Selasa, 31 Juli 2012

Uangkapan Harpan

Kulukis lagi kisah bisuku ini dengan jemari yang tak perneh lelah berkisah
Tentang cinta yang tak pernah berujung suka
Tentang cita yang masih ada dalam dekapan angan
Juga tentang asa yang hanya terpatri dalam jiwa

Cinta maha sunyi menyimpan sejuta misteri
Menyisakan tanya dalam benak
Sudikah ia menyapa dalam indahnya bahagia?
Padaku insan penuh cacat karena dosa

Cita belum jua terjamah wujud nyatanya
Memperkuat sebuat fakta
Adakah kelak ia berubah dari angan ke nyata?
Sedang aku begitu yakin pada waktu bahwa kelak ia berbuah manis

Asa sejuta dalam jiwa
Satu-satu menunjukkan tunasnya
Menajamkan harapan agar berubah buah atau bunga
Lantas kembali semburan tanya keluar, mampukah aku?

Ini tentang cinta, cita juga asa
Untuk diungkapkan hingga tak hanya jadi harapan belaka
Dalam balutan usaha
Dengan setuhan doa pada Pemilik raga nan alpa

Pada Tuhan, Pemilik alam semesta.

Jawaban Takdir


Lama aku berjalan. Dalam gelap. Tanpa arah. Mencari dan terus saja mencari. Entah apa itu, kepastian mungkin. Kepastian takdir yang tak pernah bisa terpecahkan olehku. Seperti apa rupanya, rezkiku seberapa banyaknya, ataukah kapan malaikat maut menjemputku. Semua itu hanya terbesit dalam tanya. Tanpa jawaban pasti, hanya rekaan semata.
Yang tampak olehku hanya malam yang setia tergantikan siang. Rumput-rumput yang tak pernah beranjak dari tempat ia tumbuh, atau pepohonan yang tak juga berlari saat mesin pemotong siap menjamah batangnya. Sesekali juga hujan yang senantiasa turun dari langit, turun! Dan ia tak pernah terlihat naik kembali ke atas langit.
Lalu, aku kembali bertanya pada diriku sendiri. Apa yang telah aku perbuat? Untuk hidup, untuk diriku sendiri demi takdir yang tak pernah terpecahkan waktu. Ternyata tanyaku masih sama dengan kemarin, hanya tanya tanpa jawaban pasti. Lagi!
Padahal wajah-wajah penuh kasih menanti dari balik rumah sederhana kami. Wajah penuh harap akan janji yang tak terpenuhi. Atau tepatnya belum terpenuhi? Lantas kapan? Kembali sunyi sebab pemegang jawaban sejati hanya DIA. DIA yang memiliki segalanya. DIA yang hanya berkata “Jadilah!” maka jadilah segalanya.
Kembali pada pengembaraanku mencari jawaban takdir. Pun aku tahu jawabannya tak untuk dicari, sebab di kemudian hari ia akan bermekaran dengan sendirinya. Dengan rupa-rupa yang berbeda. Buruk kah? Baik kah? Sekali lagi tanya yang terbang dalam angkasa kecilku. Yang sebenarnya hanya ada usaha serta doa.
Jawaban hanya ada pada DIA. Begutu juga dengan jawaban takdiriku yang entah bagaimana.


Rabu, 25 Juli 2012

Menolak Cinta Di Bulan Romadhan

Aku menolak bukan tak mau, hanya mengulur waktu hingga ia benar-benar tepat. Bukan menghindar hanya ingin lebih mendewasakan diri dulu. Pun dirimu terluka, itu tak masalah. Toh luka itu akan terobati waktu. Tak ingin melukaimu dengan hadirnya rasa, sebab luka di kemudian hari lebih perih dari hari ini. Hanya titipan maaf lewat angin yang mampu aku kirim. Bersama lantunan doa sederhana, semoga kau tabah menjalani hari-harimu kembali. Hingga kelak dapat bertemu lagi. Suatu saat nanti.
Dekapan cinta yang belum halal itu sangat menggiurkan. Kapan saja hati akan goyah karenanya. Jika diperhatikan siapa dia, maka tentulah perasaan yang dulunya telah terkubur akan mencul kembali. Hadir mengisi relung jiwa. Tapi ... cinta semu itukah yang aku inginkan, cinta yang akan menghambat diriku menggapai cita. Cinta yang akan menenggelamkan aku dalam kesenangan yang tak menjanjikan. Cinta yang kan menjauhkanku pada Pemilk cinta sesungguhnya.
Tidak! Walau aku begitu ingin, namun itu bukan sesuatu yang perlu aku terima saat ini. Beribu mimpi belum tercapai, pun cinta jadi mimpi yang kesekian tapi bukan berarti hari ini. Aku yakin orang baik akan bertemu dengan yang baik pula. Hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk berjumpa saja.
Terlebih lagi, tak ingin menoreh noda di bulan nan suci. Bulan yang hanya datang sekali setahun, dengan limpahan hikmah di dalamnya. Dengan berbagai warna kenikmatan. Semoga tak tersia-siakan dengan cinta maha semu. Hingga cinta yang tak terpetik itu berbunga indah di kemudian hari. Semoga.

Sabtu, 21 Juli 2012

Cinta Pertama? Apa Iya?

21 Juli 2012
Malam yang mulai mendua. Antara  esok dan sekarang. Kembali tenggelam pada masa lalu yang menggugah rasa, selalu saja masa lalu terkenang di pelupuk mata. Indah namun menikam. Tersadarlah diri sejak dahulu kisahku tak ada. Mengetahui fakta tersebut ingin tertawa rasanya. Mengapa aku tak jua sadar sejak dahulu, atau ada rencana lain dengan takdirku? Kembali tanya kan.
Pikirku kisah itu tak akan ada pengaruhnya lagi pada hatiku, nyatanya tidak demikian. Sebaliknya kembali hati merintih. Tak banyak memang, namun cukup membuatku kembali membuka catatn kecilku tentangnya. Lucu memang.
Setelah dipikir-pikir sama sekali tak ada kenangan manis bersamanya. TAK ADA! Aku yakin itu. Hanya sebuah Al-Qur’an kecil yang jadi penghubungnya. Dan  penghubung itu pun sudah raib entah kemana. Jadi kesimpulannya benang tipis yang jadi penghubung pun telah putus. Kasihan sekali.
Bahkan aku tak berani menyebut namanya. Apatah lagi untuk membayangkan wajahnya. Bukti bahwa aku benar-benar pengecut. Jika kubuka lebih jauh catatan masa lalu, maka sama artinya aku mempermalukan diriku sendiri. Sebab sesungguhnya ada banyak hal yang akan mengungkap betapa aku seorang yang pengecut. Namun demikian, aku tak ingin mengusik kebahagiaannya lagi. Cukuplah ia jadi kenangan. Ya, cukup begitu saja.
Kata orang cinta petama akan sulit hilang. Biarlah. Aku nikmati dengan penaku. Dengan jemari yang terus menemani. Apa sulitnya, jika aku lukis terus-menerus kelak aku akan bosan dengan sendirinya. Mungkin itu jalan yang akan aku pilih saat ini.

