Senin, 30 Januari 2012

Belajar atau belanja?



Menjadi seorang mahasiswa adalah cita-cita dari penulis, dan dengan rasa sukur yang tak terhingga hal itu akhirnya terwujud kini. Masuk ke salah satu perguruan tinggi suasta di kota Makassar, yang pada awalnya hanya hayalan semata.
“Masuk ke Universitas Muhammadiyah Makassar adalah hal yang sangat sulit,” Ucap salah seorang dosen saat mengajar di kelas yang penulis tempati, “Lihat saja, sebelum masuk terlebih dahulu melalui perguruan-perguruan negeri terlebih dahulu.” Lanjutnya diikuti derai tawa seisi kelas. Sindiran halus sebenarnya. Pilihan terakhir mungkin bagi kebanyakan orang, tapi anggapan tersebutlah yang yang sebenarnya salah. Di sini takdir Allah swt. yang berbicara. Jadi bukan karena itu merupakan pilihan terakhir, hanya saja merupakan tempat terakhir mendaftarkan diri, kalaupun di awal pendaftaran UMM. Merupakan tempat pertama yang di tempati mendaftarkan diri, karena memang sudah tercatat akan berkuliah di tempat itu oleh Sang Pemilik jagad raya, maka terjadilah ia.
Memilih dalam hidup adalah hal yang lumrah terjadi. Salah satunya memilih dimana tempat yang paling bagus untuk menimba ilmu pengetahuan,  berdasarkan mutu, ekonomi dan pertimbangan-pertimbangan lain sebagai pendukung pilihan, walau tak selamanya pilihan yang dituju selalu berhasil, namun yakinlah itu adalah yang terbaik, karena Sang penentu baik buruknya sesuatu, bukan manusia, tetapi, Pemilik manusia.
Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?
Sebenarnya tak ada hanya mengawali saja. Dan penulis rasa itu tak masalah.
Belanja, siapa yang tidak menyukainya. Pemenuhan kebutuhan salah satunya dengan berbelanja, kebutuhan dapur, sekolah, kantor, beribadah, dan aktivitas-aktivitas lain banyak yang diawali dengan berbelanja. Sebahagian besar anggapan mengatakan wanita adalah penghabis uang terbesar, maksudanya tukang belanja yang paling hebat, secara kasat mata memang iya, tapi bagaimana denagan laki-laki? Mungkin ada juga yang memiliki kebiasaan berbelanja menyerupai wanita. Tapi hanya sebahagian kecil, atau hanya tak terlihat langsung? Jawabannya ada pada diri para laki-laki. Bukan perbandinagn nafsu belanja laki-laki dan perempuan yang jadi masalah disini.
Ada yang lain?
Tentu saja.
Jika pendidikan menjadikan yang tidak tahu menjadi tahu, lantas apa bedanya denagan belajar? Atau belajar adalah bahagian dari pendidikan, bisa juga. Intinya kedua hal tersebut saling terkait satu dengan yang lain. Keduanya diikat oleh sistem yang berlaku.
Lalu apa hubungannya dengan belanja?
Banyak, belajar tak akan berlangsung dengan baik tanpa ada media pembelajaran di dalamnya, tentu saja, nah, dari mana medianya? Tentu saja diperoleh dengan berbelanja.
Masalahnya terletak dimana?
Sekarang ini marak-maraknya pembayaran memasuki semester genap, tak dipungkiri juga di sana-sini juga terdengar permintaan kiriman kepada orang tua masing-masing. Dari yang tak pernah menghubungi orang tuanya, tiba-tiba begitu gencar menelfon ke rumahnya. Dari yang tahunya menggombal kekasihnya, kemudian begitu pandai merayu ibunya, yang sudah punya penghasilan tinggal tersenyum-senyum, atau yang dengan kerja keras berusaha mengumpulkan uang semester sebelum batas yang di tentukan tiba. Dan memang kewajiban orang tua untk menyekolahkan anaknya.
Tak ada yang salah, uang datang pembayaran lunas. Selesai. Yang jadi masalah adalah kiriman datang, tanggung jawab tidak lunas. Uangnya kemana?
Berbelanja, itulah masalahnya, manusia sering kali lalai. Kewajiban diabaikan begitu saja, amanah dilupakan dengan mudah. Uang yang seharusnya dipakai untuk melunasi biaya kuliah digunakan sesuatu yang tak ada gunanya. Dan sekiranya ada gunanyapun tetap saja salah, karena tujuan awalnya bukan itu. Dan salah satunya dengan membelanjakan yang seharusnya untuk biaya kuliah.
Akibatnya?
Tujuan awal belajar dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, temasuk syarat pembayaran, namun berakhir di tempat-tempat perbelanjaan. Berujung dengan penumpukan utang pembayaran, yang mengakibatkan pemberhentian kuliah, dan tentunya berakhir dengan penyesalan. Penyesalan memang selalu di akhir perkara.
Yang dilakukan setelahnya?
Kembali menjadi penerus orang tua, menggarap sawah, atau itu yang diingikan?
Bukankah orang yang paling celaka jika harinya kemarin lebih baik dari keadaanya hari ini? Orang tua yang sudah berprofesi sebagai seorang petani, penggembala, seharusnya anaknya bukan sebagai pelanjut orang tuanya, namun lebih berada di atas orang tuanya.
Goresan pena penulis,
Jika kita sebut patah hati adalah hal yang sangat menyksa,
Ternyata tak sebanding dengan rasa sakit saat sadar,
Atas kebodohan kita yang terus-menerus merepotkan orang tua,
Membuat mereka kecewa,
Menyadarinya terasa membuat seluruh persendian tulang tak menyatu,
Pikiran tak karuan, hati tak menentu
Dan air mata yang mengalir tiada henti,
Sangat sakit, sangat menyiksa…
MAKA AKANKAH KITA KEMBALI MENGULANG HAL YANG SAMA??
Kembalipada diri kita masing-masing

