Sabtu, 23 Juni 2012

Coco, Kelinci Wildan


“Bunda, kenapa Coco ngga bisa bicara seperti kita?”tanya Wildan pada ibunya sambil menunjuk ke arah kelinci putih peliharaannya.
“Emang Wildan tidak tahu? Kelincinya juga bicar kok, cuman bicaranya hanya sama kelinci saja.” Jawab ibunya.
Wildan masih berumur 5 tahun. Ia sangat suka dengan kelinci. Makanya saat ulang tahun yang ke-5 ia meminta hadiah kelinci pada orang tuanya. Awalnya ibu Wildan tidak mengizinkan, karena khawatir tidak ada yang memelihara. Tapi setelah Wildan berjanji memelihara kelinci itu dengan baik, akhirnya dibelikanlah kelinci putih yang diberi nama Coco.
Wildan sangat sayang pada kelincinya. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia selalu memberikan makan pada Coco. Setelah pulang sekolah juga. Pada hari minggu Coco dibersihkan, juga kandangnya dirapikan oleh Wildan. Setelah itu baru diajak jalan-jalan ke sekitar rumah.
Suatu saat, Wildan mengajak teman-temannya ke rumah untuk melihat Coco sepulang dari sekolah.
Mereka lalu berjalan ke taman belakang rumah Wildan. Tapi alangkah kagetnya Wildan dan teman-temannya saat menemuukan Coco sudah tak bergerak lagi.
Seharian Wildan menangis. Bahkan ketika teman-temannya pulang, Wildan tidak peduli. Wildan juga tidak mau menguburkan Coco. Karena tidak rela berpisah dengannya. Setelah ayahnya pulang bekerja Wildan kembali dibujuk untuk segera menguuburka Coco.
“Sayang, kalau Coco tidak dikubur nanti ia jadi sedih. Sekarang, kita kubur Coco sama-sama, yah?” ucap ayah pada Wildan.
Akhirnya Wildan mau menguburkan Coco setelah dibujuk ayahnya.
Dan malam hari karena kelelahan seharian menangis, Wildan tidur lebih awal.
^_^
“Wildan! Wildan!” sebuah suara memanggilnya. Wildan mencari-cari dari mana asal suara itu. Karena sangat gelap, makanya Wildan tidak dapat melihat sekelilingnya.
“Wildan!” sekali lagi suara itu memanggil nama Wildan. Lalu muncul cahaya kecil dari depan Wildan. Awalnya sangat kecil, lama-lama semakin jelas.
“Coco? Kamu Cocokan?” tanya Wildan pada kelici putih yang bercahaya itu.
“Iya. Terimakasih ya Wildan karena kamu sudah menjagaku selama ini.” Wildan kaget karena Coco bisa bicara.
“Kamu bisa bicara? Kan seharusnya tidak biasa.”
“Wildan, kamu baik-baik yah. Jangan menangis lagi.” Kata Coco, sebelum akhirnya semakin menjauh.
“Cococ! Coco! Coco!” Wildan terus berteriak memanggil kelinci putihnya.
“Wildan, sayang kamu kenapa?” mata Wildan perlahan terbuka. Ternyata tadi ia bermimpi.
“Bunda, aku ketemu Coco tadi. Dia bisa bicara, dia bilang terimakasih sama aku. Di juga bilang agar aku tidak menangis lagi.” Jelas Wildan pada ibunya.
“Itu artinya Coco ingin Wildan tersenyum lagi seperti saat Coco masih di sini. Jadi Wildan tidak akan menangis lagikan?” Wildan mengangguk. Lalu ibunya memeluk Wildan hingga kembali tertidur.


Jumat, 22 Juni 2012

CINTA NARSIS

Lihatlah!
Tatapan itu mengarah padaku
Membelah kerumunan nafas
Menyapaku indah
Kala semua bernada gundah

Lihatlah!
Ia mengintipku dari balik jendela
Menyapa pagiku dengan tatapan menyala
Tatapan yang membelah hatiku
Menentramkan jiwaku

Lihatlah lagi!
Kali ini ia duduk di sampingku
Mencuri pandang pada rupaku
Sesekali memperdengarkan helaan
Seakan menggodaku

Lihatlah pula!
Pipiku bersemu merah
Degup nadiku merekah
Sekujur tubuh membeku
Menanti ungkapan kata darinya

Lihatlah, lihatlah!
Akhirnya ia akan berucap
Padaku
Tentang cintanya padaku
Hanya padaku
“Bolehkah aku mencintai ibumu?”