Jumat, 20 Juli 2012

Suara-suara yang Hilang

Makassar, 20 Juli 2012.
Seharian ini tak begitu tenang. Kepala tak juga mau berkompromi. Disaat sebahagian ummat islam sudah berada dalam lingkaran menahan lapar, haus, dan hawa nafsu aku malah berusaha menahan sakit di kepala. Juga suhu tubuh yang terus saja panas. Ramadhan yang benar-benar beda.
Teringat  ramadhan-ramadhan sebelumnya. Saat malam pertama tarawih kami sekeluarga berjalan ke masjid untuk shalat berjamaah. Habis itu setelah pulang ibu akan melanjutkan pekerjeaannya, memasak ayam untuk sahur. Aku turut membantu, namun tidak sampai selesai. Aku akan duluan tertidur. Ibu yang menyelesaikan semuanya.
Saat sahur aku dan adik-adikku akan dibangunkan bapak. Kalau ibu yang bangunkan jarang kami anak-anaknya terbangun. Malah memperbaiki tidur kami. Namun jika bapak yang bangunkan, tak ada yang berani tinggal-tinggal. Nikmatnya masakan ibu di awal sahur tak aku rasakan saat ini.
Setelah sahur, jika masih ada waktu kami akan di ajak bapak langsung berudhu untuk mulai mengaji sebelum azan subuh berkumandang. Tak jarang sambil mengaji kami malah tertidur lagi. Hahaha ... saja sungguh menyenangkan.
 Setelah panggilan shalat subuh terdengar kami ke masjid bersama-sama. Setelah itu melanjutkan tadarrus. Ya! Tiap ramadhan kami sekeluarga berlomba tuk khatam Al-Qur’an. Bapak, ibu, dan adik-adikku yang memang sudah bisa mengaji.
Ada juga kegiatan yang rutin bapak anjurkan pada kami. Yakni tampil mengaji, atau ceramah di depan umum setelah tarawih. Aku sendiri bersyukur akan hal itu. Sebab darinyya aku jadi tidak terlalu kaku di depan umum saat berbicara.
Tapi semua itu tak terasa awal ramadhan ini. Suara ibu yang minta dibantu masak, suara ayah yang membangunkanku untuk sahur. Suara-suara mengaji setelah sahur dan shalat, semuanya tak terasa. Semalaman aku menangis karena itu. Sekarang malah mataku yang bengkak.
Belum lagi yang terdengar suara terikan anak-anak pemilik rumah yang aku tempati. Mereka malah berkelahi, menangis. Menambah pusing kepalaku. Dan tentu aku akan bilangg lagi, “Aku ingin segera pulang.”
Ini berat bagiku karena pertama kali. Namun aku akan berusaha sabar lalu menunggu waktu yang tempat. Waktu untuk bertemu dengan keluargaku tercinta. Di bawah naungan atap rumah kami yang sederhana. juga kembali mendengarkan suara-suara merdu tiap anggota keluarga. Amin.

Kamis, 19 Juli 2012

Tetes Air di Awal Malam Ramadhan

19 Jui 2012 (1 Ramadhan 1433)

                Kukunci diriku dalam kamar yang sunyi. Kembali meratapi nasib yang kualami. Entah mengapa lelah itu kembali menyiksa. Aku tak menyalahkan keberadaanku, hanya saja ruang gerakku sekan terkunci. Haya ada rasa takut salah. Aku tahu diri, tapi aku juga butuh waktu menenangkan gejolak jiwa yang kian berkecamuk.
Belum tubuhku yang protes. Beberapa hari belakangan kepalaku sakit. Ingin kutumbukkan saja ke dinding. Bahkan sudah beberapa kali kulakukan. Ya! Aku tak menyambut ramadhan dengan suka, bukan berarti karena tak suka. Entahlah, aku tak kuasa berkata lewat lisan yang masih sempurna. Hanya lewat jemari ungkapanku yang pedih terungkap.
Sumpah, teriakanku tak akan didengarkan siapa pun. Hingga mata lah yang harus menelaahnya. Dan hanya dengan itu juga aku lega. Aku tak tahu apa yang aku tulis ini. Hanya berharap sedikit resah itu pergi.
Padahal aku telah berusaha menikmati peran yang disodorkan padaku. Sungguh! Aku sudah berusaha keras menikmatinya, bahkan berusaha jatuh cinta pada peran ini. Tapi nyatanya sulit. Sulit sekali.
Dan jika kau, siapapun lihat embun yang telah menetas di mataku saat ini, dirimu akan tahu aku tak lagi berbohong. Aku benar-benar sakit. Jiwa pun raga, keduanya meminta jatah. Lalu apa kini? Haruskah kugantungkan tanya lagi?

KEPERGOK BAWA HP

Aku masih ingat, dulu sangat ingin punya HP sendiri. Memohon pada orang tua biar dibelikan. Tapi sampai selesai SMP, keinginan itu tak juga terpenuhi. Selain karena menurut bapakku masih belum saatnya, juga ada alasan lain.
Aku yang saat itu mondok di salah sebuah pesantren, secara otomatis alat elektronik tidak diperbolehkan untuk masuk. Hingga aku memutuskan untuk lanjut SMA kelas 1 di pesantren itu, aku masih tak punya HP.
Barulah saat duduk di kelas 2 SMA, bapak membelikanku HP. Waktu itu aku liburan, jadi pas pulang kampung dibelikanlah. Alasannya saat itu karena aku tetap lanjutin sekolahku di pesantren. Bukan main senangnya. Kampungku yang dikelilingi pegunungan masih sedikit sinyal yang masuk kala itu. Biasanya manjat gunung dulu baru dapat sinyal. Jadilah aku mondar-mandir tempat tinggi biar bisa pakai HP baruku.
Masalah terjadi saat harus balik ke sekolah, pesantren. Karena tak rela ninggalin HP baruku di rumah, aku bawa saja. Melanggar peraturan tepatnya. Walau sebenarnya bukan hanya aku saja yang melanggar. Jadilah main umpet-umpetan sama wali asrama. Kolom lemari jadi tempat persembunyian paling aman.
Tapi sebenarnya HP itu membawa petaka bagiku. Hari-hari jadi tidak tenang karenanya. Takut ketangkaplah, dilaporin teman, hati gundah melulu jadinya. Apa lagi biasa diadakan penggeledahan tiba-tiba. Itu juga yang paling dihindari santr-santri yang bawa HP.
Seperti malam itu. Saat kami semua selesai salat isya di masjid. Biasanya setelah mengaji bersama, kami sudah bisa pulang untuk melakukan aktivitas lain. Makan malam lalu belajar. Tapi malam itu berbeda. Kami seluruh santri disuruh tinggal di masjid. Semua bertanya-tanya. Sampai akhirnya aku dan yang lain tahu kalau ada penggeledahan kamar, aku pias. Nadiku tiba-tiba berpacu.
Aku teringat, sore tadi saat hendak salat magrib di masjid karena buru-buru HP aku letakkan saja di bawah bantal. Dalam hati aku berfikir habislah aku. Dan benar saja, setelah makan malam aku dipanggil ke kamar wali asrama.
“Taukan kesalahan kamu apa?” tanya wanita di hadapanku.
“Iya, Bu. “
“Jadi, HP ini tidak boleh kamu ambil, sebelum orang tuamu yang datang mengambilnya untuk dibawa pulang,” ucapnya lagi. Tak ada celah tuk membantah, karena memang saat itu akulah yang salah.
Setelah kejadian itu dan bapak juga datang mengambil HP milikku, bukannya kapok, aku membawanya lagi saat habis liburan. Aku masih berpetualang bersama HP hadiah dari bapak. Walau bukan untuk dicontoh, cukuplah kisahku ini jadi pengalaman hidup with HP jadulku.