Curhatan Si Penulis Cacat

            Jemari ini kembali terpanggil tuk menorehkan beberapa kalimat kesah. Entah mengapa diri merasa bersalah saat tak menulis beberapa kalimat catat. Bersalah pada siapa? entahlah, hanya saja hati tak tenang. Mungkin ini bukan sederet kalimat penuh makna, bukan puisi, cerpen atau tulisan-tulisan yang berisi. Namun setidaknya dapat menjadi curahan hati penulis.            Banyak hal yang sebenarnya bisa menjadi bahan untuk menulis, bahakan ada setumpuk rancangan baru dalam kepala. Sayangnya ia tak bisa keluar dengan sendirinya, perlu media agar orang lain tahu apa yang ingin diungkapkannya. Seperti saat saya hendak tidur , ada beberapa kalimat yang mengganjal ingin dilukiskan, ia sangat mendesak untuk dikeluarkan. Nah yang jadi masalah saat anggota badan yang lain tak mau berkompromi lagi memediainya. Kemudian yang terjadi selanjutnya bisa ditebak. Kembali terjadi pembekuan ide dalam kepala, yang seterusnya ide tersebut terlupakan begitu saja.
Bukankah itu sangat rugi?
            Lalu ketika pagi menjelang, sesaat diri ini berfikir, “Sepertinya sebeum tidur ada sesuatau yang sangat ingin aku tulis.” Namun jelas konsentrasi sudah buyar, terbagi dengan rutinitas yang lain.
Itulah menunda, nikmat di awal selalu penyesalan di akhirnya.
Hmmm... menulis, menulis, menulis.
            Seseoarang dengan mudah mengatakan “Akhir-akhir ini banyak kegiatan, sibuk, ngga sempat menulis.” Namun sebenarnya yang terjadi bukan demikian. Konsisten  kembali diuji. Ibarat mengisi perut, pada saat perut tak diisi yah akibatnya akan berdampak pada anggota badan. Makanya harus makan tepat waktu. Sebuah kebutuhanlah maksud saya. Andai kata menulis dijadikan sebuah kebutuhan, hingga menjadi rutinitas, wah mungkin negri ini akan kebanjiran buku.
            Saya sendiri sangat mengalami hal itu. sehingga akibatnya, tulisan tak ada yang kelar. Bukan hanya untuk diperlihatkan hingga dikoreksi orang lain. Labih dari itu dalam diri kepuasan itu sendiri seakan hilang.
            Salah satu motifasi saya dalam menulis adalah komentar orang-orang yang membacanya. Ketika seseorang mangklaim tulisan saya tidak bagus, alurnya ngga tau mau kemana, tidak jelas dan lain sebagainya,itu akan menjadi dorongan tersendiri tuk krmbali memperbaiki tulisan.  Juga tatkala ada pujian terhadap tulisan yang dibuat, yakin dan percaya satu minggu senyum selalu menghiasi wajah (ini tuk penulis pemula terhusus saya). Bahakan ketika saya dapat komentar dari seseorang yang pada awalnya memuji  tulisan saya, namun di belakang ia memberi pengarahan, itu sangat membantu. Gundukan batu masalah terjadi ketika tak menulis sama sekali, apa yang mau dikoreksi jika tak menulis? Motifasi berkurang lagikan. Bahkan mati.
            Motifasi lain datang tatkala orang menanyakan tulisan yang lain. “Tulisannya yang terbaru mana? Aku yang pertama baca yah. Ayo dong menulis lagi.” Kalimat-kalimat tersebut bagi saya sangat ampuh tuk membangkitkan semangat menulis yang sempat mati suri.
            Tulisan saya ini sedari tadi tak tentu arahnya “mau di bawa ke mana”.  Jujur sebenarnya itu yang saya alami. Saya sering mengatakan “tulisan saya ngandat.” Lah memang demikian kok. Makanya tulisan inii saya publikasikan, motifasi untuk diri sendiri sebenarnya. Entah mau kemana, tapi rangkaian kat-kata kembali tercipta. Entah indah atau amburadul. Langkah selanjutnya melanjutkan permulaan yang sempat tertunda!!!!
BAGAIMANA DENGAN ANDA DUHAI PARA PENULIS???

Sabtu, 28 Januari 2012

Persaudaraan, Masih Adakah?

Perumpamaan seorang muslim dengan muslim lainnya seperti satu tubuh, jika satu bagian sakit maka semua akan merasakan sakit.”(HR. Buhkhari, Muslim)
 Rasulullah saw. diutus oleh ALLah swt. sebagai rasul terakhir penyempurna agama yang dibawa rasul-rasul sebelumnya. Beliau merupakan mahluk Tuhan yang sudah dijamin masuk surga. Dan tidak kalah pentingnya adalah, pemersatu manusia yang awalnya terpecah-belah. Sehingga persaudaraan ummat Islam lambat laun tampak hingga kuat. Hal tersebut dapat diketahui dalam kisah-kisah yang hingga kini tersebar di mana-mana. Sejarah telah menulisnya. Dan tak dapat dipungkiri hal tersebut memang nyata.
 Tak ada  perbedaan status sebagai pembatas hubungan kekeluargaan ummat islam saat itu. Pemimpin senantiasa berbaur dengan rakyatnya. Kepala Negara senantiasa dipatuhi dan dihormati. Yang  kaya menolong yang miskin. Selalu ada timbal balik dari kalangan mereka, dan saling melengkapi satu dengan yang lain. Tak hanya sampai di situ, mereka, kaum muslimin pada saat  Rasulullah saw. dan para sahabatnya  juga menghormati pemeluk agama lain. Karena tak mengenal  perbedaan-perbedaan ini pulalah, agama islam dengan mudahnya masuk dan berkembang di Indonesia. Dan kini disebut sebagai Negara dengan penduduk mayoritas muslim.
Nah, begitu dijunjungnya rasa persaudaraan pada zaman Rasulullah, sampai-sampai harta, nyawapun rela dikorbankan. Seteguk air minum saja, direlakan untuk sesamanya kaum muslim padahal mereka sama-sama membutuhkan. Saat kaum muhajirin berhijrah ke Medinah, kaum anshar dengan suka rela menerima kedatangan mereka, membiarkan kaum muhajirin untuk tinggal dan menganggap Medinah sebagai tempat tinggal mereka sendiri. Begitu tingginya rasa persaudaraan pada zaman itu. Dengan mudahnya kaum ansar menerima kaum muhajirin, lalu kemudian bersatu.
Saudara dalam artian sempit adalah orang yang mempunyai pertalian darah, dari sudut pandang biologis. Dan jika dilihat dari sudut pandang islam, maka akan lebih meluas lagi defenisinya, karena semua ummat islam bersaudara.
Tapi, yang mengherankan zaman sekarang ini tak jarang, malah orang-orang yang memiliki hubungan darah, saling membenci satu dengan yang lain, tak jarang ditemukan  saudara saling membunuh memperebutkan harta orang tuanya, anak kandung tega membunuh  ayahnya, menzalimi ibunya, atau sebaliknya, ayah yang dengan mudahnya meniduri anaknya sendiri. Dan lebih menyedihkan lagi para pelakunya adalah orang islam.
Jika melihat kondisi islam saat ini, timbul pertanyaan sekarang, berlakukah persaudaraan zaman lslam Berjaya dulu dengan sekarang?? Pertanyaan mudah dengan jawaban yang mudah pula. Yang sulit saat melakukan perubahan.
Orang-orang yang berlalu lalang, ke sana ke mari dengan mobil mewah, rumah-rumah indah laksana membangun surga  dunia, adakah mereka melihat orang-orang kecil di bawahnya?. Pernahkah mereka berfikir untuk berbagi dengan mereka?. Dan berjuta pertanyaan muncul di baliknya.
Berbeda dengan semut, dalam buku karya Harun Yahya, membahas tentang keajaiban pada semut . salah satu kekuasaan Allah swt. menciptakan mahluk-mahluk lain, selain manusia, adalah agar manusia dapat mengambil manfaat padanya. Salah satunya dapat kita lihat pada semut. Mahluk kecil ini senantiasa meninggikan kerjasama, rela berkorban, dan intinya adalah kekeluargaan. Mereka mencari makan bersama, membuat sarang bersama, bahkan saling menolong saat menghadapi gangguan-gangguan. Dan masih banyak lagi aktivitas semut yang begitu mengagumkan. Wajarlah kiranya mahluk dengan jumlah populasi terbanyak ini mendapat kemuliaan dengan dituliskan namanya dalam kitab suci ummat Islam.
            Dan tatkala makhluk Tuhan yang bernama manusia dapat mencontoh sifat-sifat dari sang mahluk kecil tersebut,  maka saat ini kemungkinan munculnya musibah-musibah seperti, kelaparan, kemiskinan, kebodohan, dan beribu-ribu masalah lainnya, dapat teratasi.
Namun, realita yang ada saat ini justru sebaliknya. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Sebahagian orang yang merasa dirinya kaya segala-galanya, tertawa jika di katakan hal demikian. “Masa kita nyontohin semut, yang benar aja, kita mahluk paling mulia kali, mau dikemanain nih otak.” pandangan seperti inilah yang kemudian merusak ummat kita pada akhirnya. Disadari atau tidak, persaudaraan kian rapuh, khususnya persaudaraan ummat islam. Tak dipungkiri antar sesama sendiri saling menghina, menghujat, bermusuhan. Saling menghormati, mengasihi, sudah jarang terlihat.
Makin hari kian marak tindakan kriminal, di sana-sini terdengar jeritan-jeritan tangis kelaparan, teriakan takut akan keadaan. Tak ada rasa saling menjaga, kesibukan pada urusan diri sendiri yang makin meraja. Ditambah pula rong-rongan dari luar Islam yang selalu ingin menghancurkan persaudaraan kaum muslimin, mulai dari misi-misi nyata sampai cara halus sekalipun. Dimana ketelaudanan nabi yang pernah dicontohkan pada ummatnya? Hilangkah ia bagai baju indah berganti baju compang-camping penuh noda? Atau terkuburkah ia bersama serpihan-serpihan puing dunia?.
Mengapa kita masih santai berpangku tangan di tengah ambang kehancuran persaudaraan kita sendiri? Buka mata, akankah penyesalan yang kita ingikan di akhir waktu? Atau melakukan pencegahan sebelum hal-hal tak diingankan terjadi. Semua pilihan ada pada diri setiap individu. Tugas selanjutnya memikirkan langkah  yang akan diambil, lalu bangkitkan lagi rasa ukhuwah islam yang sudah pernah ada.
Masing-masing punya cara menghadapi masalah tersebut. Dan jika  telah punya caranya, itu sangat bagus, namun jika  belum itu yang perlu di pikirkan, A a Gyim, salah seorang uztadz, mengatakan “lakukan 3M”. mulai dari yang kecil-kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini. Selanjutnya tinggal bagaimana merealisasikannya.
Memberi salam misalkan, itu dianggap hal yang kecil, padahal manfaatnya sangatlah besar. Disamping mendoakan saudara sesama muslim, juga akan mempererat tali persauaudaraan, nah, lebih-lebih jika ditambahkan senyum tulus, wah, akan lebih menggugah hati bagi yang menjawabnya. Jikalau memang hanya itu yang dapat dilakukan, dari situ juga kita mulai, karena semua hal butuh proses. Dan yakinlah, berbagi kebahagian kepada sesama senantiasa akan mendatangkan kebahagiaan-kebahagian baru, begitupun dengan berbagi problema hidup, dengan sendirinya akan berkurang, atau teratasi dengan mudahnya.
Satu hal yang penting, jangan mengharapkan seseorang melakukan apa yang kita perintahkan tanpa dimulai dari diri peribadi dulu. Rasulullah saw. sebagai nabi terakhir juga mencontokan hal ini, beliau yang pertama melaksanakan perintah Allah swt. lalu menyuruh sanak keluarganya, kemudian sahabat-sahabatnya. Dan akhirnya menyebar luas. Begitu pentingnya memulai kebaikan pada diri sendiri dulu, karena merupakan suatu penilain juga, dan yang paling penting merupakan contoh bagi orang lain.
“Nantilah,”
“Bentar,”
“Tunggu bulan depan deh,”
“ Atau tahun depan aja ya”
“ Ah masih muda nih, ntar aja pas udah tua.”
 Dan sederet  alasan perpanjangan waktu lain yang terucap, atau tersimpan dalam hati, merupakan penghambat terlaksananya sebuah keinginan. Berawal dari niat memang, tapi bukan berarti niat yang terulur-ulur, karena Jika yang ada hanya penunda-nundaan maka akan menanti juga penyesalan tanpa akhir. Jika tidak melakukan perubahan sekarang, kapan lagi. Lebih cepatkan lebih baik, kata salah seorang tokoh politik Indonesia.
Menunggu bukti yang lebih besar untuk bertindak, sama saja membiarkan sebuah penyakit berkembang biak, dan pada akhirnya melumpuhkan diri. Bukankah mencegah lebih baik dari pada mengobati. Walau kenyataan yang ada penyakit renggangnya persaudaraan itu sudah tampak, setidaknya langsung ditangani dengan pengobatan yang ampuh. Itu jika keadaan ummat muslim sekarang diandaikan sedang terjangkit penyakit.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujarat:10). Salah satu firman Allah swt. dalam Al Qur’an merupakan bukti bahwa tiap-tiap orang Islam itu bersaudara, yang ikut merasakan penderitaan, rasa sakit yang dialami sesamanya, dan senantiasa saling menolong, dan berdamai saat ada perbedaan pendapat. Nabi Muhammad saw. telah mencontohkannya dengan para sahabat beliau dan pengikut agama islam di masa lampau.
 Kini generasi pelanjut ajaran agama Islamlah yang mengambil alih untuk melanjutkan ajaran agama yang dibawa oleh putra Abdullah tersebut. Termasuk menjaga persaudaraan islam. Membangkitkannya kembali dari keterpurukan, dan membangunkannya kembali dari tidur panjangnya, hingga Islam kembali berjaya di atas persaudaraannya yang utuh. Tidak pincang lagi, tapi benar-benar berdiri tegak. Setegak batu karang di tengah amukan ombak laut.