BULAN DALAM RANGKULAN TUHAN

Datanglah ia bersama cahaya
Menjumpa orang-orang yang merindu cinta
Merantai si musuh nyata
Membelenggunya dalam sangkar hampa
Lalu...
Bulan suci memapah si duafa
Bulan suci membasuh si pendosa
Bulan suci pengampun si duka
Bulan suci pelepas segala dahaga
Hingga...
Menjemput hari bahagia
Semua tertawa tak berduka
Juga suci dari belenggu lara
Lepas bebas dari hasut angkara
Ya! Bulan itu...
Bulan milik Sang Haikiki
Bulan dalam rangkulan Tuhan



BAHAGIA, SEDIH

Bahagia
Aku saksikan kau di layar kaca bisu
Tersenyum bak putri
Elok paras dan suaramu
Membahan di setiap relung hati

Bahagia
Engkau ternyata telah penuh pesona
Gambaran dewi-dewi dunia
Berada di atas puncak bahagia
Bukti terlihat, senyummu terlepas dari dahaga

Sedih
Engkau jadi bahan ocehan tetangga
Diperolok sepanjang jalan
Dianggap pujangga
Namun sebenarnay taman gersang, butuh hujan

Sedih
Aku hanya bisa memandang lewat layar kaca
Berkirim doa tanpa henti-hentinya
Berharap pada Dia
Memberimu hidayah, semoga saja
Hingga kelak kita bertemu
Dalam naungan cinta-Nya
Sahabat karibku




Afwan Bunda

Cukupkah itu saja?
Mewakili diri yang durhaka pada Ilahi
Menenangkan hati yang gundah gulana
Hingga kembali diam tanpa kata, lagi

Hiduplah si anak dengan rasa bersalah
Pada wanita pemilik “telaga hati” maaf yang luas tak terkira
Kembang pemberi “nafas jiwa” di tengah malam, pada bayi merah
Untukku manusia kerdil, hina karena menghinanya

“Ah” dua huruf jadi awal rintihan itu
Mengawali lengkingan suara kian menjadi
Penyebab luka sejak dulu
Di hatinya, disimpan rapat lantas ditutupi

Kini diri berada di ujung nafas kehidupan
Menanti Izrai melaksanakan tugasnya
Atas aku yang bertabur penyesalan
Saat ajal benar-benar tinggal setitik helaan saja

Apa daya?
Terputus-putuslah suara lirih
Dari bibir kering tak jua basah
“Bu..bu..nda ma..ma..af..kan aaakuuu”
Afwan bunda, sayang

                Makassar, 18 Juni 2012
                Di subuh yang masih buta

Kamis, 21 Juni 2012

Molen, Tempe, dan Tahu Goreng

“Kau lihat gadis itu? lihat itu di sana, ia sedang berjalan ke mari. Lihat pakaiannya. Uhk... sungguh tidak pantas.” Molen memulai percakapan.
“Yang mana? Lah kenapa memangnya. Bagus kok, dia terlihat cantik, memesoana.” Tempe goreng membela.
“Sudahlah, kalian bertengkar terus. Tunggu saja sampai dia ke mari. Dia akan memilih di antara kita. Biasa sarapan pagi.” Tahu goreng melerai.
“Lihatlah mata laki-laki di sekitarnya, menatap lapar. Jika ia lapar dan akan memakan kita. Nah, mata laki-lakilah yang melahap tubuhnya,” ucap Molen lagi.
“Kamu tidak bisa menikmati dunia, Molen.”
“Sudah! Itu dia sudah melihat ke arah kita.”
Seorang gadis dengan pakaian terbuka menghampiri penjual gorengan di pinggir jalan. Banyak pasang mata yang memandang kulit putihnya yang tanpa celah. Namun beberapa orang juga acuh saja dengan kehadirannya. Seperti penjual gorengan di hadapannya. Ia lebih memiih tunduk saja. Menjaga pandangan.
Setelah membeli beberapa gorengan gadis itu pun pergi.
”Molen selalu saja menghina gadis itu. Padahal ia juga yang sering dibeli olehnya,” Tempe memulai percakapan kembali setelah gadis itu pergi.
“Iya juga sih.”
***
Ia dikenal sebagai gadis nakal. Namun ia tak peduli. Ia lebih peduli pada keluarganya yang butuh makan di kampung. Pun demi mereka ia harus berkenalan dengan laki-laki mata keranjang, hidung belang. Tak jarang pula ia dalabrak istri atau kekasih yang bersangkutan. Ia rela saja. Toh baginya hidup adalah mengabdi. Pada ibunya, pada ayahnya. Pada keluarganya.
Malam itu ia kembali berjalan seorang diri. kembali ke kos tempat tinggalnya. Seperti biasa ia singgah membeli gorengan. Lalu meneruskan langkah kaki. Belum beberapa langkah ia berjalan, sebuah sedan mewah melaju cepat ke arahnya.
BRAKKKK...
***
“Sepertinya sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya.” Molen kembali membahas si gadis.
“Siapa?”  Tempe dan Tahu goreng serempak bertanya.
“Itu gadis yang pakaiannya terbuka. Yang suka beli gorengan.”
“Wah, kamu ketinggalan berita, Molen,” ucap Tempe.
“Ketinggalan? Memangnya ada apa?”
“Gadis itu tertabrak mobil lima hari yang lalu,” Tahu menjelaskan.
“Jadi bagaimana keadaannya?”
“Entahlah. Bagaiman bisa kita tahu. Kita hanya makanan.” Tempe menjawab asal.
“Padahal dia belum berubah. Kalian tahu doaku untuk gadis itu? Aku berdoa semoga kelak gadis itu bisa mendapat hidayah. Mengenakan pakaian yang sepantasnya bagi wanita muslim. Bukan sekedar terbungkus sepertiku. Ttapi benar-benar menutup auratnya.” Molen berkata sendu. Tempe dan Tahu mendengarkan saja. Diam. Padahal dalam hati keduanya mengamini.
***
Gorengan di pinggir jalan itu kian laris saja. Terlebih ada yang menarik perhatian mata di sana.  Ada seorang wanita muda, istri pemilik gorengan. Gadis yang dianggap nakal. Dulunya. Ia kini berhijab. Juga telah bersuami.
Hidayah menghampirinya bersama kecelakaan yang menimpanya. Sulaiman, sang  penjual gorenganlah yang menolongnya. Merawatnya. Hingga memutuskan menikahi si gadis.
“Alhamdulillah.” Molen bersenandung merdu.
“Doamu terkabu, Molen.” Kata Tempe.
“Doa kita kali. Aku tahu kalian mengamini.”
“Tau saja kau tentang isi hati kami,” ucap Tahu tertawa. Mereka semua tertawa.