Rabu, 18 Juli 2012

Diary Of Love Story

            Cinta. Bagaimana aku melukiskannya? Sedangkan kata-kataku telah habis kugunakan tuk memuji dirinya. Semua tentangnya terasa hebat. Bahkan sekalipun ia menyunggingkan senyumnya, saat berjalan. Ah! Cinta membuatku gila, cinta padanya laki-laki bermata empat.
***
            Dia, aku melihatnya dengan keunikan raga. Sebab saat itu dialah satu-satunya yang bermata minus. Mengenakan kacamata, benda yang selalu menarik perhatianku. Pandangan pertama yang membuatku berdecak kagum. Terlebih dia berbicara dengan lantangnya di depan kami, anggota baru organisasi yang ia ketuai. Aku yang berada di pojok belakang memulai hayalan tentangnya. Bahkan perkenalanku dengannya kuabadikan dalam catatan cacatku.
Cerita tentangnya juga mengalir begitu saja. Begitupu perkenalanku dengannya yang aku anggap takdir. Suatu malam aku mendapat sebuah sms dari nomor yang tak aku kenali. Seperti sabuah keharusan akupun bertanya dengan sms tentu saja, “Ini siapa?” dari situ perkenalanku dengan seseorang yang aku tak tahu siapa diapun berlanjut.
Dari perkenalan itu aku  tahu, ia juga ikut organisasi yang aku ikuti, sayangnya aku tidak tahu ia seperti apa. Berlanjutlah kegiatanku pad organisasi yang aku masuki. Aku duduk begitu santai tatkala mata kembali memainkan perannya. Tampaklah lagi dirinya, laki-laki berkacamata itu. Hati tersenyum sumrigah karenanya.Setelah kegiatan selesai aku pun pulang dengan hati berbunga, tak sabar memperdengarkan kisahku di ujung senja pada diaryku.
Pekatnya malam kian beranjak. Aku teringat tentang sesorang yang mengatakan ikut organisasi yang sama denganku. Sms singkat aku layangkan padanya, bertanya apa ia datang hari itu.
Duwar! Ledakan itu bukanah karena bom, tak terjadi pula di atas permukaan tanah. Ledakan itu bersemayam di hatiku, hanya aku yang tahu dan Sang pemilik hatiku. Bagaimana aku tak kaget, ternyata dialah Mr. Kacamata itu. Sejak saat itu sebuah diary tentangnya kutorehkan, dengan cuapan jemariku.
21 mei 2011
Rasa dalam hati kembali berkecamuk, melumpuhkan pikirin menjadikannya tak terkendali. Sebuah kemutlakan tatkala hati mulai bermain api kembali.  Mr. Kaca mata, ia hadir dengan senyum manis di bibirnya. Menyapa dengan kelembutan suaranya, menghadirkan tanya dalam hati, begitukah ia pada semua wanita?
“Kak, punya buku motifasi ngga?” tanayaku lewat telepon padanya.
“Punya. Tapi sedikit,” jawabnya, “Kenapa?”
“Yang sedikitnya itu boleh dipinjam nggak?”
“Boleh.”
“Kapan bisa pinjamnya”?
“Insyallah jam dua. Ketemu di depan apotik kampus ya?”
“Iya Kak.”
Kadang aku tak ingin membuat rasa itu mekar, namun tampa sadar aku sendiri yang memupuknya, membiarkannya menjalar tak terkendali, hingga ia tumbuh subur. Seperti hari ini. Aku menyengajakan diri tuk bertemu dengannya dengan alasan meminjam buku. Walau sebenarnya aku memang ingin, namun tetap saja itu salah.
Lalu inilah aku menunggu di depan apotik kampus yang terik, menantinya, orang yang kini menyita perhatianku. Tatkala ia datang, hati tak karuan rasanya.
“Apa kabar hari ini?” tanyanya.
“Ya?’’ mungkin aku melamun jadi tak mendengarnya.
“Gimana kabarnya?” ulangnya, dan sama juga aku tak menjawab, entah mengapa lidah serasa kelu, suara tertahan begitu saja, ah... sungguh bodoh.
Bukankah kita bertemu kemarin duhai Mr. Kaca mata? Dan aku masih sama dengan kemarin. Dalam keadaan sehat.
“Ini saja ya bukunya?” aku heran, yang kau berikan adalah buku tentang pernikahan, padahal yang ingin aku pinjam buku motivasi. Ini apa artinya? Apa kau ingin aku belajar tentang pernikahan? Untuk apa? Perjalananku masih terlampau jauh, pikirku. Kecuali saat kau yang mengajak. Pikiran bodoh lagi.
24 juli 2011
Dari mana ya memulainya?
Bingung sudah lama tidak menuangkan kata-kata dalam diary ini. Seperti sebuah pemberhentian sesaat, mati suri. Tapi kini harus dilanjut lagi, tuangan dari dalam hati tak mungkin langsung terucap, namun dengan jemari semua seakan mengalir begitu saja.
Sore tadi kembali kegiatan organisasi yang aku ikuti berlanjut. Pembahasan yang lain dari biasanya, temntang pendidikan. Bagaiman cara menangani pendidikan yang tidak merata terutama di kalangan anak-anak jalanan.
Entah mengapa bibirku selalu terkunci rapat saat dimintai pendapat tentang berbagai hal di sini. Malu jadi penyebab utama. Sedangkan pendukungnya karena kehadiran dia. Aduh, dia semakin mengagumkan. Untaan kalimat yang keluar dari mulutnya sangat...ah, kapan aku terbangun dari mimpi menghanyutkan ini?
1 januari 2012
 Mr. kacamata nama yang aku inisialkan padamu. Hari ini kembali melihatmu dengan kata-kata pedis penuh makna. Sungguh aku merasa kau semakin cerdas saja. Tak salah aku mengagumi sekaligus benci padamu. Memang rata-rata yang menarik perhatianku adalah mereka yang tak jauh beda denganmu. Tapi dirimulah yang teristimewa. Terlalu tinggikah aku berharap?
            Aku tak menyangkal ada banyak mata mengarah padamu, dari mata dengan pandangan kagum ataukah cinta yang terselubug kabut malu. Dari semua itu yang terpenting aku tak peduli.
Sore ini seperti biasa kau kembali menjadi orang penting. Tapi tadi itu benar-benar bagus. Kau memang layak tuk dikagumi, yang aku sesalkan, diriku sendiri kesempatan tuk berbicara padamu pergi sia-sia. Namun tahukah kau? Hatiku tetap bersemu.
***
Memandang penuh kekaguman tak akan pernah ia tahu. Aku sadar akan hal itu. terlalu jauh aku berharap. Mahasiswa awal sepertiku pasti tak akan dilirik olehnya. Adakah keajaiban itu terjadi padaku? Sepertinya mustahil. Walau dialah yang menggetarkan hatiku pertama kali. Pangeran tak pernah datang pada putri buruk rupa.
10 februari 2012
Inilah akhirnya, tapi akan kukisahkan awal penyebab kisah ini putus.
Awalnya ada seorang wanita di facebook yang mengajakku berkenalan.
‘Teman Kak Arfah kan?’ sapanya saat aku online. Awalnya tak janggallah seseorang menyebutnya, ia kan memang banyak kenalan. Hingga tulisan Mr.Kacamata terbaca olehku. Tentang lamarannya, tulisan-tulisan yang mengarah pada satu titik, menikah.
Penasaran mulai menghantui, dan semuanya mencuak kepermukaan. Ternyata dia wanita yang memanggilku kakak dengan mesra di Faecbook, dialah calonnya. Wanita itu juga banyak bercerita tentang hubungan mereka. Tulisan-tulisannya juga mengarah pada Kak Arfah, laki-laki berkacamat itu. Tak tahukah ia hatiku pilu merintih tampa suara?
Lalu...
Inilah aku...si gadis penuh borok luka, luka karena meninggikan hati, mencemaskan cinta yang tak kunjung hadir menghampiri.
“Kamu sebagai wanita yang berharap bertemu jodoh terbaik menurut pandanganNya, jangan sekali-kali berharap banyak pada apa yang belum kamu miliki. Saat kamu miliki saja ia bisa pergi, apatalagi ia bukan hakmu. Masih banyak jalan yang perlu kamu lalui, bukan cuman jalan ini. Tersenyumlah di sana, menunggu masa depanmu.” Ayahlah yang berucap kalimat itu. Ayah, tiba-tiba aku rindu kalimat bijakmu.           
Aku tersenyum, kisah ini usai sudah.
***
“Selamat yah Dea, sahabatnya memberi pelukan hangat untuknya juga berbagai macam kado.
      Hari bersejarah dalam hidupku tengah berlangsung. Tak seperti kebanyakan pengantin yang duduk bersanding bersama, aku dan laki-laki yang kini menjadi suamiku, dipisahkan oleh hijab.
      Siapakah laki-laki itu?
            Laki-laki yang mempersunting diringku adalah laki-laki dalam diary. kesempatan kembali menghampiriku.
***           
      Tiga bulan sebelum hari bahagia.
“Kapan menikahnya Kak?”
            “Kamu sendiri kapan terima lamaran saya?” itu bukan pertanyaan serius, di belakangnya ada tambahan, ‘just kiding’. Tapi cukup membuat jantung Dea melompat. Ia jadi bertanya bagaimana jika pertanyaan itu dilontarkan untuknya dengan sungguh-sungguh? Ada-ada saja si Mr.kacamata
            Sebenarnya Dea tak berharap dapat balasan, karena setahunya orang itu tak suka meladeni pertanyaan basa-basi. Toh akhirnya percakapan mereka via SMS itu berlanjut. Tak tanggu-tanggung pembahasannya merupakan hal yang membuat Dea penasarn akhir-akhir ini, meski berusah tak ambil pusing.
            “Tidak jadi.”
            Jawaban itu yang membuyarkan pertanyaan gadis yang masih menatap layar tv sejak tadi. Rasa kasihan memenuhi relung hati, juga perasaan lega. Dea merasa jadi orang jahat saat itu juga.
            “Biarpun dia mau tapi walinya tidak, sama saja nol.” Sambungnya lagi, iba juga hati Dea, bagaimanapun Dea tau calon senoirnya itu dari Facebook. Setahunya gadis yang dilamar Mr.Kacamata itu sudah siap menikah, malah sangat berharap lamaran itu diterima orang tuanya. Sayangnya wali sang calon tak menerima. Maka dari penuturan Mr.Kacamata batal lah rencana suci itu. Diary-diary yang selama ini dibuatnya, ia kirim tuk Mr.kacamata, tak ada niat tuk berharap. Ia hanya ingin melepas beban perasaan yang ada dalam hatinya. Bereda dengan Mr.kacamata yang menerima pesan cinta itu. senyumnya mengembang. Ternyata ada rencana Sang Pemilik hati untuknya. Tekatnya kembali bulat, meminang sang pengirim pesan.