KETIKA MASALAH TERASA NIKMAT




        Masalah lagi masalah lagi, kapan masalah tak menimpaku? Apa harus mati dulu baru masalah itu tak datang? Mana mungkin masalah kembali akan menimpaku ketika aku memilih mati, bagaiman dalam kubur? Pasti masalah akan lebih berat lagi, dan lebih jauh lagi aku akanmenyesal. Benrakan?
Lalu aku harus bagaimana?
        Salah satu jawaban yang tak pernah aku lupakan adalah, “Kalau manusia hidup tampa masalah, maka itu juga termasuk masalah.” Jawaban seorang ayah yang bijak. Umur bertambah bukan berarti masalah berkurang justru  sebaliknya, ia datang silih berganti. Tak jarang membuat asa hingga banyak yang mengambil langkah cepat tuk menghindarinya. Langkah yang dianggap menyelesaikan namun ternyata jauh bertentangn dari penyelesaian yang dimaksuk.
Lalu harus bagaimana?
        Setahu saya masalah itu tak selamanya membawa keburukan, jadi yah menghadapinya juga dengan dua cara. Didekati atau malah dihindari. Nah penempatannya bagaimana?
        Ketika masalah akan mendatangkan keburukan yah sebisanya dihindari. Tapi jangan salah tak jarang masalah terbungkus indah dengan manisnya. Anda pasti tahu maksud saya. Nah, ketika tergiur akan bungkus dari masalah semata, yakinlah penyesalan akan menghampiri. Sebaliknya ketika bisa menghindarinya, buahnya akan jauh lebih manis lagi.

        Lalu kapan pula masalah didekati atau malah dipertahankan?
Tentu saja ketika dapat memberi kebaikan, yang bagaimana lagi itu? ini salah satu contoh saja dari sekian banyak contohnya.
        Salah satu contoh, saya adalah orang pemalu, pendiam, bahkan banyak yang bilang kalem, pada awalnya. Sifat ini sebenarnya mengganggu saya, walau sebenarnya sifat tersebut sangat bagus jika ditempatkan pada tempatnya. Namun di pihak lain apabila penempatan malu ini tidak disesuaikan maka akan membawa petaka juga.
        Nah begitulah saya, ketika berada di tempat yang baru sangat susah untuk mengakrabkan diri. Butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri. Karena sifat ini pulalah saya lebih sering tak bicara duluan ketika bertemu orang yang sebenarnya saya kenal. Menghindar ketika hendak bertemu orang-orang tertentu, pada hal mereka tak akan mengapa-apai saya.
Bukankah itu juga masalah? Lalu solusinya apa?
        Ketika rasa malu itu hadir harus ada solusi agar bisa meminimalisir rasa tersebut. Bukan dengan menjauhi penyebab malu, bukan dengan menjauhi masalah, tapi justru mendekatinya.
        Lanjut cerita, memasuki semester tiga, orang tua saya memberi masukan agar saya tinggal dengan keluarga dari saudara bapak. Nah singkat cerita saya kembal harus menyesuaikan diri. Kesulitan komunikasi kembali terjadi, bayangkan saja ketika pemilik rumah kembali dari kerja, saya dengan sendirinya akan menghindar, bukan karena takut tapi semata segan dan malu. Tentunya itu bukan hal yang baikkan, belum lagi ada beberapa hal tertentu yang membuat saya bisa saja meminta untuk pindah kembali.
        Disinilah sebuah pilihan sangat di perlukan. Pindah artinya saya menjauhi masalah itu, ketika itu terjadi bukannya menyelesaikan masalah saya, tapi sebaliknya. Saya akan kembali pada situasi yang sama ketika tidak mampu menghadapi masalah saya hari ini. Bisa jadi esok harinya masalah itu kembali menjumpai saya.
        Antisipasi akan hal tersebut, maka saya putuskan untuk mencoba bertahan. Akan menjadi masalah sebenarnya bagi keperibadian saya,sulit pasti, tapi dengan proses juga pembiasaan saya berharap bisa menanggulangi rasa malu tersebut, karena saya tahu sifat saya itu merugikan. Sudah terlalu panjang menceritakan kisah saya, yah contoh dari diri sendiri dulu.
Simpel saja nikmati masalah itu selagi bisa, pendewasaan darinya akan diperoleh, pelajaran darinya akan dipetik, yang paling anda nantikan juga akan hadir di dalamnya, berbuah manis pastinya. Juga cobalah tuk berbagi dengan orang lain tentang masalah anda, mengurangi beban juga anda bisa mendapat solusi, dan berbagilah pada Sang pemberi masalah, karena Dia paling tahu solusi untuk setiap masalah anda.
So, selamat menikmati masalah masing-masing.