RUMIT


“Karena aku tak pernah bisa menyukaimu.”
Rumit. Itulah dirimu. Gambaran yang paling sesuai denganmu adalah rumit. Sangat. Kuputuskan pergi. Menghilang dari pandanganmu. Akankah kau mencari? Aku rasa tidak, sebab kau adalah kau. Manusia paling angkuh yang kukenal. Sayangnya, aku jatuh karenamu. Jatuh dalam perangkapmu.
Kini aku menghitung detik yang enggan berlalu. Perputaran jam tersa sangat lambat. Berbeda dengan sebelumnya. Saat dirimu masih ada. Saat aku masih berputar mengelilingimu. Bak bumi mengelilingi matahari. Dan aku masih sama. Masih menyimpan rasa. Masih bersembunyi, menghindarimu.
Dibalik pintu kamar aku menangis. Menangis lantas mengenang, wajahmu. Lagi. mengapa tidak berhentii saja? Sisi lain hatiku berontak juga. Apa daya, rasa masih sama, masih bermain dengan bara api. Melelahkan. Sungguh.
“Mengapa dia?” tanyaku.
“Dia cantik, pintar, aku nyaman bersamanya,”jawabmu.
“Tapi...”
“Maaf.”
Langkahmu menjauh hari itu. hari terakhir kali aku melihatmu.
Benar! Cinta dan dirimu sama. Rumit. Melelahkan. Kuputuskan pergi. Benar-benar pergi. Membawa kerumitan yang tak pernah terjawabkan.
EPILOG
Pagi itu rumah Jeny tak seperti biasanya. Tampak orang berantrian masuk. Padahal rumah itu hanya dihuni seorang gadis. Jeny.  Dia bahkan tidak mengadakan pesta. Hanya saja, di kamarnya ditemukan mayat berlumuran darah. Mayat pemilik rumah.