BIDADARI CACAT

            Melukis keindahan dalam diam, itulah yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.  Wanita dengan kelemahan fisik. Bidadari istimewa karena mendapat keistimewaan dari Penciptanya.
            “Namamu Laila kan? Tahukah kau Laila artinya malam yang pekat. Saat itu suasana benar-benar hening,sunyi.”
            Benar aku dikucilkan dalam malam, sama dengan namaku.
            “Kamu mungkin berfikir nama itu sangat cocok dengan keadaanmu sekarang. Suka menyendiri menghindar dari keramaian. Tapi sebenarnya malamlah yang dirindukan manusia tuk melepas penat. Di malam hari pula hamba-hamba yang saleh terbangun untuk lebih mendekatkan diri pada Robbnya.”
            Aku tidak pernah memikirkan hal itu.
            “La! Menyesali kenyataan yang menimpamu selama ini bukanlah jalan keluar. Toh inilah takdir yang tak bisa diubah. Kamu bisa menjalaninya dengan baik, tapi itu tergantung kemauanmu. Kakak tak bisa banyak membantumu, maafkan kakak.”
            Gadis usia 17  tahun itu tak menyangka kata-kata itu menjadi salam perpisahan kakak semata wayangnya. Bari meninggalkannya sendiri kini,  ditemani melodi sepi yang semakin menggila.
***
            Semenjak kepergian Bari, Liala semakin menutup diri. Tak ada lagi rutinitas ke sekolah. Bahkan tuk mengurus dirinyapun seakan lupa. Kamarnya yang mungil tak lagi rapi seperti dulu. Rumahnya yang bersih mulai terlihat kusam, juga taman depan rumah yang selalu ia rawat dengan baik mulai ditumbuhi rumput-rumput.  Hanya kewajibannya pada Robbnya yang tak ia lupakan. Bari pula yang mengajarinya hal itu.
            Saat hembusan angin malam kian dingin, ia duduk di depan meja belajar Bari. Di atas meja terdapat beberapa buku yang sudah berdebu. Kebanyakan buku tentang agama, ada satu yang menarik perhatian Laila. Buku catatan Bari yang selama ini ingin ia baca.
            Dibukanya perlahan, ada getaran halus di dadanya. Sekian lama ia meminta Bari memperlihatkan buku itu padanya, namun kakanya selalu menolak. Malah menyuruhnya membaca buku lain.
            Bidadari kecilku, hanya kau yang membuatku bertahan hingga kini. Kalimat pertama yang ia baca.
            Suatu petang aku berjalan di antara tumpukan sampah dekat jembatan tempatku bermain. Kala itu semua sudah pulang, karena ada barangku yang tertinggal akupun kembali tuk mengambilnya. Ternyata sekenario Tuhan kala itu tengah bermain, aku mendengar tangisan bayi di antara tumpukan sampah. Saat memeriksa sekitar betapa kagetnya aku menemukan bayi merah yang terbungkus kain usang. Aku hendak berlari, tapi seakan kakiku tertahan. Ibu pasti  marah jika melihatku membawa bayi itu. kami yang hidup pas-pasan akan kerepotan jika menambah satu beban lagi. Jadi aku harus bagaimana. Tak tega meninggalkan bayi itu.
            Lanjutan diary itu tidak ada. Rasa penasaran Laila akan bayi itu tak terobati. Diary kecil itu berhenti menceritakan kisahnya. Halaman selanjutnya sobek. Rahasia apa yang Kakak sembunyikan dariku?
Semakin  teriris perasaan Laila. Akukah bayi malang itu? ia ingat dulu ibu sangat membencinya. Ada saja kata pedis ibu yang menohoknya tiap hari. Belum lagi bekas cubitan dan pukulan wanita itu di badannya tak terhitung jumlahnya. Ah ibu, aku tetap  mencintaimu dalam diamku.
            Bidadariku menangis lagi, katanya dipukuli ibu. Malang sekali nasibnya, ibu tak pernah bisa menerima bidadariku, apa karena kebisuannya. Aku selalu berharap pintu hati ibu terketuk. Ataukah ini balasan Tuhan padaku? Tentang bayi itu... ah, aku sungguh berdosa.
            Ada banyak tulisan dalam buku itu, namun ia tak paham kisah tentang dirinya. Siapa sebenarnya bayi itu Kak? Di bukanya terus buku itu, tak ada lagi tulisan tangan kakaknya tentang bayi itu.
            Matanya masih menekuni buku itu.
            Ibu telah pergi bidadariku, katanya ia ingin mencari uang di tempat lain. Ibu meninggalkan kita berdua setelah ayah. Tapi ibu berjanji menjemput kita setelah ia berhasil bidadariku. Mungkin ibu tak tahu, kebersamaanlah yang kita inginkan. Aku yang akan menjagamu. Aku berjanji.
***
            Sepuluh tahun silam di perkampungan kumuh.
            Wanita itu menahan gejolak di hatinya. Bagaimanapun tak mungkin ia membawa kedua buah hatinya. Tak akan ada yang mau menerimanya bekerja nanti. Rasa bersalah terus saja menggerogotinya. Terlebih pada bungsunya yang selalu dipojokkan. Dianggap pembawa sial, dirinya pulalah yang membuat gadis kecilnya tak pernah mau mengeluarkan suara.
            Tapi ia tetap harus pergi. Walau putranya tak mengizinkan ia tetap pergi. Maka malam itu, saat kedua anaknya tidur pulas, ia melangkahkan kaki keluar rumah setelah mencium kedaua anaknya.