Cacian Cacat

            Ide, mantap, judul siap, alat apa lagi. Lalu kenapa berhenti????
            Mana karyamu??
            TANYALAH PADAKU!
            Aku ingin marah ketika kau menertawakan kebodohanku. Mengapa? Ada yang salah denganku? Atau kau hanya pandai memberi kata-kata pedas?
            Aku muak dengan sejuta kata yang menikam darimu. Aku juga ingin membalas sakit hatiku. Tapi aku tak bisa, karena tak ada hal uyang bisa aku banggakan di hadapanmu. Salah memang aku ingin menulis rangkaian kata indah karena marah padamu. Tapi itu lebih dari cukup tuk menjadi cambukan bagi diriku.orang bahkan butuh waktu untuk bertaubat.
            Kau tahu, oarang butuh proses untuk mencapai kesuksesasannya. Tapi kau selalu berharap lebih. Mulutku mungkin terkunci saat kau dengan pandainya bermain lidah di hadapanku. Aku dengan lugunya menerima saja setiap untaian pedang yang menyayat-nyayat hati. Namun pedang itu masih tersimpan di hatiku. Aku ingin mempersembahkannya padamu, tapi bukan dengan lumuran darah. Sebaliknya aku dengan lumuran kemenangan. Begitu ingin aku mengalahkan kesombonganmu yang tersembunyi itu.
            Sejujurnya aku kagum padamu. Kagum pada kepiawaianmu bermain kata, dengan lidah ataupun goresan pena. Kau mungkin terlahir dengan kepercayaan diri yang sudah seharusnya ada. Oh, atau kau salah satu super hero yang tercecer? Sepertinya kau tak suka kecurangan. Yah, kau si tuan hebat.

            BERLEBIHAN?
            Itu yang aku harapkan, tak ada masalahkan dengan segala opini tentang dirimu? Bukankah ini juga ladang amal bagimu? Dan seharusnya kau berterima kasih padaku, sebagaimana aku akan berterima kasih padamu suatu saat. Bukan sekarang karena tulisanku belum jadi bundelan buku. Seperti yang kau katakan.
            “Buku hasil garapan bersama itu...”
            Menyakitkan untuk dituliskan, dan aku juga tak mau mengingatnya.
            “Cerpen itu...”
            “Cobalah untuk...”
            “Sebelum 2011 berakhir...”
            Apa perlu aku lanjutkan???
            Aku berdo’a kau membaca ini. Sebuah kelancangankah menurutmu? Bukankah aku sedang berlatih menulis seperti katamu? Dengan pedang di hatipun aku bisa menuliskan?
            Tak ada kata takut itu, justru sebaliknya, inilah bentuk usahaku. Usaha tuk kupersembahkan padamu, juga pada dunia. So, im sorry!

Jumat, 27 Januari 2012

Cantiknya si Cacat


          Dari judul tulisan ini timbul pertanyaan, emang ada cacat yang cantik?
Nah, dari sudut pandang mana kita akaan melihat. Ketika cacat itu dalam artian fisik, mungkin pandangan mata mengagapnya tak layang tuk dikatakan cantik, tapi ketika sudut pandang kita dirubah akan sangat mungkin decakan kagum yang terucap.
          Maksudnya apa lagi?
Hehehe... mengawali judul saja, kayaknya tak ada hubungannya deh.
Bentuk dari sebuah konsisten, makanya tulisan sang penulis cacat kembali hadir, yah walau sebenarnya tak ada yang menanti kehadirannya.
Asli ngarep.
Sederet kalimat ccatat sudah saya hadirkan di media, nah yang terjadi lumayan ada beberapa orang yang menyumbangkan jempolnya tuk tulisan tersebut. Entah membaca atau tidak, tak lupa beberap komentar.
Bukan bayaran yang didapat, karena tulisan tersebut memang tak layak tuk dibayar, dan memang ditulis bukan tuk sebuah bayaran. Lebih dari itu komenta-komentar yang masuk sangat menunjang tuk kelanjutan tulisan saya selanjutnya. Terimakasih.
Semangat!!!!

