kompas yang harusnya dalam genggaman entah jatuh di mana. Bayangan-bayangan gelap mulai menghantui, tak ayal membuat sekujur tubuh dicekam rasa takut. Aku mulai buta arah.
Lalu sembari mendekap kedua lutut karane hawa panas yang mencekam aku kembali terlempar ke masa lalu. Saat-saat masih ada cahaya yang menerangi dengan nyata. Sikap, kata masih terjaga. Mata masih tunduk terjaga. Pikiran bersih tampa pamrih. Di samping kiri dan kanan masih ada yang mengingatkan. Di depan masih tampak jelas contoh yang baik. Di belakang tak lupa sebuah dorongan kecil untuk senantiasa mengambil jalan lurus. Itu dulu! saat aku masih terperangkap dalam indahnya taman-taman surga. Walau saat ini titik-titik cahaya itu masih terlihat, namun sepertinya makin menjauh. Entah ia yang beranjak pergi, atau aku yang melepasnya pergi. Entahlah!
Masih dalam bayangan masa lalu. Dengan rasa bernama malu. Dulu sekali ... ketika kaki masih dirantai aturan. Tangan masih terkunci di depan dada. Di sebuah tempat penuh aturan. Dulu!
Lalu saat tersadar, ada rasa ingin kembali. Bukan berharap tetap di masa itu. hanya ingin kembali menenangkan diri, lantas kembali untuk berbenah diri. Hanya itu! bisakah?
TIDAK! Semua tahu jawaban itu. dan hanya itu jawaban yang tepat. Tapi ...
Aku tahu, mengelak dengan berbagai alasan pun tidak akan ada artinya. Tapi ...
Lutut yang tadinya kupeluk erat mulai kesemuatan. Bukan lagi panas yang menjamah tubuhku. Sebaliknya dingin mulai membuatku tersengal-sengal. Keringat becucuran. Seluruh tubuhku bergetar. Akankah ini pertanda lapar? Dan berakhir dengan tubuh terkapar?
Ataukah cahaya benar-benar telah terkikis habis. Meninggalkan aku yang hanya bisa meringis. Dengan perasaan teriris. Benar-benar miris.
Entahlah!
Aku yang entah siapa mulai melemah.
Le...mah...
L...e...m...a...h...
Mah...
H...
...

Rabu, 09 Januari 2013

Berhenti Menulis



“Mimpimu itu setinggi rumput saja,” tulisnya pada inbox fb.
Siapa dia?
Dia hanya satu dari sekian orang yang aku kenal di dunia maya tanpa pernah salin menatap. Namun demikian, tulisannya tentang alasanku menjadi penulis sugguh sangat menganggu. Menjadikan gumpalan amarah di hatiku bergejolak. Tahu apa dia tentang duni kata? Pikirku saat itu.
Tapi kalimat singkat dari kenalan fbku itu benar adanya. Buktinya sangat mudah aku merasa bosan akan sesuatu termasuk menulis. Perlahan-lahan rasa bosan mulai menjalari jari-jariku. Dulu, dengan alasan ‘kepuasan hati’ aku mulai menggoreskan pena. Mulai menggerakkan dua jariku untuk mengetik (memang hanya dua, dua jari telunjuk). Kepuasan hati, hanya itukah? Ternyata tidak, sesekali ada secuil hasil yang kudapatkan. Sedikit, karena tulisanku memang standar saja. Di sisi lain, ternyata orang-orang mulai mengenalku. Dan yang lebih membahagiakan lagi, orang-orang yang tadinya tidak menganggapku ada, kini mulai memperhatikan. Sedikit.
Aku masih merasa ada yang kurang. Entah apa. Aku masih sama ternyata, “Pemimpi setinggi rumput.”
Tulisan kedua kenalan fb yang menohokku adalah, “ Kalau di suruh milh seribu atau seratus ribu, kamu pilih yang mana?”
Siapa yang tidak menginginkan sesuatu yang besar? Bahkan badan besar pun aku terima saja. Apa lagi kalau disuruh memilih uang dalam  jumlah yang kecil atau  yang besar?
Fakta bahwa aku takut mengambil resiko yang besar menjadi penghalangnya. Dan aku tahu akan hal itu. Aku sadari diriku takut melangkah, hanya beredar dalam zona yang aman-aman saja. mungkin hal itu juga yang membuatku sering merasa bosan.
Lantas hubungannya apa dengan menulis? Hingga pada judul kutuliskan dua kata ‘BERHENTI MENULIS’
Ada yang harus kubenarkan. Mungkin sayapku hingga nanti bisa terbang, tak lagi diam dan hanya berdiri setinggi rumput. Namu terbang jauh ke mana pun aku suka, menghadapi segala rintangan yang mendatangi. Tak lagi diam dalam tempurung kelapa. Tak menjadikan menulis sebatas pemuas hati saja, lebih dari itu menumbuhkan keinginan untuk memberi manfaat bagi orang banyak. Menciptakan sebuah keajaiban dengan usaha berbalutkan doa. Hingga kelak berbuah manis, semanis madu, semanis diriku.
Berhenti menulis?
Benarkah?
Serius?
Ngga nyesal?
Yang benar?
TIDAK! HANYA ADA PENYESALAN SAAT KUHENTIKAN JEMARI INI MENGUKIR SEJARAH, SEJARAH TENTANG KEBERADsAANKU DAN SEMUA YANG MENGELILINGIKU.