“ Ibu berjanji akan kembali, Nak,” bisiknya pilu.
            Wanita itu tak tahu, putranya tersadar kala itu. Ia menangis tersedu-sedu saat wanita itu telah keluar rumah.
            Bara tahu ibunya tak tahan pada kemiskinan mereka yang sudah sekian lama. Ia pun tahu, ibunya  menganggap adiknya pembawa sial. Karena adiknya pula ayah mereka meninggal. Wanita itu sangat bergantung pada suaminya, hingga suatu hari saat kecelakaan menewaskan sang suami. Sedang anak perempuan terselamatkan dalam pelukan laki-laki itu.
***
            Laila masih terdiam, jam tua di dinding rumahnya menunjukkan pukul 01.55 dini hari. Tak jua ia bergeming.  Air matanya telah terkuras habis. Bari bukan saja meninggalkannya. Banyak rahasia yang ia pendam dan tak diberitahukan pada dirinya.
            Bagaimana cara menjelaskan semua ini pada Laila? Penyakitku parah. Ah, tak ingin membuatnya hawatir. Apa lagi mematahkan semangatnya. Aku benar-benar bukan kakak yang baik untukmu.
            Gadis tunawicara itu pindah ke tempat tidur kakaknya. Air matanya kembali terurai hingga ia tertidur karena kelelahan.
***
            “La! Aku sahabatmukan? Berbagilah denganku. Kak Bari bukan satu-satunya orang yang peduli padamu. Bahkan sekalipu ia masih bisa melihatmu, aku yakin ia tak akan suka kamu seperti ini,” ucap Fauziah, teman sebangkunya di sekolah, “Terlebih lagi sekarang kamu sudah tak sekolah lagi. Jangan biarkan aku jadi sahabat yang jahat, aku sangat siap membantumu.”
            Laila tak menjawab, ia berbalik lalu memeluk sahabatnya itu. Aku tahu, aku akan mengikuti kata Kak Bari tuk bangkit. Fauziah satu-satunya teman sekelasnya yang peduli padanya. Sampai-sampai saat tahu Laila dikeluarkan karena uang SPP yang menunggak, dengan senag hati Fauziah meminjaminya buku-buku pelajaran. Tak jarang pula membelikannya buku berharap Laila akan terhibur.
            Hampir setiap hari setelah dari sekolah Ziah mampir ke rumah Laila.
            “Aku mau pinjam buku kamu. Itu loh buku kumpulan puisi kamu,” Ucapnya suatu sore.
            Laila mengambil note book kecil dari sakunya, ‘untuk apa?’ tulisnya lalu diberikan pada Ziah.
            “Ada tugas sekolah. Kamu tahu sendirikan, aku tidak suka mengarang. Apa lagi mengarang puisi,” jawabnya tuk menjawab pertanyaan sahabatnya. Laila tak tahu, dalam hati Ziah punya rencana lain.
            Perlahan-lahan senyum kembali terlihat di wajah Laila. Tak lepas dari bantuan sahabatnya. Walau masih enggan keluar rumah, namun ia sudah beraktifitas lagi. Bahkan tak hanya itu, ia mulai rajin menulis kenangan-kenagannya bersama Bari.  Baginya membuat puisi dan tulisan-tulisan lain, seakan menghadirkan laki-laki yang sangat ia sayangi.
***
Laila Bari. Nama yang tertera pada sampul buku itu membuat wanita yang sedari tadi duduk di teras rumahnya tercengang. Buku yang baru saja dibawa pulang olehh anaknya itu tak ayal mmbuat jantungnya bekerja cepat.
“Kenapa, Ma?” anak dari suaminya yang duduk di bagku Sekolah Menengah Pertama merasa aneh dengan ekspresi ibunya.
“O...penulis buku itu besok mau datang ke sekolah. Karena aku suka karya-karyanya yang menyentuh, jadi tadi pas dari sekolah aku mampir saja ke toko buku. Sekalian besok minta tanda tangannya,” jelasnya enteng.
Wanita itu hanya melongo, di tatapnya kembali buku itu. perlahan dalam hati ia baca judul bukunya, ‘Ibu Pulanglah’.
***
            Anak gadisnya tak tahu ia pun ikut ke sekolah. Anak gadisnya tak tahu, dalam hatinya berkecamuk perasaan bersalah.
            Acara berlanggsung dengan baik. Wanita yang duduk di hadapan ratusan siswa itu terlihat sangat anggun. Di sampingnya duduk seoarang wanita lagi, yang tak lain adalah sahabatnya. Sahabat yang juga ambil peran mewakilinya berbicara. Kekurangannya karena bisu, membuat banyak tulisan lahir dari jemarinya.
            Sedang wanita paruh baya di belakang sana masih menatap tak percaya.
***
            Anakku maafkan ibu. Mungkin ebih baik begini. Kau benar-benar tumbuh dengan baik. Ibu dengar kau kini sebatang kara. Tak berani wanita hina ini menampakkan wajah di hadapanmu. Apa lagi kini engkau telah berhasil.
            Tentang kakakmu, ibu pun banyak salah padanya. Ibu menjadikannya manusia tak berperasaan, sehingga ia tega meninggalkan bayi merah itu di tengah tumpukan sampah.
            Ibu juga salah padamu. Engkau anakku. Tapi karena marah atas kepergian ayahmu, ibu menganggapmu orang lain. Ibu juga malu mempunyai anak yang bisu. Ibu anggap kau pembawa sial. Nyatanya engkaulah permata yang sebenarnya.
            Satu-satunya sikap ibu yang benar hanyalah, merobek buku diary kakakmu. Sehingga tak ada orang yang tahu dia meninggalkan bayi merah itu.
            Maafkan ibu yang tak dapat kembali...