Tangis Wanita Balik Tirai

Berkali-kali aku mendengar tangis wanita itu. Dari balik tirai pemisah. Menangis pilu. Terisak, terdengar jelas di telinga. Jika kau tanya tentang apa. Entahlah. Aku tak bermaksud menguping. Hanya saja, suara serak terbata-bata itu masuk dengan sendirinya ke telingaku. Pun aku hanya diam. Di tempatku saat ini.
Episode cinta. Ya! kembali tentang cinta. Menurutku. Cinta yang tadinya indah, kembali menuai air mata duka. Cinta apa itu? benarkah adanya itu hanya bumbu-bumbu semata? Apalah namanya! Aku juga tak paham. Tapi, episode cinta kali ini semakin menggila.
Sesaat sepi, hanya isak yang terdengar. Aku mulai menikmati. Mingikuti aliran kisah dari balik tirai. Tapi aku tak menguping. Hanya suara itu... ah! Pilu kian terdengar. Haruskah kuhapuskan air matamu? Sedang aku tak dapat melangkahi tirai pemisah kita. Kau wanita, sedang aku...
Kali ini benar-benar sunyi. Sesekali hanya suara nafas berat yang terdengar. Yang kudengar. Hingga suara itu benar-benar hilang. Entah terlelap lelah. Atau?
Tidak!!!
Aku tak mungkin menerobos tirai pemisah kami. Pun aku sangat ingin. Menolong, menghapus titik-titik duka. Apalah daya. Aku hanya sepotong kayu sapu pada sudut ruang. Kayu yang hanya bisa diam. Bergerak saat digunakan, olehnya si wanita penikmat cinta. Penderita cinta.
Sedang suara isak dari balik tirai itu, kembali terdengar. Memohon. Menangis. Lagi dan lagi.
LULUS CINTA

“Ujian itu tuk penguat. Dari ujian itu kamu akan semakin tangguh.” Kata-kata bapak kembali terngiang di telingaku. Tapi haruskah lagi?
Aku kembali tenggelam dalam mimpi buruk saat jatuh cinta. Lantas bagaiman aku melawannya, jika hatiku bukan sepenuhnya milikku? Dua hari yang lalu aku menemukan diriku kembali terperangkap asmara. Sedang masih kuingat dua bulan lalu aku sakit karena cinta. Belum bulan-bulan sebelumnya.
Aku menerima takdirku sebagai laki-laki pengejar cinta. Karena lazimnya laki-laki yang mengungkap rasa. Tapi apa daya, upaya telah dikerahkan dan penolakan jadi akhirnya. Aku bersikap tangguh di hadapan kembang yang menolak kehadiranku. Melihatnya mekar bersama kumbang lain. Namun jika membelah isi dadaku, mungkin tak terhitung jahitan yang ada di sana. Jahitan luka.
Pertama Dila. Aku melihatnya pertama kali saat pendaftaran masuk universitas. Jatuh hati, pendekatan, lalu ditolak. Pada Rena juga, ia gadis sederhana. Bahkan terkesan tak ada yang menaruh hati padanya. Jadilah aku mendekatinya. Menjemputnya, mentraktir dia makan. Sampai tugasnya aku kerjakan. Namun ternyata hasilnya. Ia telah punya kekasih, seorang dokter.
Fara beda lagi. Karena mendekati teman sekampus sendiri aku tak pernah berhasil, jadilah aku cari sasaran lain. Fara masih SMA sifatnya agak tomboy. sering lewat depan kos yang aku tempati. Aku pikir dia menaruh hati padaku. Ternyata, dia naksir Lala. Gadis kalem, anak pemilik kos. Patahlah hatiku. Aku kaget!
Masih banyak yang lain. Dan aku pejuang cinta, bukan pejuang jika tak jatuh. Tapi ini berkali-kali, hingga aku tak sanggup menghitungnya lagi.
Hingga dua hari yang lalu.
“Nak, pulanglah. Ada yang haruus dibicarakan.” Bapak menyuruhku pulang. Aku tidak tahu karena apa. Sebagai anak yang berbakti, aku pun pulang.
Alangkah kagetnya aku setelah sampai di rumah. Semua menanti kepulanganku. Aku pikir Nenekku yang sakit makanya rumahku ramai. Ternyata yang kudapati sebuah fakta mengejutkan. Aku dijodohkan. Dengan Lala.
“Sebenarnya sudah lama kami merencanakan perjodohan ini,” ucap bapak.
“Saat memintamu tinggal di kos yang mereka punya juga itu sebagai cara  mempertemukanmu dengan Lala,” lanjut bapak.
Aku benar-benar tak mengerti. Memang, yang aku tahu Lala dijodohkan. Ia sendiri yang mengatakannya padaku. Itu juga yang menjadi alasan aku tidak mendekatinya. Padahal dari semua gadis yang aku dekati, tak ada yang secantik dia.
Kulirik Lala yang tak jua bersuara. Bukan penolakan yan aku dapati. Namun pipinya yang bersemu merah. Cantik sekali.  Setelah mengalami serentetan penolakan, akhirnya kudapatkan tempat berlabuh. Lala, hatiku bernada riang akhirnya. Aku lulus ujian cinta. Kini benar-benar terbakar cinta.
Laki-laki Ta’arufan
 