Badai Cinta

Kisah cinta itu misteri, hari ini mungkin mengatakan AKU MENCINTAIMU. Tapi esok harinya kata benci yang terucap. Cinta itu penyakit, tatkala ia datang dengan cara yang salah. Cinta kebohongan belaka, jika para pelakunya tak mangindahkan jujur di dealam, jujur pada diri mereka, taupun jujur dengan orang-orang disekeliling mereka.
Cinta itu...
Luka...
***
Salahkah?
Pertemuan denganmu adalah takdir terindah yang pernah aku rasakan.
Aku tak menyangka, kekaguman yang aku pelihara terhadapmu berbuah rasa yang tak pernah aku duga, dan tahukah kau akan hal itu duhai tuan?
Walau lidah tak mungkin menyebut namamu, pandangan mata tak sanggup menghayalkanmu, namun aku tak sanggup tuk berdusta jika rasa itu telah menguasai relung-relung sukmaku.
Salahkah duhai tuan?
Aku sadar,
Mengharpkanmu adalah sebuah kebodohan...
Yah, kau terlalu jauh bagi seorang gadis bodoh sepertiku...
Aku memelihara penyakit yang tak aku tahu obatnya, dan itu karenamu..
Akupun tak menyalahkanmu,
Sungguh...
Ini salahku, karena itu aku mohon maafkan  kebodohanku, yang menaruh rasa teramat tinggi padamu..
Teruntukmu...
Pelita nan jauh di sana...
***
Tiara, siapa yang tak mengenalnya di sekolah itu. ketua kepengurusan putri yang terpilih tahun lalu. Tak sepenuhnya karena kepintaran, hanya karena ia sudah enam tahun berada di tempat itu dan juga santri putri yang terkenal alim.
Sederhana, tampak oleh kasak mata, namun sebenarnya ia memendam  perasaan yang cukup mendalam. Baginya tak ada orang yang benar-benar bisa dipercaya. Memendam segala sesuatu adalah hal yang selalu ia lakukan, namun tatkala sadar apa yang ia pendam berubah jadi racun tersendiri bagi dirinya.
Cinta. 5 huruf yang selalu membuatnya was-was. Perasaan yang lumrah dmiliki oleh manusia itu malah membuatnya tersiksa. Ia termasuk pemilih bahkan sangat pemilih dalam hal mengagumi lawan jenisnya. Apalagi dalam hal suka bahkan jatuh cinta.
Namun cinta tak pernah berpihak padanya, seakan cinta sangat membenci dirinya, ia selalu beranggapan begitu, sebab cinta yang ia rasakan selalu berbuah kepediha  yang menikam hatinya.
***
Maaf atas kelancanganku padamu,
Itulah diriku yang sebenarnya, wanita yang selalu berharapa pada cinta yang sesungguhnya tak pantas aku miliki.
Aku tahu, kau tak akan tahu maksud dari semua ini, anggap saja angin lalu yang tak berbekas untukmu.
Bahkan aku tak pantas untuk berharap padamu.
Setidaknya rasa yang aku pendam telah aku keluarkan..
Maaf sungguh aku memohon  maaf  padamu duhai tuan...
***
Latif, nama laki-laki yang selalu mencuri perhatiannya. Bukan karena ketampanan, kekayaan, justru karena ia mengagap laki-laki itu berbeda dari yang lain. Pintar, alim itulah dua paduan yang membuat hatinya tak ingin melepaskan sebuah selipan rasa yang ada hingga kini.
Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyimpan perasaan itu. sejak ia memasuki dunia asrama, pesanteren, dari jauh ia telah sangat berharap pada laki-laki yang dikaguminya. Semakin ia tahu tentang sang pujaan hati, samakin sakitlah hatinya, bukan hanya ia yang menaruh hati pada sang kumbang. Bahkan teaman-temannya sesama putri yang lebih agresif mendekati sang pujaan hati.
Dirinya, hanya bisa memandang dari jauh. Hingga tiga tahun berakhir, tak sekalipun ia berbicara pada laki-laki itu. perpisahan terjadi, ia hanya mampu meratapi kepergian, tak ada kata terucap.
***
Ia sudah memutuskan untuk tetap berada di tempat itu, hingga tiga tahun kemudian, perubahan terjadi pada gadis pendiam  itu, ia ungkapkan perasaannya yang tak tertahankan pada laki-laki yang ia cintai, Tiara tak berharap mereka pacaran, ia hanya ingin melegakan hatinya, sekalipun rasa ingin memeliki juga berkecamuk dalam sukmanya.
Laki-laki itu menghargai perasaan Tiara, namun tak ada ikatan antara mereka, pacaran bukan hal yang ingin mereka lalui, sedangkan menikah bukan hal yang mungkin mereka lakukan, Sekarang.
Tiara, gadis yang selalu merasakan siksaan perasaannya sendiri, hingga berdarah-darah sekalipun taka akan ada yang mengerti akan perasaannya itu.
***
Waktu berputar, Latif laki-laki yang ingin mencapai cita-citanya tak akan banyak peduli hanya karena perasaan seorang gadis bodoh pengagumnya, enam tahun berlalu, ia tetap seperti dirinya yang dulu, dingin. Hanya mampu  mengucap, “I LOVE YOU.” lalu setelahnya mengucap kata, “Tak usah berharap.” Ia tak peranah tahu kata-katanya menebar luka di hati sang gadis.
Perasaan melambung tinggi, namun dalam sekejap terhempas jatuh dengan kerasnya ke dalam kerak bumi.  Perih, teriris-iris, tak tahu melukiskan perasaannya kini, Tiara tak berucap lagi, ia mundur, membawa luka bersama dirinya. Tak akan menoleh ke belakang lagi.
***
Aku terluaka...
Tak perlu kuceritakan mengapa bisa
Kaupun tahu mengapa
Karena tak ada selainnya
Bunga berbau harum.
Beracun dikemudian hari
Menikam dalam sanubari
Mengninggalkan luka tak terobati
Perih, sungguh...
Kata-kata Tiara habis kini, air mata mengalir tak ia sadari. Cinta baginya adalah luka. Selalu itu yang ia hadirkan, cinta yang selalu menyiksa menghadirkan rasa menyiksa yang tak ada habisnya.
Ia berlari...
Hilang ditelan badai cinta yang terluka.
2020...
Laki-laki itu mencapai kesuksesannya dengan gemilang, namun ada yang selalu ia rasakan kurang dalam  hatinya, ada yang hilang. Semakin ia mencari apa yang ia anggap hilang, semakin bingung juga ia dibuatnya.
Angannya kembali pada sebuah peristiwa,
“I LOVE YOU.”
“TIDAK USAH BERHARAP.”
Dua kalimat  yang ia ucapkan dan sangat bertolak belakang.
Yah, gadis itu, dimana ia kini...