BADAI CINTA TIARA

Kisah cinta itu misteri, hari ini mungkin mengatakan ‘Aku mencintaimu’ tapi esok hari entah ia masih sama. Cinta itu penyakit, tatkala ia datang dengan cara yang salah. Cinta kebohongan belaka.
Cinta itu, luka...
***
Salahkah? Pertemuan denganmu adalah takdir terindah yang pernah aku rasakan. Aku tak menyangka, kekaguman yang aku pelihara terhadapmu berbuah rasa yang tak pernah aku duga, dan tahukah kau akan hal itu duhai tuan?
Walau lidah tak mungkin menyebut namamu, pandangan mata tak sanggup menghayalkanmu, namun aku tak sanggup tuk berdusta jika rasa itu telah menguasai relung-relung sukmaku. Salahkah duhai tuan?
Aku sadar, mengharpkanmu adalah sebuah kebodohan.Yah, kau terlalu jauh bagi seorang gadis bodoh sepertiku. Aku memelihara penyakit yang tak aku tahu obatnya, dan itu karenamu. Akupun tak menyalahkanmu,
Sungguh, ini salahku, karena itu aku mohon maafkan  kebodohanku, yang menaruh rasa teramat tinggi padamu.
            Tiara, menutup buku hariannya. Menaruhnya di laci, lantas pergi ke kamar mandi. Malam itu untuk kesekian kalinya ia menggambarkan perasaannya pada seorang leki-laki yang berada di seberang tembok. Orang yang menyentuh hatinya dengan cinta.
***
Aku tahu, perasaanku tak akan pernah berdusta, kata hati tak pernah mungkir. Hatiku tergelitik. Aku merasakan seluruh darahku memanas. Hatiku deg-degan, suarnya berdentuman tak beraturan, akalku tak mampu aku kendalikan. Aku tau ini akan terjadi, tapi aku tak mempersiapkan diri untuknya.
Sebuah kalimat indah ia tujukan padaku, tak ayal membutku salah tingkah di malam yang sunyi, tak ada yang melihatku, tapi aku sungguh malu dibuatnya, bagaimana mungkin itu ia ucapkan. Ya Robb, akankah ini ujian untukku ataukah anugrah?
Jika ini ujian, aku mohon pinjamkan aku sedikit kekuatanMu tuk menghadapinya. Namun jika ini anugrah untukku, jangan biarkan aku terlena padanya, aku tetap ingin cinta sejati dariMu,  walau cinta di dunia ini menjadi penghiasnya, aku tetap berharap Engkau yang pertama mengisi kekosongan cintaku ya Rob.
“I love you.”
Kata-kata itu bagiku hanya untuk mereka pemuja cinta, awalnya. Tak pernah membayangkan akan ada yang menujukan kalimat singkat yang membuat orang gila itu padaku. Apa lagi darinya, mustahil.  Aku selalu menganggapnya jauh di atasku, bukan berarti aku mendewakannya, sama sekali tidak. Hanya anggapan ia terlalu sempurna, menjadikanku tak pantas mengharapkannya. Selain itu aku sangat takut suatu saat  amalnku berbelok arah karena dirinya, aku sungguh takut akan hal itu. Tapi untuk menjauhinya aku juga tak mampu, tepatnya tidak mau.
Kata-katanya bagai air yang aku minum kala benar-benar kehausan, memberikan tenaga yang mampu membuatku bangkit dari keterpurukan. Nasehatnya penuh makna, mengalir dari ilmu-ilmu yang ia dapatkan. Aku mengaguminya. Kearifan serta bijaksananya membuatku memandang sosok pemimpin yang baik mungkin di dunia, tapi harapanku hingga kelak di akhirat. Tapi apakah ia pemimpin untukku? Entahlah.
Aku selalu berharap dapat yang terbaik dari Sang pembolak-balik hati manusia, begitupun dengannya. Ungkapannya bagiku memang membahagiakan. Tapi, aku tetap harus berpikir, berharap boleh saja,Tuhan yang menentukan.
Aku hanya akan berdoa untuk itu. Aku mengikuti katanya, “Suka ataupun sayang, namun bukan berarti kita pacaran!”
 “Aku tahu, kamu anti kata-kata itu, bagiku cukup kita saling menyemangati juga menasehati.”
Senyumku mengembang, inilah perasaan itu, datang padaku tuk kesekian kalinya, meracuni hati dan pikiranku, namun tetap aku menikmatinya. Dia pasti bisa mengendalikan perasaannya, semoga akupun demikian halnya. Akan ada waktunya aku menemukan pemilik tulang rusuk yang harus aku lengkapi. Entah dia atau yang lain, tapi semoga itu Dia. Aku sungguh berharap.
***