“Kita putus!” ucap Bino akhirnya.
“Apa? Setelah semua yang terjadi? Yang benar saja, Bin. Apa alasanmu ngomong begitu. Bukankah kita sepakat menjalaninya sampai akhir, hah?” Rena mulai berurai air mata.
“Hei! Kamu tidak usah menangis. Alasannya sederhana saja, aku mulai bosan. Mengenai semua yang kita lakukan, bukankah kita sama-sama menikmatinya, hm?”
“Tapi...”
“Sudah! Sekarang dan seterusnya, jangan hubungi aku lagi. Kita jalani hidup kita masing-masing, ok!” Bino pergi begitu saja.
Rena hanya mampu menangis. Taman yang seharusnya menjadi tempat yang indah itu berubah. Berubah suram.
***
Laki-laki itu duduk menikmati indahnya paras di hadapannya. Ini sudah kelima kalinya ia melakukan perkenalan sesuai cara yang islami. Dan kesemua akhwat yang diperkenalkan padanya berwajah ayu. Sayang untuk ta’aruf yang ia lakoni tidak juga berhasil. Kembali  ia berusaha merajut kisah.
Sikap dan tingkah Bino memang berubah. Tiga tahun yang lalu ia merasa hanya sebagai debu yang hina. Dengan wajahnya yang terbilang tampan, ia banyak melakukan petualangan cinta. Entah sudah berapa gadis yang dikencaninya. Pun yang dilukainya. Sudah tak terhitung.
Namun itu Bino tiga tahun yang lalu. Setelah bertemu Afif, kehidupannya berubah total. Tak ada lagi Bino sang penyandang gelar playboy. Sebaliknya, Bino yang selalu mengarahkan pandangannya ke tanah. Dengan jenggot tipis menggelantung di dagu, serta celana di atas mata kaki. Bino yang baru tepatnya.
Syifa nama wanita kelimaa itu. Menyandang gelar dokter. Ya! Walau dengan jilbabnya yang panjang Syifa tetap menunjukkan prestasi yang luar biasa. Semua itu diketahui Bino setelah bertemu wanita itu. Afif yang menjadi penghubung dengan keluarga Syifa tak mangatakannya. Bino minder. Bagaimana pun ia masih belum mendapatkan pekerjaan tetap. Masih guru honor. Sedang Syifa, Bino tak habis pikir kini.
“Apa itu penting? Setahuku, dia mencari pendamping hidup, kamu juga sama. Jadi masalahnya apa lagi coba?” ucap Afif kala mereka telah meninggalkan kediaman Syifa.
“Bagaiman aku yang hanya guru honor ngelamar dokter, Fif? Kamu tidak lihat pandangan keluarga mereka nantinya?”
“Bin, jangan su’uzon dululah. Bukankah ini masih awal? Masih tahap perkenalan.”
Bino diam. Sibuk beristigfar dalam hati. Dalam hati ia semakin berat melanjutkan perkenalannya. Ia takut gagal. Ia kembali merasa kerdil.
***
“Dapat undangan nih.” Afif yang baru sampai di samping Bino memberikan selembar undangan berwarna biru.
“Dari siapa?” tayanya.
“Syifa.” Bino menghembuskan nafasnya. Berat.
Pernikahan yang ia dambakan belum juga terwujud. Ia semakin sadar, dosa di masa lalu mungkin telah jadi penyebabnya.
“Mungkin aku harus minta maaf dulu.”
“Maaf? Pada siapa?”
“Pada semua wanita yang pernah kulukai hatinya. Pada orang tuaku, teman-temanku, terlebih pada Pencipta kesemuanya itu.”
Afif mengerti kini. Walau tidak begitu tahu tentang masa lalu Bino, namun beberapa temannya pernah mengatakan beberapa hal negatif tentang Bino yang dulu.
“Ya, itu juga sebuah solusi. Sebenarnya aku punya kabar lain untukmu,” Bino menatap sahabatnya yang diam beberapa saat, “Aku pernah cerita soal sepupuku yang masih kuliahkan? Nah, kemarin itu ia diwisuda, dan kata orang tuanya padaku, alangkah bagusnya kalau ia juga menyegerakan wisuda yang lain.” Lanjut Afif.
“Maksudnya?”
“Gini, aku akan membawamu menemui Fitri, kali saja cocok. Bagaimana?”
Pahamlah Bino maksud sahabatnya. Ia hanya tersenyum, dan itu cukup menjadi jawaban bagi Afif. Dalam hati Bino berjanji, mencari maaf terlebih dahulu.
***
Sehari menjelang hari pernikahannya dengan Fitri. Bino dan Afif duduk di pelataran masjid setelah shalat Ashar.
“Wajahmu sangat bercahaya, Bin,” goda Afif.
Bino tak menyangkal. Hatinya memang terlampau bahagia hari ini. Sekaligus deg-degan dengan pernikahan yang akan dilaluinya esok hari.
“Bahkan kamu tak mau meladeniku lagi, persiapan untuk besok yah?” Afif tidak juga berhenti.