PENJAGA MESJID TERAKHIR


Kegundahan, keresahan hatiku tak pernah bisa aku sembunyikan. Tiap hari saat tak ada kegiatan, yang terbayang hanya wajah orang-orang yang aku kasihi...dulunya.
Perjalanan kali ini merupakan kali pertama pertamaku unntuk pulang ke rumah. Walau dengan hati yang begitu berat. Angin bertiup kencang ikut menyambut kepulanganku. Tak ayal membuat rasa takutku bangkit begitu saja, Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Berpadu  angin membuat suasana kian mencekam. Dengan langkah kaki tertatih-tatih ku masuki bangunan tua tak berpenghuni. Seram, pikirku. Debu bertebaran di mana-mana. Di kedua sisi bangunan terdapat rerumputan yang sudah sangat tinggi. Bangunan yang sama sekali tak terurus. Mataku kini terasa berat, kulihat di luar hujan maki lebat. Ku letakkan bawaankU. Aku duduk, hanya menghitung menit saja, mataku sudah terpejam.
“Nak, bangunlah, sudah malam.” Sebuah suara serak membangunkanku. Ku pulihkan kesadaranku, memandang bingung kearah kakek tua yang membelakangiku itu. Ia sudah larut dalam gerakan-gerakan yang tak terlalu aku kenal. Beberapa lama aku hanya terpaku memandang laki-laki tua di depanku, sampai saat ia menoleh ke kanan dan ke kiri secara berturut-turut, lalu berbicara dengan suara berbisik, lamunanku seketika buyar.
“Nak, mau shalat berjamaah?” Tanyanya tampa menoleh sedikitpun.
Entah dorongan dari mana, aku tiba-tiba saja mengiyakan. Disuruhnya aku mengambil air wudhu di samping bangunan tua tersebut. Aku pergi saja, menurut bagai robot. Entah sadar atau tidak, aku lakukan yang kakek itu perintahkan, aku sudah lupa caranya, walau aku ingat dulu pernah melakukan hal tersebut. Tapi seperti orang yang sudah hapal betul cara bersuci, dengan lancar juga aku berwudhu.
Setelah itu aku berdiri di samping sang kakek tua, gerakan demi gerakan aku lakukan mengikuti laki-laki yang ada di depanku. Hingga akhir. Doa terlantun dari bibirnya. Suara isak tangis juga dengan jelas aku dengar darinya. Sangat menusuk. Aku dibuatnya bertanya-tanya, tapi tak berani mengganggunya. Hanya beberapa dari doanya yang aku ingat.
“Ya Allah, Sang pengusa alam, hamba begitu ingin terus berada di rumahMu ini, beibadah di dalamnya, mengabdi padaMU, menjadikannya tempat paling indah di dunia, tapi hamba lebih merinduMu, hamba begitu ingin berlabuh di pangkuanMu,….” Aku mendengarnya kian meratapi diri, makin tak jelas apa yang ia katakana. Tangisnya kian keras. Aku hanya duduk di belakangnya dengan kebingungan tak terbendung.
Selesai ia menyeka sisa-sisa air matanya, diajaknya aku berjalan-jalan di pekaranagn masjid. Bersih, tak seperti saat pertama aku datang tadi. Begitu tertata rapi. Aku sendiri pangling di buatnya. Kami berjalan menjauhi masjid.
Pemandangan pertama yang aku lihat adalah sekumpulan orang yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bukankah itu ayah dan ibu, mereka sedang berdagang. Iya, ayah dan ibuku adalah dua orang pedagang ulet di kota tempatku tinggal, tiap tahunnya ganti mobil, rumah begitu besar bagai istana, tapi aku dan ketiga saudaraku tak begitu betah di rumah itu. Tak ada kasih sayang di dalamnya. Yang ada kami dikekang bagaikan prajurit. Amarah ayah yang selalu meledak saat nilai kami tidak sesua apa yang ia harapkan, lalu ibu yang selalu memerintah, tak pernah memperdulikan keinginan kami. Hingga dewasapun aku selalu diatur. Memutuskan untuk pergi jauh dari rumah adalah tindakan pertama yang aku ambil tanpa campur tangan dari mereka. Dan kebebasan aku rasakan karenanya. Entah dengan adik-adikku.
Kami melanjutkan perjalanan, kali ini yang aku lihat adalah kumpulan anak muda yang entah melakukan apa, samar-samar terlihat olehku, berpasang-pasang muda mudi bermesraan, walau tak tahu banyak tentang aturan agama, aku tak suka pergaulan bebas, terutama dengan wanita. Kadang aku berharap mendapatkan wanita pendamping hidup yang bisa membimbingku, tapi keinginan itu berganti dengan persaan tak yakin, aku yang tak tahu agama mana mungkin mendapatkan wanita seperti itu. Itu hanya mimpi belaka. Walau tak kupungkiri wajah Fatimah, wanita berjilbab sekelasku, teman kuliah, sering mengganggu malam-malamku, dengan perkataannya yang lembut, pakaiannya yang tertutup, ah, terlalu jauh jika berharap memilikinya.
Dari sudut ruangan kulihat sepasang muda mudi lain, dan wajah salah satu dari mereka begitu aku kenal, oh Tuhan, itu adalah adikku sendiri, Quin. Alangkah tak relanya hatiku melihat apa yang ia lakukan. Laki-laki yang bersamanya adalah musuhku di SMA dulu, inikah bentuk pembalasan darinya saat aku kalahkan di kelas dulu? Tapi kenapa adikku yang jadi korban, aku tak tahan lagi, dengan nafas memburu aku ingin kuhajar habis laki-laki bejat itu, langkahku tertahan kakek tua yang bersamaku tahu apa yang akan aku lakukan, ia menahanku, “Percuma, kau tak akan bisa menjangkaunya.” Ucapnya tegas, dan memang ia, ada apa ini? Pertanyaan memenuhi kepalaku.
Perjalananku berlanjut, aku rasakan air mata jatuh membasahi pipiku, ah, ini salah ibu, ayah yang tak memperdulikan kami. Aku kaget, ada banyak darah didepanku, bau anyir darah begitu terasa, menusuk hidung. Kulihat perkelahian hebat terjadi, begitu tak terkendali, benda-benda tajam tergenggam di tanagan masing-masing, sungguh mengerikan. Saat hendak berbalik dari tempat itu, kulihat salah seorang dari mereka adalah Zein, adikku, ia tergeletak di tanah dengan darah bercucuran. Aku tak tahan. Aku berlari ke tempatnya, tapi aku tak bisa menyentuhnya sama sekali. Kata-kata kakek itu kembali terulang, “Percuma anakku.”
Saat hendak kutanya, mengapa, ia sudah berjalan menjauh…
Aku kini berharap dapat melihat Farah, adikku yang palin kecil, anak SD kelas tiga yang sering aku rindukan, yah, dengan kesibukan kedua orang tuaku, siapa yang menjaganya? Membimbingnya, kedua adikku yang lain tak akan mau. Mengingat kejadian yang aku lihat tadi, membuat hatiku kian terirs sakit.
Aku mengikuti kakek itu dari belakang, sepertinya ia akan kembali ke masjid, kulihat ia berjalan kembali, aku mengikutinya saja dari belakang, perasaanku diliputi rasa bersalah yang luar biasa menyiksa, seharusnya aku tak pergi dari rumah, jika orang tuaku sibuk, setidaknya ada aku yang bisa menjadi penuntun bagi adik-adikku. Penyesalan begitu aku rasakan kini.