            Namun cinta tak pernah berpihak padanya, seakan cinta sangat membenci dirinya, ia selalu beranggapan begitu, sebab cinta yang ia rasakan selalu berbuah kepediha  yang menikam hatinya.
***
Maaf atas kelancanganku padamu,
Itulah diriku yang sebenarnya, wanita yang selalu berharapa pada cinta yang sesungguhnya tak pantas aku miliki.
Aku tahu, kau tak akan tahu maksud dari semua ini, anggap saja angin lalu yang tak berbekas untukmu.
Bahkan aku tak pantas untuk berharap padamu.
Setidaknya rasa yang aku pendam telah aku keluarkan..
Maaf sungguh aku memohon  maaf  padamu duhai tuan...
***
Latif, nama laki-laki yang selalu mencuri perhatiannya. Bukan karena ketampanan, kekayaan, justru karena ia mengagap laki-laki itu berbeda dari yang lain. Pintar, alim itulah dua paduan yang membuat hatinya tak ingin melepaskan sebuah selipan rasa yang ada hingga kini.
Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyimpan perasaan itu. sejak ia memasuki dunia asrama, pesanteren, dari jauh ia telah sangat berharap pada laki-laki yang dikaguminya. Semakin ia tahu tentang sang pujaan hati, samakin sakitlah hatinya, bukan hanya ia yang menaruh hati pada sang kumbang. Bahkan teaman-temannya sesama putri yang lebih agresif mendekati sang pujaan hati.
Dirinya, hanya bisa memandang dari jauh. Hingga tiga tahun berakhir, tak sekalipun ia berbicara pada laki-laki itu. perpisahan terjadi, ia hanya mampu meratapi kepergian, tak ada kata terucap.
***
Ia sudah memutuskan untuk tetap berada di tempat itu, hingga tiga tahun kemudian, perubahan terjadi pada gadis pendiam  itu, ia ungkapkan perasaannya yang tak tertahankan pada laki-laki yang ia cintai, Tiara tak berharap mereka pacaran, ia hanya ingin melegakan hatinya, sekalipun rasa ingin memeliki juga berkecamuk dalam sukmanya.
Laki-laki itu menghargai perasaan Tiara, namun tak ada ikatan antara mereka, pacaran bukan hal yang ingin mereka lalui, sedangkan menikah bukan hal yang mungkin mereka lakukan, Sekarang.
Tiara, gadis yang selalu merasakan siksaan perasaannya sendiri, hingga berdarah-darah sekalipun taka akan ada yang mengerti akan perasaannya itu.
***
Waktu berputar, Latif laki-laki yang ingin mencapai cita-citanya tak akan banyak peduli hanya karena perasaan seorang gadis bodoh pengagumnya, enam tahun berlalu, ia tetap seperti dirinya yang dulu, dingin. Hanya mampu  mengucap, “I LOVE YOU.” lalu setelahnya mengucap kata, “Tak usah berharap.” Ia tak peranah tahu kata-katanya menebar luka di hati sang gadis.
Perasaan melambung tinggi, namun dalam sekejap terhempas jatuh dengan kerasnya ke dalam kerak bumi.  Perih, teriris-iris, tak tahu melukiskan perasaannya kini, Tiara tak berucap lagi, ia mundur, membawa luka bersama dirinya. Tak akan menoleh ke belakang lagi.
***
Aku terluaka...
Tak perlu kuceritakan mengapa bisa
Kaupun tahu mengapa
Karena tak ada selainnya
Bunga berbau harum.
Beracun dikemudian hari
Menikam dalam sanubari
Mengninggalkan luka tak terobati
Perih, sungguh...
Kata-kata Tiara habis kini, air mata mengalir tak ia sadari. Cinta baginya adalah luka. Selalu itu yang ia hadirkan, cinta yang selalu menyiksa menghadirkan rasa menyiksa yang tak ada habisnya.
Ia berlari...
Hilang ditelan badai cinta yang terluka.
2020...
Laki-laki itu mencapai kesuksesannya dengan gemilang, namun ada yang selalu ia rasakan kurang dalam  hatinya, ada yang hilang. Semakin ia mencari apa yang ia anggap hilang, semakin bingung juga ia dibuatnya.
Angannya kembali pada sebuah peristiwa,
“I LOVE YOU.”
“TIDAK USAH BERHARAP.”
Dua kalimat  yang ia ucapkan dan sangat bertolak belakang.
Yah, gadis itu, dimana ia kini...

Selasa, 17 Juli 2012

Valen Sang Teratai




Teratai sama denganku. Sebab aku pun hidup dalam lumpur. Lumpur yang tak nyata.
Soi duduk mengagumi dirinya dalam cermin. Cantik, pikirnya sambil tersenyum. Sebentar ia menghadiri pesta sekolahnya. Sudah sejak lama ia menginginkan pesta itu. Ia yakin, ia akan terpilih jadi ratu pesta. Siapa yang tidak ingin. Hadiahnya sangat menggiurkan. Berkencan dengan Valen, murid terpopuler di sekolahnya. Valen yang super dingin.
Jika tahun lalu Soi didepak oleh seniornya  Zizi, kali ini seniornya itu sudah tak ada. Bahkan yang ia dengar Zizi si cantik itu sudah tak ada lagi. Tersebar kabar setelah Zizi menerima ijazahnya, dalam perjalanan pulang ia diculik. Dan keesokan harinya ia baru didapat dengan tubuh yang sudah kaku. Parahnya lagi di sekujur tubuhnya ada luka tusuk. Yang paling mengherankan, sebab kematiannya tak juga diungkap.
Soi sudah sampai di pesta sekolah. Pakaian yang ia kenakan malam itu sangat indah. Jauh-jauh hari pakaian itu memang ia siapkan. Samai-sampai uang tabungannya habis. Baginya menjadi ratu pesta adalah sesuatu yang tak ada duanya, terlebih jika ia juga bisa menaklukkan hati Valen.
Pandangannya mengitari aula sekolah yang telah diubah indah. Teman-temannya seakan tak mau juga melewatkan kesempatan itu. Dilihatnya Valen sudah duduk di kursi kebesarannya. Pesta sekolah memang dibuat seperti pesta kerajaan-kerajaan. Sehingga ada juga kursi untuk raja dan ratu. Kursi yang ada di sebelah Valen belum terisi. Soi yakin, kursi itu akan jadi miliknya.
”Soi, gaunmu indah sekali.” Dee menyentuh gaun pesta Soi.
“Apaan sih. Dee sudah! Jangan disentuh, nanti kamu merusaknya.” Soi menepis tangan Dee.
Dee, cemberut mendengar ucapan Soi.
“Bagaiman pemilihan ratunya?” tanya Soi.
“Sepertinya masih lama. Ini baru pukul 21.45 pengumuman mungkin menjelang tengah malam.”
“Ya sudah, aku menunggu di luar saja. Di sini sumpek.”
“Soi, jangan pasang wajah begitu. Siapa yang akan memilih ratu dengan senyum penyihir sepertimu.” Ucap Dee sebelum Soi pergi. Mengundang senyum terpaksa Soi.

“Apa-apaan anak itu. Katanya mau jadi ratu pesta, sedangkan sikapnya seperti itu.” 

Malam itu bulan tampak indah. Bulan purnama tepatnya. Soi memandanginya sambil duduk di bangku taman sekolah.
Brakkkk...
Soi kaget.
“Siapa?” tanyanya.
Rasa takut tiba-tiba menyerangnya. Karena ia memang duduk seorang diri.
“Soi?” sebuah suar memanggilnya.
Soi mencari sumber suara itu. Didapatinya Valen berjalan santai ke arahnya.
“Sedang apa? Bukankah seharusnya kamu berbaur untuk mendapatkan dukungan?” Soi kaget karena Valen tahu namanya. Juga tahu ia ikut pemilihan ratu pesta malam itu.
“Untu apa. Aku yakin terpilih.” Walau kagum pada ketampanan Valen, Soi tetap menjaga penampilannya. Termasuk tetap kelihatan percaya diri.
“Ternyata kabar yang kudengar selama ini tentangmu memang benar, yah.” Kata Valen sambil tersenyum. Wajahnya yang putih semakin menawan saja. Soi berusaha keras menguasai dirinya.
“Jadi kamu juga pengagumku?” tanya Soi.
“Apa?”
            “Lihat saja, bahkan kamu tahu tentang diriku.”
“Dasar pede.” Ucap Valen sambil tertawa. Soi kaget, sangat jarang Valen tertawa. Walaupun di sekolah. Soi memandangi wajah putih Valen.
“Val, kamu kok pucat?”
Valen tersadar. Malam semakin larut. Itu artinya ia harus pergi. Belum juga Soi melanjutkan ucapannya, Valen sudah tak lagi di sampingnya.
Soi merasa aneh. Padahal baru saja ia memalingkan wajah. Soi memilih kembali dalam aula tempat pesta berlangsung. Berharap kembali menemukan Valen.