“Sudahlah, kamu jangan menggodaku lagi. Seharusnya kamu mempersiapkan diri untuk menyusulku, hm?”
Afif diam. Bino tahu mengenai pernikahan, Afif masih belum siap. Ia juga tidak suka membahasnya. Padahal ia paling gencar menjodohkan Bino. Mereka masih saling tersenyum sebelum Afif mendapat sms. Seketika wajahnya berubah pucat.
“Bin...”
“Ada apa?”
“Fitri, Bin. Dia..dia...”
“Fif, ada apa? Fitri kenapa?”
“Dia ke..kecelakaan.”
Seketika, pandangan Bino gelap. Dentuman di dadanya sekan menohok. Robb, kini apa lagi? Bisik hatinya sendu.
***
Seharusnya hari itu ia duduk di pelaminan. Semestinya hari itu ia bernada riang. Namun takdir berkata lain. Bukan duduk di pelaminan, tapi ia berada di samping makam calon istrinya. Menyumbang doa keselamatan, pun hatinya tersayat pilu. Fitri benar-benar pergi meninggalkan Bino.
Cukuplah! Mungkin bukan takdirku untuk sendiri. Bisik batinnya. Hingga ia melangkah pergi, benar-benar pergi, ia berjanji untuk tak mencari lagi. Entah sampai kapan. Ia butuh istrahat. Terutama jiwanya yang penuh luka.
***
“Berapa usiamu sekarang?” tanya laki-laki paruh baya itu. Setelah kepergian Fitri, ia putuskan menenangkan diri di sebuah pesantren. Jauh dari keramaian kota. Sekaligus memperdalam ilmu agamanya.
“29, Uztadz.”
“Sudah siap menikah. Kamu sudah hampir setahun di sini. Apa kamu tidak ingin menikah?”
“Saya sudah menceritakan alasan kemari pada uztadz. Saya juga sudah memikirkan baik-baik tentang pernikahan. Maka dari itu, saya meminta uztadz saja yang memilihkan pendamping yang cocok dengan saya. Saya siap menerima siapa pun dia.”
Uztadz Hafizh tersenyum.
“Baiklah Hilmy, sepertinya saya sudah punya calon yang pas untukmu. Tapi, dia sudah punya anak. Apa itu akan mengganggu keputusanmu?” Hilmy alias Bino menggeleng sambil tersenyum.
Hilmy adalah nama hijrah Bino. Uztadz Hafizh jugalah yang memberikan nama itu.
***
Kamar itu sederhana saja, namun bagi Hilmy tidak demikian. Di dalamnya seseorang menunggunya. Bidadari yang selama ini ia dambakan telah di depan mata. Menunduk tak berani memandang ke arahnya.
Hilmy medekat. Semakin mendekat, lalu alangkah terkejutnya ia mendapati wajah yang ada di hadapannya tidak asing. Rena. Tapi bukankah kata Uztadz Hafizh bilang nama wanita itu Aisyah.
“Rena?”
Wanita di hadapannya terlihat kaget.  Nama itu telah ia kubur bersama masa lalunya yang suram. Tapi apa kata laki-laki dia hadapannya? Laki-laki yang telah sah menjadi suaminya. Diangkatnya wajahnya perlahan. Kekagetannya bertambah kini. Bino.
“Ren, eh Aisyah, sudah lama aku mencarimu. Akhirnya kita berrtemu. Aku ingin minta maaf padamu.”
“Sudah lama aku melupakannya.”
“Tetap saja...”
“Sudahlah, mungkin ini jalan bagi kita untuk memulai lagi.”
Kedua insan itu tak perlu waktu tuk saling membenci. Tak perlu waktu pula tuk mengakrabkan diri lagi. Bahkan Fatih, putra Aisyah adalah putra Hilmy juga. Aisyah tak pernah cerita bahwa ia hamil kala mereka berpisah dulu.
Malam beranjak kian larut, dua insan yang dimabuk cinta duduk di beranda rumah. Memandang indahnya langit yang bertabur bintang.
“Sayang, tahukah kamu. Setelah mendapat hidayah, kamulah yang pertama kali ingin kutemui. Betapa berdosanya aku dulu. Bahakn tiap melihat bintang di langit, aku selalu berucap maaf. Berharap jika kau melihatnya juga, mereka menyampaikannya padamu.” Jelas Hilmy. Sedang Aisyah duduk di sampingnya.
“Kamu masih ingat juga tentang kecintaanku pada bintang.”
“Tapi, cinta untukku lebih besarkan?” goda Hilmy. Mengundang tawa renyah Aisyah. Indah.
“Tentu saja. Mau mendengar nyanyianku? Aku ingat dulu kamu sangat suka suaraku saat menyanyi.”
“Tentu saja aku merindukan suaramu. Tapi, untuk selamanya kuharap hanya aku yang medengar suara indahmu, sayang.”
Kembali mereka merajut kisah yang sempat tertunda.
"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)" Surah An-Nuur ayat 26