Saat kukira kami akan kembali ke masjid tempat pertemuanku dengan sang kakek, pikiranku salah, ia mampir di sebuah rumah tua di samping masjid, walau terlihat sangat tua, tapi rumah itu sangat bersih, terawat. Pintunya terbuka, dari dalam aku dengar sebuah suara,
“Ya Allah, aku ingin punya keluarga yang baik, aku ingin mama, papa, kakak-kakakku kumpul kembali di rumah, makan bersama, nonton bersama. Aku ingin btidur bareng kak Quin, main perang-perangan sama kak Zein, dan belajar dengan kak Zian. Aku rindu mereka semua ya Allah.” rasa penasaran memenuhi kepalaku, ku langkahkan kaki untuk mendekat, alangkah terkejutnya aku melihat Farah berada di ruangan itu, dangan balutan mukenahnya, ia berdoa, tangannya tengadah, begitu ingin aku memeluknya.
“Aku sayang mereka semua ya Allah, papa, mama, kak Zian, kak Quin, kak Zein, tapi apa mereka sayang juga sama aku, mereka selalu tidak ada di rumah, kak Zian tak pernah pulang, kak Quin selalu marah-marah padaku, kak Zein selalu mengejekku, apa mereka juga sayang padaku? Tapi aku tidak marah ya Allah, aku tetap sayang pada mereka, aku ingin mereka kumpul lagi di rumah, kabulkan doaku ya Allah. Amin.” Betapa aku ingin memeluk tubuh kecilnya. Ah, ia tampak semakin kecil. Dan rumah siapa yang kau tempati ini wahai adikku?
Kakek mengajakku kembali ke masjid. Saat itu malam kian larut. Diajaknya aku shalat bersama. Setelah itu ia berbalik menaapku. Aku baru sadar dari tadi bersamanya, tapi baru kali ini aku melihat wajah kakek tua didepanku, wajahnya memancarkan cahaya, begitu teduh, tenang.
“Anakku, kejadian yang kau lihat, belum terjadi, tapi akan terjadi jika kau tak berbuat sesuatu, keluargamu membutuhkanmu, pulanglah, dan selamatkan yang bisa kau selamatkan sebesamu. Dan juga aku menitipkan mesjid tua ini padamu, tolong kau rawat, beserta rumahku yang ada di sampingnya, yang kita lihat tadi, jaga beserta isinya. Itu saja anakku, jangan sampai kau menyesal di kemudian hari.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, kakek itu menghilang dari hadapanku, begitu tiba-tiba, lalu…
Ku kucek mataku perlahan, ternyata hanya mimpi, perasaan takut makin merasuki hatiku. Ada apa gerangan? Jika itu hanya mimpi, mengapa serasa begitu nyata. Aku harus pulang. Sekarang juga. Aku tak mau menyesal.
Satu bulan berlalu, kini aku fokuskan membimbing adik-adikku, perlahan-lahan kedua orang tuaku sudah mulai berubah, lebih memperhatikan adik-adikku, walau terhadapku mereka masih acuh. Aku dapat mengerti, butuh waktu untuk menerimaku kembali setelah menghilang dari rumah sekian lama.
Kejadian-kejadian dalam mimpiku masih sering terbayang di pelupuk mataku, aku ceritakan pula pada ketiga adikku, mereka kaget tentu saja. Terutama Quin dan Zein. Quin memang berencana pergi dengan  malam, setelah kepulanganku ke rumah, tapi tak enak padaku, dan saat itu aku memang melarangnya. Ia juga menceritakan malam itu juga pacarnya minta putus karena ketidak hadirannya itu. Sedangkan Zein, dua hari sebelumnya sudah dibujuk temannya ikut perkelahian antar kelompok temannya, dan musuh bebuyutan mereka, kepulanaganku pagi itu membuatnya takut untuk pergi.
“Ka Zean, aku mau ke rumah ka Fath yah,” Farah dengan riangnya memeluk leherku.
“Ka Fath? Sejak kapan de Farah punya kakak lain?”
“Sudah lama, sebelum kakak pulang, kak Fath suka ngajarin aku ngaji, shalat juga, orangnya baik bangat, cantik pula.”
“Cantikan mana sama aku?” Quin ikut nimbrun percakapan kami, kebetulan hari minggu, jadi semua pada kumpul di rumah.
“Hmm…tapi kak Quin jangan marah yah,”
“Iya.”
“Cantikan kak Fath, orangya pake jilbab, putih lagi, kak Quinkan hitam, hehehe…” ledek Farah. Ku tatap Quin menunggu reaksinya. Ia diam. Tak seperti biasanya, saat di ledek ia akan membalas, tapi kali ini ia hanya diam. Tampak seperti orang yang sedanag berfikir.
“De, aku ikut ke rumahnya kak Fathmu yah, aku ingin belajar pake jilbab, biar putih juga kayak kak Fathmu itu.” Suasana hening sesaat terpecah oleh suara Quin.
“Oke, panggil kak Zein juga, sekalian kita ke masjid, buat bersih-bersih!” Ucapku.  
Yah, aku tak lupa janjiku pada kakek dalam mimpiku, aku tak pernah tahu ia siapa, hanya saja berkat petuahnya juga aku bisa kembali menjadi orang yang lebih berguna, terutama bagi keluargaku.
Bukankah rumah itu yang ada dalam mimpiku, rumah yang di tempati Farah saat itu.
“Assalamualaikum.” Ucap Farah.
Aku, dan adik-adikku memutuskan untuk mampir sebelum ke masjid, karena ternyata rumahnya sangat dekat.
“Waalikumsalam,” Suara dari dalam rumah terdengar, diiringi pintu yang juga ikut terbuka. Dengan cepat Farah menghambur memeluk wanita yang baru keluar dari rumah tersebut.
Fatimah. Ya, tak salah lagi, Fatimahlah yang dipeluk Farah, teman sekampusku yang membuatku sulit tidur dulu. Hatiku tiba-tiba berdebar tak karuan. Inikah takdir.
Kami dipersilahkan masuk, sepertinya ia belum menyadari kalau aku mengenalnya. Saat ia kembali masuk setelah mempersilahkan kami duduk, aku kembali terkejut, di salah satu dindin, terpajan foto seseorang yang tak lain adalah kakek yang ada dalam mimpiku dulu. Fatimah, ada hubungan apa antara kau dan kakek tersebut?
Pertanyaanku terjawab setelah ia kembali dengan napan berisi beberapa gelas air minum untuk kami. Laki-laki tua itu adalah pamannya, satu-satunya keluarga yang ia punyai, orang tuanya sudah tak ada lagi. Lalu mengalirlah cerita dari bibirnya. Pamannya itu sudah tak ada kini, ia telah wafat, dan hari wafatnya itu bertepatan dengan hari saat aku bermimpi dulu. Lalu dari bibirku mengalir pula cerita tentang mimpiku. Semua. Sampai pesan pamannya yang menitipkanku masjid dan rumahnya untuk dijaga beserta isinya. Tiba-tiba mukanya bersemu merah, aku pikir ada yang salah dari ucapanku.
“Oh, jadi kaulah laki-laki yang dipilih paman untukku,” Ucapnya dengan wajah menunduk, “Sebelum paman meninggal, ia berpesan padaku, akan ada laki-laki yang ia amanahkan untuk menjaga masjid di samping rumah ini, juga menjaga rumah ini beserta isinya, termasuk….aku.” Aku serasa melayang mendengarkan kata-katanya, doaku terkabul olehNya.
“Wah, kak Fath bakalan jadi kakak benerennya Farah dong.” Celetuk Farah. Kami semua tertawa. “Tentu saja, dan ngajarin aku pake jilbab, biar ngga diledekin farah lagi.” Tambah Quin begitu antusias. Dalam hati aku tak henti  mengucap rasa syukur padaNya, Dia telah mengembalikan keluargaku, dan memberiku Bidadari serta rumah peribadatan yang menjadi maharnya. Hatiku semakin basah…