Malam menunjukkan pukul 23.45 sudah waktunya pengumuman ratu pesta malam itu. Soi tampak antusias di belakang. Ia memilih tak terlalu dekat dengan panggung, menurutnya perjalanan ke atas panggunglah yang paling mempesona, terlebih saat jalan terbuka untuknya. Dan hanya ia yang berjalan di tengah-tengahnya. Membayangkannya saja membuat hati Soi teramat bahagia.
Tapi ada yang aneh, Valen tak duduk di kursinya. Soi mengedarkan pandangannya, tak juga ia temukan sosok Valen.  Sampai ia dipanggil ke atas panggung karena terpilih sebagai pemenang, Soi masih berusaha mencari Valen. Walau hanya dengan kedua matanya. Sebuah mahkota indah kini bertengger di atas kepalanya. Soi kini tampak seperti  kuntum bunga yang baru saja mekar. Semua bertepuk tangan untuknya.
Acara selanjutnya tak lagi penting bagi Soi. Ia malah berjalan menyusuri taman. Mencari keberadaan Valen. Seharusnya yang memasangkan mahkota untuknya adalah Valen. Tapi menampakkan diri saja tidak. Soi sedikit kecewa.
“Soi?” suara itu lagi. Valen.
“ Val, kemana saja? Seharusnya tadi kamu yang memasangkan mahkota ini.” Ucap Soi sambil menarik mahkota dari kepalanya.
“Maaf.” Dari suaranya Soi tahu ada nada sendu yang ia dengar.
“Val, kenapa wajahmu pucat?”
Valen tak menjawab. Ia malah memegangi lengan Soi. Soi tersihir, biar pun wajah Valen sangat pucat, Tapi ketampanannya tetap sama.
“Val, kamu ... “
“ Soi, ini kan yang kamu tunggu dariku?”
Soi tak mampu menjawab, matanya hanya menatap tak percaya pada Valen. Kedua tangan Valen berpindah ke pundak Soi. Perasaan Soi semakin tak menentu. Ia telah siap, karena inilah yang ia tunggu seama ini. Cintanya pada Valen akhirnya terbalas. Mata Soi terpejam. Senyum Valen mengembang.

Valen duduk di ruang yang cukup besar. Seorang diri. Ia menangis sejadinya. Semalam kembali ia tak mampu mengendalikan diri. Sekali lagi ia mengakhiri nyawa seseorang. Orang yang selama ini ia inginkan kehadirannya. Zizi yang dulu menjadi saingan Sora, ia juga yang membunuhnya. Ia tak menyangka semalam ia juga membunuh Soi. Orang yang dicintainya selama ini.
“Val, ka ... kamu ... “
“Iya Soi sayang, aku adalah mahluk penghisap darah. Maafkan aku ... maafkan ...”
Aku memang teratai, indah. Namun hidupku hanya berpusat pada lumpur. Tak berarti. Dihindari. Hanya dinikmati dari jauh.

Saat Terindah

Pernah dengar kalimat  rumahku adalah surgaku? Kurang lebih sama lah yang aku rasakan saat balik ke kampung halaman. Apalagi saat ini. Saat diamana aku dan keluargaku mulai terpisah-pisah. Aku yang anak pertama saja sejak TK sudah tinggal jauh dari oran tua. SD kelas lima juga kembali pindah ke kampung tetangga untuk bersekolah. Masuk SMP lebih jauh lagi karena masuk pesantren. Dan puncaknya sekarang karena kuliah.
Awalnya aku saja yang terpisah, tapi kini dua adikku yang lain sudah menyusul. Keduanya sudah masuk SMP, sekali lagi pesantren jadi pilihan kedua orang tuaku untuk adik-adikku. Mengapa? Kata bapak, “Kalau yang tahu ilmu dunia sekarang sudah banyak. Tapi perpaduan dunia akhirat itu masih jarang adanya.” Aku tentu setuju dengan bapakku, sebab akibat masuk ke pesantren sudah aku rasakan kini.
Jadi saat ini kami dengan jumlah lima bersaudara, yang masih bersama orang tua saat ini tinggal dua orang. Satunya kelas empat dan satu lagi masih TK. Seni pertemuan adalah kala merasakan perpisahan. Rindu berkecamuk dalam jiwa. Kembali bercengkrama. Menikmati kebersamaan di rumah yang sederhana. saat terindah itu sebentar lagi terwujud. Lewat bulan suci nan agung. Ya! Tinggal menghitung hari, jika Dia Sang Maha Perkasa masih berkehendak mempertemukan keluarga kami, dalam indahnya bulan Ramadhan.

Ramadhan With Ramdhani

Aku wanita. Hanya bisa diam. Tak tercipta untuk mengungkap kata cinta. Pun aku begitu ingin bercerita. Hingga usiaku hampir kepala tiga, aku masih juga diam seribu bahasa. Hanya memberi isyarat saja. Agar kumbang segera menghampiri raga. Ya, aku masih sama. Duduk menunggu penjemputku hingga Ramadhan yang kesekian kalinya.
Enggan sudah keluargaku pada diriku. Kata mereka hendaknya aku mencari pasangan. Tapi apa daya, aku tetap kembang hanya bisa menunggu. Tertanam indah dalam tanah. Dan sebentar lagi berbunga layu. Itu aku. Masih sama. Tak berubah.
Jika kau tanya, kenapa kumbang tak datang? Akan kujawab mungkin karena di sekelilingku hanya lumpur yang ada. Hingga belum menjangkauku saja kumbang sudah kelelahan menyebrangi lumpur. Hingga aku lelah. Menanti dan tak juga terwujud. Sebab kata kakekku aku ibarat bunga lotus.
Esok kembali Ramadhan menjumpaiku. Aku menyambutnya seorang diri. Keluargaku sudah mengasingkan aku. Sebab mereka malu. Mereka tak tahu aku lebih malu lagi.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Siapa?”
“Maaf, saya Dani, Ramdhani tepatnya. Ehm, boleh kami menginap. Saya bersama adik perempuan saya. Kami nyasar dan saya sama sekali tidak tahu daerah ini.”
“Tentu saja boleh. Silahkan masuk.”
Ramdhani, itu namanya. Dia datang bersama Dina, adiknya. Mungkinkah Ramadhan kali ini berbeda untukku? Aku sungguh berharap.

Lembah yang Dinanti

Gersang. Cukup itu gambaran hidup yang terlalui, hingga waktu menjemput di kemudian hari.
Waktu yang tak bersahabat lagi. Sebab katanya Dia telah memberi batas usia, lalu mengapa tak kau pakai?
Benar adanya, waktu tak akan kembali. Waktu jua yang kelak memenggal hidup, mengakhirinya untuk hidup yang lain.
Sebuah pertanyaan mengahampiriku, akankaha siap jadi milikku?

Kutemui debu yang melekat di segala raga. Mencari cara melelehkannya.
Terlampau sulit nyatanya. Terlalu banyak noda yang menempel, apa iya masih bisa hilang?
Lantas bayi kecil menertawakan tangisku. Katanya, siapa suruh berjanji namun tak menepati.
Wanita tua memaki, salahmu sendiri bergunjing di atas penderitaan orang lain. Durhaka pada dua bidadari suci.

Tawa mereka renyah terdengar, sedang pemilik raga penuh nanah ini mengaduh penuh pilu.
Inikah balasan itu? Sungguh aku berharap memutar waktu kembali.
Berharap maaf.
Lagi.

Duar...
Aku terbangun!
Mimpi, ya! Aku menemukan ragaku di subuh ramadhan.
Lembah beramal para kaum Muhammad
Lembah memohon maaf pada Sang Pencipta, mengabdi.
Lembah penyucian diri.
Diriku.