IMPIAN YANG SEBENARNYA

“Tidak boleh!” suara itu memenuhi ruangan.
“Tapi, Ma. Itu impianku, dan aku sangat ingin mewujudkannya.” Suara lain terdengar memohon. Diselingi isak tangis.
“Kamu tahu, Nana, berpuluh-puluh mata akan menikmati kemolekan tubuhmu. Kamu akan dihina seperti mama.”
“Ma, kenapa selelu menyamakan dengan kehidupan mama? Aku janji tak lebih dari yang sekarang,”ucap Nana.
“Tidak!!! Jika kamu pergi. silahkan, tapi tdak usah kembali ke rumah ini lagi!” Setelah mengucapkan kalimat pedis itu, wanita itu masuk ke dalam kamarnya.
“Ma, Jadi artis adalah impianku. Kenapa mama boleh dan aku tidak. Aku juga ingin dikenal dunia. Aku ingin membawa mama kembali ke layar kaca.”Nana masih juga menangis.
Wanita itu teringat lagi, pada luka yang belum kering di hatinya. 19 tahun silam, ia juga artis terkenal. Karena kecantikan rupany tentu saja. Banyak yang memujanya. Tak sedikit yang membencinya. Hingga suatu hari ketika pulang dari show di luar kota, kecelakaan menimpanya. Wajah yang selama ini ia banggakan hilang. Berganti rupa buruk. Ia dianggap monster. Hingga akhirnya ia terlupakan.
Dan sekarang anaknya menginginkan hal yang sama. Ia tidak ingin anaknya bernasib sama dengan dirinya. Makanya, dengan gigih pula ia tak mengizinkan Nana jadi artis.
“Kenapa tak mencoba cara lain tuk meluluhkan hati mamamu?” ucap Dina kala Nana menceritakan sikap ibunya.
“Bagaimana?”
“Gini, sebentar lagikan hari ibu, kamu bisa memberi hadiah. Lalu ngomong baik-baik. Atau, kamu tulis isi hati kamu, tapi jangan langsung dikasih ke mama kamu. Kirim ke media. Majalah, biar dimuat dan mamamu baca.”
Nana memulai aksinya. Bermain kata, mulai mengirim. Berkali-kali. Waktu berputar cepat dan ia seakan terlupa pada tujuan awalnya melukis kata. Hingga tulisannya benar-benar termuat, yang judulnya “Mama, izinkan aku.”
Impian berubah. Nana mendapat jalan lain. Jalan untuk memperkenalkan dirinya, mamanya pada dunia.
Cahaya Awan