                                                                                                                    

SEPERTIGA MALAM TERAKHIR

SEPERTIGA MALAM TERAKHIR

“Tolonglah kak, saya tidak bisa melanjutkan perjalanan, uang saya habis dan adik saya juga sakit.” Gadis dengan jilbabnya yang lusuh itu memohon padaku sedari tadi.
“Bagaimana ya dek, saya anak kos-kosan. Kos-kosan laki-laki  pula.”
“Tolonglah kak, adik saya sakit.”
Aku berpikir sejenak, susah juga. Aku mudah kasihan, apa lagi kulihat adiknya yang sudah sangat pucat, tidak ada pilihan lain.
“Baiklah, kamu saya ajak ke kos, sampai adikmu benar-benar sembuh. Ikuti saja apa yang saya katakan, bersikaplah biasa saja.”
“Iya kak.”
“Oh ya, nama kamu siapa?”
”Milah kak, adikku Miftah.”
Kubawa kedua kakak beradik itu kekosku, teman-teman yang melihat memandang dengan mata keheranan seakan berkata, “ Siapa mereka?”
“Kalau ngga ada perlu jangan keluar dari kamar yah.”
“Iya kak.”
Kusuguhkan makanan yang ada pada keduanya, kupandangi saja setelahnya kulihat sang kakak begitu telaten menyuapi sang adik. Ah, seandainya....
“Mir..”
Itu suara Farhan, sama-sama anak kosan di tempat ini, dia juga sekampungku.
"Ya, ada apa?” kubuka pintu kamarku untuknya.
“Aku...”ia tak melanjutan kata-katanya,“Siapa mereka?”
“Oh adik-adikku.”
“Lah, bukannya kamu ngga punya saudara?”
“Hehehe... adik temuan toh.”
“ Maksudnya?”
“Aku tadi bertemu mereka di depan kampus, yah tahulah gimana aku, kasihan melihat mereka  akhirnya aku bawa saja kemari, adinya juga sakit.” Kujelaskan semuanya pada Farhan.
“Eh, kalau anak-anak yang lain nanyain siapa mereka, bilang saja, adik-adikku  yah.”
“Sipplah..”
“Tadi mau ngomong apa?”
“Oh, tidak ada apa-apa.” Jeda lalu...
“Aku kebelakang dulu yah.”
Belum aku jawab Farhan sudah pergi, ada yang aneh, tak biasanya ia seperti itu.
Milah dan diknya Miftah sudah aku anggap adik sendiri, mungkin karena aku tak sempat merasakan punya adik. Makanku yang biasanya sendiri, terasa nikmat bersama mereka, apa lagi keduanya juga begitu menghormatiku.
Milah sendiri ternyata pandai meracik makanan, tadinya aku lebih suka beli makanan jadi, namun semenjak anak berumur 15 tahun itu ada dan adiknya, aku hanya membeli bahan makanan dan ia yang memasaknya. Ia juga yang mencuci bajuku, hitung-hitung balas budi mungkin.
Sedangkan Miftah adiknya sangat pendiam, hanya sesekali saja kulihat ia berbicara itupun dengan kakaknya, saat kutanya pada kakaknya mengapa ia seperti itu, Milah hanya menggeleng dan raut wajahnya tiba-tiba berubah, dan setelahnya aku kembali tak berani bertanya.
Satu minggu berlalu kedua anak itu masih berada di kos tempat tinggalku. Aku juga tak keberatan, yang berubah malah wajah-wajah teman-teman yang juga berada di tempat kos-kosan itu. aku tak mengerti mengapa.
Malam itu kupaksakan mataku untuk bangun, aku sangat kaget yang tidur tepat disampingku hanya Mifta, Milah tak ada, bahkan pintu kamarku tak terkunci. Aku mulai berfikir yang tidak-tidak, jangan-jangan...
Klik...
Pintu terbuka, kudapati wajah Milah yang nampak basah oleh air.
“Oh maaf  kak, saya tadi kebelakang buat berwudhu.”
“Saya kira tadi kamu kemana, ya sudah sekalian tunggu saya, kita shalat berjamaahnya barengan saja.”
“Iya kak.”
Aku sangat jarang jadi imam, namun aku benar-benar berusaha  jadi imam yang baik kali ini. Ada perasaan senang dalam hatiku, ternyata memiliki keluarga itu sangat indah. Dalam doaku aku tak sadar tiba-tiba air mataku terjatuh. Teringat kedua orang tuaku yang telah berpulang ke pangkuan Ilahi, juga kedua adikku. Kecelakaanlah yang jadi penyebabnya. Kini hiduplah aku sebatang kara, dengan harta warisan kedua orang tuaku yang melimpah.
“Kak, kakak tidak apa-apa?”
Kuhapus air mataku, “Tidak apa-apa,.” Jawabku.
“Kakak aku ingin bercerita.” Aku berbalik menghadap gadis itu, dalam balutan mukenah, wajahnya terlihat bercahaya.
“Cerita tentang apa?”
“Sebenarnya...”
Mengalirlah kisah dirinya dari bibirnya yang bergetar, kulihat air matanya mulai berjatuhan. Gadis ini juga menyimpan kepedihan yang lebih mendalam ketimbang aku. Ia diusir dari rumahnya karena dituduh mencuri oleh keluarga ibunya. Sama sepertiku, ia juga yatim piatu, harta peninggalan kedua orang tuanya dihambur-hamburkan oleh kakaknya yang bersekongkol dengan tantenya. Ia dan adiknya tak punya keluarga lain yang bisa didatangi lagi, dan saat bertemu denganku ia sangat menaruh  harapan besar.
“Maafkan saya kak sudah bohong.” Ia kembali terisak.
“Sudahlah, anggap saja saya sekarang adalah kakakmu. Kita akan hidup bersama, aku juga tak punya siapa-siapa lagi.”
“ Terimakasih kak, terimakasih banyak.” Aku tak sanggup melihatnya menangis, di depanku yang terbayang adalah wajah Sindy adik perempuanku. Andai aku bisa memelukmu dik.
Siang yang terik, hari ini aku pulang lebih cepat, dosenku batal masuk ia hanya memberikan tugas. Aku memlih pulang karena semua teman yang lain juga memilih hal yang serupa. Namun alangkah kagetnya aku saat pulang kulihat penghuni kamar yang lain berkerumun didepan kamarku.
“ Heh, ngaku saja kamu, semenjak kamu disini kami sudah heran, kau tak ada mirip-miripnya dengan Mirzan.”
Kenapa namaku disebut-sebut, apa hubungannya coba. Tanya memenuhi hatiku.
“Ditambah lagi semenjak itu banyak barang-barang yang hilang.”
“Ngaku saja, kemarin malam ada yang melihatmu di depan kamar Wahyu, dan keesokan harinya uangnya tiga ratus ribu hilang, siapa lagi yang mengambilnya selain kamu, dasar tidak tahu malu.”
Kuterobos kerumunan itu, penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Kulihat Milah tengah dituding dihadapan mereka, ia sama sekali tak berbicara. Matanya menyiratkan rasa ketakutan yang sangat.
“Ada apa ini?”
“Sudahlah Mir, anak ini tidak tahu terima kasih padamu, dia mencuri uang Wahyu, kemarin juga uang Akbar hilang dan semua bukti mengarah padanya.”
“Maksudmu, Milah yang mencuri?”
“Siapa lagi, semenjak ia datang banyak teman-temanmu yang kehilangan uang, kau pikir siapa selain dia?” Suara Anton, anak pemilik kos.
“Hei man, jangan asal tuduhlah. Siapa tahu saja ada yang orang luar yang masuk.”
“Kenapa juga kau bela anak itu, toh tak ada hubungan darah denganmu kan?”
“Dia adikku.”  
Aku mulai naik darah, siapa pula yang cerita tentang hal ini pada mereka. Seingatku hanya Farhan yang aku kasih tahu, itupun aku yakin tak mungkin ia yang membocorkan.
“Kau itu anak sebatang kara, mana mungkinlah punya adik, ngakunya alim, padahal pembohong, atau jangan-jangan kau bersekongkol dengan anak itu?”
”Heh, apa kau bilang? Jaga ucapanmu, jangan seenaknya menuduh!” Tak sabar lagi kuraih kerah baju Anton, bogem mentahku siap mendarat ke wajahnya
“Apa-apaan ini? Kenapa malah kalian yang berkelahi? Kita akan cari pelakunya, lagi pula anak itu belum bicara apa-apa.” Kulepas juga cengkraman tanganku.
“Cih, mana ada maling yang mau ngaku?”
Mereka memaksa Milah untuk mengakui perbuatan yang aku yakin tidak ia lakukan. Aku juga ikut menjelaskan kalau gadis kecil yang bersamaku itu sering bangun tengah malam untuk shalat malam, mungkin saat lewat di depan kamar Wahyu ada yang melihatnya, padahal ia dari berwudhu. Tak ada yang percaya, malah mereka menuduhku bersekongkol dengannya.  
Hingga malam Milah terus diintrogasi, aku sama sekali tak diperkenankan membantunya. Ia kembali ke kamarku dengan wajah yang sembab, saat aku tanya apa yang mereka tanyakan, ia hanya bungkam. Aku bisa mengganti uang mereka yang dicuri  jika aku mau, namun aku yakin bukan Milah pelakunya.
Kulihat gadis itu memeluk adiknya yang juga menagis, aku tak tahan. Dalam hati aku berjanji akan membawa kedua anak itu ke rumahku, juga aku tak perlu ngekos lagi, aku sudah punya teman untuk diajak tinggal bersama.
Jam tiga dini hari. Aku terbangun dalam gelapnya malam, aku ingin sahalat malam, menjadi imam Milah. Namun heran juga baru kali ini lampu kamarku padam saat aku tidur, mungkin Milah yang memadamkannya. Namuna alangkah kagetnya aku saat lampu aku nyalakan kedua anak itu sudah tidak ada di kamarku. Yang aku temukan hanya sepucuk surat dengan tulisan yang tak karuan tulisannya.
Kakak yang baik,
Maaf  kami hanya menyusahkan kakak padahal kakak sudah membantu kami. Kakak terima kasih, kami lebih baik pergi.
Aku tak tahu soal uang yang hilang itu, malam saat uang itu hilang, saat aku selesai berwudhu, aku melihat kak Farhan keluar dari kamar kak Wahyu, aku tak menuduh kak Farhan, tapi aku juga tak ingin mereka  beranggapan aku yang mencuri kak. Aku sudah berjanji pada ibu dan ayahku untuk jadi anak yang baik.
Kak terima kasih,
Milah.
kini aku kembali sendiri dalam sunyinya malam.
Seminggu berlalu aku mencari keduanya tak aku temukan juga. Padahal pelaku pencurian sebenarnya sudah didapat. Farhan, orang yang aku anggap sahabat malah menikamku dari belakang, ia butuh uang untuk membayar uang kuliah, awalnya ia ingin meminjam uang padaku. Namu ide gilanya malah mengendalikan pikirannya. Dijadikannya Milah sebagai kambing hitam. Ia beraksi tatkala malam tiba, Milahlah yang pertama melihatnya. Namun tak berani ia beritahukan padaku, tentu saja berkat ancaman Farhan.
Aku sudah minta anak-anak kos untuk mencari kedua  anak itu, namun tak kunjung aku temukan. Aku berjanji jika menemukan mereka berdua  aku akan jadikan adik yang sebenarnya, aku berjanji.