Ini tentang cinta. Cinta semu. Ya! Selalu semu karena memang tak pantas ada. Sungguh. Berawal dari cinta manusia pertama pada pelengkap tulang rusuknya. Terus menerus hingga keturunannya. Hingga padaku. Cahaya yang merindukan Awan.
Aku melihatnya di kerumunan manusia. Mendapatinya tersenyum pada wanita tua pengemis rupiah. Kusaksikan pula ia mengambil sesuatu dari sakunya. Lantas memberinya pada sang pengemis tua. Selang beberapa menit ia lalu pergi. Entah ke mana.
Seminggu telah berlalu, tak ada wajah itu lagi. Hanya desir-desir angin yang terasa menemani. Menghantui. Kuyakinkan diriku, dia bukan siapa-siapa. Bukan untuk dikagumi terlebih tuk dimiliki. Hanya hiasan hidup belaka.
Tapi apa yang teradi? Belum aku menghapus bayangan indah itu, ia sudah tampak lagi di hadapanku. Ia juga menyapaku, bersama desir angin yang begitu lembut.
“Aya?” Sunggingan senyumnya indah. Tutur katanya lembut. Bahkan parasnya bercahaya.
                Aku mengangguk. Bukan karena tak ingin berucap ‘iya’ lidahku memang tidak diciptakan sempurna. Hingga suara pun tak dapat kuperdengarkan.
“ Kamu tidak mengenaliku?” tanyanya lagi.
Kumainkan jemariku. Menutupi rasa yang entah mampu aku sembunyikan. Berusaha mengingat tentang dia. Tak ada hasil.
“Aku Awan.”
Ia tak mengulurkan tangan seperti kebanyakan orang. Tanda perkenalan. Ia hanya tersenyum dan membuang pandangannya jauh. Akulah yang ternganga, tak menyangka. Awan yang kutunggu telah pulang.
“Ingat yah, aku adalah Awan yang akan melindungi manusia dari cahayamu. Karena kamu terlalu cantik, terlalu indah. Cahayamu akan menyilaukan yang lain. Makanya akulah yang jadi pelindung manusia. Menutupi kilaumu. Dan sebenarnya, melindungimu. Tak ingin orang lain terlalu menaruh hati padamu. Pada cahayamu,.”
Awan. Untaian kalimat yang tak aku mengerti dulu, kini kembali terdengar jelas. Kembali terulang. Di telingaku. Tapi kini aku mengerti kalimat itu. Sepertinya kamu datang untuk menepatinya. Melindungiku.
“Sudah ingat?” tanyamu lagi. Kujawab anggukan kecil. Tiga tahun lalu kau pergi. Merantau katamu. Tapi bagiku adalah siksaan. Hingga tak sadar aku sudah terlalu jauh melangkah. Menyebabkan aku kehilangan kendali. Mengalami berbagai cobaan, terakhir saat suara indahku dicabut Pemiliknya.
                “Aya! Aku akan menikah. Bisakah kamu datang? Sudah lama aku mencarimu. Bahkan aku menunda pernikahan karena ingin bertemu denganmu dulu. Aku ingin minta maaf tentang janjiku dulu. Juga...”
                Aku tak mendengarnya lagi. Ataukan pendengaranku juga telah dicabut? Entahlah. Haruskah aku berbahagia demi dirimu, Awan? Cukuplah engkau menghadiahiku luka tepat di hari bahagiamu. Kembali ujian itu datang menimpaku. Di atas bahagiamu, Awan yang tidak pernah melindungi Cahaya. Sebaliknya, pergi meninggalkan Cahaya.
Ara  Sayang, Ara Malang
“Kemana lagi, sayang? Mama sudah lelah,” kataku pada gadis kecilku.
Entah mengapa hari ini ia rewel sekali. Minta dibawa jalan-jalan. Sudah hampir tiga jam aku menemaninya. Memang ini hari libur. Dan seperti keluarga yang lain akupun berusaha berkumpul dengan keluarga, namun untuk hari ini aku benar-benar lelah. Kerjaan kantor numpuk. Makanya malam sebelumnya aku lembur. Dan sekarang...
“Mama, mama, kita ke taman lagi ya. Aku mau main di ail manculnya,” pintanya lagi sambil menarik lengan bajuku.
“Aduh sayang, besok lagi yah. Mama benar-benar capek.”Wajah gadisku seketika berubah. Mendung tampak jelas di sana.
“Iya sayang, kita ke sana. Ara jangan nangis yah.” Aku menyeret kakiku. Berat sekali rasanya.
Sekarang ia bermain di samping kolam. Aku duduk di kursi taman. Tak jauh darinya. Sesekali melihatnya. Entah mengapa taman yang biasanya ramai terlihat sepi. Hanya beberapa orang yang tampak.
Mataku tiba-tiba berat.  Ara masih berdiri di pinggir kolam. Sesekali berlari ke arahku. Lalu kembali ke pinggir kolam. Matanya tak lepas memperhatikan pancaran air yang ada di tengah kolam. Hingga mataku benar-benar tak kuat lagi.
“Ara! Ara! Kamu dimana sayang? Ayo pulang.”
Aku mencari Ara di antara pepohonan hutan. Berteriak ke sana kemari. Aku dapati ia berdiri. Mematung. Ingin aku raih, namun alangkah kagetnya aku. Di depannya ada ular besar yang siap menerjang. Gadis kecilku, ada apa ini?
“Mama, jangan ke sini. Di situ saja. Kata ulalnya kalau kita diam, ia juga akan diam saja.”
Tak aku pedulikan. Terlalu takut aku melihat gadis kecilku berdiri sendiri. Ingin kuraih, belum juga aku melangkah, kusaksikan di depan mataku sendiri ular itu menerkam Ara. Menelannya.
“Argh...”
Aku terbangun. Syukurlah hanya mimpi. Oh tidak! Ternyata aku tertidur di kursi taman. Ara, di mana gadis kecilku itu?
“Ara! Ara!”
Aku berteriak, memandang ke seluruh sisi taman. Di mana dia? Anakku. Kudekati kolam yang ia tempati tadi. Setiap pinggirnya. Nihil ia tak ada.
Lalu pandanganku terarah pada kolam. Isi kolam. Dan...dan...
“ARA!?!?!”